Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan
Bab 14 : Paman Sam


__ADS_3

Elisa tahu, pernikahannya memang tidak berlandaskan cinta. Tapi, apalah dia pantas diperlakukan seperti itu? Dia menangisi perbuatan Sky padanya. Kini dia bahkan merasa dicampakan, Elisa masih menyembunyikan diri dibalik selimut tebal hotel yang berwarna putih itu.


Sedangkan Sky, kembali ke kamarnya lalu berbaring di atas ranjang. Dia merasa lelah dan masih terasa sangat mabuk. Tangisan Elisa membasahi pipinya, disatu sisi Sky menatap langit dikamarnya lalu menghela napas panjang. Itu adalah pertama kalinya bagi Sky, pertama kalinya juga bagi dia karena tidak merasa cemas dan khawatir mengenai hal itu.


Setelah apa yang terjadi pada adiknya, dia selalu mengalami mimpi buruk yang berulang hingga menjadikan dia orang yang dingin. Perkumpulan teman kasino tidak membuatnya menjadi pria yang akrab dengan orang lain.


Sky berusaha untuk memejamkan matanya, pria itu terus tidak bisa tidur dan malah memikirkan hal yang baru saja dia lakukan. Walaupun dia membenci Elisa, dia merasa bersalah juga atas tindakan tidak manusiawinya.


Pegawai hotel mengantarkan makan siang untuk keduanya, tapi Sky meminta pegawai itu untuk mengirimkan semua makanan ke kamar Elisa. "Permisi," kata pelayan hotel sambil mengetuk pintu kamar Elisa.


Elisa yang sudah mengenakan pakaian dan berbaring di atas ranjang pun beranjak lalu membuka pintu kamar. Dengan jalan perlahan dia mencapai pintu itu, dilihatnya seorang pegawai hotel mengantarkan makanan yang amat banyak.


"Silahkan, Tuan yang disebelah mengatakan bahwa Nona harus menghabiskannya, dia khawatir anda kehabisan tenaga jadi makanlah yang banyak." Pernyataan petugas hotel membuat pipi Elisa memerah, setelah kemarahannya pada Sky mereda dia merasa diperhatikan walau hanya dengan hal kecil seperti itu.


"Terimakasih," Elisa membawa makanannya ke dalam, lalu melahapnya secara perlahan.


Sedangkan Sky, hendak pergi dari hotel dan bertemu seorang yang sudah dia anggap sebagai pamannya. Pria itu adalah yang tahu betul tentang Sky, Bahkan pria itulah yang membantu Sky untuk sampai seperti sekarang.


Sedangkan Elisa tidak sanggup menghabiskan makanan itu sendirian, jadi dia memutuskan untuk mengajak Sky makan bersamanya.


Dia keluar dari kamar hotel, beriringan dengan Sky yang keluar dari kamarnya.


"Kenapa kamu keluar?" Sky mengangkat sudut alis kirinya.


"Uhm, aku ingin mengajakmu makan bersama."

__ADS_1


"Tidak perlu, habiskan saja. Saya akan makan ditempat lain, Saya juga tidak suka makanannya maka dari itu saya memberikan semuanya padamu." Sky melenggang pergi sebelum Elisa menjawab perkataanya.


Tapi, ucapan Sky berhasil membuat Elisa kembali berkecil hati. Dia menatap Sky yang mulai hilang dari pandangannya. Dia mendengus pelan lalu kembali ke kamarnya, bahkan sekarang dia juga sudah tidak berselera untuk memakan makanan yang berjejer rapi di meja. Elisa memutuskan untuk menelepon petugas hotel, meminta mereka membawa kembali makanan yang sudah dipesan.


"Jika tidak suka, kenapa memesan sebanyak ini," gumam Elisa sembari mendengus dan duduk dengan agak kasar. Dia lupa, bahwa area sensitifnya masih terasa ngilu.


"Aw!" ringis Elisa. Dia pun berpindah posisi dengan perlahan, bersandar ke ranjang sambil meraih buku yang belum sempat dia baca tuntas. Tidak lama, petugas hotel datang membawa makanan Elisa.


Sedangkan Sky, dia mengemudi ke rumah pamannya. Pria itu tinggal seorang diri, karena tidak memiliki anak dan istrinya sudah meninggal akhirnya Sky kecil di rawat olehnya seperti anak sendiri. Bahkan, dunia kasino dikenalkan oleh pamannya itu. Sky kecil, amat sangat pintar dalam bermain judi, sehingga setelah 20 tahun dia bisa mengumpulkan harta kekayaan yang banyak bahkan dia bisa membeli 20% saham kasino tempatnya menjadi bandar.


