BUKAN LELAKI SETIA

BUKAN LELAKI SETIA
]Episode 22 : Pe De Ka Te


__ADS_3

Akhirnya aku bertemu Mas Rahman di rumah Mas Dani, karena aku nginepnya di rumah Mas Dani.


Mas Rahman datang ditemani Mas Danu, Mbak Tanti tidak ikut lagi tidak enak badan katanya.


Kesan pertama bertemu Mas Rahman, dia pria yang berwibawa dan berkarisma, benar kata Mas Danu dia tidak setampan Hari, tapi lebih gagah.


Mas Rahman berkepribadian hangat ramah, orangnya sederhana sepertinya tidak neko-neko, entah mengapa aku suka dengan tatapan matanya yang teduh.


Mas Rahman ini baru saja pensiun jadi tentara umurnya lima puluh tiga tahun, dia ke Jambi karena sedang menjalankan usahanya yang sempat dititipkan keadiknya yang juga menikah dengan orang Jambi.


"Ini temanku yang mau kenalan sama kamu Nin" Mas Danu membuka suara saat kami bersama duduk di ruang tamu rumah Mas Dani.


Kenalan rasa lamaran begitu istilah yang tepat untuk acara ini, bayangkan saja hampir semua anggota keluarga hadir, Mas Danu, Mas Dani, Mbak Maya bahkan Exel dan Bian juga ikut hadir.


"Saya Rahman dek" laki-laki itu mengulurkan tangannya kepadaku, bermaksud menjabat tanganku.


Aku hanya menangkupkan tangan di depan dadaku.


"Saya Syaqina, panggil Nina saja" ucapku dengan sedikit malu.


Jujur hati meleleh menatap kedua bola matanya. Eh tapi aku tidak sedang jatuh cinta ya, aku hanya kagum. Luka dihatiku belum benar-benar kering.


"Rahman, besok kau ajaklah Si Nina dan anaknya jalan-jalan keliling Jambi kaukan sudah tahu daerah sini, kami sibuk kau saja yang antar dia" Mas Danu memecah keheningan yang terjadi antara aku dan Mas Rahman.


"Masak hanya Tante Nina dan Exel yang diajak aku juga mau dong...mumpung lagi libur ini" Bian yang dari tadi diampun akhirnya bersuara juga.

__ADS_1


Aku merasa dipojokkan, semua orang menggiringku agar mau pergi dengan Mas Rahman, aku sudah seperti gadis perawan yang mau dijodohkan saja padahal usia sudah empat puluh enam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini kami berempat jalan-jalan mengelilingi kota Jambi, aku, Exel, Bian dan Mas Rahman tentu saja. Ketempat wisata yang paling populer di kota ini. Dari Candi Muaro Jambi sampai monas Jambi, aku benar-benar lelah usia yang tak lagi muda membuatku kurang berstamina.


Menjelang sore kami Danau Sipin menikmati pemandangan sore yang indah sambil menikmati wisata kuliner di tempat ini, seharusnya ini adalah tempat romantis tapi sayang aku datang bukan bersama pasangan halalku.


"Gimana Dek Nina jalan-jalannya hari ini" Mas Rahman bicara padaku dengan sedikit kaku, maklum namanya juga baru kenal.


"Seneng mas, tapi capek maklum sudah tua jadi gampang lelah" ucapku dengan sedikit malu


"Belum lima puluh dek, apalagi aku sudah pensiun gini berarti bangkotan dong" aku tertawa mendengar ucapan Mas Rahman, ternyata pensiunan tentara ini bisa bercanda juga.


"Ha...ha...Mas Rahman lucu" tak urung Mas Rahman ikut tertawa juga.


"Iya percaya...oh ya Mas anak-anak kemana ya ? kok dari tadi aku nggak lihat"


"Nggak tahu dek, mungkin mereka ingin memberi waktu kita berdua dek agar bisa ngobrol panjang lebar"


Kami kembali terdiam entahlah, aku masih merasa canggung dengan Mas Rahman, usia yang tak lagi muda dan memiliki kehidupan masing-masing membuatku merasa tak nyaman saja.


"Dek, aku sudah mendengar tentang dirimu dari Danu Masmu, aku tahu luka dihatimu masih bersisa tapi aku harap Dek Nina mau membuka hati untuk menerima cinta yang baru" Mas Rahman menatapku dalam.


Aku hanya diam sambil memainkan sendok minuman di depanku, tak berani aku menatap pria gagah didepanku ini.

__ADS_1


"Aku tidak memaksa Dek, tali setidaknya kamu bisa mempertimbangkannya kan ?"


Aku masih diam tak tahu harus bicara apa, hingga dua pemuda tengil datang memecah kebisuan diantara kami.


"Mi lihat ini aku dapat scen bagus ini" Exel menyodorkan kameranya kepadaku.


"Modelnya ganteng-ganteng kan Tante ?" Bian bergaya bak model didepanku.


"Ganteng dari Hongkong ? dari tadi ngilang aja nggak pamitan"


"Sorry Tante, kita keasyikan nyari spot buat koleksi foto kita" Bian bicara sambil nyruput Es jeruk yang sudah kupesan untuk dia dan Exel.


"Lagian Mami kan sudah ada Om Rahman yang jagain, jadi dijamin aman. Ya nggak Om" Jawab Exel sambil tos dengan Mas Rahman.


Mereka kompak sekali, seperti Bapak dan anak saja, ups ! pikiran macam apa ini.


"Kamu ngomong apa sih ? sudah cepet dimakan keburu maghrib ini nanti kira kemalaman" potongku cepat agar Exel tidak makin ngawur ngomongnya.


Kami meninggalkan Danau Sipin saat azan maghrib berkumandang, mencari mushola terdekat dan melaksanakan kewajiban kami.


Dalam sujudku aku berdua semoga dipertemukan dengan laki-laki terbaik pilihah tuhan, Mas Rahman atau siapapun itu, aku tidak ingin kembali terluka untuk kedua kalinya.


Bersambung....


Terima kasih sudah mampir dicerita recehku, mohon tinggalkan jejak setelah membaca tulisanku.

__ADS_1


Like, komen, vote dan krisannya sangat ditunggu.


Terima kasih semuanya.


__ADS_2