
Aku baru saja selesai sholat maghrib, belum juga kulepas mukenaku suara bel rumahku sudah mengganggu.
Aku berlari menuju arah pintu, tak ada orang lain di rumah Exel masih jamaah di Mushola dekat rumah.
Siapa tamu yang datang maghrib begini ? tanyaku dalam hati, padahal aku masih harus mempersiapkan hidangan untuk menyambut Mas Rahman.
Aku terlonjak kaget demi melihat sosok yang berdiri di depan pintu.
"Mas Rahman ?"
"Assalamualaikum...." Mas Rahman menyajikan senyum termanisnya.
"Eh, waalaikum salam..." Aku gugup sekali mendapati Mas Rahman menatapku dengan pandangan teduhnya.
"Kok malah bengong ? aku gak disuruh masuk nih ?" Mas Rahman berkata sambil melambaikan tangannya didepan wajahku.
"Eh Iya...iya...silahkan masuk Mas, kok sudah datang Mas ? kan undangannya jam tujuh ?" Aku berjalan masuk dan diikuti Mas Rahman di belakangku.
"Kelamaan dek, Mas sudah tidak sabar menunggu jawabannya" ujar Mas Rahman sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahku.
"Mas Rahman kayak ABG Aja, gak sabaran"
"Namanya orang lagi jatuh cinta dek, gak tua gak muda, ya jadi seperti orang gila gini" Ucapan Mas Rahman sukses membuat pipiku memerah.
"Sebentar ya Mas, aku ambil minum kedalam"
Aku kedapur mengambil minuman dari kulkas, yang sudah kupersiapkan dari sore. Sebenarnya bukan hanya Mas Rahman yang tidak sabar menanti saat ini, aku juga.
Tapi aku malu untuk mengakuinya, namanya wanita harus sedikit jual mahal dong ya....meskipun aku ini janda.
"Silahkan diminum Mas, sudah sholat maghrib Mas ?" tanyaku membuka obrolan.
"Sudah dek, sebenarnya aku sudah datang dari sore dek, sengaja nunggu di mushola sebelah, nggak tahu kenapa ya...kok aku jadi gak sabaran gini padahal umur sudah uzur" Aku tersenyum mendengar pengakuan Mas Rahman.
"Aku deg-degan lho dek, menunggu jawabanmu."
"Mas boleh Nina tahu ? Alasan Mas Rahman memilih Nina sebagai calon Istri ?" aku memberanikan diri bertanya, karena mustahil Mas Rahman yang nota bene pria tampan dan mapan dan masih terlihat gagah, tidak ada wanita yang tertarik.
__ADS_1
Aku saja langsung kesemsem saat pertama kali berjumpa, apalagi mendapat perlakuan lembut darinya, aku jadi makin melted.
"Sejak awal menduda sebenarnya banyak temanku yang menjodohkanku dengan beberapa wanita dek, termasuk janda teman yang meninggal saat tugas, tapi entah mengapa tidak ada yang sreg dihati, mungkin memang bukan jodoh ya dek" Mas Rahman mengambil nafas sejenak.
"Beberapa bulan lalu aku ke Jambi untuk mengurus kebun kelapa sawitku yang di urus adikku, aku ketemu Danu teman lama yang hampir dua puluh tahun tidak bertemu, kami saling bertanya kabar dan bercerita tentang keadaan kami"
"Danu cerita kalau adik bungsunya yang manja dan cengeng sudah menjanda karena ditinggal selingkuh suaminya, entah mengapa aku merasa terharu, saat Danu memperlihatkan fotomu kok aku merasa ada rasa mak nyes...gitu dek" Mas Rahman menyerutup minuman yang aku suguhkan.
"Aku minta Danu mengenalkan padamu, dia setuju kalau seandainya kita berjodoh dan setelah bertemu langsung aku jatuh cinta pada pandangan pertama dek, lucu ya tua-tua gak ingat umur" Aku tersipu mendengar pengakuan Mas Rahman.
"Kalau perasaan dek Nina gimana ?" Aku tergagap mendengar pertanyaan Mas Rahman.
