
Sky sudah sampai di kota, dia masuk ke tempat kasino terbesar di kota itu. Dia melihat beberapa orang yang langsung mengenalinya. Sebagai Bandar hebat, tentu saja Sky sangat disegani. Dia duduk disebuah perkumpulan orang yang sepertinya sudah menunggunya sejak lama. "Sialan kamu, lama sekali." Salah seorang penjudi dari Organisasi Haraka langsung menyapanya sambil menjabat tangan pria itu.
"Ada masalah kecil." Sky menyeringai.
"Masalah apa yang dihadapi Tuan Sky sampai dia terlambat datang." Ucap salah satu anggota tigers.
Sky mengabaikan pria itu, dia langsung mengeluarkan chips nya , lalu membagikan kepada para pemain yang berjumlah 4 orang. Kali ini mereka bermain poker, Sky mulai membagikan kartunya kepada para pemain. Putaran pertama pertaruhan dimulai dengan beberapa bentuk kontrak paksa.
Setiap pemain pada gilirannya baik harus sesuai dengan taruhan sebelumnya maksimum atau lipat, kehilangan jumlah taruhan sejauh ini dan semua bunga lebih lanjut di tangan. Suasana semakin tegang, hanya Sky yang masih bisa menyeringai. Keempat pemain dengan hati-hati memilih kartu. Seorang pemain yang cocok dengan taruhan juga dapat meningkatkan taruhan.
"Sialann 1-pair." Kata seorang anggota Tigers tadi.
Semua orang dimeja itu tertawa, "Straight." Kata Mr. Bond.
"Full house!" Sorakan meriah ketika anggota Haraka mengeluarkan kartunya.
"Jangan senang dulu, Straight flush!"
Semuanya membelalak langsung bertepuk tangan, "Woaah luar biasa!" Pria itu bernama Harold, Pimpinan Organisasi Big Ear. Babak taruhan pertama pun berakhir setelah semua pemain telah baik cocok dengan taruhan terakhir atau dilipat. Selama kurang lebih 1 jam Sky bergelut dimeja itu. Sambil meminum segelas Tequilla.
Sky beristirahat sejenak di pojokan ruangan Kasino, dia melihat gadis yang tidak asing menghampirinya. Wanita itu berjalan dengan lenggak lenggok ke arah Sky. Sky menatap nya dari ujung kaki hingga kepala, rupanya wanita yang minggu kemarin bersama dengannya.
"Sky! Kenapa kamu pergi meninggalkanku malam itu?" Dia tiba-tiba saja duduk di pangkuan Sky yang sedang bersandar ke bahu kursi sambil merokok. Wanita itu mendekatkan tubuh bagian depannya ke arah wajah Sky, Sky sontak langsung berpaling. Malam itu, dia memang mabuk berat dan wanita ini mencuri kesempatan dengan mencumbu Sky sehingga Sky hampir lupa diri..
__ADS_1
Tapi, untunglah Sky cepat-cepat tersadar dan meninggalkan wanita itu sendiri. Trauma yang Sky alami membuat dirinya berbeda dari pria lainnya, Sky sama sekali belum pernah melakukan hal lebih dari pada berciuman dengan seorang wanita manapun. Terlebih, dia orang pemilih. Jika dalam kondisi sadar, mana mungkin Sky mau bercumbu dengan wanita yang ada dipangkuannya sekarang itu.
"Bisakah kamu menjauh? Saya lelah." Sky menatap wanita itu datar, dia mengesap rokoknya lagi. Pria itu nampak sangat dingin, sebagian tangannya yang bertato kini terekspos.
"Sky! Mari tidur bersama, kamu tidak bisa bayangkan seberapa inginnya aku tidur denganmu!" Dia memohon pada Sky. Wanita itu memang tidak tahu malu, dengan wanita baik-baik saja Sky enggan, apalagi dengan wanita bergilir ini.
"Kamu minum dan makan saja apa yang kamu mau, saya akan membayarnya." Sky berdiri lalu meraih jaket nya. Dia menggantungkan itu di bahunya lalu berjalan ke bar tender.
