BUKAN LELAKI SETIA

BUKAN LELAKI SETIA
Episode 9 : Driver Taksi On line


__ADS_3

Tangis Ibu mertuaku pecah, beliau sesenggukan dipelukanku.


"Kok nasib Ibu jadi begini ya nduk ? Tuo-tuo keno coba ( sudah tua kena cobaan )"


"Yang sabar Bu, pasti semua ada hikmahnya Bu" ucapku mencoba menenangkan.


"Ibu mau kerumah Heru nduk, mau rembukan (musyawarah) gimana baiknya soal sawah, terus terang Ibu bingung"


"Nanti biar Exel yang antar Bu, sebentar lagi juga pulang"


"Oh ya, reaksi Exel gimana ? melihat kelakuan Bapaknya"


"Exel sudah dewasa Bu, dia bisa mengerti keadaan meskipun agak berat"


"Ya syukur kalau begitu, Ibu benar-benar tidak pernah menyangka Hari bisa seperti itu"


"Assalamualaikum....."


Obrolan kami terhenti oleh kedatangan Exel.


"Waalaikum salam..." jawab kami serempak.


"Ada Eyang putri, kapan datang Yang ?"


Exel mendekati neneknya dan mencium punggung tangannya.


"Cucuku sudah besar ya, makin ganteng aja" Exel cengar-cengir mendengar pujian neneknya.


"Iya dong Yang...Exel gitu loh !" Exel mengangkat kerah bajunya dan memainkan alisnya dengan ekspresi menggoda.


"Kamu kok plek jebres (sangat mirip) Bapakmu to le (panggilan untuk anak laki-laki)" Ujar Ibu sambil memandangi wajah Exel.


"Ya iya lah Yang...masak mirip tetangga sebelah" ucap Exel dengan ekspresi jenaka.


"Iya asal jangan kelakuannya saja Bu" Ucapku menimpali. Kami bertiga tertawa seolah tidak ada masalah.


"Eyang sudah lama disini ? nanti nginep kan ya ?"


"Eyang nggak lama disini kasihan Eyang kakungmu sendirian dirumah, Eyang mau kerumah Pak De mu"


"Kamu mandi sana Xel, terus anter Eyang kerumah Pak De"


"Siap Bu bos ?" Exel berkata sambil bersikap hormat ala upacara bendera.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Entah apa yang dibicarakan Ibu Mertuaku dengan Mas Heru, aku tidak berhak tahu karena aku sudah bukan bagian dari keluarga mereka. Meskipun Baik kedua mertuaku ataupun Mas Heru masih bersikap baik tidak pernah memusuhiku.


Ada keanehan yang aku rasakan beberapa hari ini, biasanya setiap hari lebih dari sekali Hari dan Tiara lewat depan tokoku dengan berboncengan mesra naik motor PCX mereka , entah apa maksudnya mau pamer kemesraan atau mau bikin aku cemburu ?


padahal aku sudah tidak mau tahu dengan segala urusan yang berhubungan dengan Hari.


Tapi beberapa hari ini mereka tidak menampakan batang hidungnya, apa mereka sudah pindah kontrakan ya ? eh kok aku jadi mikirin Hari ya, ah bodoh amat mereka bukan siapa-siapaku lagi.


"Bengong aja Bu !" suara Mbak Yanti mengagetkanku.


"Eh Mbak Yanti mau beli apa ?" tanyaku pada mantan iparku saat berkunjung ke toko.


"Biasa, nih !" Mbak Yanti meyerahkan catatan belanjanya kepadaku.


"Min, tolong ini diambilin !" catatan itu kuberikan kepada karyawanku.


"Kabarnya gimana Mbak ? sudah lama kita nggak ketemu"


"Alhamdulillah baik, kamu sih sekarang sibuk sendiri aku sering kesini lho...tapi kamu tidak pernah ada"


"Aku menghibur diri Mbak, dari pada stres"


"Tapi kamu makin cantik aja lho... sejak cerai dari Hari" aku tersipu malu, rupanya mbak Yanti tidak tahu kalau selalu perawatan kesalon.


"Mbak Yanti bisa aja, kalau aku cantik Hari gak bakalan selingkuh Mbak..." ucapku sendu.


"Kamu sudah tahu belum.?" Aku Menggelengkan kepala.


