Bukan Istri Pajangan

Bukan Istri Pajangan
Bab 16 : Bibit bunga


__ADS_3

Sesampainya di rumah Sky, Elisa mengelilingi rumah itu dengan berat hati. Tapi, dia tidak mengira bahwa Sky akan mengajaknya tinggal disana, dia hanya berpikir bahwa mungkin Sky membawanya kesana untuk beberapa hari saja. "Kamarmu ada di sebelah kanan atas,"


"Kamarku?" Elisa menaikan kedua alisnya.


"Ya, kamarmu. Kamu akan menemani saya tinggal disini. Demi nama baik saya. Saya tidak ingin dianggap sebagai suami kejam jika harus membiarkanmu tinggal di desa itu sedangkan, kegiatan saya banyak dilakukan di kota ini."


Elisa tertawa kecil, "aku harus kembali dan tinggal bersama Nori."


"Kamu tidak bisa menentang ucapan saya," Sky mengesap rokoknya sembari duduk di sofa besar berwarna abu tua.


"Cepat ke kamar, ah dan maaf saya tidak akan memakai jasa pembantu disini jadi, saya harap kamu bisa merapikan sendiri. Atur saja sesukamu, lagipula saya tidak memiliki selera khusus untuk dekorasi ruangan." Sky menyilangkan kakinya.


"Begitukah? Kalau begitu aku permisi, aku akan menelepon jasa untuk mendekor rumah." Elisa melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga.


"Kamu ingin menghabiskan uang saya huh? Jangan memakai jasa semacam itu, hal itu hanya akan menghamburkan uang yang saya kumpulkan dengan susah payah!" Sky tidak bergeming sama sekali dari posisinya.


"Kamu tidak punya keahlian sama sekali? Kamu mungkin punya banyak pelayan di rumahmu, tapi disini kamu sama sekali tidak bisa mengandalkan itu."


"Dan kamu tidak boleh masuk ke kamar saya! Saya akan menemuimu jika saya membutuhkanmu. Kamu tidak perlu repot mengurus keperluan saya. Karena akan saya urus sendiri, dan masaklah untuk dirimu sendiri!"


Elisa menoleh ke belakang dimana Sky masih duduk disana. Wanita itu mendengus pelan. Lalu kembali berjalan. "Apa aku pajangan? Untuk apa menikah jika hidup seperti ini, kenapa dia tidak memulangkanku ke desa jika memang tidak membutuhkanku?" gumam Elisa sembari berjalan menuju kamar yang di tuju.


Dia menderek satu koper penuh dengan pakaiannya, dia membuka kamar yang terlihat usang, tempat tidur yang ditutupi kain putih juga beberapa furniture lain yang tertutup juga. Elisa mengibaskan kain yang menghalangi tempat tidurnya.


"Uhuk.. Uhukk.." Debu yang mengepul membuat nafasnya sesak. Elisa sangat sensitif terhadap debu apalagi dia memiliki penyakit asma. Dia langsung menutup hidung dan mulutnya, kemudian berjalan keluar dari kamar. Dia menghirup udara bersih dengan kesulitan, dadanya masih sesak.

__ADS_1


"Kenapa?" Sky berdiri tepat di hadapannya.


Elisa hanya memalingkan wajahnya.


Pria itu masuk ke dalam kamar Elisa dan membongkar koper milik wanita itu mencari inhaler yang Elisa miliki. "Ini, saya tidak akan menyewa jasa pembersih hanya karena kamu sensitif dengan debu. Gunakan pikiranmu untuk mengurangi rasa sesak yang ada di dadamu itu. Saya harus pergi, jangan menunggu saya pulang, lakukanlah apapun yang kamu mau."


Sky berjalan meninggalkan Elisa setelah pria itu menyerahkan sebuah inhaler milik wanita itu. Elisa tidak berkomentar apapun, dia hanya mendengus pelan lalu menghirup benda itu dengan tenang. Namun angin dingin menyentuh lembut pipinya, setelah Sky pergi dia hanya berdiri di tengah rumah megah yang sunyi.


"Apa rumah ini berhantu? Kenapa udaranya dingin sekali. Atau," Elisa menyentuh dada dibagian jantungnya.


