BUKAN LELAKI SETIA

BUKAN LELAKI SETIA
Episode 17 : Belum Ketemu Pov Hari


__ADS_3

Kepalaku benar-benar pusing, ingin rasanya aku buang kepalaku dan menggantinya dengan kepala baru.


Kupikir setelah menikahi Tiara hidup akan lebih bahagia, bayangan dilayani istri yang masih muda dan cantik sirna begitu saja.


Masa indah meneguk manisnya cinta hanya di awal pernikahan saja, setelah beberapa bulan Tiara mulai memperlihatkan sifat aslinya.


Matrealistis, egois dan kalau marah suka sadis. Dia terlalu banyak tuntutan dan semua harus dituruti, seperti beberapa hari yang lalu sebelum dia kabur dari rumah.


Tiara ingin kuliah, jelas aku keberatan, dia masih muda dan cantik pasti nanti akan banyak teman lelakinya yang tertarik, jelas aku cemburu.


Lagi pula duit dari mana untuk biaya kuliahnya ? sedangkan penghasilanku sebagai driver taksi online tak menentu dan tak seberapa hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari.


Dia tidak terima dan marah, keluar semua isi kebun binatang dari mulutnya, aku sendiri sampai kaget. Istriku yang berwajah lembut dan manis itu ternyata bisa bicara sekasar preman pasar.


"Pokoknya aku mau kuliah Mas ! aku nggak perduli mau duit dari mana ? mau jual mobilpun terserah !" Ucap Tiara dengan nada tinggi.


"Kalau mobil dijual terus Mas harus kerja apa ?" ucapku tak kalah sengit.


"Mau jadi kuli, mau jadi maling aku gak perduli ! yang penting aku bisa kuliah ! Malu aku Mas kalau cuma lulusan SMA !" Tiara memang gengsinya gede tidak sesuai dengan keadaannya. Padahal dia dibesarkan oleh keluarga sederhana harusnya gayanya juga sederhana bukan setinggi langit macam ini.


Aku yang sudah geram menahan amarah akhirnya pergi meninggalkan rumah, lebih baik aku kerja cari uang dari pada berantem meladeni perempuan matre itu.


"Anj**g kau ! istri belum selesai ngomong ditinggal kabur aja ! dasar kere kamu Mas !" Sumpah serapah dan makian Tiara terdengar hingga keluar mengiringi kepergianku menjemput rejeki.


Kupacu mobilku menuju warung kecil yang menjadi langganan para driver taksi online sepertiku untuk sarapan, aku harus punya tenaga yang cukup untuk menghadapi kenyataan hidupku yang tak seindah bodi Tiara.0


Nasibku memang apes pagi-pagi bukannya disuguhi sarapan dan secangkir kopi serta senyum manis istri, ini malah diajak ribut.


Sejak menikah Tiara tak pernah memasak untukku, katanya takut kena api lah takut kecipratan minyak lah, nanti kulitnya melupuh, halah alasan ! bilang saja malas.


Tugas membersihkan rumahpun tak pernah dia lakukan, dia lebih suka ngumpul sama teman-temannya nongkrong gak jelas menghabiskan uang suami.


Selesai sarapan Ku buka dompetku untuk membayar, aku langsung lemes, semalam uang di dompet masih ada sekitar tujuh ratusan ribu sekarang tinggal lima puluh ribu. Ini pasti kelakuan Tiara, mengambil uang tanpa ijinku.


Ya sudahlah memang sudah nasib mau dibilang apa ? aku hanya berharap semoga hari ini banyak orderan, biar bisa beli bensin untuk mobilku yang hampir sekarat dan bisa pulang bawa uang.

__ADS_1


Alhamdulillah....


Hasil hari ini lumayan banyak bisa buat beli bensin setangki penuh, setidaknya untuk makan besok masih ada.


Sampai di rumah keadaan gelap, lampu belum dinyalakan padahal sudah jam delapan malam. Apa tokennya sudah habis ya, kok gak bunyi ?


"Assalamualaikum....dek...dek...buka pintu" Aku ketok pintu berkali-kali tidak ada jawaban, Tiara kemana ?


Kuhubungi nomer telfonnya tapi tidak aktif, kemana dia ? kalau tidur di dalam tidak mungkin, masak tidak dengar suara berisik.


