
Kehidupan Elisa jauh lebih baik saat dia masih ada di desa, dia hanya harus memikirkan Nori dan para pegawainya. Di rumah Sky, kehadiran Elisa tidak di butuhkan. Tapi, pria itu masih terus memertahankan Elisa. Seperti biasa, Elisa kembali ke kamar setelah perdebatan panjangnya bersama Sky. Nampak hari ini Sky juga tidak pergi kemana-mana. Itu swmua membuat Elisa semakin tidak bebas.
"Atau aku kabur saja?" Pikiran itu yang terbesit di benaknya, dia bisa saja pergi meninggalkan rumah Sky menaiki taksi atau semacamnya. Tapi, rasa tanggung jawabnya sebagai istri membuat batinnya menolak melakukan itu.
Bagaimanapun, Sky masihlah suaminya. Sky sedang sibuk pergi ke belakang rumah, dia melihat bibit bunga yang dulu pernah dia beli sudah menghilang dari tempatnya. Terlihat juga sekop dan segala macam peralatan menanam di tempat itu.
Dia melihat beberapa cabang baru tumbuh di halamannya, pria itu sambil membawa sekopnya berdecak kagum melihat hasil kepiawaian Elisa dalam pertanian. Mera yang baru saja selesai bersolek mulai turun dari tangga menuju keluar rumah. Dia menemui Sky yang ada di halaman belakang. "Sayang, ayo!"
Sky melihat Mera yang sudah tampil sempurna dengan balutan dress pendek berwarna biru dongker. Dia menaruh kembali sekop yang tadi dia ambil, lalu tanpa kata berjalan mendahului Mera ke dalam mobil. Mereka berdua pergi ke kasino, tempat keduanya bekerja.
"Sandiwaranya menyenangkan," ujar Mera sembari memasang sabuk pengamannya.
Sky mendengus pelan tanpa kata.
Elisa keluar dari kamarnya, dia melihat suasana yang sangat nyaman saat tidak ada Sky dan juga wanita itu. Elisa turun ke lantai bawah melihat sekeliling ruang tamu. Dia menghela napas panjang, "kurasa, Aku bisa pergi sebentar."
Elisa kembali ke kamar untuk berganti pakaian, serta membawa tas kecil untuk bekal dia dijalan. Dia berniat untuk pulang ke desa sendiri, bukan untuk pergi meninggalkan Sky. Tapi, hanya untuk menemui Nori, pengasuh sekaligus pembantunya. Elisa berjalan keluar dari rumah, dia segera berjalan mencari taksi untuk di tumpangi. Namun sudah hampir 15 menit dia berdiam diri disana, tidak ada satupun taksi yang kosong.
Semua taksi terlihat membawa penumpang, sampai satu mobil limo berhenti tepat di depannya. Seorang pria mengenakan setelan jas biru muda dengna rambut keritingnya keluar dari mobil.
"Elisa?" katanya sembari tersenyum sumringah.
"Harry!" jawab Elisa melihat pria tampan itu.
"Kamu mau kemana?" Harry menoleh ke arah rumah yang menjulang tinggi di belakang Elisa.
Dia sengaja melewati jalan itu untuk bertemu Elisa.
"Aku ingin ke desa bertemu Nori," Elisa tersenyum tipis.
"Aku akan mengantarmu, mari masuk." Harry membuka pintu mobil yang ada didepan Elisa.
__ADS_1
"Tapi," kata Elisa terhenti. Dia ragu untuk masuk ke dalam mobil itu, dia hanya takut Sky akan mengetahuinya.
"Aku yang mengajakmu jadi, tidak perlu merasa cemas." Pria itu tersenyum lebar. Akhirnya, Elisa pun menerima tawaran itu. Dia kini duduk di samping Harry dengan tetap menatap lurus ke depan atau sesekali menoleh keluar jendela.
"Ini akan memakan waktu perjalanan yang cukup lama." ujar mantan Elisa itu.
"Aku tahu," Elisa tidak menoleh sama sekali.
"Apa kamu ingin tahu perasaanku waktu itu? Saat aku harus pergi meninggalkanmu?" Harry menoleh ke arah Elisa sebentar lalu kembali fokus ke kemudi.
"Aku sudah tidak ingin tahu lagi. Hal itu sudah berlalu, lagipula aku sudah menikah sekarang." Elisa menunduk melihat jari jemari tangannya.
