
Elisa menatapnya dengan tidak berkedip, dia tidak menyangka pria yang baru datang itu adalah Harry, mantan kekasihnya. Wanita itu langsung memalingkan pandangannya, Sky yang sedang memperhatikan Elisa pun mencoba mengartikan mimik wajah Elisa, dia merasa ada sesuatu yang aneh dari sikapnya.
"Selamat datang Tuan Harry," ucap salah seorang pria dari perkumpulan itu. Harry tersenyum manis memperlihatkan lesung pipi yang dimilikinya.
Kemudian, pria itu menoleh ke arah Sky. "Selamat malam Tuan Sky, kita bertemu lagi." Imbuh pria itu sambil menyeringai dan mengulurkan tangannya.
"Selamat Malam," jawab Sky sambil menjabat tangan pria itu.
Harry berusaha melihat wajah yang dia kira tak asing itu, tapi Elisa mendekat ke arah Sky untuk menghindari pandangan mantan kekasihnya.
"Elisa, sapalah Tuan Harry. Bukankah kalian teman dekat?" Entah apa maksud pamannya, tapi pria itu sekarang sedang tertawa kecil bersama teman-teman yang lain. Padahal mereka tahu bahwa Harry adalah mantan kekasih Elisa, dia adalah pria yang 7 tahun lalu akan menikah dengan wanita itu. Tapi karena satu hal dia akhirnya malah menikahi orang lain.
Pria itu adalah seseorang yang membawa luka bagi Elisa sehingga dia tidak ingin lagi mengenal pria manapun setelahnya. Sky mengalihkan pembicaraan dari Paman Charly, dia menarik Elisa semakin mendekat lalu menatap Harry dengan seringaian khasnya.
"Perkenalkan dia calon istriku," ujar Sky sambil tersenyum tipis. Lalu Elisa pun menatap sky dengan dalam, dia kagum dengan pria itu.
Bahkan di situasi seperti ini, pria itu sangat peka terhadap perasaannya. Tapi hatinya mencoba mengelak, dia tidak mungkin menyukai Sky. Pria itu adalah orang yang merebut semua aset kekayaan keluarganya, Jadi untuk apa kagum terhadap pria yang seperti itu.
Harry tersenyum kecut ke arah Sky, pria itu kini bergabung duduk bersama yang lain begitupun dengan Sky. Sedangkan Elisa pergi ke meja perempuan, disana semua orang tampil dengan sempurna. Tidak ada yang melupakan satu inchi pun wajahnya dari riasan.
Pria itu, kemudian menoleh ke arah Elisa, dia melihat wanita itu mulai bergabung dengan yang lain. Sky dan Harry pun duduk di satu meja bersama yang lainnya.
Setelah itu akan ada acara berdansa dengan pasangan masing-masing, "Elisa. Kamu akan menikah dengan Tuan Sky? Wah kamu beruntung sekali." ucap nyonya Gibson pada Elisa yang sedang menenggak anggur merahnya.
"Ya, dia calon suamiku." jawab Elisa dengan sangat terpaksa. Sesekali dia mencuri pandang pada mantan kekasihnya, Harry. Wanita itu sesekali menghela napas panjang.
Acaranya berlangsung dengan lancar, setelah pengumuman pernikahan Elisa dan juga Sky. Mereka kembali ke rumah keluarga Michigan.
__ADS_1
Singkatnya, seminggu kemudian Elisa dan Sky telah berhasil mengikat janji suci. Itu di tandai dengan sebuah cincin melingkar di jari keduanya. Setelah acara pernikahan selesai, Sky membawa Elisa ke kota untuk menginap di sebuah hotel disana.
Sky tidak pernah berniat untuk bermalam bersama Elisa, dia mengajak wanita itu ke hotel hanya karena dia ingin terhindar dari berbagai pertanyaan tentang malam pertama. Sky masih bersikap dingin, bahkan dia hanya terlihat hangat di hadapan para tamu saja. Sedangkan, saat bersama Elisa, dia tidak pernah sehangat itu.
Selama di dalam perjalanan, mereka tidak banyak bicara bahkan tidak mengobrol sama sekali. Elisa masih menatap jalanan yang kini mulai gelap karena pencahayaan yang minim. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, keduanya berisitirahat di sebuah hotel. Mereka masuk ke dalam hotel untuk mengambil kunci kamar mereka.
"Sky Albert,"
"Ini tuan silahkan, nomor 135 dan 136." Resepsionis itu memberikan Sky dua kunci kamar. Elisa hanya bisa menatap pria itu dengan sedikit terkejut.
