Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan
Bab 18 : Kasino


__ADS_3

Sky merobek kembali gaun tidur Elisa hingga terbelah dua sampai ke bawah. Pria itu membuka lebar kedua kaki Elisa yang putih mulus. Tanpa basa-basi Sky membuka celana yang hanya ada ditubuhnya. Dia mendekap Elisa dengan kuat dan melakukannya tanpa kelembutan. Ini hal yang paling Elisa benci, setelah malam pertamanya yang membuatnya trauma, kali ini pria yang berstatus suaminya itu melakukannya lagi seperti orang gila.


Setelah cukup puas melakukannya, Sky melepaskan jeratan Elisa begitu saja tubuh wanita itu terkulai lemah ke lantai. Sedangkan, pria itu mengenakan kembali celananya. "Seharusnya kamu membiarkan Mera masuk dan membantumu merapikan kamar ini." Sky memerhatikan Elisa yang masih bersimpuh di lantai.


Elisa menatap tajam Sky, dia bagaikan hidup di neraka. "Aku tidak butuh bantuan jalangmu, kenapa kamu tidak melampiaskan hasratmu padanya? Kenapa padaku?" Mata wanita itu memerah menahan tangis dan amarah.


Sky menatap Elisa datar, dia tidak suka cara Elisa berbicara padanya. Pria itu lebih memilih meninggalkan Elisa sendirian disana tanpa menolongnya sedikitpun. Elisa melihat bekas jeratan tali di tangannya yang membekas, beberapa tanda merah di sekitar lengan ke bahu sampai leher. Wanita itu menangis dan beberapa kali memukul lututnya.


Dia memikirkan tentang lingkungan kerja yang disebut kasino, apa ada faktor yang membuatnya menjadi sejahat iblis. Elisa menelungkupkan kepalanya beristirahat dengan posisi yang seperti tadi. Dia merasa lelah, bahkan kakinya terasa sangat lemas. Dia pun tertidur.


Sky menatap langit-langit, dia tidak bisa tidur setiap kali melalukan itu. Walaupun dia tertidur dia akan didatangi mimpi buruk.


“Kau tidak ada bedanya dengan para bedebah itu Sky!


"Kamu menyakitinya sama seperti mereka yang menyakitiku."


"Tapi, kamu tetap harus membalas kematianku 'kan, Sky?"


"Sky, aku sendirian, aku ketakutan..."


"Ini menyakitkan Sky. Kenapa kamu tidak datang"


Sky mengerjap dan terbangun dari tidur yang hanya beberapa menit saja, dia mengucurkan banyak keringat bahkan jantungnya berdegup kencang. Pria itu memikirkan suara yang terdengar seperti adik kecilnya. Dia mengibaskan selimut yang melindungi tubuhnya, kemudian berjalan ke kamar Elisa. Dia membuka pintu secara perlahan, melihat wanita itu masih tidur dengan posisi menelungkup di lantai.

__ADS_1


Sky mendekat, lalu mengangkat Elisa dan memindahkannya ke kamar tidur miliknya yang jauh dari debu. Kemudian, menyelimuti tubuh Elisa. Sky melihat jelas bekas sayatan di belahan dada Elisa. Entah karena apa, Sky memang tidak ingin terlalu tahu.


Sky berjalan turun ke arah dapur, dia mengambil air putih dan menenggaknya sampai habis. Perkataan itu selalu terngiang dipikirannya. Sky membaringkan tubuhnya di sofa. "Saya tidak tahu sampai kapan perasaan saya akan cukup puas."


~


Keesokan paginya, Elisa terbangun dari tidurnya yang nyaman. Dia merasa aneh karena seingatnya dia tertidur di kamar yang penuh debu itu. Namun, saat matanya terbuka lebar. Dia melihat ruangan yang asing. Kamar itu, di dekorasi dengan nuansa cokleat tua. Terdapat potret dua orang anak kecil yang saling merangkul di depan kandang kuda.


Elisa hampir meraih foto itu, saat sebelum Sky membuka pintu dan menatap Elisa dengan tajam. "Saya membiarkanmu tidur disini bukan berati kamu bisa menyentuh barang-barang saya sembarangan!"


Elisa tertegun, dia sama sekali tidak minta dibantu atau dipindahkan dari tidurmya. Tapi, pria dihadapannya itu berubah kembali menjadi monster menakutkan. Elisa mendengus pelan, dia mengibaskan selimut yang melingkar dan membuat tubuhnya terlihat jelas dengan balutan gaun tidur yang robek menjadi dua bagian di tengah. Elisa mengeratkan sobekan kain itu, berjalan keluar dari sana tanpa memedulikan Sky.


