
Dua mahluk konyol ini belum juga enyah dari rumahku, hingga Exel pulang dari futsal mereka masih saja belum beranjak.
"Assalamualaikum...Mami I am coming..." Exel memang lebay kebiasaan kalau sampai rumah langsung heboh nyari emaknya.
"Waalaikum salam...Mami di dapur xel !" teriakku.
Exel menghampiriku yang berdiri bersandar pada pintu dapur, diciumnya punggung tanganku.
"Wuih ! ada penganten baru rupanya" Exel kaget melihat Hari dan Tiara yang sedang duduk di meja makan.
Hari mendekati Papinya, meraih tangan dan mencium punggung tangannya.
"Apa kabar Pi ?" Yang disapa cengar cengir nggak punya malu.
"Eh ada Mami tiri, nggak usah salim ya ? bukan muhrim" Tiara menarik tangannya yang sempat terulur pada Exel.
"Motor Papi baru ya ? kirain tadi Mami yang beliin motor buat Exel"
"Papi kan gak ada kendaraan Xel, terpaksa beli motor baru" Hari berucap dengan santai seolah semua baik-baik saja.
"Ini Exel mesti manggil istri Papi dengan sebutan apa ? secara umurnya lebih muda dari Exel" Aku tahu Exel mulai menyindir Papinya.
"Kamu mau dipanggil apa dek ?" Hari bertanya pada istri mudanya, masih belum nyadar dia kalo Exel hanya menyindirnya.
"Bunda aja Mas"
"Ok aku panggil Bunda tiri ya"
"Bunda tiri dapat salam dari Om Pram tuh"
Wajah Tiara langsung memerah mendengar kata-kata Exel.
"Om...Om Pram ?" Tiara terlihat gugup.
"Om Pram siapa dek ?" Hari bingung melihat ekspresi istri mudanya.
__ADS_1
"Om Pramono, emang Papi gak kenal ? nanti minta dikenalin sama Bunda tiri Pi"
Wajah Tiara makin memerah dia terlihat menahan amarah, entah siapa Om Pram itu, sampai membuat Tiara mati kutu. Exel kamu
hutang penjelasan sama Mami.
"Mas, sudah malam kita pulang yuk..." sepertinya Tiara sudah tidak tahan dengan Exel.
"Lho kok pulang ? kan aku masih ingin ngobrol sama Bunda tiri" Exel yang sedang menatap Tiara, tersenyum licik sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Iya Dek, mumpung ada Exel jadi biar bisa dimintain pertimbangan" Hari masih belum mengerti arah pembicaraan Exel.
"Ayo lah Mas, kita pulang aja aku capek !" Tiara bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Hari. Dasar bocah !
"Eh, dapat salam juga dari Yudha dia teman kuliahku lho...Yudha juga ngenalin aku sama vira tadi" kata-kata Exel sukses membuat Wajah Tiara makin memerah.
"Hati-hati berteman sama Vira, dia itu ember masa dia cerita ke aku semuanya, dia bilang..." Suara Exel terpotong.
"Kami pulang dulu Mbak Nina" Tiara segera beranjak dari tempatnya berdiri dan buru-buru berpamitan padaku, sebelum Exel melanjutkan ucapannya.
"Keputusanku sudah bulat, tidak ada yang bisa mengubahnya, atau kamu mau memohon pada Mas Danu dan Mas Dani agar aku tidak menggugat cerai ?" Wajah Hari seketika memucat mendengar aku menyebut nama kedua kakakku.
Ha....ha...dia masih ingat ancaman kakakku rupanya, takut dihabisi dia.
Akhirnya kedua pasangan itu meninggalkan rumahku, lega rasanya dua pengacau dalam hidupku tak berkutik.
Aku hanya menatap punggung mereka, tak sudi aku mengantar mereka sampai depan, toh mereka tamu tak diundang.
Kini aku dan Exel duduk berhadapan di meja makan, anak laki-lakiku sibuk menyantap ayam goreng yang tersaji di meja makan.
