
Saat mataku terbuka aku sudah di sofa ruang tamu, mbak Yanti sibuk mengompres luka lebam diwajahku, sementara Nina hanya terpaku menatapku sepertinya dia merasa jijik melihatku.
Mas Heru mengintrogasiku, kenapa aku sampai babak belur seperti ini, aku cerita kalau aku baru dihajar kakak dan Ayah Tiara tentu saja aku tidak cerita kalau aku dihajar waktu sedang menindih tubuh Tiara.
Berharap mendapat pembelaan dari kakakku satu-satunya, tapi nyatanya tidak Mas Heru sudah tahu kelakuanku dari Nina. Mas Heru tentu saja sangat malu dengan kelakuan bejatku.
Dan sial masih terus mengejarku, Tiara datang bersama Bapak dan kakaknya datang, mereka menuntut pertanggung jawabanku, aku dipaksa menikahi Tiara.
Awalnya aku menolak dengan alasan aku sudah menikah, punya anak dan istri tapi mereka tidak mau tahu, sudah terlanjur malu besok aku harus kerumah orang tua Tiara dan menikahinya.
Aku tak bisa berbuat apa-apa, Kakak Tiara mengancam akan menghabisiku jika menolak menikahi Tiara, semua orang menyalahkanku, kan memang aku salah.
Mas Heru dengan gagahnya memastikan besok aku akan menikahi Tiara. Runtuh sudah langit menimpaku.
Aku memang mencintai Tiara yang seksi tapi tak pernah berniat menikahinya, aku tidak mau kehilangan Nina istri yang selama ini menafkahiku. Dan benar dugaanku Nina langsung minta cerai padaku.
Nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau harus dimakan, aku akhirnya menikahi Tiara untung dompetku yang disita Nina sudah dikembalikan hingga aku bisa membayar mahar dan biaya pernikahan.
Setelah menikah, kami mengontrak rumah yang cukup bagus meski kecil, disinilah sekarang aku dan Tiara tinggal.
Kupikir setelah menikahi Tiara kebahagiaanku akan sempurna, ternyata aku salah besar. Tiara mulai menunjukan sifat aslinya, matrealistis, terlalu banyak menuntut dan parahnya dia tidak bisa menjadi istri yang baik.
Kalau Nina selalu memperlakukan aku dengan baik, melayani dengan sepenuh hati meski aku tak pernah menafkahinya.
Memanjakan perutku dengan masakan lezatnya, bajuku selalu bersih dan rapi, bersikap lembut padaku dan keluargaku.
Berbanding terbalik dengan Tiara yang manjanya luar biasa, dia tak pernah masak untukku setiap hari kami makan beli jadi, kadang makan direstoran mewah menuruti selaranya.
Baju-baju kotor kami dibawa kelaundri, kalau kemauanya tidak dituruti amarahnya meledak, dia bisa ngambek berhari-hari.
Uang Nina yang aku gunakan untuk bisnis dengan Joko pun habis sudah habis, tabungan aku tak punya karena selama ini semua kebutuhanku dipenuhi Nina.
__ADS_1
Jalan satu-satunya aku minta jatah warisan kepada kedua orang tuaku, meski membuat orang tuaku murka toh akhirnya bagianku dibayar oleh Mas Heru.
Uang itu aku gunakan untuk membeli mobil Avanza yang kugunakan sebagai taksi online, aku butuh penghasilan untuk membiayai kehidupan kami berdua.
Dasar Tiara matre, sejak terima uang dia kembali bersikap manis padaku setelah uangnya habis kembali dia berulah dan sering marah tidak jelas.
Meski sama-sama berasal dari keluarga sederhana, sama-sama berstatus anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya, Nina dan Tiara adalah dua pribadi yang jauh bertolak belakang.
Nina wanita mandiri dan tegar sementara Tiara perempuan manja dan egois.
Ada sesal mendalam saat palu hakim diketok meresmikan perceraian kami, berlian indahku kubuang demi batu kerikil.
