Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan
Bab 32 - Memulai lembaran baru


__ADS_3

Tengah malam di bawah guyuran hujan yang lebat dan petir yang menggelegar, Sky baru kembali ke rumah. Ia mendapati Elisa sudah tertidur di kamar, dengan pakaian yang basah kuyup pria itu berjalan di bawah kilauan petir yang menerobos masuk jendela. Perasaannya dipenuhi rasa bersalah, kehilangan anak tentu saja membuat Elisa merasa sedih belum lagi terkuaknya fakta bahwa dia hanya menjadikan Elisa alat balas dendam pada suatu hal yang ia sendiri belum pastikan kebenarannya.


Sky segera berganti pakaian dan memutuskan untuk tetap berada di kamar, tidur di sebuah kursi dekat jendela. Tidak lama ia terlelap mimpi buruk yang hampir datang akhir-akhir ini muncul kembali. Bayangan adiknya yang seolah menghantui dirinya untuk membalaskan dendam, namun satu hal yang Sky tahu pasti bahwa mimpi itu muncul karena alam bawah sadarnya masih sulit berdamai dengan kejadian itu. Kejadian yang membekas begitu dalam.


Tatkala suara erangan Sky membangunkan Elisa, wanita itu segera turun dari ranjangnya menyibakan selimut dan berjalan mendekati Sky. Melihat wajah pria itu nampak pucat juga keringat dingin yang bercucuran. "Tuan.. Bangun!"


Beberapa kali Elisa menggoyangkan tubuh Sky hingga yang ke tiga kali akhirnya pria itu mengerjap membuka matanya dengan penuh. Ia menghembuskan napas pelan merasa tenang saat melihat Elisa di depannya. Sky memeluk lengan Elisa dan wanita itu merasakan gemetar dari tubuh suaminya sehingga ia berusaha untuk menenangkannya dengan cara mengelus lumbut punggung pria itu.


Membiarkannya begitu untuk beberapa saat sampai dirasa bahwa Sky sudah tenang. "Kamu bermimpi buruk?" setelah mendengar penjelasan Sky tadi siang, ia pun merasa iba pada pria itu mungkin saja Sky juga mengalami hal yang sulit selama bertahun-tahun. Elisa rasa ia tidak pantas untuk menghakimi Sky atas masalalu yang pernah ia perbuat padanya, Elisa mencoba mengerti kondisi Sky.


Sky mengangguk kemudian meraih tangan Elisa dan mengecup telapak tangan wanita itu. "Iya, sudah berpuluh tahun aku mengalami mimpi ini."


"Tidakkah kamu ingin aku membawamu ke psikiater?"


Sky menggeleng. "Tidak, biarkan saja. Kurasa setelah mengetahui kebenaran itu, aku akan jauh lebih baik."


"Baiklah, tidak baik istirahat di kursi seperti ini, bagaimana jika kamu naik ke kasur dan esok kita harus segera berangkat ke desa untuk mengambil catatan milik ayah."


"Kamu membolehkanku tidur di sampingmu?"


Elisa terdiam. "Hm, maksudku kamu bisa tidur di kamar ini. Aku akan tidur di kamar yang lain!"


"Kalau begitu tidak terimakasih, aku lebih baik tidur di atas kursi ini daripada tidur tanpamu!"


Elisa menyilangkan tangannya di dada. "Sejak kapan kamu begitu peduli akan hal ini? Tidakkah lamu ingat awal kita pindah kesini? Kamu sengaja tidur terpisah bahkan memilih untuk tidur bersama wanita lain!"


"Maaf," kata Sky lirih.

__ADS_1


"Kamu bisa meminta maaf juga?"


"Elis, aku sudah menyesali semuanya. Aku juga manusia yang bisa berubah, apakah kamu tidak percaya?"


Elisa menggeleng pelan. "Jujur saja, aku belum sepenuhnya percaya. Aku hanya ingin melihat betapa besar pengorbananmu padaku. Jika aku memintamu meninggalkan pekerjaan gelap itu bagaimana?"


Sky mengerutkan alisnya. "Maksudmu berhenti menjadi bandar?"


Elisa mengangguk. "Benar, impianku adalah hidup bahagia bersama suami dan anakku di desa. Mengurus perkebunan dan peternakan kita, berburu dan melakukan hal menyenangkan lainnya dengan alam."


Sky berdiri kemudian menyelipkan rambut Elisa ke belakang telinga wanita itu dengan lembut. "Impian yang indah, namun aku belum bisa mengabulkannya. Suatu saat nanti, aku pasti akan mewujudkan itu untukmu aku berjanji."