Dia pikir, itu akan menjadi malam mereka. Nyatanya tidak, sepanjang malam Sky berada di kamar nomor 135 dan Elisa di kamar 136. Tidak ada kata yang Sky ucapkan, hanya satu kalimat saat dia menyerahkan kunci pada Elisa. "Masuklah!"
Hanya itu, Sky menghabiskan malamnya dengan pikiran bercabang. Dia selalu mengingat momen kepergian adiknya. Kadang, dia merasa caranya mambalas dendam itu salah. Tapi, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk saat ini. Rasanya belum puas jika dia tidak menghancurkan keluarga itu sampai ke akarnya.
Esok harinya, Elisa masih menunggu Sky di kamar. Wanita itu merasa lega karena dia tidak di sentuh oleh Sky, tapi disatu sisi dia juga sedih. Karena dia merasa diabaikan. Padahal hari sebelumnya, Sky sukses membuatnya merasa berharga bahkan saat dihadapan orang lain Sky memperlakukannya dengan sangat baik.
Menunggu di depan pintu seperti orang linglung, "permisi nona, penghuni kamar sepertinya sudah pergi sejak pagi buta. Tapi dia akan kembali, karena beliau memberi saya pesan bahwa nona diminta menunggunya sampai kembali. Katanya ada urusan."
Apa-apan itu, Elisa tertegun mendengar setiap penjelasan yang pelayan hotel itu sampaikan. Dia di campakkan?
Elisa mengangguk sembari tersenyum pada orang itu, tanpa kata Elisa kembali ke kamarnya. Dia memutuskan untuk meraih buku yang sudah dia bawa di tasnya. Dia membaca buku itu, di samping sofa yang menghadap langsung ke luar jendela. Rupanya Sky sedang berada di kasino tempatnya sering menjadi bandar disana. Dia sedang minum bersama rekan yang lain.
"Tidak ku sangka, kamu menikahi keluarga Michigan." seorang pria paruh baya sedang menenggak segelas champagne ditangannya.
"Cih," Sky tertawa kecil, pria itu ikut menenggak minuman yang sama.
"Setidaknya berikan dia nafkah dengan baik."
__ADS_1
"Jika aku melakukannya, dia tidak akan menderita."
"Pernahkah satu kali kamu berpikir untuk melepaskan masa lalumu di belakang?" Pria tadi memerhatikan Sky dengan seksama.
Pria itu menggeleng pelan,
"Aku hidup untuk ini, jika tidak aku mungkin sudah mengakhiri hidupku sejak saat itu." dia menyeringai tipis. Tato di lengannya kini terlihat jelas.
"Kamu menyakiti dirimu sendiri Albert." Pria itu seolah tahu banyak tentang Sky.
"Kamu berjanji akan membantuku sampai akhir," Sky menoleh ke arah pria itu dengan mata yang memicing.
"Elisa adalah urusanku. Selagi dia istriku aku bisa melakukan apapun padanya bukan? Bahkan jika dia harus mati di tanganku, aku berhak melakukannya."
"Hey, itu sangat kejam! Tapi, aku yakin kamu bukan tipikal orang yang main tangan terhadap perempuan." sahut pria tadi.
Sky tertawa kecil, "kamu tahu banyak tentangku, tapi aku masih belum tahu kemana pernikahan ini akan berjalan."
"Kamu sudah mendapatkan segalanya dari keluarga itu, kamu bahkan sudah menguras seluruh kekayaan mereka melalui kebodohan si Skandar. Lalu sekarang menikahi perempuan keluarga itu. Apa lagi rencanamu?"
"Dia tidak pernah menjadi bagian dari rencanaku, tapi si brengsek Skandar itu membukakan jalan dengan sendirinya. Dia mentaruhkan adiknya sendiri. Aku tidak bisa menolak." Sky menenggak kembali minumannya.
"Kamu punya trauma, apa yang bisa kamu lakukan dengannya."
"Itu akan menyakitinya, aku tidak akan membiarkan wanita itu hidup dengan bahagia. Setiap harinya dia akan memohon untukku lepaskan, tapi aku tidak akan pernah melepaskannya. Aku akan membuat dia merasa tidak diinginkan. Itu adalah bayaran yang pantas untuknya, terlebih, dia sudah berusaha menjebakku."
Sky menuang habis sisa minuman di botol ke gelasnya.
__ADS_1
...****************...