"Mami kepo ya...sama yang namanya Om Pram ?" remaja sembilan belas tahun yang wajahnya bak pinang dibelah dua dengan Papinya itu tersenyum menggodaku.
"Kalau nggak mau cerita ya udah, besok tidak ada uang bensin" Aku mengancamnya.
"Mami sayang jangan marah dong..." Exel membuang tulang ayam ketempat sampah lalu mencuci tangan di wash tafel dan kini dia dia sudah kembali duduk di depanku.
__ADS_1
"Om Pram itu sugar dadynya Tiara" Sudah kuduga itu sebabnya Muka Tiara langsung memerah, rupanya dia takut rahasianya terbongkar didepan suaminya.
"Hubungan mereka sudah lama, sejak Tiara kelas sebelas SMU Mi, Om Pram ini yang beli keprawanannya Tiara makanya Om Pram royal banget sama Tiara, padahal waktu itu Tiara masih pacaran sama Yudha"
"Semua fasilitas yang dia nikmati berasal dari Om Pram, kos, uang jajan, biaya sekolah, baju dan tas brandet biaya perawatan bahkan clubing dan jalan-jalan Tiara OM Pram yang bayarin"
"Keluarga tiara sederhana banget, mana mampu memenuhi gaya hidup Tiara"
"Tiara kenal sama Om Pram dikenalin sama Vira teman sekelas Tiara yang sudah lebih dulu jadi simpanan Om-Om, Vira juga yang ngajarin Tiara bagaimana caranya nyenengin Om-Om biar uang terus mengalir"
"Boleh di bilang Vira ini suhunya Tiara, tapi Vira ada dendam sama Tiara, karena Vira suka sama Yudha tapi Yudhanya malah lebih memilih Tiara, makanya Vira mau cerita panjang lebar tentang Tiara"
"Kalau sudah sama Om Pram dan Yudha kenapa Tiara masih mau sama Papimu ?" aku masih kepo.
"Tiga bulan yang lalu, Tiara dilabrak sama istrinya Om Pram, beliau marah Tiara ditampar, dijambak, bahkan dihajar ditempat kosnya Tiara benar-benar dipermalukan, dan Om Pram hanya diam tidak membela Tiara sama sekali, setelah itu Om Pram tidak pernah menemui Tiara lagi takut sama istrinya"
"Peristiwa penglabrakan itu langsung menyebar kemana-kemana dan Yudha yang mendengarnya langsung marah, dia malu punya pacar murahan, Yudha memutuskan hubungannya dengan Tiara"
"Tiara yang frustasi nggak sengaja kenalan sama Papi, waktu mobil Papi gak sengaja menyenggol motor Tiara hingga Tiara jatuh dan sedikit lecet, setelah itu hubungan mereka makin intim"
"Kamu tahu dari mana ? sampai sedetail itu ?"
"Vira dan Yudha yang cerita, Tiara itu kalau ada apa-apa ceritanya ke Vira. Waktu aku bilang aku anaknya Papi, Si Vira malah bilang 'ati-ati selain doyan aki-aki Tiara juga doyan brondong' jijik gak tuh Mi ?"
Aku mengelus dada, anak sekarang demi mengikuti nafsu dunia rela menghalalkan segala cara, bahkan lupa akan perjuangan orang tua yang dengan susah payah mencari nafkah untuk menghidupi mereka.
Tiara sayang sekali, kecantikamu engkau obral murah, tubuhmu engkau jual demi tumpukan rupiah, hargai dirimu engkau buang percuma atas nama kenikmatan dunia.
Tiara aku memang membencimu, tapi aku prihatin mendengar kisah hidupmu kamu masih terlalu muda jalan hidupmu masih panjang. Semoga engkau sempat bertaubat sebelum dijemput malaikat.
Bersambung......
Terima kasih yang sudah mampir dicerita recehku.
Like, komen, vote dan krisannya selalu ditunggu.
__ADS_1