"Kamu berbicara seolah memiliki waktu yang panjang bersamaku, bagaimana jika aku tiada?"


"Elis, apa yang kamu bicarakan? Apa kamu masih ingin kembali pada mantan kekasihmu?"


"Bagus, sekarang dan selamanya tidak akan pernah ada yang boleh merebutmu dariku bahkan malaikat sekalipun!"


"Tuan, ucapanmu semakin lama semakin hiperbola saja!"


"Jika kamu menyukai kata-kata manis, aku rela mempelajarinya sampai sepuluh kali tamat. Asal kamu mau memaafkanku atas perbuatan kejamku dulu."


"Kamu pikir maafku begitu murah? Sudahlah, lebih baik kamu istirahat di kasur."


"Aku akan membawamu juga!" Sky menggendong Elisa di dadanya kemudian merebahkan wanita itu ke atas ranjang dengan perlahan.


"Mari tidur bersama?"

__ADS_1


Elisa mengangguk. "Biasanya kamu.."


Tangan Sky memotong ucapan Elisa. "Kumohon, lupakan kebiasaan burukku dulu. Kini, aku hanya ingin membuka lembaran baru bersamamu."


Kemudian mereka membaringkan tubuh berdampingan, dengan Sky yang memeluk Elisa begitu erat. Ini kali pertama bagi Elisa merasa begitu dicintai oleh suaminya, begitupun dengan Sky yang pertama kalinya menunjukan rasa sayangnya pada seseorang. Elisa terlelap dalam dekapan Sky dan sebaliknya, hingga pada pagi hari keduanya sudah sibuk mengemasi pakaian untuk pergi ke desa.


"Nona, apalagi yang harus aku bawa?"


"Pakaianmu! Tentu saja kamu harus ikut bersamaku ke desa."


"Baik," Nori melenggang pergi mengemasi pakaiannya juga. Tidak lama Sky turun dengan balutan kemeja putih serta rompi baru miliknya yang berwarna cokelat. Pria tampan itu nampak terlihat segar dengan potongan rambut baru miliknya memakai sedikit minyak rambut dan juga memotong rata rambut diwajahnya.


Elisa menyeringai sembari berdecak kagum melihat suaminya yang begitu tampan. "Luar biasa, bagaimana bisa ada makhluk sepertimu di dunia ini?"


"Tentu ada, beruntunglah aku milikmu sekarang." Sky mengaitkan tangannya ke pinggang Elisa. "Maafkan aku, setiap kali aku melihatmu aku akan merasa bersalah. Aku harap kita bisa memulai lembaran baru, kini aku tidak peduli apapun kebenarannya dari semua ini aku tetap akan mencintaimu. Aku harap kamupun begitu!"


"Jangan terburu-buru, aku ingin kita mencari tahu semuanya dan menyelesaikan masalah yang membuatmu trauma selama berpuluh tahun ini segera."


Sky menggenggam tangan Elisa. "Kamu percaya padaku? Berjanjilah apapun kebenarannya jangan pernah meninggalkan aku sendiri. Kamu tahu, betapa bodohnya aku baru menyadari bahwa kamu begitu berarti bagiku Elisa."


"Tuan, Nona apakah kalian sudah siap?" secara tiba-tiba Nori muncul dengan semua barang yang sudah disiapkan. Elisa dan Sky saling melemparkan tawa renyah mereka kemudian bergandengan tangan keluar rumah dan membantu Nori memasukan barang ke dalam bagasi mobil.


Nori terlihat begitu senang menyaksikan majikannya begitu bahagia bersama pria yang dinikahi. Walau ia juga sempat merasakan sakit setelah apa yang Elisa lalui, tetapi kini dengan melihat keadaan dan hubungan mereka membaik ia juga merasakan kebahagiaan itu. Tidak ada yang lebih baik dari melihat anak yang ia besarkan bahagia.


Sky mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil sesekali menoleh ke arah Elisa dengan senyuman manisnya. Setelah lima jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai. Baru saja menurunkan barang-barang, mereka berdua sudah mendapatkan undangan pesta dari para bangsawan yang diantar langsung oleh Paman Charly. "Kebetulan kalian pulang, undangan ini dikhususkan untuk kalian berdua. Datanglah, acaranya akan dilaksanakan minggu ini."


Sky menatap datar surat undangan yang kini sudah berada di tangannya. Sembari mengibaskan benda itu beberapa kali, ia menoleh apda Elisa yang langsung masuk bersama Nori tanpa menyapa pamannya. "Baiklah, aku akan membicarakannya dengan istriku dulu."

__ADS_1


__ADS_2