Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan
Bab 15 : Pindah ke kota


__ADS_3

"Elisa!" seru seseorang.


Wanita itu menoleh ke arah belakang, dilihatnya seorang pria bersetelan tuxedo putih dan kemeja biru tersenyum ke arahnya. Pria itu adalah mantan pacar Elisa, yang bernama Harry. Harry masih memberikan Elisa senyuman terbaiknya, sedangkan perempuan itu hanya tersenyum getir mengingat pria yang ada dihadapannya adalah seseorang yang hampir menjadi suaminya.


"Hai," kata Elisa dengan formal.


"Kamu mau kemana? Senang bertemu denganmu lagi," Harry mengulurkan tangannya, namun Elisa dengan ragu antara mau menjabat tangan itu atau tidak.


"Kamu sendirian? Dimana Tuan Sky?" Harry menarik kembali uluran tangan yang tidak terjabat itu.


"Dia ada, di hmm Hotel! Ya, dia ada di hotel" Elisa terpaksa berbohong, karena jika dia mengatakan bahwa suaminya itu tidak ada bersamanya pasti akan sangat memalukan.


"Sayang sekali, kenapa dia tidak menemanimu jalan-jalan. Mau ku temani?" Harry menawarkan Elisa untuk jalan bersama.


"Tidak perlu, aku hanya ingin berkeliling sebentar dan tidak jauh dari hotel. Tapi, terimakasih sebelumnya." Elisa hendak berjalan melanjutkan perjalanannya namun tangan pria itu menghentikan Elisa.


"Kamu tidak perlu menutupinya, Aku tahu suamimu tidak ada di hotel. Karena dia sedang ada di kasino." kata pria itu sok tahu.


"Mungkin, kamu salah. Suamiku benar ada di hotel, tolong lepaskan! Aku ingin kembali ke hotel saja." Elisa menarik lengan yang di pegang oleh pria itu.


"Maafkan aku," kata Harry sambil melepaskan tangan Elisa. Wanita itu akhirnya pergi dan kembali ke hotel. Rencananya kali ini gagal, dia mendengus pelan di dalam perjalanannya menujy hotel.


Elisa membuka pintu kamarnya, Harry memang benar, Sky tidak ada di kamar. Dia kemungkinan berada di kasino. Elisa menaruh payungnya di pojokan, kemudian merebahkan kembali dirinya di kasur. Dia memutuskan untuk membaca buku lagi sambil menunggu Sky pulang.

__ADS_1


Sedangkan, setelah menghabiskan waktu bersama pamannya, Sky pergi ke kasino untuk melakukan pekerjaannya sebagai bandar. Sky langsung di suguhi champagne dan seorang wanita penghibur di pangkuannya. Sky melihat wanita penghibur baru itu, badannya terlihat seperti gitar spanyol.


"Selamat datang Tuan Sky, kenapa kamu sering menghabiskan waktu disini dibanding dengan istrimu?" wanita itu mulai mencoba menggoda Sky dengan menyentuh lembut pipinya.


Sky memalingkan wajahnya, dia kembali fokus pada meja permainan yang akan berlangsung. "Heh Sky, apa service istrimu kurang bagus? Haha!" salah seorang pria paruh baya mengejek Sky sembaru mengesap rokok ditangannya.


"Tentu saja bagus, benarkan Tuan Sky?" suara pria dari belakang tubuh Sky terdengar lalu ikut duduk di meja bundar tadi.


"Hei Tuan Harry, oh iya kudengar kamu mengenal istri Tuan Sky, benarkan?"


Harry menatap Sky, sembari meminta dituangkan minuman oleh wanita penghibur lainnya. Sky membalas dengan tatapan datar wajah Harry. "Aku bertemu istrimu di luar hotel, sepertinya dia sangat merasa bosan." Harry tertawa kecil pada Sky, seolah sedang sengaja ingin membangunkan macan tidur.


"Bisakah kita membicarakan hal lain? Aku paling tidak suka jika kehidupan pribadiku menjadi bahan obrolan." Sky menenggak minumannya.


Mereka semua kembali melanjutkan permainan yang sempat tertunda karena percakapan tadi. Di sisi lain, Elisa sedang duduk di balkon sambil meminum coklat panasnya. Jauh dari bayangan Elisa, ternyata kota juga masih terasa dingin. Dia kira, karena banyak kendaraan yang ada membuat kota terasa panas nyatanya tidak sama sekali. Selang beberapa lama, waktu sudah menunjukan jam 8 malam sehingga Elisa merasa ngantuk. Dia akhirnya memutuskan untuk masuk dan tidur.


