
Jangan tanya bagaimana perasaanku hancur lebur tak bersisa, dua puluh tahun membina rumah tangga menghadapi berbagai ujian dan badai yang mengahantam.
semua terlewati karena rasa cinta tapi haruskah Aku bertahan ? setelah penghianatan yang mereka lakukan ?.
Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi berdiri membentangkan layar kapal ini tanpa nahkodanya. Bukan Aku tak cinta tapi luka yang ditorehkan nya terlalu dalam tak akan pernah bisa disembuhkan.
Luka itu telah berhasil membunuh rasa cintaku, cinta yang dulu pernah ku agungkan.
Aku sudah lelah, lelah berjuang sendiri aku menyerah kalah, Aku melepasmu atas nama cinta yang terluka, maaf tak ada lagi tempat dihatiku untuk penghianat cinta sepertimu.
Namaku saqina marwa umurku empat puluh lima tahun, aku menikah dengan Hari sutanto laki laki yang umurnya lima tahun lebih muda dariku.
Kami menikah dua puluh tahun yang lalu setelah berpacaran enam bulan, karena cinta kami yang begitu besar hingga perbedaan umur diantara kita tak jadi masalah.
Aku yang berusia lebih matang saat itu memang sudah punya usaha sendiri grosir sembako, aku orang yang ulet dalam bekerja, aku orangnya sederhana tidak neko neko sehingga uang hasil kerjaku terkumpul banyak.
Sebelum menikah dengan Hari aku sudah mapan secara finacial.Hari yang waktu itu masih nganggur akhirnya ikut bantu bantu aku di toko setelah menikah denganku.
Rumah beserta isinya kubeli dengan hasil keringatku, kendaraan yang kami punyapun hasil kerja kerasku. Tak kupermasalahkan Hari yang tak pernah menafkahiku bagiku dia sudah mau membantuku di toko dan tetap setia itu sudah cukup.
Exel pulang dia terkejut mendapati aku menangis pilu dengan tubuh terkulai di lantai kamar.
"Mami apa yang terjadi ?" Exel datang mendekap tubuh erat tubuhku. Tangisanku semakin menjadi, tubuhku terguncang di dada pemuda sembilan belas tahun itu.
Exel putra semata wayangku buah cintaku dengan Hari suami penghianat.
"Mami katakan siapa yang sudah menyakiti Mami ! Akan kubuat perhitungan dengan orang itu !" Ucapan Exel hanya membuatku semakin terisak.
Ku sodorkan gawaiku pada Exel galeri lalu kuputar video yang aku rekam barusan, ternyata reaksi Exel pun sama denganku. Terkejut tak percaya apa ternyata Papinya tak lebih dari manusia sampah.
"Mami, ini tidak benar kan ? Mami dapat video ini dari mana ?" Exel menatapku dalam dalam seolah mencari kebenaran bahwa video itu tidak benar.
"Mami merekamnya sendiri nak, apa tak kau lihat sprei yang divideo itu ? sama persis dengan sprei yang terpasang itu" Tanganku menunjuk kearah tempat tidur.
"Jadi...Papi...?" suara Exel tertahan butir air matanya jatuh perlahan.
"Iya nak, Papimu membawa selingkuhannya kerumah, dan mereka bercinta di kamar ini nak"
"Ini benar benar sudah kelewat batas aku tidak sudi melihatnya lagi, dia tidak pantas disebut Papi"
"Mami sudah mengusir Papimu, besok Mama akan mengajukan gugatan cerai kepengadilan agama. Maaf Nak, Mama tidak bisa memaafkan penghianatan Papimu, Mami tidak sanggup lagi mendampingi Papimu"
Exel mendekapku erat ? memberiku kekuatan baru untuk menjalani hidup esok hari.
"Mami tenang, ada Exel di sini kita akan buat Papi menyesal seumur hidupnya. Exel akan akan selalu ada untuk Mami" Aku terharu mendengar ucapan Exel, terima kasih tuhan...engkau beri aku anugerah terindah.
__ADS_1
"Ya sudah Nak Mami mandi dulu, kamu juga mandi ya, nanti kita kerumah Pak De Heru. Pak Demu juga harus tahu bagaimana kelakuan adik tersayangnya"
"Iya Mi, tapi janji Mami jangan nangis lagi" Exel menghapus air mata di pipiku.
"Ini air mata terakhir Mami untuk laki laki penghianat itu Nak"
------------------------------------------------------------------------
Sekarang kami sudah di rumah Mas Heru menghadiri acara walimahan yang dihadiri tetangga sekitar. Kuedarkan pandangan kearah tempat acara berlangsung, kupindai satu persatu wajah para hadirin tak kutemukan wajah Hari di sana.
Rupanya dia tak punya cukup nyali untuk menghadiri acara Kakaknya, Ternyata selain penghianat kamu juga pengecut Hari.