Sky menatap Elisa tajam kemudian beralih melihat foto masa kecilnya yang hampir di sentuh Elisa. Sky segera mandi dan pergi dari rumahnya. Entah kemana pria itu akan pergi, tapi pasti tidak akan jauh dari Kasino maupun rumah pamannya.


Elisa membersihkan tubuhnya juga, dia mengganti pakaian dan berjalan membawa pakaian yang semalam dia gunakan. Dia berjalan ke halaman belakang, mengumpulkan beberapa sampah daun kering dan melemparkan gaun tidur itu di atasnya. Elisa menghidupkan korek tangan lalu membakar sampah itu sampai habis menjadi abu.


Elisa diam-diam mengikuti Sky, dengan mencari sebuah taksi di sekitar rumah. Dia berusaha sebisa mungkin tidak ketahuan oleh Sky. Mobil Sky berhenti di sebuah gedung yang ramai akan pengunjung, mayoritas pria. Ada beberapa wanita yang memang sedang berdiri di pelataran dengan pakaian yang seksi.


Elisa melihat wanita bernama Mera menyambut Sky dengan sumringah. Dia memeluk Sky, walaupun suaminya tidak membalas pelukan itu, tetap saja hati Elisa terasa sesak. Sky dan Mera masuk ke dalam kasino. Sedangkan Elisa turun dari taksi dan menyelinap ikut masuk ke dalam ruangan itu.


Dia bersembunyi di kamar mandi, dia melihat dirinya di cermin, tidak boleh ada yang mengenalinya. Sehingga dia berdandan jauh dari biasanya. Wanita itu memakai lipstik berwarna merah darah dengan pakaian yang agak sedikit terbuka. Elisa berjalan ke arah ruangan itu.


"Permisi, ada keperluan apa?" Dua orang penjaga menghalangi Elisa masuk.

__ADS_1


"Dia bersamaku," seorang pria yang tidak Elisa kenal merangkul bahu wanita itu. Karena memudahkan jalan masuknya, Elisa tidak protes. Dia terlihat kebingungan melihat pria itu setelah ada di dalam ruangan yang ingin dia ketahui isinya.


"Nyonya Sky? Kamu disini?"


"Maaf, tapi aku tidak mengenalmu, dan bagaimana bisa kamu mengenaliku?" Elisa menyeringai, dia merasa gagal karena identitasnya langsung di ketahui oleh orang lain hanya dalam beberapa detik.


"Aku teman Tuan Albert, aku selalu memerhatikanmu saat pesta pernikahan jadi aku tahu betul bahkan hanya dengan melihat tubuhmu." mata pria itu dengan liar menatap Elisa.


"Oh begitu, tapi kumohon jangan beri tahu orang lain tentang keberadaanku." Elisa mengerutkan dahi, berharap pria itu mau diajak bekerja sama.


"Tentu, tapi dengan syarat." Pria tadi mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Elisa.


"Ikut aku," katanya sembari menarik lengan Elisa. Pria itu membawa Elisa ke area paling ujung yang disana ada beberapa pasangan yang sedang memadu kasih.


"Kenapa kamu membawaku kesini?"


"Ssh, jangan menolak." Pria itu dengan tidak sopan menurunkan lengan pakaian Elisa.


"Hey, lepaskan!" Elisa mundur dari pria itu dan hendak berjalan ke arah lain.


"Aku akan memberitahu semua orang bahwa istri Tuan Sky ada disini."


"Beritahu saja, aku akan memberitahu suamiku bahwa kamu hendak melecehkan istrinya!" Elisa mengarahkan telunjuknya ke arah pria itu.

__ADS_1


"Tapi sepertinya suamimu tidak akan peduli, karena mungkin dia sedang memadu kasih bersama Mera." Pria itu melontarkan nada menjijikan bagi Elisa, membayangkannya saja sudah membuatnya muak. Elisa hendak pergi dan mengabaikan pria itu, namun tangannya ditarik kuat olehnya.


Namun tangan lain menahan tangan pria itu dengan kuat, dia mengibaskannya dari Elisa. Elisa membelalak melihat pria yang menolongnya tadi, "Harry!" ujar Elisa dengan mata membulat.


__ADS_2