
"Siapa dia Dek, kok seperti sudah terbiasa kesini," tanya Mas Rahman padaku, dengan wajah keheranan.
"Mantan Mas," aku tertunduk tak berani menatap wajah Mas Rahman.
"Mantan?,"
"Iya, sebenarnya aku sudah sering mengusirnya, tapi dia tetap nekat datang, itulah salah satu alasanku segera menerima pinanganmu Mas, agar ada tempat berlindung." jawabku sendu.
"Jadi bukan karena cintamu padaku Dek," tanya Mas Rahman ragu.
"Cinta Mas, tapi kelakuan Hari membuatku segera mengambil keputusan, aku lelah menghadapinya Mas."
"Hhh...syukurlah, aku khawatir kamu tidak punya rasa terhadapku, aku tidak mau hanya jadi pelarian Dek," aku menggelengkan kepala.
"Mas, kita bukan lagi anak muda, cinta tidak harus di ungkapkan secara terbuka, apa Mas Rahman tidak bisa membaca isyarat mataku?," ku beranikan diri untuk menatap manim hitam milik pria setengah baya itu.
"Aku tahu Dek, tapi kehadiran mantan suamimu, membuatku merasa ragu, he...he...dia lebih muda dan lebih ganteng Dek, jujur aku minder." mataku membulat mendengar jawaban Mas Rahman yang menurutku konyol itu.
"Apaan sih Mas, buat apa ganteng kalau tukang selingkuh," aku mengerucutkan bibirku.
"Siapa tahu aja, kalian masih ada rasa, aww...sakit Dek," aku cubit pinggang Mas Rahman, hobi banget dia menggodaku.
"Aku pulang saja Dek, di sini aku disiksa terus."
"Ya sudah pulang sana, lagian ininjuga sudah malam, bisa digrebek warga nanti, berduaan saja dengan laki-laki bukan muhrim!," ucapku judes.
__ADS_1
"Bagus dong, kalau digrebek berarti langsung dinikahkan dong? gratis lagi." aku nggak nyangka, Mas Rahman yang terlihat kaku itu ternyata bisa bercanda juga.
"Kalau sudah muhrim, kamu pastinya mau berduaan terus iya kan..." cubitanku makin makin menjadi, Mas Rahman berlari menghindar dariku.
"Ampun...ampun..." teriaknya.
Kelakuan kami sudah seperti ABG labil saja bercandanya.
"Ya sudah aku pulang, sampaikan salamku untuk Exel." pamit Mas Rahman, akhirnya.
"Sudah sana pulang!," jawabku judes.
"Tunggu pemabalasanku Dek Nina," Mas Rahman mengerling genit kearahku.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Pov Exel
Ditempat lain,
"Xel, kita mau kemana ini?," Papi kebingungan saat kuajak keluar dari rumah.
"Kita cari makan Pi, di angkringan biasa itu," aku ajak Papi untuk segera masuk mobilnya.
"Laki-laki itu siapa?."
__ADS_1
"Om Rahman, calon suaminya Mami."
"Mamimu mau kawin lagi?,"
"Mungkin, Exel belum tahu, Mami menerima lamaran Om Rahman atau tidak."
"Tapi saran Exel, Papi tidak perlu menemui Mami lagi."
"Kenapa? aku mau ngajak Mamimu rujuk, aju sudah menalak Tiara lewat surat, aku bahkan mengirim semua baju Tiara yang tertinggal dikontrakan."
Dasar Papi, masak menikah baru seumur jagung sudah main cerai aja, apa kata-kata Mami bener, kalau Tiara jadi simpanan pria kaya?.
"Tiara sudah selingkuh dibelakangku Xel, dia memilih hidup bersama tanpa ikatan dengan laki-laki kaya, dan parahnya lagi, dia pura-pura tidak mengenalku, sakit hatiku Xel, sebagai lelaki aku merasa terhina."
Dalam hatiku berkata 'karma memang tak semanis kurma Broo...' tapi aku tak berani bicara langsung, takut dosa, biar begitu dia tetap ayahku.
Meskipun jauh dalam lubuk hatiku ,aku ingin punya keluarga utuh, tapi aku tidak mau Mamiku sakit hati, biarlah Mami bahagia dengan pilihannya.
Dan Papi, biar saja dia mendapatkan karmanya, tukang selingkuh yang diselingkuhi.
Bersambung.....
Maafken kalau part ini pendek banget, susah banget membuat mood bagus, setelah sekian lama vakum.
Next Part dipanjangin lah ya....
__ADS_1