
Suasana riuh seperti biasanya, ruang kasino disesaki bau alkohol yang menyengat, tawa terbahak orang-orang juga asap rokok yang mengepul dimana-mana. Sky masih menenggak minuman beralkohol miliknya, dia mendengus pelan. Matanya menatap kesekeliling ruangan itu. Matanya bertemu dengan sepasang dua bola mata berwarna hijau dari kejauhan.
Pria itu menatap seksama saat orang yang dilihatnya tadi melangkah ke arahnya.
"Tuan Sky?"
"Hei, Tuan Harry." Sky meletakkan rokok miliknya dan menjabat tangan Harry.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini. Ku kira kamu dan Elisa sedang menikmati bulan madu."
"Kami menundanya, ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan terlebih dahulu." Sky menyeringai.
"Kalau begitu, semoga berhasil!" Harry menebar senyum manisnya.
"Apanya yang berhasil?" gumam Sky sembari menaikan kedua alisnya.
Harry belum sempat menjawab saat seorang wanita berambut merah datang menghampiri mereka berdua. "Sayang, kamu disini? Ku kira kamu sedang memadu kasih bersama istri barumu." Wanita itu adalah Mera, wanita penghibur yang sering berkeliaran di kasino.
Harry menatap Sky dengan datar, dia memerhatikan pria yang tidak nyaman dengan keberadaan Mera dipangkuannya. Tapi dia tidak protes sedikit pun. "Hei Tuan Harry, aku Mera. Kamu pasti sudah mengenalku 'kan?" Mera berbalik ke arah Harry, dia masih duduk di pangkuan Sky.
"Tentu, aku sering mendengar namamu."
"Aku seterkenal itu ya? Mungkin lain kali kita bisa menghabiskan waktu bersama." Mera mencoba menggoda Harry.
"Jika ingin mengobrol bisakah kamu menjauh dulu dari dari saya?" Sky bernada risih, dia memutar bola matanya dan menyingkirkan tubuh Mera dengan sekali tepis dari pangkuannya.
"Apa kamu cemburu?" Mera berdiri dan menoleh ke arah Sky.
"Cih, untuk apa saya cemburu?"
__ADS_1
"Saya pergi dulu, silahkan melanjutkan kegiatan kalian." Harry beranjak dari sana dan pergi ke meja judi yang sudah disiapkan untuknya. Sky menatap Mera tajam, dia berjalan melewati wanita itu dengan kesal lalu keluar dari kasino. Dia menghela napas panjang sampai akhirnya masuk ke dalam mobil untuk kembali ke hotel.
Sudah jam 2 siang sejak dia keluar dari hotel, dia akan kembali ke hotelnya untuk tidur. Sky merasa pusing karena alkohol yang dia minum di kasino sehingga dia berjalan agak sempoyongan. Untunglah, hotelnya tidak jauh dari sana, hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke hotel tempat mereka mengina.
Elisa sedang duduk sembari bersandar di tempat tidur saat ada suara ketukan di luar pintunya. Wanita itu segera menutup bukunya dan berjalan ke arah pintu untuk memeriksa siapa yang datang.
Seorang pria yang dia kenal tengah menunduk di depan pintu, Elisa segera membukakan pintu. Sky yang sempoyongan hampir terjatuh jika tidak ada Elisa yang menahannya. Dengan sekuat tenaga Elisa membawa Sky ke tempat tidur. "Kenapa kamu mabuk disiang hari seperti ini?" Elisa dengan telaten membuka sepatu milik Sky.
Dia menaruhnya dengan rapih di dekat pintu keluar. Elisa bertolak pinggang sembari menghela napasnya, dia menatap Sky yang tertidur di atas ranjang miliknya. Dia tidak merasa keberatan karena mereka sudah menjadi suami istri.
Lagipula, Elisa sudah mulai menerima pria itu. Dia menyukai Sky sejak malam pesta pernikahan.
"Kalau begitu, aku akan ke kamarmu." Elisa sudah meraih buku yang tadi dia baca, dia berniat untuk pergi ke kamar satunya lagi. Tapi tangan itu menahan Elisa pergi, Sky menarik lengan Elisa sampai wanita itu terjatuh ke ranjang.
