Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan
Bab 9 : Rencana pernikahan.


__ADS_3

DIMALAM HARI KEMARIN,


Efek lintingan itu membuat Sky terjaga cukup lama, dia sedang berada ditumpukan jerami diluaran. Sky takut untuk tidur, dia takut akan mengalami mimpi buruk itu lagi. Mimpi yang selalu menghantui dirinya. Sky mencoba memejamkan matanya setelah cukup lama terjaga, di kamar tamu terlihat Elisa yang menatap langit-langit dengan datar. Dia meneteskan air matanya dan membiarkan itu mengalir ke telinganya.


Elisa berulang kali menghela napas panjang, dia menoleh ke kanan. Entah nasib buruk apa yang sedang menimpanya sekarang, itu sudah sangat cukup membuat Elisa hancur.


Malam itu Sky dihantui mimpi buruk lagi, dia terbangun tepat di jam 5 pagi. Setelah itu Sky memutuskan untuk berkuda mencari udara pagi yang segar ketengah hutan.


*


Pria itu kembali saat matahari mulai menyinari perkebunan mereka. Sky melihat para pegawai kebun sementara mulai bermunculan datang ke perkebunan. Mereka melihat Sky dengan tatapan bingung dan penasaran, karena mereka baru menemui pria itu kali ini. Ada yang menganggap Sky sebagai kekasih Elisa dan ada juga yang menganggap Sky sebagai pemborong dari kota.


Tak disangka sebelum berangkat ke kantor Paman Charly dan istrinya mampir kerumah Elisa. Terlihat bibinya Elisa bersemangat masuk kedalam rumah. Sedangkan, Paman Charly menghampiri Sky yang masih lusuh dengan pakaiannya yang semalam.


"Tuan Sky," sapa pria itu.


Sky melihat pria tua itu berjalan ke arahnya, dia agak memicingkan mata karena matahari mulai menyiroti wajahnya yang tampan itu. Paman Charly tertawa kecil pada Sky, dia mengulurkan tangannya pada ketua Moschino itu.


Sky pun dengan ramah menjabat tangannya.


Bibi Jena masuk kedalam rumah, dia melihat Nori yang sedang menyiapkan lap dan tempat berisikan air hangat. "Untuk siapa itu?" Tanya Bibi Jena pada Nori.


"Untuk Nona Elisa, nyonya." Jawab Nori, agak gelagapan. Dia tidak mau wanita heboh itu membuat suasana semakin kacau. Karena Elisa benar-benar masih terguncang.


"Dimana dia?" Bibi Jena langsung mencari keberadaan Elisa.

__ADS_1


"Jangan ganggu Nona Elisa dulu nyonya, kondisinya sedang tidak stabil." Jawab Nori.


"Hey pembantu! Jangan pernah mengaturku!" Ucap Bibi Jena sambil menunjuk Nori.


Melihat pintu kamar tamu terbuka, Bibi Jena langsung menerobos masuk kesana. Dia melihat Elisa yang terbaring ditempat tidur, matanya lebam, sudut bibirnya terluka. Bahkan tangannya ada banyak luka memar. "Elisa!" Katanya sambil menghampiri keponakannya itu.


Elisa menatap bibinya datar, wanita itu juga tidak pernah bersikap baik pada Elisa. Jadi, dia memalingkan wajahnya. Dia tidak butuh kepalsuan dari bibinya itu. "Apa yang terjadi Nori?" Tanya Bibi Jane pada Nori yang berdiri dibelakangnya.


Nori maju selangkah untuk menjelaskan lebih detail, Elisa masih tidak mau melihat bibinya itu. Air mata Elisa keluar lagi, "Aku akan menjelaskannya, mari ikut aku ke dapur nyonya." Nori tidak tega membicarakan masalah kemarin didepan Elisa langsung. Jadi, dia mengajak bibi Jane untuk membicarakannya didapur.


Mereka keluar dari kamar itu, melewati tangga mewah ditengah bangunan, dengan pegangan berwarna emas. Bibi Jane melihat-lihat sekeliling. Setelah berada didapur, Nori langsung menyiapkan Bibi Jane teh hangat. Bibi Jane duduk dikursi kayu yang kokoh, begitupun Nori yang ikut duduk berhadapan dengannya.


"Kemarin malam, Tuan Skandar pulang dalam keadaan mabuk. aku membukakan pintu, kemudian dia langsung masuk mencari nona Elisa. Saat itu, kondisinya yang mabuk membuatnya tidak bisa berpikiran jernih." Nori bergemetar saat menceritakan kejadian ulangnya, wanita itu kemudian menenggak tehnya dulu sebelum melanjutkan ceritanya.


Bibi Jane hanya menatap Nori datar, dia agak penasaran dengan kelanjutannya.