Sky membuka pintu mobil lalu melenggang masuk kesebuah rumah yang didepannya terdapat bengkel kotor untuk perbaikan motor dan mobil. Terlihat sosok pria tua berambut putih sedang sibuk memperbaiki ban bocor motornya, Sky pun berdeham untuk memberikan tanda kehadirannya.


"Hei nak, mana istrimu? Kamu tidak membawanya kesini?"


"Nak, bawalah kesini dia pasti bosan di hotel sendirian. Tapi tunggu, wajahmu terlihat sangat berbeda." Pria tua itu memerhatikan Sky yang mencoba memalingkan wajahnya.


"Matamu berbinar, sungguh berbeda dari biasanya."


"Kamu bicara apa paman, tidak ada yang berbeda dariku. Aku bosan di hotel dan kepalaku juga terasa sangat pengar." Sky duduk di sebuah kursi besi di depan pamannya.


"Kamu mabuk? Sudah makan?"


"Belum, maka dari itu aku kesini. Aku ingin mengajakmu makan siang."


"Kamu sangat mengerti diriku, aku juga belum makan sejak pagi tadi hahaha." Pria itu berdiri lalu menyeka tangannya yang penuh oli dengan kain lap.

__ADS_1


"Kamu sungguh aneh, sudah punya istri tapi malah memilih makan bersama pamanmu? Ingatlah pesanku, jangan terlalu kejam padanya!" Pamannya menoleh ke arah Sky, tapi pria itu seperti tidak peduli ucapan pamannya.


"Aku baik, aku membiarkan dia makan sepuasnya." Sky beranjak dari duduknya lalu membantu paman Sam menutup bengkel. Mereka berdua berjalan masuk kedalam mobil tua milik Sky, mereka berencana untuk makan di restoran burger di dekat sana.


"Kenapa kamu tidak mengajaknya ke rumahmu?" Paman Sam menoleh ke arah Sky.


"Rumahmu kosong, sayang jika tidak ditempati." lanjutnya.


"Aku belum berpikir sampai kesana, entah aku akan membiarkannya pulang kembali ke desanya atau tinggal di kota. Aku belum tahu." Sky masih fokus mengemudi.


"Maksudmu kamu tidak akan menemaninya, dan dia tidak akan menemanimu?"


"Aku belum tahu paman, aku tidak butuh keberadaanya, kamu tahu aku sudah terbiasa hidup sendiri." Sky mulai bersikap egois.


"Sky, wanita itu istrimu. Perlakukan dia dengan baik, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari." Paman Sam, mencoba menasehati pria itu namun tidak akan mempan jika Sky memang tidak berniat melakukannya.


"Menyesal? Aku bersumpah tidak akan menyesali apapun paman." Sky tertawa kecil, dia menepikan mobil di restoran sederhana namun sangat terkenal disana. Mereka berdua keluar dari mobil dan mulai memesan makanan.


Sedangkan Elisa, di hotel sendirian. Dia merasa sangat bosan, dia tidak punya teman, teman satu-satunya dia Nori, ada di rumah. Dia juga tidak bisa membawa Nori ke kota. Padahal dulu hidupnya menyenangkan walau sendirian, tapi setelah menikah kenapa hidupnya terasa sangat membosankan dan menyedihkan.


Terlebih, suaminya yang tidak menganggapnya ada. Dia juga merasa tidak diinginkan oleh suaminya, dia tidak tahu harus melakukan apalagi selain membaca buku. Tapi, kali ini dia punya ide. Dia ingin jalan-jalan sebentar di kota yang baru saja dia kunjungi itu. Dia segera siap-siap mengenakan pakaian mahalnya, kemudian membawa payung untuk menutupi sinar matahari menyorot ke kulitnya.


Elisa melenggang keluar dari hotel, dia ingin mencari makanan ataupun hanya sekedar menonton pertunjukan dijalanan. Wanita itu membuka lebar payungnya sambil berjalan di trotoar jalan yang dilalui banyak orang. Setengah perjalanan ke pusat kota, dia berpapasan dengan seseorang yang dikenalnya.


"Elisa?" kata pria bersuara berat dan agak serak.

__ADS_1


__ADS_2