"Hari habis beli mobil Avanza baru, sekarang dia jadi driver taksi on line." Oh pantas saja dia sudah tidak pernah lewat lagi.


"Mas Heru membeli bagian warisan Hari dua ratus lima puluh juta, sekarang rumah dan sawah yang di kampung jadi milik Mas Heru semua, dasar bocah gendeng kenang-kenangan dari orang tua kok dijual. Untung Mas Heru punya uang buat bayar kalau tidakkan bisa terjual sama orang lain."


Aku hanya menyimak penuturan Mbak Yanti.


"Harusnya diakan bisa jadi Ojol saja pakai motornya, gak perlu beli mobil sampai jual warisan orang tuanya segala." Tambah Mbak Yanti lagi.


"Ini pasti tuntutan Tiara."


"Aku no komen Mbak, itu urusan mereka, lalu kabar Bapak sama Ibu gimana ? waktu aku kesana sama Exel Bapak sudah agak sehat."


"Iya setelah kamu datang waktu itu, Hari datang lagi minta warisan untuk dijual dia ngotot banget Bapak sampai bikin kambuh lagi, makanya Mas Heru langsung nebus bagiannya Hari biar Bapak gak kepikiran terus."


Hari sudah banyak berubah, dulu waktu menjadi suamiku, dia baik pada kedua orang tuanya tapi setelah menikahi Tiara, dia jadi anak durhaka. Kamu tersesat Hari kecantikan Tiara membuatmu lupa segalanya.


"Nggak pa-pa Mbak, Mas Heru duitnya banyak ini"

__ADS_1


"Banyak apanya, itu uang tabungan bakal kuliah Tito, Yo wes lah duit bisa dicari yang penting Bapak sehat dulu."


"Iya Mbak, ini totalnya satu juta dua ratus lima puluh ribu" Aku menyodorkan nota belanjaan Mbak Yanti.


"Tolong bawa belanjaan Bu Yanti kemobil ya.Min." Titahku pada karyawanku.


"Ya sudah, aku pulang dulu, kamu cepet cari ganti jangan jomblo terus" Mbak Yanti pamitan setelah membayar belanjaannya.


"Emang ada yang buang Mbak ?"


"Ha...ha..." Kami tertawa bersama.


Begitulah hubunganku dengan keluarga Hari masih terjalin baik, sama seperti waktu aku menjadi istri Hari.


Yang kutahu hal sebaliknya justru terjadi pada Hari, dia dan Tiara dimusuhi keluarnya sendiri karena ngotot minta warisan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Meskipun aku punya mobil sendiri, bahkan lebih dari satu tapi tidak bisa nyetir. Dulu waktu muda aku tidak punya mobil jadi tak pikirab untuk belajar nyetir.


Setelah usahaku makin meningkat aku bisa membeli mobil untuk operasional toko dan mobil pribadi, tapi tidak ada waktu untuk belajar nyetir, aku mengandalkan suami untuk mengantarku kemana saja. dan sekarang aku mengandalkan anakkubuntuk jadi sopir pribadiku.


Dan beginilah repotnya kalau tidak bisa nyetir, aku sedang perawatan di salon tadi pagi perginya bareng Exel kuliah tapi sekarang aku harus pulang sendiri karena Exel tidak bisa menjemput masih ada kuliah katanya.


Terpaksa aku telfon taksi online dari aplikasi digawaiku.


Tak lama sebuah mobil avanza putih keluaran terbaru berhenti tepat didepanku berdiri, ketika kaca bagian depan diturunkan aku kaget bukan main melihat sopir taksi online pesananku.


"Hari ?"


"Eh Nina, ayo naik !"


"Aku cancel aja ya ?"


"Eh jangan ! aku profesional kok jangan takut aku apa-apain !" wajah Hari terlihat memelas, wajah tampan itu terlihat sedikit kurang keurus.


Setelah berfikir sejenak akhirnya aku putuskan untuk masuk kedalam mobil dan duduk dijok bagian belakang.


Semoga Hari tidak macam-macam denganku, karena dia bisa menyesal seumur hidup.


Bersambung....


Like, komen, vote dan krisannya selalu ditunggu.


Terima kasih yang sudah mampir dicerita recehku.

__ADS_1


Wassalam.....


__ADS_2