"Pernikahan macam apa yang kamu jalani? Aku tidak melihat kebahagiaan sedikitpun dari mata indahmu."
"Aku bahagia dengan caraku," ujar Elisa berbohong.
"Kisah kita dahulu memang benar-benar tak akan bisa aku lupakan. Namun, akan selalu aku ingat dan aku kenang, meski luka makin terasa sakit saat mengenangnya."
"Aku hanya merasa bahwa kisah itu cukup indah untuk dikenang."
"Aku tidak merasa begitu," Elisa mendengus pelan. Kenangan mereka cukup menyakitkan bagi Elisa. Dia bertahun-tahun mencoba untuk melupakan hal itu.
"Setelah bercerai, aku beberapa kali pergi ke desamu. Tapi, aku tidak cukup berani untuk langsung menemuimu ke rumah. Aku tidak bisa menerima kenyataan, jika kamu tidak menerimaku dan mungkin kamu akan menganggap aku bajingan."
"Aku pasti akan mengusirmu," Elisa tertawa kecil menatap Harry.
"Sudah kuduga, tidak lama aku mendengar berita pernikahanmu dengan Tuan Sky. Aku dan Sky sering bertemu di Kasino."
"Sudah lama? Apa kamu tahu mengenai latar belakangnya?" Elisa terlihat penasaran.
"Sekitar 5 bulan yang lalu, kami memang jarang mengobrol. Dan aku tidak tahu mengenai latar belakang pria itu."
__ADS_1
"Tapi, tunggu, apa kamu sendiri tidak tahu latar belakang suamimu?" Harry mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah Elisa.
Elisa menghela napas panjang, dia menggeleng.
"Bagaimana bisa kamu menikahi pria yang tidak kamu kenali?" Pria itu terlihat masih sangat penasaran tentang pernikahan mantan kekasihnya itu.
"Skandar menjadikanku bahan taruhan," jawab Elisa dengan suara parau.
"Bahan taruhan?" Harry nampak semakin terkejut.
"Gila!" protesnya.
Elisa mengangguk, dia setuju dengan serapahan Harry. Hidupnya memang benar-benar gila.
"Untuk apa bertahan dalam pernikahan seperti ini?"
"Aku harus merebut kembali rumah peninggalan ayahku." Jawab Elisa.
"Hanya itu? Bukan karena yang lain?" Harry ingin memastikan bahwa Elisa tidak jatuh cinta pada Sky.
"Dan karena aku merasa bertanggung jawab atas pernikahan ini. Walau awal dari pernikahan ini tidak baik, tapi aku sudah berucap janji di hadapan Tuhan. Aku- aku tidak bisa lepas dari itu."
"Tuhan tidak akan senang juga jika kamu menderita, sama sepertiku. Aku tidak ingin kamu menderita, lagi." Harry menatap Elisa lekat, kemudian kembali fokus ke jalanan yang sudah dilalui hampir 2 jam.
Sisa 3 jam perjalanan lagi, jaraknya memang sangat jauh. Sehingga sulit untuk mengakses kendaraan kesana. "Aku akan bertahan, sampai aku bisa menahannya. Saat aku sudah cukup muak dengan semua ini, aku akan meminta izin untuk pergi darinya." Mata Elisa terlihat berkaca-kaca. Nada suaranya bahkan terdengar semakin mengecil.
"Saat itu terjadi, temui aku. Aku akan selalu menunggumu." Harry menatap Elisa dengan kesedihan yang sama.
Elisa adalah cinta pertamanya saat sebelum ayahnya memaksa pria itu menikahi wanita lain. Satu hal yang membuatnya menyesal adalah karena tidak melawan keinginan kedua orang tuanya. Dan malah mencampakkan Elisa. Melihat, wanita yang dicintainya tersiksa membuat hatinya ikut tersiksa.
Sedangkan Elisa, bertahan demi tujuan juga janji suci yang telah dia ucapkan. Bahkan mungkin dihatinya, dia mengharapkan sebuah perubahan kecil dari suaminya. Dia mengharapkan, sebuah cinta sekecil apapun yang ada di hati Sky. "Atau ku beri jalan lain, Aku kan membantumu merebut kembali semua peninggalan ayahmu. Bagaimana?"
__ADS_1
Elisa menaikan sudut alisnya mendengar tawaran Harry.