
...KEDIAMAN MICHIGAN...
Malam itu, tepat di bulan purnama, cahaya rembulan yang menyorot peternakan milik Michigan terlihat begitu indah. Tak lama, sebuah mobil terparkir di depan rumah dengan pilar yang kokoh itu.
Brug , (Suara pintu mobil tertutup.)
Tidak lama seorang pria keluar dengan balutan tuxedonya yang rapih, janggut halus diwajahnya kini mulai menebal menambah kesan maskulin pada orang itu.
Sebenarnya siapapun akan sulit untuk tidak jatuh cinta pada pria tampan ini. Hanya saja bagi Elisa, Sky hanya seperti bola penghancur dalam kehidupannya. Sky berjalan menuju rumah besar itu, di sisi lain wanita cantik dengan rambut sepinggang masih dengan pakaian sederhananya. Dia belum mempersiapkan diri sama sekali, rasa malas menyerangnya dengan kuat.
Heningnya rumah itu, membuat suara langkah kakinya menggema. "Kemana orang-orang ini, Nori!" pekiknya memanggil pelayan rumah itu.
Elisa yang mendengar teriakan pria itu mendengus pelan, setelah beberapa hari tidak melihat wajahnya. Pria itu muncul juga, seperti biasa dengan aura negatif yang sangat wanita itu benci, tapi kali ini dia tidak mau menghampiri Sky. Elisa akan mengabaikannya dan anggap saja seperti makhluk halus. "Ya Tuan," Kata Nori sambil tergesa-gesa menghampiri majikannya, Sky.
"Kenapa rumah ini sepi sekali? Apa wanita itu sudah bersiap?" Yang dimaksud Sky adalah Elisa, dia mencoba mencari tahu pada Nori tentang wanita itu.
"Maaf Tuan, saya sedang sibuk di dapur. Kalau Nona Elisa, saya belum memeriksanya di kamar. Tunggu, akan saya lihat dulu." Kata Nori sambil berlari ke arah tangga.
Sky hanya menatap wanita tua itu datar, dia duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya. Sambil melihat arloji kunonya dia menunggu wanita itu. Jam sudah menunjukan pukul 6 sore, acara pun akan dimulai sekitar 2 jam lagi. Nori yang berlari ke arah tangga pun kini sudah ada tepat di depan pintu kamar Elisa.
Tok tok tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu tiga kali, membuat Elisa menoleh ke arah pintunya.
Dia mengerjap dan bangun dari posisinya yang sedang telungkup sambil membaca buku di ranjang. "Nona, Tuan Sky sudah datang. Apa kamu sudah bersiap?" Suara Nori menembus sela-sela pintu sampai menjalar ke telinga Elisa. Wanita itupun menaruh bukunya dengan kasar.
Dia berjalan ke arah pintu, membukanya untuk Nori. Dengan tatapan tidak bersemangat Elisa menghela nafas panjang. Pelayannya yang melihat Elisa belum mempersiapkan apa-apa langsung mengomel. "Nona, sebentar lagi acaranya akan dimulai. Dengarkan aku," Nori mengajak Elisa ke dalam kamar.
Wanita itu dan Elisa kini duduk di tempat tidur, "Dengarkan aku nona, menurut pandanganku hal ini lebih baik untukmu. Sebelum kabar soal Skandar menyebar uas, kamu harus mengumumkan pernikahan kalian lebih dulu. Aku tidak ingin kamu menerima perlakuan buruk dari orang-orang atas kesalahan kakakmu. Aku menyayangimu nona." Nori menunduk, dia sangat berharap bahwa Elisa menerima ide cemerlang menikahi Sky.
Elisa mendengus pelan, sorot matanya kosong dan datar. " Sepertinya akan lebih menyenangkan jika aku mati saja, Nori. " Ungkapan kekecewaan Elisa tersirat begitu suram. Nori mengerti wanita itu bagai sedang di ujung jurang.
"Nona, kumohon jangan berkata seperti itu." Nori menangis melihat Elisa yang tanpa ekspresi.
"Sudah, aku akan bersiap. Kamu mau membantuku kan?" Elisa berdiri secara tiba-tiba, lalu menatap Nori dengan riang. Nori yang melihat itu langsung menyeka air matanya, wanita itu berdiri dan memegang kedua lengan Elisa. "Tentu, aku pasti akan membantumu."