"SKY!" Perempuan itu berteriak, dia bernama Mera, kulit putih, gigi gingsul dan badan yang tidak terlalu tinggi. Serta ciri khas rambutnya yang berwarna merah menyempurnakan tampilannya yang seksi. Siapapun yang melihat Mera, sudah pasti akan tergoda. Tapi tidak untuk Sky, dia tidak normal karena trauma masa lalunya. Dia tidak mau berobat, karena dengan itu dia bisa terus ingat untuk membalaskan dendam adiknya pada keluarga Michigan.
Sky berjalan setelah membayar senilai 1000 dollar untuk apapun yang wanita itu makan dan minum. Dia menghela napas panjang, lalu membuka pintu mobilnya. Bertemu dengan salah satu keluarga Michigan membuat mentalnya lelah, dia sering mengalami serangan kilas balik tentang adiknya waktu itu. Sehingga, dia sering mengalami mimpi buruk yang berulang-ulang.
Pria itu berkendara dengan lambat, dia belum tahu kemana dia akan menuju, pulang kerumah Elisa kah, atau kerumahnya dikota. Rasanya, membuat Elisa seperti itu saja belum cukup baginya. Dia ingin melihat wanita itu lebih menderita. menurutnya, akan lebih mudah menyakitinya setelah menikah nanti.
*
*
Dia membenci pria itu, Elisa mengelap air matanya dengan tisu ditangan. Kemudian dia berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Dia mencuci wajahnya lalu menatap dirinya dicermin.
Elisa mempunyai wajah rasio berlian, yang artinya rasio antara ujung hidung dan bibir, pangkal hidung, garis antara hidung, bibir, dagu, serta tulang rahang Elisa semuanya dalam proporsi sempurna.
__ADS_1
Maka dari itu, sebenarnya sudah banyak pria yang datang menemui Elisa untuk menjadikannya istri. Tapi sayang, Elisa sering menolak. Karena, sering kali yang datang hanyalah pria yang ingin menjadikan Elisa istri kedua. Atau pria yang mencari seorang Istri yang harus diam dan patuh pada keluarga suaminya dirumah.
Elisa tidak mau hal itu terjadi padanya, dia ingin selalu tinggal dirumahnya, dia bahkan tidak pernah membayangkan meninggalkan rumah orang tuanya tersebut. Cintanya untuk mereka begitu besar.
Menikahi Sky adalah keputusan terburuk yang pernah Elisa buat seumur hidupnya, tapi tidak ada hal lain lagi yang bisa dia lakukan. Dia juga tidak bisa meninggalkan rumah dan kenangannya itu. Bagaimana pun dia akan menikahi Sky tanpa hati.
Dia yakin, Sky merasakan hal yang sama sepertinya. Tapi Elisa belum tahu pasti, apa yang membuat pria itu menyetujui usul pamannya yang gila itu.
Nori membawakan Elisa makanan dinampan, yang berisikan Susu sapi segar, mashed potato dan krim keju. Sejak tadi pagi Elisa belum makan apapun, dia hanya mengurung diri dikamarnya selama itu.
"Nona, mari makan dulu." Nori berbicara di depan pintu kamar Elisa, sambil menunggu wanita itu membukakan pintu.
Tapi, lagi-lagi Elisa menolak, "Tidak, kamu bawa lagi saja kedapur. Aku tidak lapar." Elisa menyandarkan kepalanya dibantal.
Air matanya kini sudah kering, dia bahkan masih mengenakan pakaian yang tadi pagi dia pakai berkebun. Sekarang sudah jam 8 malam, tidak ada tanda-tanda Sky akan pulang kerumah itu. Padahal, Elisa sudah sangat ingin mengomel pada pria itu.
Dan ingin bertanya dengan jelas, apa yang sebenarnya pria itu inginkan. Elisa pun sesekali mengingat si brengsek kakaknya, Skandar.
"Kemana dia pergi? Jika aku melihat batang hidungnya, aku pasti akan membunuhnya." Elisa membatin, saking benci dan kesal nya ia pada kakaknya itu, nasibnya seperti ini karena ulah Skandar. Kemudian Elisa melempar gelas berisikan air minum di meja samping tempat tidurnya ke dinding.
Trangg (Suara gelas pecah berserakan).
Suara itu membuat Nori yang masih berada didepan pintu kamar Elisa pun terkejut. "Nona? Kamu baik-baik saja?" Nori mencemaskan Elisa, terdengarnya suara tangis yang agak kencang dari dalam kamar. Rupanya Elisa menangis lagi.
__ADS_1
...****************...
...****************...