BUKAN LELAKI SETIA

BUKAN LELAKI SETIA
(Revisi episode satu) Terciduk


__ADS_3

Berhubung episode satu gagal up date karena dianggap vulgar, maka episode ini adalah episode satu yang sudah direvisi.


Selamat membaca happy reading.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Huff ! Akhirnya selesai juga acara mengemasi nasi bungkus untuk hajatannya Mas Heru kakak iparku. Aku ingin pulang merebahkan tubuh sejenak sejak dari pagi aku bantu-bantu di sini, sekalian mandi nanti sore aku balik lagi bareng suamiku yang di undang hajatan.


Sampai di rumah aku terkejut mendapati pagar tidak terkunci, Exel ceroboh banget sih meninggalkan rumah tanpa mengunci sudah tahu tidak ada orang di rumah.


Ini lagi pintu rumah kok gak kunci, aduh Exel...rumahku bisa digasak maling kalau begini caranya, untung saja aku pulag lebih awal.


Padahal aku sudah berpesan kunci pintu kunci pagar sebelum pergi, atau jangan-jangan dia bolos kuliah hari ini. Dasar bocah gemblung !


Perlahan aku buka pintu depan, ku edarkan pandangan keseluruh ruangan sepi tak ada siapapun. Tapi kudengar suara seperti laki-laki dan perempuan yang sedang berbisik-bisik lalu tertawa lirih.


Kurang ajar si Exel sudah bolos kuliah malah pacaran di rumah, kubuka kamar Exel kosong kamar depanpun kosong. Kutajamkan pendengaranku.


Suara itu Terdengar lagi, Sepertinya suara itu berasal dari kamar utama, kamarku !


Aku berjalan pelan menuju kamarku, pintu tak sepenuhnya tertutup aku bisa masuk dengan hati-hati untuk memergoki mereka, Exel harus diberi pelajaran.


Sekarang aku sudah berada di dalam kamarku, seketika lututku lemas jantung bergemuruh hebat, tak percaya apa yang kusaksikan di depanku.


Bukan Exel dan pacarnya yang kupergoki sedang memadu kasih, tapi Hari Ayahnya Exel suamiku. Meski dadaku sesak menahan kecewa tapi logikaku masih berjalan.


Aku ambil gawaiku dan kurekam adegan mesum mereka siapa tahu dibutuhkan untuk jadi barang bukti, karena saking asiknya bercinta, hingga mereka tak menyadari kehadiranku.


"Sudah selesai ?" Aku berkata setelah tubuh kedua pasangan mesum itu lunglai karena kelelahan.


"Mami !" Hari yang terkejut melihat kehadiranku yang tak terduga, Hari segera menyambar kaosnya dan menggenakannya. sementara perempuan yang tidak kuketahui namanya itu menutup tubuhnya dengan selimut.


"Bagus ya ? pamitnya keluar kota ngurus kerjaan tahunya ngurusi se********an !" Ucapku datar menahan gemuruh dadaku sambil terus mengarahkan gawaiku kearah mereka.


"Mi, jangan salah paham ini bisa dijelaskan"


wajah Hari terlihat pucat dan ketakutan.


"Gak usah repot-repot menjelaskan Hari, video ini gambarnya cukup jelas kok !" Aku sengaja memanggilnya tanpa embel-embel Mas apalagi Papi najis aku, hilang sudah rasa hormatku pada laki-laki yang bergelar suami itu.


Aku berjalan menuju meja rias mengambil kunci mobil dompet Hari yang tergeletak, lalu aku masukkan kelemari dan menguncinya. Aman !


Hari memakai celana panjangnya dengan tergesa-gesa melihat adegan di depanku membuat hatiku geram. Rasanya Ingin sekali aku membunuh mereka.


Ihh ! Aku sadis banget ya ? biarin aja, mereka lebih sadis, teganya berselingkuh dan bercinta di ranjangku.


"Mi, aku mohon matiin kameranya kita bicara baik-baik" Wajah hari nampak panik dan pucat .


"Ok...ok Aku matiin, nih lihat !" Aku berkata sambil menunjukan layar gawaiku kearahnya.


Aku mendekati perempuan yang sedang duduk ditepi ranjang, kupegang dagunya kudongakan wajahnya agar menatapku, gadis itu menitikan air mata dia menatapku dengan ekspresi ketakutan.


"Kenapa diam saja ? kecapekan habis gulat ya ? sampai gak kuat ngomong" Aku menatap sinis kearah gadis itu.

__ADS_1


"Mi !"


"Kamu tenang saja Hari...aku tidak akan menyakiti gundikmu ini"


"Cantik ! namamu siapa cah ayu ?" dengan gemetaran gadis itu mejawab.


