
Setelah suasana mulai tenang keduanya kembali ke rumah melanjutkan aktifitas penuh gairah bersama. Hingga menjelang pagi, mereka segera kembali ke kota dikarenakan Sky memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Di dalam perjalanan keduanya terdiam tanpa kata, Sky sedang berkecamuk dengan pikirannya ia tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Sedangkan Elisa, berharap semua masalah segera bisa diselesaikan sesampainya di rumah mereka.
Setelah sampai di kediaman Sky, Elisa merapikan kamar tidurnya. Disana masih ada Mera yang menyambut hangat Sky sesaat setelah sampai rumah. Sky juga tidak menolak dan hanya diam saja, ia malah langsung membawa Mera pergi ke kasino tanpa bicara pada Elisa. Sejauh ini, Elisa masihlah tetap sama bagi Sky, menurut pria itu lebih baik ia tidak meminta Elisa melakukan apapun sehingga tidak membuat hatinya bimbang, semakin Elisa berusaha mendekat padanya akan semakin sulit pria itu mengendalikan perasaannya.
Di dalam kamar Elisa hanya bisa membaca buku dan sesekali keluar untuk berkebun, tapi entah kenapa hari ini ia merasa sangat pusing dan mual. Ulu hatinya terasa perih seperti belum makan seharian, ia juga jadi sensitif dengan serbuk bunga di sekelilingnya. Sehingga ia mencoba untuk melakukan aktifitas lain, tapi saat ia beralih ke dapur dan hendak mempelajari resep yang dibuat Nori ia malah muntah-muntah hebat.
Dia pikir, dia mungkin masuk angin setelah kehujanan semalam bersama Sky. Ia hanya akan beristirahat sampai keadaannya membaik. Sore telah tiba, Sky dan Mera kembali pulang ke rumah bersama-sama. Pandangan Sky menelaah ke setiap sudut mencari keberadaan Elisa yang belum terlihat batang hidungnya, biasanya Elisa langsung menyambutnya pulang. Namun hari ini, rumah terasa sepi bagai tanpa kehadirannya.
Sky berjalan masuk ke kamar Elisa, wanita itu ternyata ada di sana. Tapi sungguh berbeda dari biasanya, ia malah tetap berdiam diri walau melihat Sky masuk ke dalam kamarnya. Entah kenapa ia merasa kesal dan cemburu saat tahu Sky kembali bersama Mera.
"Ada apa? Apa kamu sakit?" Sky menghampiri Elisa dengan raut wajah cemas.
Elisa menggeleng pelan. "Tidak!"
Melihat raut wajah Elisa yang jauh dari kata bahagia membuat Sky semakin merasa bersalah. Bukankah alangkah baiknya ia melepaskan Elisa sehingga keduanya tidak berakhir saling menyakiti? Sky mendekat ke arah Elisa kemudian meraih tangan wanita itu lembut. "Mari kita bercerai!"
Bak terkena petir di siang hari, mata Elisa membulat menatap tajam Sky. Ia mengibaskan tangan Sky yang ada pada tangannya dengan kasar. "Apa lagi kali ini, Tuan? Apa aku berbuat kesalahan lagi? Apa ada hal yang membuatmu marah lagi?"
Sorot mata takut Elisa semakin membuat perasaan Sky berkecamuk. Bagaimana bisa ia membuat seorang wanita ketakutan setengah mati seperti Elisa, dia merasa sangat tidak berperasaan sehingga mungkin melepasnya adalah jalan paling baik. "Aku akan melepaskanmu, lakukanlah semua hal yang kamu inginkan. Aku juga akan mengembalikan semua hartamu dan tidak akan mengungkitnya."
__ADS_1
Sky menyerah pada perasaannya, ia juga akan melupakan dendamnya pada keluarga Elisa. Setidaknya dengan itu, dia akan merasa lebih tenang.
Elisa menggeleng kuat. "Aku tidak mau semua itu, bukankah Tuan tahu dalam pandangan para bangsawan dan masyarakat seorang istri yang diceraikan suaminya bukanlah istri yang baik. Bagaimana aku bisa hidup dengan menyandang status janda seperti itu?"
"Kamu bisa kembali pada mantan kekasihmu, Harry."
"Tuan! Kenapa kamu sungguh keterlaluan! Aku tidak ingin membahas ini lebih baik tuan pergi dari kamarku!"
