
Elisa dan juga Sky sudah berkumpul di ruang makan, sebagai istri Sky Elisa berusaha sebisa mungkin mulai melayani suaminya dengan baik. Ia tidak lagi ingin berseteru dengan Sang Suami dalam masalah apapun, keluarganya sangat menjunjung tinggi kedudukan seorang pria. Setidaknya ia mendapatkan contoh itu dari Ibunya yang selalu siap melayani ayahnya ketika ia masih kecil dulu. Elisa duduk di samping Sky dan menunggunya melahap masakan pertama yang ia buat dengan bantuan Nori.
Sky dengan ragu-ragu mulai memelintirkan pasta menggunakan garpunya. Ia membuka mulutnya perlahan kemudian memakannya sembari mengecap rasa di dalam masakan yang Elisa buat. Sebab ini adalah masakan pertama Elisa, tentunya dia sangat menunggu respon Sky. Wanita ini mencondongkan tubuhnya kemudian bertanya dengan penuh semangat pada Sang Suami. "Bagaimana?"
Sky menghela napas panjang. "Tidak terlalu buruk."
Jawaban Sky yang memang tidak memuaskan juga nada bicaranya yang terdengar gengsi mengakui masakan pertama Elisa begitu lezat di mulutnya tidak membuat Elisa murung, ia malah tersenyum lebar kemudian menyentuh lembut punggung tangan suaminya. "Terimakasih, setelah kita kembali ke Kota aku akan sering memasak untukmu."
"Kupikir kamu tidak ingin kembali ke kota lagi?"
Pandangan Elisa membulat terarah pada Sky. "Apa boleh?"
Sky meletakan garpu pada piring miliknya sembari menggeleng. "Tentu tidak, kamu harus tetap berada di sampingku. Ingatlah, kamu adalah istri sahku jadi jangan pernah berpikir untuk pergi jauh bahkan satu langkah pun dariku."
Bagai seseorang yang terkena stockholm syndrome, Elisa malah menyukai sikap Sky yang posesif. Sepertinya pikirannya sudah benar-benar teracuni. Ia berpikir, lebih baik mendapatkan sedikit cinta daripada tidak sama sekali. Mungkin saja, sikap posesif Sky yang terpaksa itu akan berubah menjadi sikap penuh cinta dan kasih padanya suatu hari nanti.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan patuh pada setiap perkataanmu. Kita sudah menikah, tidak ada hal lain yang akan kulakukan tanpa seizinmu."
Ucapan Elisa benar-benar membuat Sky tertegun, ini adalah kali pertama seorang wanita begitu mengharapkan cinta tulusnya walau ia begitu dingin dan kejam. Tatapan polos Elisa seketika menghipnotis Sky sampai ia merasa tidak fokus, untuk mengalihkan perasaannya Sky meraih garpunya lagi dan memakan sisa pasta di piringnya.
"Tapi, kumohon.. Apa kamu bisa mengabulkan satu permintaanku?"
Sky menoleh ke arah Elisa dengan datar. "Apa?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin wanita itu ada diantara kita. Seberapa lama pun kamu telah mengenalnya, aku rasa tidak pantas dia berada di rumah itu. Tapi, jika kamu keberatan aku tidak masalah aku.. Aku berjanji tidak akan meminta hal itu lagi."
Sky terdiam dan menatap Elisa yang terlihat gugup dan gemetar. Semenakutkan itukah dirinya sampai Elisa harus selalu berhati-hati dalam berbicara padanya. "Aku akan mendiskusikan ini dengannya terlebih dahulu."
Deg..
Bahkan permintaan seorang istri di atas kertas masih harus dipertimbangkan hanya karena wanita asing yang masuk ke dalam rumah seenaknya. Elisa sedikit merasa sedih, tapi itu bukanlah apa-apa baginya dibanding perbuatan lain yang pernah Sky lakukan.
Ia harus tetap berusaha kuat dan berpura-pura seolah ada cinta diantara mereka. Setidaknya dengan itu ia bisa hidup dengan tenang di dalam rumah Sky, walaupun dia harus berkali-kali menikam hatinya sendiri itu tidak masalah lagi untuk Elisa. Sky sudah menyelesaikan makanannya, ia menyeka mulutnya menggunakan sapu tangan yang ia keluarkan dari saku celananya.
