
Mobil melaju pelan, nampak Hari mencuri pandang kearahku dari kaca spion.
"Kamu duduknya kok dibelakang Nin, kayak sama orang lain aja" ujar Hari memecah kesunyian.
"Kan memang orang lain." ujarku datar.
"He...he...iya...ya" Hari terkekeh, sementara aku melempar pandangan kearah jendela mobil.
"Kamu makin cantik aja, aku sampai pangling tadi"
"Hhh...apa ?" aku pura-pura tidak dengar.
"Kamu cantik sekarang" ucap Hari lagi.
"Oh, berarti dulu aku jelek ya ? makanya kamu selingkuh"
"Aku minta maaf Nin" Hari berkata lirih sambil melirik kaca spion.
"Basi !" jawabku ketus.
Keheningan kembali menghiasi perjalanan kami.
"Turun di toko aja Har !" ucapku saat mobil sudah mendekati lokasi tokoku.
"Ini ongkosnya, terima kasih ya" Aku ulurkan dua lembar uang kertas berwarna merah.
"Kebanyakan Nin !"
"Gak apa-apa buat kamu !"
Aku tahu Hari butuh uang untuk biaya hidupnya, apalagi gaya hidup Tiara yang bak sosialita pasti berat untuk Hari memenuhinya.
Seminggu sudah berlalu sejak aku bertemu Hari, pagi ini aku bangun dengan semangat aku ada janji ketemuan dengan teman SMAku, disebuah kafe di Mall terkenal di kotaku.
Melepas rindu dengan teman lama, mengenang masa putih abu-abu pasti menyenangkan. Sejak bercerai dengan Hari aku lebih menikmati hidupku, perawatan kesalon, shopping ke Mall, ngumpul dengan temanku menjadi agenda rutinku.
Aku lebih memperhatikan penampilanku, bener kata orang, wanita akan terlihat semakin cantik setelah menjanda.
__ADS_1
Jujur jauh dalam hatiku masih menyimpan luka, karena itu aku butuh melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk menghibur diriku sendiri, tak salah bukan ?.
Setelah mandi dan berdandan rapi, aku turun dari kamarku yang terletak di lantai dua rumahku menuju dapur, aku mau sarapan sebelum bertemu dengan temanku.
Aku terkejut melihat sosok yang sedang ngobrol dengan Exel, Hari ngapain dia pagi-pagi sudah bertandang kerumah ini. Mana jatah sarapanku dimakan lagi.
"Hhmm...hm...! dehemanku berhasil membuat Hari menoleh kearahku.
"Nina !" Hari memandangku dengan mata berbinar.
"Siapa suruh ngabisin makananku ?"
"Exel tadi yang nyuruh Mi, kasian Papi belum sarapan" Aku mendengus kesal.
"Exel buatin mie goreng ya ?" Aku mengangguk dengan muka masam.
Exel bergegas memasak air dikompor, anak itu memang pandai memasak meskipun anak laki-laki. Kalau sekedar masak mie instan mah kecil buat dia.
"Ini mie gorengnya, spesial pake telur setengah matang hanya untuk Mami syantik seorang" Aku pelototin Exel yang menyodorkan mie goreng kepadaku.
"Piece Mi...piece...jangan marah dong, nanti cantiknya ilang"
"He...he...Mami tahu aja, bagi duitnya Mi yang kemarin sudah habis"
"Kamu boros banget, nih !" aku sodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna biru, senyum Exel langsung mengembang.
"Thank's Mami, Exel berangkat dulu" Exel mencium punggung tanganku sebelum berlalu.
Sepeninggalan Exel aku lahap Mie goreng buatannya, Hari yang dari tadi hanya jadi penonton kini angkat bicara.
"Sepertinya kalian tetap bahagia ya ? meski tanpa aku" Aku tatap Hari yang duduk didepanku.
"Berbeda dengan aku, tak pernah ada sarapan pagi tersedia bahkan setiap hari kami beli masakan jadi. Tiap Hari hanya ribut soal uang dan uang, tiap ada uang aku disayang-sayang begitu uang melayang eh...aku ditendang" tanpa diminta Hari bercerita panjang lebar.
"Sebenarnya aku malu sama keluargaku, Bapak dan Ibu masih ada tapi aku ngotot minta warisan. Tapi mau gimana lagi Tiara selalu minta ini itu dan harus dituruti kalau tidak dia ngambek ngancam mau lapor sama ayah dan abangnya" Aku memelankan ritme mengunyahku, mendengarkan penuturan Hari.
"Kemarin setelah menerima uang dari Mas Heru, Tiara langsung shoping ngajak makan direstoran, nongkrong di cafe tanpa mikir bagaimana kebutuhan esok hari" Mata Hari menerawang kedepan.
__ADS_1
"Ini aja aku beli mobil maksa, biar bisa buat kerja dia maunya beli kredit biar ada sisa uang, aku tidak mau karena berat bila harus bayar cicilan" Hari menghela nafas berat.
"Tiara terlalu manja dan kekanakan, egois tidak mau mengerti kesulitanku, kadang aku merasa tertekan, lelah berjuang sendiri"
"Tidak sepantasnya kamu cerita kepadaku, ini aib istrimu harusnya kamu tutupi" ucapku datar.
"Aku tidak tahu mau cerita sama siapa Nin, aku dilarang kerumah Ibu karena hanya bikin Bapak kepikiran, mau kerumah Mas Heru aku takut kalau Mas Heru masih marah."
"Bener kata orang-orang kalau Tiara hanya cinta uang, harusnya kudengar nasehat Joko tapi bujuk rayu Tiara membutakan hatiku" aku melihat sesal yang mendalam dalam tatap mata Hari.
"Oh ya, bagaimana kabar bisnismu dengan Joko ?" Aku ingin tahu apa benar uang seratus lima puluh jutaku digunakan untuk berbisnis dengan Joko.
"Hanya berlangsung dua bulan Nin, setelah itu uangnya dikembalikan lagi, peristiwa penggrebekan itu sudah tersebar, membuat istri Joko marah dan tidak mau kalau Joko berbisnis denganku, takut ketularan kelakuanku katanya"
Aku tak kuat menahan tawa mendengar penuturan Hari.
"Ha...ha...jadi karmamu mulai berlaku ya, meskipun sedikit demi sedikit, nanti akan ada karma yang membuat kamu menyesal seumur hidup karena sudah durhaka pada kedua orang tuamu" Ucapku sambil terus tertawa.
"Jangan ngomong gitu Nin, kamu membuatku takut saja" Wajah Hari terlihat begitu memelas.
"Nin kamu mau maafkan aku kan ?" Hari mencoba untuk meraih tanganku tapi langsung aku tarik.
"Halah basi ! cepet kamu keluar dari rumahku, aku mau kerja !"
"Kok aku diusir Nin ?"
"Kamu gak dengar ? aku mau kerja pintunya mau aku kunci, kamu mau aku kunci dari luar ?"
"Iya...iya...aku keluar, terima kasih nasi gorengnya !"
"Terima kasih sama Exel dia yang masak !"
Hari melangkah keluar, tubuh mantan suamiku itu nampak sedikit lebih kurus wajahnya nampak terawat beda jauh saat masih menjafi suamiku.
Nafsumu kini menghancurkan dirimu sendiri Hari, semoga kamu tidak menyesal nanti. Membuang berlian demi sekeping kaca yang dipoles indah.
Bersambung.....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca tulisan recehku, mohon tinggalkan jejak setelah membaca, biar author makin semangat nulis.
Like, komen, krisan dan votenya selalu ditunggu.