"Tuan Sky, apa yang akan kamu lakukan? A-aku tidak siap untuk itu." Elisa terjatuh ke arah Sky, sampai pria itu membalikan tubuhnya dan membuat Elisa berada di bawahnya sekarang.
"Saya tidak meminta persetujuanmu," Sky menarik lengan baju Elisa dengan kasar sampai robek.
Elisa berkali-kali meronta dan memukul bahu Sky tapi pria itu tidak menghiraukan perasaan istrinya, bahkan terlihat bekas cakaran kuku Elisa terukir di punggung pria itu. Ini tidak terlihat seperti bercinta, melainkan pemaksaan bagi Elisa. Jika tidak mabuk, pria itupun tidak akan pernah bisa melakukannya.
Setelah 45 menit menyerang Elisa cukup ganas, Sky mengistirahatkan tubuhnya di ranjang. Jantungnya berdegup kencang, napasnya kian normal dan kembali tenang. Mata pria itu terlelap, saat Elisa memunggunginya dan menangis atas perlakuan Sky yang tidak menyenangkan itu.
"Kamu memerkosa istrimu sendiri."
Terdengar suara tawa kecil parau dari Sky, "bagaimana mungkin kamu menyebutnya pemerkosaan saat kamu adalah istri saya sendiri?"
Elisa menangis dalam diam, dia tidak ingin mengatakan apapun lagi. Dia merasakan sesuatu mengalir dari tubuhnya. Dia segera bangkit untuk ke kamar mandi tapi sebelum itu dia melihat bercak darah di kasur tempatnya berbaring. Akibat perlakuan Sky, dia bahkan mengeluarkan darah lebih banyak dari yang seharusnya. Wanita itu kini berendam di bath ub, dia memejamkan matanya sembari mencoba menenangkan diri.
Sedangkan Sky tertidur dengan pulas.
__ADS_1
Itu kali pertamanya melakukan hubungan suami istri, dia melakukan itu dengan sengaja agar Elisa semakin tertekan menikah dengannya. 30 menit berlalu, Elisa masih berada di dalam bath ub. Rupanya, dia tertidur disana. Dia terbangun lalu membilas dirinya di bawah shower.
Elisa berjalan keluar kamar mandi dengan perlahan, wanita itu melihat Sky yang sudah memakai pakaiannya lagi dan berdiri sembari mengancingkan kemejanya. "Kamu akan pergi?" Elisa menatap pria itu dengan polos.
"Saya akan istirahat di kamar, malam ini saya harus pergi lagi. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan." Sky hendak keluar dari kamar sebelum Elisa menahan pria itu.
Mata wanita itu memerah, "Aku bukan jalanggmu Tuan Sky!"
Sky sontak langsung menoleh ke belakang ke arah Elisa, dia menatap wanita itu dengan dingin. "Lalu? Apalagi manfaatmu selain itu?"
"Aku istrimu, aku bukan pajangan! Tolong perlakukan aku dengan benar!" Elisa menatap Sky dengan tajam.
"Dengarkan saya nona Elisa, untuk saat ini fungsimu hanya sebagai itu. Jangan meminta lebih!"
"Lalu kenapa kamu menikahiku?" Elisa mengeratkan handuk di tubuhnya.
"Karena kamu milikku, kamu di pertaruhkan oleh Skandar untukku!" Sky mendekat ke arah Elisa.
Elisa mendangah ke arah Sky yang lebih tinggi darinya.
"Aku bukan budakmu!"
"Kamu tidak lain hanyalah budakku untuk saat ini!" Sky menatap tubuh Elisa yang hanya dibalut handuk putih melingkar. Pria itu mendorong Elisa dengan kasar hingga terpojok.
"Saya bisa melakukan ini," Sky menarik kasar handuk itu sampai tidak tersisa satu helai pun. Elisa dengan cepat mendorong Sky lalu berlari ke arah tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Sky menatap Elisa dengan datar, "saya bisa melakukan apapun sesuka saya." Kemudian pergi dari sana dan menutup pintu dengan keras.
Elisa tertegun melihat perlakuan suaminya itu, dia membayangkan betapa menyedihkannya pernikahannya ini.
__ADS_1
...****************...
...****************...