
Elisa berjalan masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu dengan keras. Napasnya berderu menahan amarah, dia bergegas ke kamar dan merapikan kembali barang miliknya dan dimasukan ke koper. Elisa menderek turun koper miliknya, sembari menunggu Sky pulang dan berniat meminta pria itu membawanya ke desa.
Namun, Sky sedang bekerja di Kasino. Tidak ada kemungkinan dia akan pulang. Elisa memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Waktu demi waktu berlalu, Elisa masih menunggu pria itu di sofa. Hari sudah mulai gelap, bahkan perutnya sangat keroncongan sejak dua jam lalu. Karena tidak bisa memasak, Elisa akhirnya harus menahan laparnya.
Entah dia menunggu apa, mungkin menunggu keajaiban. Tapi malam itu, suara pintu terbuka dia melihat Sky pulang. Kali ini dia tidak mabuk, tapi auranya masih memancarkan kedinginan, seolah dia dikelilingi oleh roh jahat. "Kamu pulang?" Elisa menghampiri Sky, dia mencoba mencari perhatian pria itu dengan melayaninya.
"Kamu mau ku siapkan pakaian?"
Sky terus berjalan tanpa memedulikan Elisa.
"Air hangat?" Kata Elisa sembari berjalan di belakang Sky.
"Atau kamu ingin aku pijit?""
Hanya sampai disitu, karena sekarang Sky sedang menatap wanita itu dengan datar dan dingin. "Sudah saya bilang, urus saja dirimu!" Sky berbalik berniat menaiki tangga, sebelum dia mendengar suara perut Elisa dan ringisan wanita itu. Sky berbalik menatap Elisa yang sedang memegangi perutnya karena lapar.
Elisa menyeringai tipis, dia tidak bisa mengatakan pada Sky bahwa dia sedang kelaparan. Sky membuka kancing atas kemejanya sambil menatap Elisa. "Kam tidak bisa memasak?"
Sky berjalan mendahului Elisa, "ikut aku!"
Mereka berdua berjalan ke arah dapur. Tanpa kata Sky langsung mengambil sebuah wajan dan telur dari dalam kulkas. Dia mengocok telur hingga berbuih, menaruh wajan anti lengket itu diatas kompor dan menggoreng telurnya. Elisa duduk menunggu pria itu memasak, sembari terus memerhatikannya Elisa terlihat sangat kagum.
Sky datang dengan membawa satu piring telur dadar, dia menaruh di depan Elisa. "Belajarlah memasak, urus dirimu sendiri selagi disini. Saya tidak ingin di repotkan dengan hal begini, atau mengeluarkan uang untuk menyewa pembantu. Selama disini kamu bisa belajar hal yang tidak bisa kamu lakukan dulu saat masih menjadi anak manja." Kritikan tajam terlontar dari bibir tipis berwarna pink itu, Sky berlalu meninggalkan Elisa.
"Aku, aku ingin pulang ke desa!" Namun langkah Sky terhenti saat Elisa angkat bicara.
__ADS_1
"Pulang? Kamu istri saya. jadi tetaplah disini walau tidak melakukan apapun!"
"Jika aku tidak berguna untukmu kenapa kamu membawaku kesini?" Elisa menatap tajam Sky yang berdiri dua meter di depannya.
"Karena kamu istri saya. sejujurnya saya juga begitu tidak butuh peranmu dalam kehidupan saya. Tapi, saya tetap harus melakukannya!"
"Kenapa? Karena aku bahan taruhan? Karena kamu mendapatkanku dengan cara yang picik?" wajah Elisa kian memerah.
Sky menghampiri Elisa dan menekan keras pipi wanita itu dengan tangannya. "Dengar! Skandar yang mempertaruhkanmu. Bukan salah saya jika saya menang!" Sky memicing tajam ke arah mata Elisa.
Wanita itu kini terlihat kesakitan, karena tekanan pada pipinya semakin kencang. "Kamu bisa membuangku!" pekik Elisa.
"Bukankah ini yang kamu harapkan? Kamu bahkan menjebak saya dalam permainanmu Elisa! Kita berakhir dalam pernikahan ini karena ulahmu!" Sahut Sky pada wanita yang masih dia tekan tulang pipinya.