"Ti...Tiara tante"


"Nama yang cantik, secantik parasmu tapi sayang tapi tidak selaras dengan kelakuanmu yang bejat dan otakmu yang ***** ! mau-maunya ditiduri laki-laki beristri !" Ku dorong keningnya hingga dia terjengkang kelantai.


"Mi ! jangan apa-apain Tiara !" Suara bariton Hari membentakku. Dia membantu Tiara berdiri dan mendudukannya kembali ketepi ranjang.


Sisi hatiku ada yang teriris melihat adegan di depanku, Hari membentakku dan lebih membela selingkuhannya.


Tiara menangis tersedu-sedu dan Hari menenangkannya.


"Ssst...gak pa-pa ada aku" ucap hari sambil mengelus kepala gadis itu lalu memunguti pakaian gadis itu dan menyodorkannya.


"Pakailah" Gadis itu menerima pakaiannya dan mulai mengenakannya.


"Ck...ck...romantis sekali kalian" Aku tersenyum mengejek ke mereka.


Melihat itu hatiku semakin terluka, bahkan Hari tidak berupaya sama sekali untuk melunakan hatiku. Ok Hari kamu jual aku beli.


Aku berjalan keluar kamar menuju kedapur, aku ambil dua kantong plastik kresek besar yang biasa aku gunakan untuk membuang sampah.


Ketika aku kembali kekamar, Tiara sudah memakai pakaiannya lengkap dengan jilbabnya.


kumasukan semua pakaian hari kedalam kantong, lalu melempar kemuka Hari.


"Keluar dari rumah ini ! bawa semua barang-barangmu aku tidak sudi ada penjahat di rumahku !" Hari terkejut mendengar suara lantangku.


"Mi, apa-apan ini ?"


"Keluar, atau aku teriak ? agar tetangga datang, menggerebek dan mengarak kalian !"


"Mi"


"Keluar kataku ! pergi dari sini dan jangan pernah kembali kerumah ini"


"Mi, papi minta maaf ayolah kita selesaikan secara kekeluargaan" Suara Hari terdengar memelas.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kita selesaikan semua di pengadilan" remuk sudah hatiku, tak ada kata maaf untuk penghianatan.


Ku tatap dalam-dalam wajah kedua pasangan penghianat itu, aku ku ingat sampai mati.


Hari berjalan keluar menenteng kantong plastik berisi pakainnya, sengaja tidak kuberi koper, sayang kan harganya mahal.


Sementara Tiara mengekor dari belakang, tak lama kemudian Hari berbalik kearahku.


"Kunci mobil dan dompet mana ?" Hari mengadahkan tangan kearahku.


"Kamu kesini tidak bawa apa-apa sekarang kamu pergi juga harus tanpa apa-apa, ingat kamu bukan siapa-siapa sebelum menikah denganku" Aku berkata dengan nada dingin.

__ADS_1


"Tapi Mi ? gak pegang uang sama sekali, dompetku disita Mami" Hari merengek seperti anak kecil kehilangan mainan.


Aku tak bergeming mendengar rengekan Hari, kutatap wajahnya dengan tatapan membunuh.


Tiara mendekat dan menggandeng tangan Hari.


"Ayo Mas kita pergi" Ha..ha...aku tertawa dalam hati, lucu sekali gadis ingusan itu memanggil Hari yang lebih pantas jadi Bapaknya dengan sebutan Mas.


Akhirnya mereka berdua, berjalan keluar pintu meninggalkan rumah ini kutatap punggung laki-laki yang sebentar lagi jadi mantan suamiku itu.


Entah mereka pergi naik apa aku tidak perduli mau kemana aku juga tidak mau tahu, bukan urusanku lagi.


Sepeninggal mereka tubuhku luruh kelantai, aku menangis sejadinya, meratapi nasib pernikahanku yang berakhir tragis.


Aku menangis pilu, tak kusangka rumah tangga yang kubina selama dua puluh tahun berakhir sia-sia.


Cinta yang kuharap akan tersemai indah hingga menua kini musnah sudah, andai bunuh diri bukan dosa aku pasti sudah melakukannya.


Siapa yang sanggup di hianati kekasih hati di depan mata ?


Kegurun engkau ikut


Kekutub engkau turut


Bersama sehidup semati


Demikian kau ucapkan janji


Menangis kita berdua


Tertawa bersam...


Tapi kini kau ingkari janji


segalanya kau tak perduli lagi


Dan yang lebih menghancurkan kalbu


Kau bercumbu di depanku


Kejam...oh kejam


Perih...oh perih


Cinta...o..ho...cinta.


By Eyang Titik puspa


Bersambung....


Dengan senang hati saya akan menerima krisan dari pembaca.


Komen, like dan votenya ditunggu Thank you all.

__ADS_1


__ADS_2