"Hatiku yang merasa dingin." Elisa menggeleng lalu segera mencari kegiatan lain di luar rumah. Dia belum bisa membersihkan kamarnya karena dadanya masih terasa sakit. Dia bahkan tidak tahu dimana letak alat kebersihan, dia mencari sekeliling rumah lalu melihat sebuah gudang kecil di samping rumah. Wanita itu membuka gudang itu, disana terlihat perkakas lengkap tergantung dengan rapih.


"Aku tidak mengira dia melakukannya dengan terorganisir seperti ini." Wanita itu mendekat ke sebuah rak yang disana terdapat sebuah kotak berisikan bibit-bibit bunga yang belum di gunakan sama sekali.


Tidak lama, suara pintu mobil tertutup didengar oleh Elisa. Dia sempat mengira bahwa itu Sky jadi dia langsung berdiri dan menghampirinya dengan semangat. Dia ingin menunjukan pada pria itu, bahwa dia akan mempercantik halaman rumahnya.


"Kau kembal-i" Elisa tertegun melihat bukan Sky lah yang datang, melainkan seorang wanita berambut merah dengan pakaian tak senonoh berdiri di depannya.


"Kamu siapa?"


"Perkenalkan, Aku Mera." Mera ngulurkan tangannya pada Elisa, wanita itu sempat ingin menjabat tangan Elisa, namun saat melihat tangan Elisa yang kotor karena tanah dia kembali menarik tangannya.


"Apa ini kegiatan seorang pengantin baru?" Mera tertawa kecil.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya sangat kasihan terhadapmu. Suamimu mungkin sedang bersenang-senang tapi kamu disini, malah sedang melakukan hal yang tidak berguna." Mera mengerutkan dahi memberikan tatapan jijik juga sok berempati.


"Tidak berguna katamu? Ini adalah hobiku, dan yang harus kamu ketahui aku menghasilkan uang dari menanam tanaman di desaku." Elisa mendongakan lehernya sedikit, dia tidak selemah itu.


"Ah benarkah? Lalu kenapa kamu disini? Bukankah akan lebih menyenangkan jika tinggal di desamu?" Mera mencondongkan tubuhnya ke arah Elisa.


"Ya, disana sangat menyenangkan, aku tidak akan lama disini. Hanya beberapa hari saja, setelah itu aku dan suamiku akan tinggal di desa." kata Elisa berbohong.


Mera tertawa kecil di hadapan Elisa, "kamu sangat terlihat percaya diri, akulah yang mengusulkanmu tinggal disini."


"Kamu?" Elisa mengerutkan dahi.


"Kamu tahu, Sky tidak bisa jauh dariku. Jadi aku memintanya untuk membawamu kerumah ini saja, agar kami bisa selalu dekat." Mera menyeringai jahat. Sedangkan wajah Elisa langsung mengerut, dia tidak percaya dengan yang di katakan wanita itu.


"Aku akan memintanya membawaku pulang ke desa." Elisa memalingkan wajahnya dari Mera, walaupun hubungannya dengan Sky tidak sedalam itu namun, siapa yang tidak akan sakit hati mendengar seorang wanita mengaku menjalin cinta dengan suaminya.


"Jangan mencobanya, dia mungkin akan marah padamu." Mera tertawa kecil sembari menutup mulutnya.


Elisa menatapnya tajam dengan mata yang berkaca-kaca, dia mendengus kesal lalu pergi meninggalkan Mera seorang diri disana. Wanita tadi sedang tertawa lepas, sampai dia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. "Bagaimana? Kamu sudah membantunya merapikan kamar?" Suara itu jelas suara Sky yang baru saja datang.


Mera berbalik dan menggeleng ke arah pria itu. "Dia bahkan tidak membiarkanku masuk, bagaimana aku bisa membantunya?" Mera melingkarkan tangannya pada lengan Sky.


"Lebih baik, kita pergi ke kasino. Aku tidak ingin membawa mobil, bolehkah aku ikut di mobilmu saja? Kumohon?"


"Ya , Baiklah." Sky dan Mera berjalan menjauh dari rumah itu untuk kembali ke kasino.

__ADS_1


__ADS_2