
Kedatangan Sky yang begitu mendadak membuat semua orang terheran. Terutama Elisa, ia menatap suaminya dengan penuh rasa cemas. Ia takut pria itu melukai Harry yang telah menolongnya, tapi di sisi lain ia juga tidak berani untuk langsung mengkonfrontasi Sky yang dipenuhi amarah. Tangan Sky masih memegang kerah kemeja Harry dengan begitu erat, Harry yang masih duduk di sofa hanya bisa menatap mata Sky dengan datar.
"Keparat, beraninya kamu membawa lari istriku!" rahang Sky mengeras, matanya memerah dan juga terlihat membulat sempurna.
"Tuan Sky, kumohon cukup! Lepaskan Harry!" Elisa mendekat ke arah Sky dengan tangan bergemetar.
"Harry? Panggilan yang sangat akrab! Ada apa? Kamu ingin membelanya? Kamu senang dibawa lari olehnya?"
Elisa menghampiri Sky dan memegang tangan pria itu dengan penuh kelembutan. "Tuan, kumohon lepaskan dia. Aku yang memintanya mengantarku ke rumah, Ini bukan salahnya!"
Sky langsung memberikan tatapan yang mematikan pada Elisa. Ia segera menarik lengan Elisa dengan kuat dan kasar kemudian membawanya ke kamar atas, itu lebih terlihat seperti menyeret daripada menarik. Nori yang melihat Harry yang telah terlepas dari jeratan Sky langsung menghampiri pria itu dan memintanya pulang. Harry juga tidak ada cara lain kecuali pergi dari rumah itu.
"Tuan, situasinya sedang tidak baik. Lebih baik anda pulang!"
Harry dengan begitu berat hati keluar dari rumah Elisa, ia sesekali melihat ke arah rumah itu dari luaran khawatir jika Elisa mendapat perlakuan buruk dari pria yang ia anggap gila itu.
"Kamu akan tahu akibatnya pergi dengan pria lain! Kamu istriku! Berani sekali kamu melakukannya!" Sky berteriak di depan wajah Elisa, pria itu mendorong Elisa hingga dia jatuh ke atas tempat tidur dengan kasar.
Dia mengikat tangan Elisa ke bahu tempat tidur dengan erat, merobek pakaiannya dengan kasar dan membiarkan wanita itu tanpa busana. Sky membuka ikat pinggangnya kemudian mencambukan benda itu beberapa kali ke paha Elisa, hal itu membuat Elisa menangis karena perihnya cambukan. Sky mendekat ke atas tubuh Elisa, memegang rahang Elisa begitu kuat sampai lama kelamaan terlihat bekas memar di pipinya.
"Berjanji padaku kamu tidak akan melihatnya lagi, jika tidak aku bisa membuatmu tidak bisa melihatnya lagi selamanya!"
"Aku berjanji, kumohon jangan lakukan hal buruk apapun padanya." Elisa menangis sembari menatap ke arah Sky.
__ADS_1
"Seberarti itukah dia untukmu? Sampai kamu memohon untuk kebaikannya?"
"Tuan, dia tidak berarti apa-apa bagiku. Selain hanya sebagai pria yang hampir menjadi calon suamiku aku tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya."
Sky melayangkan kecupannya di leher Elisa sampai ke bahu, membuat wanita itu menggeliat dan merasakan tiap getaran yang dia rasakan di bawah perutnya. Tangisan serta gairah yang bercampur menjadi satu membuat kegiatan mereka semakin panas. Sky yang tidak memberikan jeda karena tidak percaya pada omongan Elisa melakukannya sesuka hati, sedangkan Elisa hanya bisa pasrah dan membohongi perasaannya sendiri. Andai Sky bisa lebih lembut memperlakukannya, ia pasti akan sangat jatuh cinta pada pria itu.
Namun kini yang ada di hatinya hanya perasaan terikat, entah ada rasa cinta di dalamnya ia pun tidak tahu. Bagi sebagian orang yang tidak memiliki mimpi, hidup Elisa begitu sempurna jika dilihat dari statusnya sebagai istri Sky seorang pengusaha muda yang memiliki cukup harta untuk dihabiskan percuma. Namun bagi Elisa, kehidupan ini tidak lain hanya neraka baginya. Semua pil pahit harus ia telan sendiri dan menerimanya dengan baik.