Ya, sifat Tiara tak secantik wajahnya, hari kehari sikapnya makin menjadi tak perduli padaku, bertindak sesuka hati, pergi tanpa berpamitan. Sesal sudah tak berguna aku sendiri yang memilihnya kini sesal itu harus kutelan sendiri.
Penghasilanku sebagai driver taksi online tak cukup untuk memenuhi gaya hidup glamaour Tiara, penghasilanku dalam sehari hanya cukup untuk sekali nongkrong Tiara di Cafe, kadang hanya cukup untuk makan. Maklum hidup di kota kecil seperti ini tak banyak yang menggunakan jasa taksi online.
"Mas, bagi duit. Aku mau ketemuan di Cafe sama teman-temanku, udah lama gak nongki-nongki cantik, kangen aku" Tiara mengadahkan tangannya kepadaku, kalau sudah begitu aku hanya bisa membuka dompetku dengan lesu dan menyerahkan lembaran uang.
Aku pusing sendiri memikirkan nasip ini, mau mengadu pada orang tuaku aku tak berani, aku sudah dilarang pulang kerumah orang tuaku, karena dianggap sebagai penyebab penyakit Bapakku kambuh.
"Hari ini terakhir kali kamu buat masalah, tolong jauhi kami, kami sudah tua biarkan kami hidup tenang" Begitu kata Ibuku saat terakhir kali aku datang kerumah bersama Tiara.
Mengadu pada Mas Heru pun tidak mungkin aku masih takut dengan murkanya.
"Kamu jadi anak belum bisa membahagiakan orang tuamu ! bisamu hanya bikin masalah dan mempermalukan orang tua ! sebaiknya kamu jangan lagi datang kesini ! kami tak butuh pecundang sepertimu !" Amarah Mas Heru meledak saat menyerahkan uang padaku.
Benar-benar pusing aku dibuatnya, di rumah tak ada makanam bahkan air putihpun tidak tersedia, semuanya beli-beli dan beli. Kalau begini berapapun penghasilanku tidak akan cukup. Harusnya Tiara menikahi konglomerat bukan aku.
Dengan muka tembok aku beranikan diri datang kerumah Nina, ada Exel yang sedang memasak nasi goreng untuk sarapan.
"Papi sudah sarapan ?" Aku hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kita makan bareng Pi, ini Exel masak nasi goreng favorit Papi" Exel menyodorkan piring berisi nasi goreng membuat cacing di perutku yang kelaparan meronta.
"Mami kamu mana ?"
"Di atas lagi dandan, katanya hari ini mau reunian sama teman-temannya"
"Kalau nasi gorengnya Papi makan nanti Mamimu makan apa ?"
"Nanti mami Exel buatin mie instan aja tenang aja Pi, Mami gak akan marah, itung-itung sedekahkan ?" Ucapan Exel membuat aku malu hati, aku memang layak disedekahi karena termasuk miskin.
"Udah lama kita gak sarapan bareng kayak gini ya Pi ? Papi kangen gak, bisa makan semeja lagi bareng kita seperti dulu ?"
Exel kata-katamu sukses membuat penyesalanku semakin dalam.
"Siapa suruh menghabiskan makananku ?"
Aku menoleh kearah pemilik suara,
"Nina ?" cantik sekali dia hari ini, dia badannya makin berisi, wajahnya makin terawat membuat aku benar-benar terpesona.
Istilah Janda lebih menggoda memang benar adanya, mantan istriku yang kini menjanda membuat aku kembali tergoda.
Sayang dia selalu menolakku mentah-mentah aku hanya dianggapnya mantan yang harus dibuang pada tempatnya.
Bersambung....
Mohon setelah membaca tinggalkan jejak, like, komen, vote dan krisannya selalu ditunggu.
Satu kontribusi anda adalah booster semangat buat Author. Dukung author untuk terus berkarya.
Terima kasih sudi mampir dicerita recehku. Akhir kata wasalam....
__ADS_1
I Love U All.