
Pov Nina.
"Saya terima nikah dan kawinnya, syaqina Marwa binti Sulkhan, dengan Mas Kawin uang tunai sebesar, sebelas juta, seratus sebelas ribu seratus rupiah dibayar tunai."
Hanya dengan satu tarikan nafas, Mas Rahman mengucapkan ijab, ups...lega rasanya, akhirnya melepas masa menjanda.
Mas Danu yang jadi waliku menjabat erat tangan Mas Rahman, tak lupa dia menitipkan aku pada pria yang kini sah menjadi suamiku.
"Rahman, kita berkawan akrab sejak lama, aku tahu kamu pria baik, karena itu aku serahkan tanggung jawabku sebagai kakak kepadamu, kamu sekarang suaminya cintai dia seutuhnya, bimbing dia bila ada salah, bila kelak kamu sudah tidak berkenan lagi padanya, kembalikan baik-baik padaku, jangan pernah sakiti dia," ucap Mas Danu dengan suara bergetar, untuk kedua kalinya dia menjadi waliku.
Tak terasa, sudut mataku mengembun, rasanya tak percaya, aku kembali menyandang status istri, padahal luka bekas penghianatan Hwri masih terasa nyeri.
Dua bulan yang lalu Mas Danu menelfonku.
("Nin, aku ingin menjodohkanmu dengan teman SMA ku.")
("Siapa Mas?.")
("Rahman, kamu masih ingat kan? dia teman SMAku, dulu sering main kerumah".)
Anganku kembali melayang kemasa lalu, waktu itu aku masih SD, Mas Danu dan seorang temannya yang baru pulang main bola, orangnya tinggi berwajah teduh, dia sering memberiku permen.
Iya, dia Mas Rahman, dia tidak hanya dengan Mas Danu, tapi juga dekat dengan Mas Dani dan Ibuku.
("Istrinya meninggal dua tahun yang lalu, sekarang dia sedang mencari calon istri, aku rasa kalian cocok,")
("Rahman orangnya sabar, kebapakan, ngemong, dan yang terpenting dia itu setia, tidak seperti mantanmu yang sialan itu.")
__ADS_1
("Mas Dani apaan sih....ngomongin Hari.")
("Makanya, kalian saling mengenal pribadi masing-masing dulu, siapa tahu cocok dan kalian bisa menikah, aku nggak tenang kalau kamu masih menjanda.")
Sejak itu aku menjalani proses pengenalan kembali dengan Mas Rahman, tak butuh waktu lama, kami memutuskan untuk menikah, Mas Rahman bilang sudah tidak tahan lama-lama menduda, ha..ha...dasar laki-laki, mesum otaknya.
"Bagaimana Dek Nina, apa kamu bersedia menjadi istriku?," tanya Mas Rahman sore itu.
"Maaf Dek, aku memang suka to the poin, nggak suka basa-basi," lanjutnya lagi.
Apa karena dia pensiunan tentara ya? langsung main tembak saja, ucapku dalam hati.
"Apa ini tidak terlalu cepat Mas?," jawabku ragu.
"Mau nunggu apa lagi Dek, umur kita sama-sama tidak muda lagi, aku sudah yakin kamu adalah calon istri yang baik, sejak pertama bertemu." ucap Mas Rahman mantab.
Ada yang bilang, tentara itu lebih setia dan dijamin tidak selingkuh, karena tentara yang selingkuh itu hukumannya berat.
"Iya Mas, aku mau..." ucapku malu-malu, seperti perawan saja.
keputusanku disambut penuh suka cita oleh keluarga kedua kakakku, akad nikah pun digelar sebulan setelah pertemuan pertama, meski awalnya ragu, akhirnya aku mantap menjadi istri Mas Rahman, jujur aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi ada hal lain yang membuatku cepat-cepat menerima pinangan Mas Rahman, aku bosan, capek dan lelah tiap hari diganggu Hari. Maka aku putuskan segera menikah.
Dengan menikah, akan menutup celah Hari untuk mendekatiku lagi,
Hanya dengan di hadiri keluarga inti dari pihakku dan pihak Mas Rahman, serta tetangga kiri kanan, pernikahanku di gelar, dengan acara sederhana, toh ini pernikahan kedua, usia kami juga tak lagi muda.
__ADS_1
Mas Heru juga kuundang, bagaimanapun juga dia tetap kuanggap saudara, sedangkan Heri, tak perlulah kupikirkan dia, manusia tak berguna itu, biarlah dia mencari bahagianya sendiri.
"Dek...kamu cantik pakai kebaya itu, kayak masih umur dua puluhan," ucap Mas Rahman sambil membantu melepas hiasan dihijabku.
"Alah, gombal kamu Mas," ucapku malu-malu.
"Ya nggak pa-pa to gombal sama istri sendiri."
"Aku mau ganti baju dulu Mas, keluar dulu sana gih," titahku pada Mas Rahman.
"Lho, kok aku diusir? aku ini suamimu lho, masak nggak boleh lihat istri ganti baju," bukannya beranjak, Mas Rahman justru memelukku dari belakang.
"Tapi aku malu Mas...kalau ganti baju ditunggui Mas Rahman," ucapku malu-malu.
"Kalau gitu nggak usah pakai baju saja," tangan Mas Rahman lincah membuka resleting kebayaku, yang kebetulan terletak dibagian punggungku.
"Mas Rahman kok agresif gini sih..." aku mengeliat geli, karena bibirnya mendarat ditengkukku.
"Dua tahun puasa Dek....lihat hidangan lezat aku nggak tahan..."
"Mas malu, diluar masih banyak keluarga ngumpul."
"Mereka tahu Dek, kalau ini malam pertama kita, jadi tenang saja, tidak akan ada yang menggangu," ucap Mas Rahman, tangannya makin liar menyentuhku.
"Mas...besoklah kalau mereka sudah pulang semua, malu aku kalau besok keluar dengan rambut basah, bisa jadi bahan bulian mereka," aku berusaha melepaskan pelukan Mas Rahman, tapi sayang, tenaganya yang jauh lebih kuat membuat terpaksa menyerahkan diri dengan suka rela.
Akhirnya terjadilah hal yang memang diinginkan, ternyata menikah lagi itu seenak ini, akhirnya aku bahagia lagi.
__ADS_1
Wk...wk...para jomblo dilarang baper.
Temet....