Elisa yang sudah memiliki agenda lain untuk menghabiskan waktunya bersama Sky, mulai meminta hal lain dari pria yang hendak beranjak dari kursinya itu. "Tuan!" cegahnya.
"Hm," Sky menoleh ke arah Elisa dengan datar.
Sky mendengus pelan, ia merasa semakin ia memberi hati pada Elisa, wanita itu semakin bersikap seenaknya. Dia tidak ingin lupa pada tujuannya, sehingga untuk kali ini ia tidak akan memberikan respon yang Elisa inginkan. "Kamu bisa pergi sendiri, atau minta Nori mengantarmu! Aku tidak perlu selalu mengekor pada istriku ’kan?"
"Um, yah.." Elisa tersenyum halus. "Baiklah, kalau begitu aku akan pergi dengan Nori. Tuan istirahatlah dengan baik."
Elisa menunduk kemudian pergi ke halaman belakang menemui Nori. Disana Nori sedang memotong batang bunga, ketika Elisa melangkah ke arahnya wanita tua itu langsung tersenyum manis ke arah Sang majikan. "Ada apa sayang?"
"Aku ingin membuat beberapa setel pakaian, bisakah kamu mengantarku ke toko kain?"
"Nona, sebentar lagi langit akan gelap. Apakah tidak terlalu sore untuk melakukannya?"
__ADS_1
Elisa menggeleng kemudian menarik tangan Nori. "Tidak, mari pergi!"
Nori menatap Elisa dengan begitu prihatin, gadis yang selalu dimanja dan diperlakukan baik oleh keluarganya kini tidak lebih hanya seperti seorang pelayan yang melayani Tuannya. Elisa bahkan mulai mengubah kebiasaannya hanya untuk Sky. "Dia tidak pantas mendapatkanmu Nona, aku yakin orangtuamu tidak akan tega kamu diperlakukan seperti ini hanya karena rumah peninggalan mereka!"
"Nori, aku akan melakukan apapun untuk mempertahakan rumah ini. Peninggalan mereka ini sangat berharga bagiku, aku yang sangat singkat bertemu dengan mereka tidak akan rela semua ini jatuh ke tangan orang lain."
"Tapi.. Kamu mengorbankan dirimu sendiri demi ini!"
"Karena hanya hal itu yang bisa kulakukan, kamu tidak perlu khawatir dia tidak seburuk itu. Aku yakin, di dalam hatinya masih memiliki rasa kemanusiaan jika tidak dia pasti akan memukulku sampai aku mati setelah melakukan kesalahan besar. Tapi nyatanya, dia tidak melakukannya."
"Terserah Nona saja, aku hanya berharap hidupmu selalu dilimpahkan kebaikan dan kebahagiaan."
Elisa tersenyum kemudian merangkul Nori sembari berjalan menuju toko kain di sekitaran pasar. "Terimakasih, Nori."
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam memilih kain. Bahkan Sky sampai harus berjalan bolak-balik untuk memastikan apakah Elisa sudah pulang. Akhirnya dia benar-benar kembali ke rumah, melihat Sky sedang duduk di ruang tamu dengan sebatang rokok di antara jari jemarinya membuat wanita itu terheran. "Apa yang Tuan lakukan disini? Kenapa tidak beristirahat di dalam?"
"Aku.." Sky terlihat canggung. "Tadinya ingin mencari udara segar, lalu tersadar kamu belum pulang jadi kuputuskan untuk duduk disini dan melihat barang apa saja yang telah kamu beli."
Elisa tersenyum dan mendekat ke arah Sky, sedangkan Nori kembali ke kamarnya. "Ah seperti itu, ini kamu bisa melihatnya."
Elisa menunjukan beberapa kain yang tentu saja tidak Sky pedulikan, yang Sky ingin tahu adalah Elisa pulang dengan selamat. Entah kenapa ia merasa begitu khawatir padanya. "Baiklah, aku mengerti. Sekarang lebih baik kerjakan ini nanti dan bersihkan tubuhmu! Aku akan menunggumu di kamar."
"Tapi Tuan!" Ucapan Elisa terhenti saat Sky acuh tak acuh dan langsung beranjak ke kamar tidur mereka. Padahal tadinya, Elisa ingin langsung membuat pakaian dari kain yang sudah dia beli itu malam ini. Tapi, karena Sky sudah berkata demikian lalu apa boleh buat selain menuruti keinginannya.
__ADS_1