Setengah jam mereka bersiap untuk untuk ke acara itu, turunlah Elisa ke lantai bawah. Dilihatnya Sky sedang berbaring di sofa sambil menutup matanya dengan lengan kirinya.
Tidak bisa dipungkiri, Elisa terlihat manis dan juga seksi dalam waktu yang bersamaan. Pria itu kemudian memalingkan pandangannya, dia berdiri merapikan pakaiannya dan bersiap untuk pergi. "Karena kamu sudah siap, mari kita berangkat sekarang!" Katanya agak dingin. Raut wajahnya menunjukan ketidak tertarikan pada Elisa. Tapi bukankah sulit tidak menyukai wanita secantik dirinya.
Elisa berjalan di belakang Sky, dia mengerucutkan bibirnya. Jujur saja, dia tidak tertarik dengan acara apapun yang mereka selenggarakan sekarang. Dia kesana karena Nori memintanya. Sky bahkan tidak membukakan pintu mobil untuk Elisa, dengan mendengus wanita itu membuka pintu mobilnya sendiri lalu duduk di kursi belakang.
"Apa kamu pikir saya supirmu? Tuan Putri ?" Sky menaikan sebelah alisnya, merasa geram karena Elisa memilih duduk di kursi belakang. Dengan rasa kesal wanita itu keluar dan berpindah ke kursi depan.
"Kamu puas?" Tanya Elisa pada Sky.
"Belum, belum saatnya." gumam Sky.
__ADS_1
Pria itu menoleh ke arah Elisa datar, keduanya saling membenci tapi kenapa memilih untuk menikah? Bukankah, itu akan membuat salah satu pihak ataupun keduanya terluka? Sky mengendarai mobilnya dengan lamban, untuk sampai di gedung serbaguna Amarys, membutuhkan waktu sekitar 40 menit berkendara.
Setelah sampai, keduanya turu.. Kali ini Sky membukakan pintunya untuk Elisa dan dia mengulurkan tangannya. Elisa menatap pria itu sinis, tapi dengan terpaksa Elisa pun meraih tangan itu dan menggenggamnya. Tangan Elisa kini melingkar di area siku Sky, mereka berjalan seirama ke dalam gedung itu.
Hal yang pertama mereka lihat adalah sekumpulan pria di meja bundar besar sedang mengobrol, semuanya sedang unjuk diri. Di sisi lain, meja bundar untuk para wanita ramai kerena celotehan tiada henti mereka. Sky dan Elisa berjalan perlahan, paman Charly yang sudah datang lebih dulu menyambut mereka dengan gembira. Dia berdiri lalu memperkenalkan Sky dan Elisa yang baru datang.
"Kemarilah!" Paman Charly meminta Sky dan Elisa mendekat ke meja itu.
"Semuanya, perkenalkan ini calon suami Elisa." Pria tua itu dengan tangan terulur menyambut Albert Sky.
"Wah, tuan Sky akan menikah, selamat!" Salah seorang yang mengenalinya pun langsung berdiri dan mengucapkan selamat serta menjabat tangan Sky.
"Terimakasih semuanya," Sky tersenyum menatap Elisa yang memerhatikannya. Mereka sangat pintar bersandiwara, padahal di hati mereka saat ini ada kebencian yang begitu besar untuk satu sama lain.
"Elisa, akhirnya kamu menerima lamaran seorang pria. Bolehkah aku tahu, Tuan Sky pria ke berapa puluh yang sudah melamarmu?" Tanya salah seorang pria tua yang pernah Elisa tolak cintanya, bagaimana tidak dia menginginkan Elisa untuk dijadikan istri ke-3 nya.
Elisa menatap sinis orang itu, "Aku tidak ingat, yang pasti pria di sampingku ini yang akan menemani hari-hariku nanti." Elisa menyeringai dengan penuh makna tersirat.
Sky menoleh ke arah Elisa, "Terimakasih sayang," katanya sambil mengelus punggung tangan wanita itu.
Suara langkah kaki mendekat ke arah mereka, "Selamat malam," kata orang yang baru datang itu. Elisa menatap mata berwarna hijau pria di sampingnya. Pria itu begitu tampan berbalut tuxedo berwarna biru dengan rambut bergelombang yang dibiarkan natural.
"Sudah lama sekali!" Batin Elisa. Matanya berbinar menatap pria disana.
...****************...
__ADS_1
...****************...