Setelah mendengar dan melihat kemarahan Elisa, Sky agak kebingungan ia tidak menyangka wanita itu akan menolak padahal ia pikir hal itulah yang Elisa inginkan selama ini. Saat Sky hampir berjalan ke ambang pintu, Elisa mulai mual-mual kembali dan merasakan pusing yang tidak tertahankan. Pria itu langsung menoleh ke arah istrinya dan berlari untuk memastikan kondisi Elisa. "Elisa, apa kamu sakit? Aku akan memanggilkan dokter!"
Dua jam berlalu dan Elisa sudah diperiksa dengan baik oleh dokter yang Sky panggil. Walaupun tatapan Sky terkesan datar tapi di hatinya ia merasa khawatir terhadap Elisa. Saat dokter keluar dari kamar Elisa, pria itu mengucapkan selamat pada Sky atas kehamilan Elisa. Sky terkesiap dan tidak percaya apa yang ia dengar, ia tidak pernah berencana memiliki seorang anak dari Elisa tapi tindakannya selama ini memang ia lakukan tanpa pengaman apapun.
Sky terdiam dan berjalan masuk ke dalam kamar Elisa, Mera yang ikut mendengarnya berjalan di belakang Sky dengan raut wajah tidak percaya. "Kakak Elisa, selamat ya kamu hamil!"
Yang Elisa maksud adalah rencana perceraian yang sudah Sky katakan padanya. Walaupun kini ada malaikat kecil diantara mereka, Elisa tetap tidak akan menghalangi langkah Sky untuk bercerai. Walau sedih dan sakit rasanya tapi ia sudah siap menanggung semuanya sendiri.
"Duh, kakak! Apa tidak bisa melihat wajah Tuan? Dia begitu khawatir kepadamu, tapi kamu memintanya untuk melanjutkan gugatan perceraian, apa karena kamu takut ketahuan kalau itu bukan anak Tuan?"
Sky dan Elisa langsung mendelik tajam ke arah Mera. "Jaga bicaramu! Aku tidak semurahan dirimu!"
__ADS_1
"Ah begitu ya, Tuan Sky yang paling tahu kakak Elisa. Apa Tuan yakin bahwa itu adalah anakmu dan bukan anak Tuan Harry? Kamu ingatkan saat kita bertemu di kasino dengannya, Tuan Harry bilang bahwa dia bertemu dengan kakak Elisa di luaran hotel? Jika dihitung, kejadian waktu itu sudah hampir satu bulan lamanya."
Sky mendelik tajam ke arah Mera. "Diam atau aku akan memotong lidahmu!" pria itu melenggang keluar dengan penuh amarah. Sepertinya Mera berhasil lagi memprovokasi Sky untuk curiga terhadap Elisa.
Elisa beranjak dari tempat tidurnya kemudian berdiri dan menghampiri Mera. Ia menampar pipi Mera dengan keras. "Kamu jalaang tidak tahu diri!"
Sembari menahan sakit atas pukulan Elisa, Mera tertawa kecil dan memicing tajam ke arah wanita itu. "Kita lihat saja, siapa yang akan lebih Sky percayai. Kamu atau aku!"
"Terserah, aku sudah tidak peduli lagi!" Elisa berbalik dan kembali beristirahat. Untuk saat ini dokter mengatakan bahwa ia tidak boleh banyak pikiran agar bayi di dalam kandungannya tidak ikut merasakan stress. Jadi, Elisa sebisa mungkin akan tetap bersikap tenang agar tidak melukai malaikat kecilnya dengan Sky.
Setelah Mera keluar dari kamar Elisa, ia segera pergi ke kasino tanpa Sky. Sangat kebetulan di kasino ada Harry yang sedang bermain dan minum bersama temannya yang lain. Dengan sengaja wanita itu mendekati Harry agar masuk ke dalam perangkapnya. "Tuan, apakah Tuan sudah dengar?"
Harry menoleh ke arah Mera sembari mengangkat sudut alis kirinya. "Ada apa?"
"Bisakah kita bicara berdua saja? Ini menyangkut Nona Elisa!"
Mendengar nama Elisa terucap dari mulut Mera, tanpa pikir panjang pria itu mengiyakan ajakan Mera untuk berbincang berdua. "Entah apa yang dilakukan Tuan Sky, tapi karena aku sangat peduli pada Nona Elisa sepertinya aku harus menyampaikan ini padamu."
"Cepat katakan!" pungkas Harry.
__ADS_1
"Nona Elisa mengalami siksaan yang cukup berat dari Tuan Sky, sampai ia jatuh sakit dan merasa lemas. Jika Tuan mau menjenguknya. Aku akan mencari cara agar kalian bisa bertemu, saat aku merawatnya ia beberapa kali memanggil namamu. Mungkin ia ingin kamu membawanya pergi.
Untuk urusan Tuan Sky, biar aku yang urus."