Aku nyalakan senter digawaiku, mencari dimana Tiara menyimpan kunci dan akhirnya kutemukan dibawah pot.


Kubuka pintu dan kunyalakan lampu, kuedarkan pandangan keseluruh ruangan, keadaannya masih sama seperti tadi pagi ketika aku tinggalkan.


Mungkin Tiara pergi karena masih marah padaku, paling juga kerumah orang tuanya besoklah aku jemput, sekarang biar amarahnya sedikit mereda.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sudah tiga hari Tiara tak kunjung pulang, apa dia semarah itu ? kucoba menghubungi mertuaku di kampung.


"Waalaikum salam....tumben kamu nelfon ada perlu apa ?" Nada datar terdengar dari seberang.


"Maaf Pak apa Tiara ada menginap di rumah ?" tanyaku pelan takut Bapak mertua tersinggung.


"Tidak ada, memangnya Kalian kenapa ? sampai kamutidak tahu keberadaan Tiara ?" Aku jadi gemetar takut dimarahi Bapak mertua.


"Biasa Pak, ribut kecil" sengaja kusembunyikan kenyataan bahwa kami bertengkar hebat dan Tiara sudah tiga hari tidak pulang.


"Kamu jangan macem-macem sama anak saya ya ! awas ! kalau sampai terjadi sesuatu pada putri saya, saya tidak akan segan-segan menghajarmu !" Ancaman Bapak mertuaku sukses membuat lututku gemetar, aku pernah merasakan sendiri dahsyatnya bogem mentah pria tua itu.


"Ya sudah terima kasih Pak, assalamualaikum..."


Aku buru-buru mematikan saluran telfon, gak anak gak Bapak, kalau marah mengerikan.


Aku benar-benar putus asa mencari keberadaan Tiara, sudah kucari ketempat kosnya yang lama mungkin Tiara menginap di sana kan, Vira teman dekatnya kos disitu.

__ADS_1


"Pak satpam Tiara ada disini gak ?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Nggak tuh Pak, neng Tiara gak pernah kesini sejak peristiwa itu" berarti sudah hampir setahun yang lalu.


"Kalau Vira masih ngekos disini ?"


"Non Vira sudah pindah Pak, katanya mau kuliah di Jakarta" Ucap satpam itu.


Harapanku untuk menemukan Tiara kini pupus sudah, kemana lagi aku harus mencari Tiara ?


Aku tidak mengenal teman-teman Tiara, dulu hubunganku dengan Tiara hanya sebatas ranjang dan aku terpaksa menikahinya karena digerebek keluarga Tiara. Mana aku tahu dia bergaul dengan siapa saja.


Bagaimanapun juga Tiara istriku, baik buruknya dia adalah tanggung jawabku, aku tidak mau gagal untuk yang kedua kali. Aku malu pada kelurgaku kalau sampai pernikahan keduaku berakhir cerai.


Aku ada ide, bukankah Exel mengenal Yudha mantan Tiara waktu SMA, siapa tahu Yudha bisa memberi informasi tentang Tiara.


"Halo Xel kamu di mana ?"


"Halo Pi, Exel baru mau pulang nih Pi, tumben nelfon ?"


"Papi butuh bantuan kamu, Papi tunggu diangkringan Pak Min dekat Indomaret ya"


"Ok Pi langsung cabut ini"


Tak lama berselang Exel datang dengan motornya, kuceritakan semua yang terjadi, sambil makan nasi kucing kami ngobrol panjang lebar, Exel menyimak dengan seksama, dia berjanji besok akan mengajakku menemui Yudha pagi-pagi.


kutatap punggung anak lelakiku itu, terbersit rasa sesal telah menyakiti dia dan ibunya dengan perselingkuhanku.


Nasi sudah jadi bubur, tapi bubur juga enak kalau dibumbui dengan pas. Semoga buburku bisa dimakan enak ya pembaca...


Bersambung....


Terima kasih sudah mampir dicerita recehku, mohon tinggalkan jejak setelah membaca tulisanku.


Like, komen, vote dan krisan anda sangat ditunggu, dukung author untuk terus berkarya.

__ADS_1


Akhir kata wassalam....


__ADS_2