
Hari menepati janjinya, dalam sidang berikutnya, dia menyatakan tidak ingin mempertahankan perkawinan kami lagi, dia juga mengakui perselingkuhannya.
Ketok palu hakim jatuh juga, kini aku dan Hari resmi bercerai. Saat mengucap ikrar talak di depan majelis hakim, wajah Hari terlihat pucat, kulihat matanya mengembun mungkin dia benar-benar menyesali perbuatannya. Atau mungkin dia sedih karena kehilangan pohon uangnya.
Aku juga heran melihat ekspresi Tiara, wajahnya terlihat sendu seperti kurang semangat, bukankah harusnya dia bahagia bisa memiliki Hari seutuhnya tanpa harus berbagi denganku?.
Entahlah, memikirkan pasangan ajaib di depanku ini hanya membuatku pusing saja.
"Nina!" Aku menoleh kesumber suara, ternyata Hari sedang berjalan tergesa keaarahku, diikuti Tiara di belakangnya.
"Aku minta maaf," ucap Hari sambil meraih tanganku yang segera kutepis.
"Aku menyesal, rumah tangga kita harus berakhir seperti ini," ucapnya lagi.
Kutatap dalam-dalam wajah Hari, laki-laki yang membersamaiku selama lebih dari dua puluh tahun, ada duka di sana sesalnya memang terlihat jujur.
Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk merangkai cerita, bahkan telah hadir buah cinta yang kini beranjak dewasa. Bukan hanya Hari yang sedih, dadaku pun kini penuh sesak dengan penyesalan. Aku dan Hari sama-sama terluka.
Kupandang wajah wanita muda di sampingnya, Sungguh kecantikan yang sempurna mata bulat, hidung mancung dan bibir mungil, kulitnya begitu terawat putih mulus tanpa noda.Tak heran jika banyak laki-laki bertekuk lutut mengharap cintanya.
Kecantikan bunga yang sedang mekar-mekarnya, apalah dibanding aku bunga yang mulai layu, aku memang masih cantik tapi kalah cantik dengan Tiara yang konon biaya perawatan kecantikannya mahal. Sedangkan aku, hanya melakukan perawatan seadanya.
Selain karena kesibukanku di toko dan mengurus rumah, aku berfikir Hari mencintaiku apa adanya.
"Nina, kamu mau memaafkanku kan?" suara bariton Hari membuyarkan lamunanku.
"I...iya, sudahlah Har semua sudah terlanjur terjadi mau apalagi, aku pulang dulu," pamitku kemudian.
Pandanganku beralih kearah wajah Ayu yang telah mengubah hidupku.
"Tiara, kalian yang rukun ya, jadi istri itu tidak mudah semoga kamu bisa menjalaninya," ucapku tulus.
"Terima kasih Mbak," Tiara mengulurkan tangannya kepadaku, kemudian kujabat tangannya.
*****
Sudah tiga bulan aku resmi meyandang status janda, kujalani hariku seperti biasa. Pergi ketoko, pulang beres-beres tak ada yang berubah aku sudah melupakan penghianatan Hari. Tepatnya berusaha melupakan.
Tapi ada kebiasaan baru yang aku lakukan suka melakukan perawatan kecantikan, aku sering kesalon facial, ceam bath, luluran.
__ADS_1
Aku senang memanjakan diriku sendiri, aku pikir tak ada salahnya membahagiakan diriku sendiri setelah bekerja keras mencari lembaran rupiah, aku berhak menikmatinya kan.
Pulang kerja aku dikagetkan dengan kehadiran mantan mertuaku yang sudah menungguku di depan pagar rumahku yang terkunci.
"Lho...Bu? sudah lama menunggu?" Kuraih tangan keriput itu lalu kucium punggungnya.
"Baru sampai kok, belum lima menit," ucap wanita itu.
"Monggo Bu, masuk, Ibu naik apa tadi kok sendirian saja, Bapak mana?" tanyaku basa basi, Kubuka pintu pagar, berjalan beriringan masuk kerumah.
"Ibu diantar Parjo, tadi kami kerumah Heru, tapi kosong tidak ada orang sepi, makanya Ibu suruh nganter kesini." Rumahku dan rumah Mas Heru memang bertetangga hanya berjarak sepuluh menit.
"Bapakmu di rumah, belum sehat benar jadi belum berani bepergian," terangnya.
Bapak mertuaku menderita penyakit jantung, beliau baru saja menjalani operasi pemasangan cincin seminggu sebelum kejadian laknat itu terjadi.
Bahkan saat Mas Heru mantu, Bapak dan Ibu tidak bisa hadir, karena Bapak masih menjalani perawatan di rumah sakit.