Sky sedang duduk di ruangan hiburan bersama para wajita penghibur dan rekannya yang lain setelah permainan selesai. Dia mengingat usul pamannya mengenai Elisa yang tinggal di kota. Dia agak menyetujui usul itu, sehingga mungkin akan mempertimbangkan keputusannya. "Kenapa melamun?" Mera menghampiri Sky.


"Tidak apa-apa,"


"Hey, tatap aku! Aku sudah mengenalmu sejak lama. Kamu tidak bisa membohongiku Sky." Mera membuat Sky menoleh ke arahnya dengan telunjuknya.


"Lepaskan saya," Sky menunduk sembari mematikan rokoknya lalu meminum segelas alkohol dengan cepat.

__ADS_1


"Rumahmu kosong kan, kenapa tidak ajak istrimu kesana?"


"Oh iya, aku melihat aura yang berbeda darimu, bagaimana kalau kamu kutemani tidur malam ini?" Mera kini beralih dan duduk dipangkuan Sky. Sky menatap wanita itu, namun pandangannya agak buram. Dia memang sudah mabuk sejak tadi. Tidak lama, Mera melayangkan ciuman mesra ke bibir Sky. Awalnya ia tidak membalas, tapi lama kelamaan dia menikmati ciuman ganas dari Mera.


Tangan Sky menyelinap masuk kedalam mini dress Mera, sembari mengusap lembut punggung wanita itu. Sedangkan Mera terus bergumul dengan bibir Sky yang pink merona juga bulu janggut yang mengitari sekitar bibir Sky. Sky mendesah disela ciuman mereka. "Aku mau lebih sayang, kumohon kali ini jangan menolakku lagi." Mera memohon sembari mencium Sky lagi.


Pria itu membawa Mera layaknya bayi, mereka berjalan masuk ke sebuah ruangan khusus di kasino. Tubuh Mera semakin panas saat Sky memperlakukannya seperti itu, dia sudah lama menginginkan hal ini dari Sky. Kini wanita itu duduk di atas meja dan Sky berdiri dihadapannya.


Sky mulai mencium tengkuk leher hingga ke bahu Mera, hal yang berhasil membuatnya menggeliat bahkan mengeluarkan suara parau yang memanjakan telinga. Sky menghentikan ciumannya, dia menatap Mera dengan datar seperti memerhatikan wanita itu.


"Aku tidak bisa, silahkan pergi!" Sky mundur dan meminta Mera untuk pergi dari ruangan itu. Dengan mata yang membelalak Mera turun dari meja dan menghampiri Sky. Terlihat Sky menyeka bibir tipis bekas ciumannya dengan Mera.


Wanita itu dengan cepat menampar pipi Sky hingga merah, "kamu menolakku lagi? Dasar brengsek!" Mera melenggang pergi meninggalkan Sky dengan penuh amarah. Sedangkan Sky, menghela napas panjang lalu duduk di sebuah sofa panjang, sembari melamun.


"Kenapa aku membayangkan wanita itu, ck!" Sky merasa kesal, karena dia malah membayangkan Elisa saat bercumbu dengan Mera. Tidak lama, pria itupun tertidur karena kepalanya terasa pusing.


Pagi buta sekali, Sky langsung pergi ke hotel untuk mengajak Elisa pindah ke kota dan tinggal di rumahnya. Akan lebih mudah baginya membuat Elisa menderita di sana dibanding pulang ke desa sang istri. Sky mengetuk pintu kamar Elisa, sambil menggosok matanya Elisa berjalan sempoyongan ke arah pintu. Terlihat seorang pria berperawakan tinggi ada didepannya. "Tuan Sky?" Elisa mengerutkan dahi.


"Cepat berkemas! Kita akan pulang, saya tidak ingin menghabiskan uang saya disini."


"Pulang? Ke rumahku?" Elisa sangat bersemangat karena dia akan bertemu lagi dengan Nori.


"Tidak, tapi ke rumah saya yang ada di kota, cepat berkemas! Saya tidak menunggu persetujuanmu!"

__ADS_1


__ADS_2