"Kalau aku manut saja sama Mas Danu dan Mas Dani kalau mereka setuju, aku ingin menebus kesalahanku dimasa lalu yang sudah mengabaikan permintaannya"
"Permintaan apa dek ?"
"Untuk tidak menikahi Hari ,tapi aku nekat Mas dan sekarang aku sendiri yang menyesal, sekarang aku yakin pilihan Mas Danu Insya Allah yang terbaik"
"Jadi kamu menerima lamaranku dek ?" kutatap wajah Mas Rahman yang merona bahagia itu.
"Iya Mas" aku tertunduk malu persis perawan yang lagi jatuh cinta.
"Mas sudah isya tuh, Mas Rahman sholat di mushola aja nanti pulangnya kita makan malam"
"Iya dek, Mas kemushola dulu, Mas juga ingin mencicipi masakan calon istri" Mas Rahman berlalu setelah mengedipkan sebelah matanya kearahku, ah ternyata pak tentara bisa genit juga.
Beberapa saat kemudian.
"Assalamaualaikum...." kudengar suara bariton dari depan, dua laki-laki tampan beda generasi muncul, mereka tampak serasi seperti ayah dan anak.
"Waalaikum salam...kok bisa barengan pulangnya ?"
"Iya Mi, sebenarnya dari habis sholat maghrib tadi Om Rahman ngajak pulang bareng, tapi Exel ogah nanti malah gangguin acara kencannya Mami sama Om Rahman" Ucap Exel sambil terkekeh.
"Kencan apaan ? orang hanya ngobrol, Ayo kita makan sekarang Mami sudah siapkan semua di meja makan" kami bertiga berjalan kearah ruang makan.
"Ayo Mas Rahman dinikmati hidangannya" Ucapku saat kami sudah duduk mengitri meja makan.
__ADS_1
"Ini semua kamu yang masak dek ?" Mas Rahman berkata sambil menyendokan nasi kepiringnya.
"Beli Mas, aku tidak pandai memasak jadi tidak PD menyajikan masakan sendiri"aku sedikit malu mengakui kalau diri ini tidak pandai memasak.
Aku terlalu sibuk bekerja hingga tak sempat masak di rumah, lebih baik beli, praktis dan rasanya di jamin lebih enak dibanding masakanku he...he...
"Tidak apa-apa dek aku nyari istri bukan tukang masak, lagi pula Mas ini jago masak lho dek dulu di asrama teman-teman paling seneng kalau aku yang masakin, katanya masakanku paling enak" Mas Rahman bercerita dengan bangganya.
"Mau dong dimasaikin Om Rahman, bosen makan nasi goreng buatan Mami yang keasinan" Celetuk Exel yang berhasil mempermalukanku.
"Kalau keasinan itu tandanya Mamimu minta kawin Xel" Mas Rahman terkekeh menyahuti omongan Exel.
"Kalian kaum laki-laki memang menyebalkan"
"Kita kan tim, iya kan Xel ?"
"Pasti Om" mereka berdua tertawa sambil mentoskan tangannya, bahagia rasanya melihat mereka kompak, tak salah aku menerima pinangan Mas Rahman.
Tawa bahagi ini ternyata harus berganti suasana tidak menyenangkan, saat kehadiran manusia paling kubenci tiba-tiba muncul.
"Eh lagi ada acara apa ini ?" Hari langsung nyelonong masuk tanpa permisi.
Mas Rahman langsung menoleh kesumber suara dengan tatapan heran.
"Siapa dek ?" Mas Rahman menatapku penuh tanda tanya.
"Nanti aku jelaskan Mas, Exel tolong ajak tamu tak di undang ini keluar" Titahku pada Exel.
"Yuk Pi kita ngobrol diluar" Ajak Exel sambil merangkul pundak Hari.
"Tapi aku mau ikut makan" Hari mencoba melepaskan rengkuhan Exel.
"Kita makan di luar Pi, Exel yang traktir" Exel yang masih memakai sarung dan kopiah itu sedikit menarik paksa Hari.
Aku jadi merasa tidak enak dengan Mas Rahmam, kutu kupret tidak tahu diri itu benar-benar sudah merusak suasana.
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir di cerita recehku, mohon tinggalkan jejak setelah membaca.
Krisan, like, dan komennya sangat ditunggu.