"Sebentar Bu saya ambilkan minum." pamitku pada mantan mertuaku. Saat ini kami sedang berada di ruang tamu rumahku.
"Monggo diunjuk (diminum) Bu." Wanita itu meneguk air putih hangat yang kusajikan hingga tandas, rupanya beliau kehausan.
"Kamu sama Heru kok gak cerita sama sekali, ini bukan masalah sepele lho, kok kami sebagai orang tua tidak dilibatkan," ucapnya masygul.
"Bukan begitu Bu, kami hanya tidak ingin Bapak jadi kepikiran. lagi pula Mas Heru kan sibuk wong lagi ngunduh mantu, sedang saya masih syok tidak bisa mikir Bu."
"lha iyo, Hari kok kurang ajar banget kawin lagi gak minta restu orang tua," geram Ibu.
"Semuanya terjadi begitu mendadak, kami hanya berfikir bagaimana jalan keluarnya maaf kalau Bapak dan Ibu terabaikan."
Kemudian aku ceritan semua yang terjadi kepada mantan Ibu mertua, yang sudah kuanggap seperti Ibu kandungku sendiri.
"Kurangmu opo to Nduk(panggilan untuk anak perempuan)? Kok Hari bisa keblinger seperti itu?" Ibu mengusap ujung netranya yang mengembun.
"Semuanya sudah terjadi Bu, saya ikhlas menjalani mungkin ini yang terbaik untuk kami semua." Kugenggam erat tangan keriput Ibu.
"Kemarin Hari dan Istrinya datang kerumah, bocah masih bau kencur begitu bisa apa? Paling bisanya hanya nuntut ini itu tanpa melihat kondisi suami."
"Kamu tahu? Hari datang minta bagian warisan padahal kami masih hidup, dia ingin menjual sawah Bapakmu padahal itu ada bagiannya Heru." Anak mertuaku memang hanya dua Mas Heru dan Hari.
__ADS_1
"Sebenarnya Bapak dan Ibu mau kesini sudah lama, tapi bapakmu kambuh lagi mendengar permintaan edan Hari, waktu itu." lanjutnya
"Kapan Hari kerumah Ibu?" tanyaku pelan.
Rumah ibu mertuaku, berjarak tempuh sekitar satu jam dari kotaku, tempatnya di desa yang lahan persawahannya masih luas. Udara disana masih sejuk, itu juga alasannya kenapa dulu tidak mau diboyong Mas Heru untuk tinggal di rumahnya.
Apalagi untuk tinggal bersamaku, beliau enggan.
"Ini rumah peninggalan orang tuamu, bukan hasil keringat Hari Ibu gak enak kalau harus tinggal di sini, lebih baik tinggal di desa berdua bareng Bapakmu sambil merawat sawah." Begitu penuturan Ibu waktu itu.
"Sebulan yang lalu, yang pertama bareng istri mudanya yang kemarin sendirian, dia maksa terus agar sawahnya segera dijual buat modal usaha katanya," terang Ibu.
Hari memang harus bekerja, bagaimanapun juga Tiara harus dinafkahi mungkin uang seratus lima puluh juta hasil nilep uangku sudah habis.
"Maaf Bu, saya tidak bisa ikut campur saya sudah bukan istri Hari," ucapku pelan takut menyinggung perasaan mantan mertuaku.
"Iya Ibu ngerti, Ibu minta maaf ya nduk, sudah gagal mendidik Hari, kamu mau to,maafin Ibu?"
"Njeh Bu, ini bukan salah Ibu, Hari sudah dewasa harusnya dia berfikir sebelum bertindak bukan hanya menuruti hawa nafsunya." netra tua itu terlihat mengembun.
"Hhh" Ibu menghela nafas dengan berat.
"Nduk, meskipun kamu sudah bercerai dengan Hari, kamu tetep mantuku datanglah mengunjungi kami, tengoklah Bapakmu," melasnya.
"Nggeh Bu, nanti kalau Exel ada waktu luang Insya Allah kami akan kesana, Maaf kalau selama ini Nina belum bisa menjadi menantu yang baik untuk Ibu,"
Tangan keriput Ibu membelai kepalaku, bulir bening jatuh di pipi tuanya.
Lihatlah Hari, kamu tidak hanya melukai perasaanku tapi juga melukai hati Ibumu, wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanmu.
Bersambung...
Maaf kalau part ini kurang greget.
Terima kasih sudi mampir kecerita recehku.
Like, komen, vote dan krisannya selalu ditunggu.
Wassalam....
__ADS_1