Bibi Jane mengernyitkan dahi, dia agak membelalak mendengarnya.


"Gila, Skandar. Hmm, tapi ini berita hangat untuk dijadikan obrolan dipesta nanti." Bibi Jane membatin, topik hangat itu bisa menjadi bahan obrolan yang sangat mengasyikan untuk dia dan kelompoknya.


"Kasihan sekali Elisa, kalau begitu biarkan aku menemuinya." Bibi Jane berdiri, begitupun dengan Nori. Wanita itu mengangguk, lalu mengantar Bibi Jane ke kamar tamu dimana Elisa berada.


Elisa masih enggan melihat Bibi Jane, entah kenapa dia sangat tidak suka melihat wanita itu disampingnya. Bibi Jane melihat Elisa sinis karena wanita itu membelakanginya. Dia pun mendengus kesal, lalu berjalan keluar kamar. "Aku akan pulang saja kalau begitu," dia membuka kipas tangannya lalu mengibaskan kedirinya sendiri.


Nori hanya memperhatikannya keluar dari kamar, lalu dia berjalan mendekat ke arah Elisa. "Nona, mari aku basuh dulu tubuhmu ya." Kata Nori pada Elisa, Elisa menoleh ke arah Nori lalu menangis.

__ADS_1


"Kenapa si keparat itu melakukan ini padaku?" Elisa terisak dalam tangisnya, rupanya Sky hendak masuk ke rumah itu untuk mengambil stok rokoknya dkamar tamu. Mendengar suara isakan tangis Elisa yang kencang, Sky pun mengurungkan niatnya. Bibi Jane pun berpapasan dengan Sky.


Paman Charly melihat Sky dan Bibi Jane keluar bersamaan, berjalan ke arahnya, "Ada apa?" Tanyanya, Sky menggeleng.


Bibi Jane mulai angkat bicara soal pernikahan yang akan dilaksanakan nanti, "Bagaimana jika kita percepat pernikahan kalian? Jika berita ini tersebar sudah pasti nama baik keluarga kita akan menjadi burukkan?" Bibi Jane menoleh ke arah suaminya.


Paman Charly mengangguk dengan setuju, tapi Sky melihat kondisi Elisa seperti itu. Rasanya, dia ingin membatalkannya saja dan menjauh dari hidup wanita itu. Bagaimana pun dia masih punya perasaan. Tapi, jika mengingat lagi soal kematian tragis adiknya, dia menjadi menggebu lagi untuk membalaskan dendamnya.


Sky menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan.


"Sky! Berpikirlah jernih, ini kesempatanmu menghancurkan mereka berkali-kali lipat!" Pria itu membatin, mencoba menyadarkan dirinya bahwa kondisi sekarang sangat menguntungkan untuk pria itu. Skandar dipenjara, Elisa tidak berdaya, dia pasti akan membuat mendiang kedua orang tua Elisa menangis di akhirat.


Sky membuyarkan lamunannya, dia menatap Bibi Jane. "Bibi benar, saya ingin pernikahan kami dipercepat." Sky tersenyum tipis ke arah Bibi Jane.


Dengan wajah sumringah, Bibi Jane membalas senyuman pria itu. Begitupun paman Charly. Dia merasa senang karena seorang Sky akan menikahi keponakannya. Mungkin, jika dia punya anak perempuan dia akan menjodohkan Sky dengan anaknya. Tapi sayang, ketiga anaknya adalah laki-laki.


"Kita harus mengadakan makan malam besar, kebetulan minggu ini jadwal pesta para orang terhormat disini. Kamu harus hadir dalam acara penting itu, aku pasti akan memperkenalkan kamu pada mereka." Bibi Jane masih mengibaskan kipas manualnya ke arah leher pendeknya itu.


"Tentu, saya akan hadir bersama Elisa." Sky tersenyum pada kedua orang itu, lalu memberi salam saat mereka memutuskan untuk pergi dan bergegas ke kantor. Dia menghela napas panjang, lalu masuk kerumah. Sky berjalan masuk, lalu memanggil pelayan dirumah.


"Pelayan! Saya lapar, tolong sediakan sarapan!" Kata Sky sambil menoleh ke kanan kiri mencari pelayannya.


Nori keluar dari kamar tamu, Sky menatapnya datar. "Apa Elisa sudah bangun, tolong sampaikan jangan terlalu lama mengurung diri di kamar. Oh iya, saya lapar cepat siapkan sarapan!" Sky mencoba untuk kembali menjadi pria berhati dingin yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.


Dia harus terus fokus pada tujuannya datang kerumah itu, dengan susah payah dia menjadi seperti sekarang hanya untuk menghancurkan keluarga itu sampai ke akarnya. Jangan sampai dia lemah hanya karena seorang wanita.

__ADS_1


...****************...


...****************...


__ADS_2