Esoknya pukul sepuluh waktu Indonesia bagian barat, acara prosesi akad nikah berlangsung.
Semua anggota keluarga besar menggunakan seragam batik, termasuk aku dan Exel harusnya Hari juga. Tapi sayang sampai acara selesai Hari tak kunjung menampakan batang hidungnya.
Mas Haru berkali kali menanyakan keberadaan adiknya. Tapi selau kubilang Hari keluar kota, padahal adiknya sedang asik asikan dengan perempuan muda.
"Hari masih di luar kota Nin ?" tanya Mas Heru untuk kesekian kali.
"Iya Mas, masih ada kerjaan katanya"
"Kerjaan apa to ? kan kerja dia bantuin kamu di toko ?"
"Keponaknnya jadi manten kok malah ditinggal ngilang, ini kan pertama kali aku mantu, awas saja kalau dia pulang" Mas Heru mengepalkan tangan tanda sedang menahan emosi.
Mas Heru, kamu akan lebih marah pada adikmu kalau tahu kenyataan yang sebenarnya. Batinku yang berbicara.
"Mas besok kalau acara sudah selesai, Mas Heru dan Mbak Yanti (Istri Mas Heru) datang kerumah ya ? ada hal penting yang harus kita bicarakan" Mas Harun mengangguk dengan ekspresi keheranan.
-----------------------------------------------------------------------
Mas Heru menepati janjinya, pagi itu sekitar jam sepuluh pagi dia datang bersama Mbak Yanti istrinya.
"Dek Nina ada poden(hasil hajatan yang dibagi bagi untuk saudara atau tetangga) ini buat kamu" Mbak Yanti menyodorkan plastik kresek putih kepadaku.
"Terima kasih lho mbak...bikin repot aja" kataku basa basi.
"Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan ? apa ?" Mas Heru memotong pembicaraan kami.
Saat ini kami sedang duduk dis sofa ruang tengah, ruang keluarga dimana kami bertiga aku, Exel dan Hari menghabiskan waktu bersama, nonton televisi dan ngobrol apa saja. tapi sayang itu semua harus berakhir.
"Sebentar Mas" Aku mengambil gawaiku laluaku putar video mesum adiknya.
Kosodorkan gawaiku pada Mas Heru, matanya melotot, dadanya turun naik nafasnya ngos ngosan. Entah karena marah melihat kelakuan adiknya, entah nafsu lihat adegan divideo itu namanya juga laki laki.
__ADS_1
"Kejadiannya kapan ?" Mas Heru menyerahkan kembali gawaiku.
Lalu kuceritakan kejadian yang sebenarnya, Mas Heru terlihat marah mukanya menegang.
"Kamu tahu di mana perempuan itu tinggal ?" aku menggelengkan kepala.
"Kamu sudah menghubungi Hari ?"
"Aku tidak mau bertemu dia lagi Mas"
Mas Heru mengambil gawainya dia mencoba menelfon seseorang.
"Kurang ajar ! nomornya tidak aktif" Mas Heru menggerutu sendiri.
"Lalu rencanamu apa ?" Mas Heru bertanya kepadaku.
"Cerai Mas"
"Apa sudah kamu pikir baik baik, kalian sudah lama menikah apa tidak sebaiknya dibicarakan berdua dengan kepala dingin. Bukan hanya menuruti nafsu sesaat" kali ini Mbak Yanti yang bicara.
"Mbak Yanti kalau misalnya Sinta(anak Mbak Yanti dan Mas Heru) ketahuan tidur dengan laki laki apa yang akan Mbak Yanti lakukan ?"
"Ya aku marah ! Aku akan minta laki laki itu segera menikahi Sinta !" nada suara Mbak Yanti meninggi padahal baru misalnya, bagaimana benar benar terjadi.
"Nah itu dia, aku yakin orang tua gadis itu juga akan melakukan hal yang sama dan aku tidak mau berbagi suami, aku juga tidak bisa mentolelir penghianatan. Jadi keputusanku sudah bulat Aku akan menggugat cerai Hari"
"Kalau keputusanmu sudah bulat, lalu maksud kamu mengundang kami untuk apa ?"
"Agar Mas tahu kelakuan adik Mas, agar Mas tahu kejadian yang sebenarnya dan nanti tidak menyalahkan saya, karena saya tahu Hari mulutnya lemes bisa jadi dia ngadu yang macem macem"
Mas Heru manggut manggut sambil memegang dagunya.
Kami semua masih terdiam tenggelam dalam pikiran kita masing masing. Lalu sesosok laki laki masuk keruangan, dengan wajah babak belur dan pakaian berantakan.
"Mas Heru tolong aku Mas..."
Bersambung....
Laki laki itu siapa hayo ?
Penisirin ? baca kisah ini sampai selesai.
Jangan lupa like,komen,Vote dan krisannya ya...biar author tambah semangat nulis.
I lope you pull pokoknya.
__ADS_1