Empat jam telah berlalu, tubuh Elisa dipenuhi memar bekas ciuman tidak berperasaan Sky. Bahkan di sela-sela ketiak dan dadanya tidak luput dari bekas ciuman Sky. Pria di samping Elisa kini tertidur dengan begitu tenang, tanpa suara hanya ada keheningan yang terdengar di penjuru kamar Elisa. Wanita itu mencoha berdiri setelah serangan brutal Sky padanya, ia menahan segala sakit yang ia rasakan di perut bagian bawahnya.
"Mau kemana?" suara berat serta sorotan mata yang mengantuk terlihat jelas dari wajah Sky.
"Aku... Haus," jawab Elisa agak gugup.
"Biar aku yang ambil, kamu tunggu disini!" Sky beranjak dengan mata yang sayu, kemudian keluar hanya mengenakan celana pendeknya dan mengarah ke dapur.
"Terimakasih," Elisa tersenyum halus pada Sky.
"Istirahatlah dulu, aku harus keluar sebentar."
"Kemana kamu akan pergi?" Sorot mata Elisa menunjukan kekhawatiran, Sky tahu wanita itu mungkin takut ia pergi meninggalkannya. Dilubuk hatinya yang paling dalam ia begitu merasa kasihan dan tidak tega pada Elisa, tapi bayangan dendam serta kecemburuannya pada Elisa membuatnya menjadi pria tak berperasaan.
"Tenang saja, aku hanya ingin memeriksa perkebunan dan peternakan kita. Sudah lama kita tidak berkunjung, alangkah baiknya kita memang sering menghabiskan waktu disini untuk memantau."
__ADS_1
"Jadi, kamu tidak akan marah jika kita menghabiskan waktu disini untuk beberapa waktu?"
Sky mendengus pelan kemudian memakai pakaiannya lengkap. Ia duduk kembali di depan Elisa yang masih terdiam di atas ranjang dengan bersandar pada bahu ranjang. "Jika itu yang kamu mau, aku bisa mengabulkannya. Jangan pernah lagi meminta bantuan orang lain diluar sepengetahuanku, aku tidak suka saat siapapun berani melewati batasannya."
Elisa mengangguk pelan dan tidak berkata apapun lagi. Sky keluar dari kamar menuju peternakan, ia mengambil sebuah kuda kemudian menunggangi kuda tersebut untuk berkeliling peternakan juga perkebunan. Sekaligus untuk menghirup udara segar yang masih terjaga, ia bisa sejenak meredakan amarah yang ada di hatinya.
"Oh Sky apa bedanya kamu dengan para bajingan yang berbuat buruk pada adikmu?" gumamnya.
Di sisi lain, Elisa mencoba bersikap lebih baik pada Sky. Selagi ada di rumahnya, dia akan meminta Nori mengajarkannya beberapa resep masakan. Kini, ia bahkan sudah beranjak dari tempat tidur dan pergi ke dapur untuk menemui Nori.
"Nona, kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja!" Elisa tersenyum getir, tentu saja ia tidak bisa membohongi Nori dan pengasuhnya itupun berusaha memahami privasi majikannya untuk tidak bertanya lebih jauh pada Elisa.
"Nona, ingin aku buatkan apa?"
"Hm, aku yang akan memasak. Nori, bolehkah kamu mengajariku beberapa resep masakan? Aku telah berbuat kesalahan padanya, aku ingin menebusnya dengan masakan enak yang menggugah selera makannya."
"Tentu saja, aku akan membantu Nona. Apa yang ingin kamu buat?"
"Spaghetti saja."
"Baik, aku akan siapkan bahan masakannya!" Nori segera bergegas mengambil beberapa bahan makanannya sedangkan Elisa menyiapkan peralatan masak yang dibutuhkan.
__ADS_1
Setelah pelajaran memasak dari Nori selesai, akhirnya Elisa membuat masakan pertamanya dengan baik. Ia menata meja makan dan menunggu Sky pulang dari peternakan. Tidak lama, pria itu terdengar membuka pintu rumah mereka, berjalan mengarah ke arah kamar tapi Elisa lebih dulu menemui Sky. "Kamu pasti lelah, aku menyiapkan makanan spesial untukmu!"
Sky mengangkat kedua alisnya, ia hanya mengikuti Elisa ke dapur dan melihat apa yang telah disiapkan wanitanya itu.