BUKAN LELAKI SETIA

BUKAN LELAKI SETIA
Patah hati


__ADS_3

Pov Heri.


Aku benar-benar sakit hati dengan kelakuan Tiara, bisa-bisanya dia berselingkuh di belakangku, dengan pria lain yang jauh lebih tua dariku.


Kupikir Tiara mencintai pria yang lebih tua karena mencari tipe pria yang berfikir dewasa, tapi ternyata dia hanya mengincar harta saja.


Setelah tahu aku miskin dia pergi, menjadi simpanan pria kaya, dan yang lebih menyakitkan lagi dia pura-pura tidak mengenalku.


Baiklah Tiara, jika memang itu maumu, akan aku turuti, kukemasi semua pakaiannya yang masih tertinggal dikontrakan, lalu kukirim kealamat tempat dia tinggal bersama pria tua itu.


Tak lupa kukirimkan sepucuk surat, yang berisi ikrar talak, sudah tak ada lagi rasa cinta dan hormatku padanya, dia saja tidak menghormatiku sama sekali.


Setelah ini dia mau apa terserah, aku sudah tidak perduli lagi, kalau ayah dan kakaknya melabrakku lagi, aku tidak segan-segan melaporkannya kepolisi, enak saja main hajar, orang anaknya yang salah.


Aku kembali menjalani hariku, menjadi driver taksi online, move on dari Tiara dengan tetap bekerja.


Entah mengapa aku teringat kembali pada Nina, mantan istriku, sudah setahun lebih kami bercerai, tapi dia masih betah menjanda.


Apa dia masih mencintaiku hingga tidak bisa menerima laki-laki lain?, apa tidak sebaiknya aku rujuk saja dengannya? bukankah semua orang pernah khilaf? termasuk aku, aku yakin Nina akan memaafkanku, apalagi sekarang aku sudah menceraikan Tiara.


Ada Exel diantara kami, ya Exel, aku bisa minta bantuannya untuk menyatukan kembali aku dan Nina.


("Halo...")


("Halo Nin, kamu sedang apa sekarang?,") tanyaku basa-basi.


("Aku baru akan tidur, kamu mau apa menelfon malam-malam begini, mengganggu orang tidur saja,") jawab Nina judes.


(Ah Nina.....aku jadi makin kangen sama kamu saja.)


("Aku hanya sedang memastikan kalau kamu baik-baik saja,") rayuku.

__ADS_1


("Aku memang baik-baik saja, sebelum kamu menggangguku.") ucapnya dingin.


("Hey...aku tidak mengganggumu, aku hanya tidak mau kamu menahan rindu.")


"Tut...tut..."


Sial, Nina menutup telfon sebelum aku melancarkan rayuan mautku.


Akhir-akhir ini aku memang tidak pernah kerumahnya, selain karena sibuk bekerja, aku juga sibuk mencari Tiara.


Kini urusanku dengan Tiara sudah selesai, jadi kipikir ini waktu yang tepat untuk mendekatinya lagi, tapi rumah Nina selalu tertutup dan lampu sudah mati saat aku datang.


Di toko, dia terlalu sibuk melayani pembeli, aku juga tak enak kalau mengganggu, dalam keadaan toko ramai seperti itu.


Hhh...aku hanya bisa memperhatikan Nina dari mobilku, setelah bosan aku akan pulang.


Aku merasa kesepian, tanpa anak dan istri, sepi, benar-benar sepi, seandainya dulu aku tidak tergoda, tentu tidak begini nasibku.


Entah ini hari yang keberapa aku mendatangi rumah Nina, biasanya jam segini rumah itu sudah tutup, tapi ada yang aneh, kenapa pagar dan pintu depan terbuka lebar?.


Tak lama kemudian, sebagian orang-orang itu keluar, nampak Mas Danu dan Mas Dani dengan istri mereka sedang mengantar tamu sampai teras, mereka berjabat tangan, nampak aura bahagia, hey...ada apa ini?.


Nampak Mas Heru dan Mbak Yanti, keluar diiringi Nina dan pria berbadan tegap dibelakangnya, yang pernah kulihat tempo hari saat aku berkunjung kerumah Nina.


Kata Exel, itu calon suami Nina, berarti mereka menikah hari ini? tidak mungkin, kalau iya, kenapa aku tak diundang? aku ini mantan suaminya, ayahnya Exel.


Nina berkabaya putih, sedangkan pria itu berjas Hitam, tangannya melingkar di pinggang Nina, mesra, aku cemburu.


kurang ajar sekali dia, beraninya menyentuh Ninaku. Aku harus mencari tahu, ini sebenarnya acara apa? dan siapa pria kekar itu?.


Sementara Aksel, yang berada diantara mereka, mengenakan kemeja batik, formal sekali, mereka berbincang dengan akrab, sesekali tertawa, membuatku semakin bingung saja.

__ADS_1


sebenarnya aku ingin turun dan menanyakan pada Nina, sebenarnya ada acara apa? tapi kehadiran Mas Danu dan Mas Dani membuat nyaliku ciut, aku tak mau jadi bulan-bulanan mereka berdua.


Aku mencoba menghubungi nomor Aksel, tapi sayang tidak diangkat, kucoba berkali-kali tetap tidak diangkat.


Aku menghubungi nomor Nina, tapi tidak aktif sial, aku diblokir ternyata, Mas Heru, iya Mas Heru dia pasti punya jawabannya.


Aku menghubungi nomor Mas Heru, sesaat setelah dia masuk mobil.


"Tut...tut...."


("Iya Ri, ada apa?,") tumben suara Mas Heru halus, sejak dia membayar warisan bagianku, sikapnya berubah galak, tapi kok sekarang beda?.


("Ng...anu Mas, mau tanya saja,")


("Tanya saja.")


("Mas Heru, di rumah Nina sedang ada acara apa ya? kok rame gitu.")


("Oh...itu, Nina menikah lagi dengan teman SMA Danu, mereka dijodohkan sama Danu.")


Jeduar!!! rasanya seperti disamber gledek, baru saja aku menyusun rencana rujuk, Nina malah sudah menikah saja.


("Halo...Ri...kamu baik-baik saja kan?.")


("Iii...ya Mas.")


("Baguslah kalau begitu, aku sudah dengar kelakuanmu yang terus mendekati Nina, jadi saranku biarkan Nina bahagia dengan pernikahannya yang sekarang".)


("Dan perlu kamu tahu, suami Nina itu purnawiran TNI".)


("Iya Mas, terima kasih infonya".)

__ADS_1


kututup telfon dengan perasaan yang entahlah, aku tidak bisa mendefinisikannya, mungkin patah hati karena mantan istri menikah lagi.


Bersambung....


__ADS_2