"Tapi, kenapa tidak kamu tolak sejak awal Tuan Sky? Aku juga tidak pernah ingin ada di pernikahan ini! Kamu tidak menghargaiku sama sekali!" Elisa, tidak pernah menyangka awal pernikahannya akan semenyedihkan ini.
Sky bertolak pinggang dan berdiri, pria itu menunduk untuk melihat istrinya yang bersimpuh. "Kamu lupa? Sudah saya bilang, Kamu adalah bagian dalam taruhan yang di lakukan kakakmu waktu itu!" pria itu tertawa kecil dan mendangah ke atas.
"Apa kamu menyesal tidak kembali pada mantan kekasihmu?" Sky menyunggingkan senyuman.
"Aku tidak pernah mengharapkannya lagi!" Elisa mendongak ke atas melihat sepasang mata cokelat terang milik Sky.
"Omong kosong! Saya muak berada disini!" Sky mendengus kasar kemudian lengan kemejanya dia gulung sampai siku dan berlalu begitu saja.
Elisa menunduk dan menangis, "kenapa dia membawa-bawa pria itu dalam masalah ini."
__ADS_1
Dia membanting pintu dengan keras. "Persetan!" pekik pria itu. Napasnya berderu, dia merasa sangat emosi karena Elisa. Tekadnya untuk membalas dendam pada keluarga wanita itu semakin membara namun sering teralihkan karena Elisa.
Tapi, bagaimanapun tujuannya menikahi gadis itu karena dia ingin membalaskan dendam atas kematian adiknya. Sky membuka kemejanya dan melempar sembarangan, dia tidak mengenakan sehelai di tubuh bagian atasnya. Namun celananya masih terpasang dengan rapih dibawah sana.
Elisa menghabiskan dadar telur yang dibuat oleh Sky, dia tidak tega untuk membuang makanan itu dan membiarkannya dingin. Setelahnya, dia berjalan ke kamarnya dan mendekat ke jendela kamar yang langsung memperlihatkan pemandangan luar. Rembulan yang sedang bersinar terang terlihat dari jendela kamarnya yang kini ia buka. Dia merenung, air matanya menetes dan terasa sangat asin saat tidak sengaja terkena bibirnya. "Ayah, apa kamu bahagia disana?" Gumam Elisa.
"Aku sudah menikah, namun pernikahanku sepertinya tidak akan berjalan lancar." Dia tersenyum dengan air mata yang tidak henti mengalir.
"Aku hanya ingin pulang kerumah kita."
"Aku, aku ingin hidupku seperti dulu ayah." Elisa menunduk, dia menangis lagi.
Suara pintu terbuka dengan sendirinya, "hentikan tangisanmu!" Seru pria yang menunjukan tatto di tubuhnya. Dia menghampiri Elisa, lalu mendorongnya hingga tersudut ke dinding dekat jendela.
"Lepaskan!"
"Sudah saya bilang, saya akan mendatangimu saat saya ingin melakukannya. Bahkan saya tidak peduli bagaimana suasana hatimu sekarang, saat saya minta dilayani, kamu harus patuh!" Sky menarik baju Elisa hingga kain bagian dadanya robek sampai ke perut.
"Aku bisa menuntutmu!"
"Kamu tidak bisa menuntut seorang suami yang menyetubuhi istrinya." Sky menyeringai.
Dia menahan kedua tangan Elisa diatas kepala wanita itu, lalu terus mencumbunya.
"Kamu harus merasakan setiap penderitaan yang adikku rasakan. Sampai kamu lebih memohon untuk mati daripada menjalani pernikahan ini." Sky membatin, dia menutup matanya merasakan kepedihan setiap kali mengingat kematian tragis adiknya.
__ADS_1
Sky menarik Elisa dengan kasar, kini tangan wanita itu di ikat ke gantungan gordyn yang ada di sebelahnya sehingga Sky tidak perlu menahannya lagi. "Apa aku binatang hah?" teriak Elisa sembari terus menangis.
Sedangkan Sky, tidak peduli sama sekali. Dia terus melakukannya dengan sesuka hati. Mencumbunya bahkan memberikan tanda gigitan di leher jenjang itu cukup banyak. Sky mengangkat tubuh Elisa agar terduduk di jendela. Wanita itu merasa agak takut karena dia hampir bisa melihat tanah dibawah sana. Walaupun ada balkon yang menghalangi.