
Hari ini jadwal aku pulang ke Jawa, Mas Danu dan Mbak Tanti yang mengantar kami kebandara, Mas Rahman hanya titip salam beliau masih ada urusan di Jambi jadi tak bisa pulang bareng.
Ada rasa sedih, lega dan senang, bisa bertemu dengan saudaraku tapi aku harus kembali kejawa toko sudah menungguku, ciuman dan pelukan mbak Tanti melepas kepergianku.
Kalau ada cerita saudara ipar saling tidak rukun atau bermusuhan, alhamdulillah itu tidak terjadi padaku dan ipar-iparku, bahkan dengan mantan iparkupun aku selalu rukun meskipun sudah jadi mantan ipar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pulang dari toko aku bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri, segar rasanya saat air membasahi tubuh ini. Buru-buru aku memakai pakaian karena bunyi bel berkali-kali ditekan.
"Mas Rahman ?" Aku tertegun melihat sosok gagah yang berdiri didepanku.
"Assalamualaikum dek Nina..." Mas Rahman tersenyum manis menyapaku.
"Waalaikum salam...kapan pulang mas ? kok sudah sampai sini aja" aku mencoba mengalihkan debar jantungku yang entah apa artinya.
"Tadi siang dek, aku langsung kesini sudah tidak tahan pengen ketemu, wong ayu" ucapan Mas Rahman sukses membuatku tersipu malu.
"Mas Rahman ini apaan sih, kayak ABG aja suka nggombal, silahkan duduk Mas, tapi diteras aja ya, aku sendirian di rumah takut jadi fitnah" Mas Rahman duduk dikursi teras sedang aku duduk di kursi satunya, kami terpisah oleh meja kecil.
"Gini dek Nina, kedatangan saya kesini mau membahas usulan Danu tempo hari"
"Usulan yang mana ya Mas ?" Aku berlagak polos padahal aku tahu arah pembicaraannya, hanya saja aku terlalu gengsi untuk berterus terang.
"Mengenai rencana Danu untuk menjodohkan kita, maaf lho dek, kalau aku terlihat buru-buru, aku ini orangnya suka to the point gak suka bertele-tele. Jadi misalnya Dek Nina keberatan atau menolak sakitnya tidak terlalu dalam dek" Raut wajah Mas Rahman tampak serius saat berbicra, apa karena dia mantan tentara ya ?.
"Maaf Mas, bukannya menolak tapi kalau saya minta waktu untuk berfikir bagaimana ? jujur, masih ada trauma dihati saya" ucapku hati-hati takut Mas Rahman tersinggung.
"Berapa lama dek ?" ada nada kecewa dalam ucapan Mas Rahman.
"Dua tiga hari Mas, saya mau istiharoh dulu dan memantapkan hati, biar tidak kecewa dengan keputusan yang saya ambil"
__ADS_1
"Mas tunggu dek, semoga jawabannya tidak mengecewakan, oh ya, ini ada oleh-oleh buat dek Nina dan Nak Exel" Mas Rahman menyerahkan plastik besar yang dari tadi dia bawa.
"Mas Rahman ini aneh, sayakan juga baru pulang dari Jambi kok dibawakan oleh-oleh dari Jambi juga"
"Ya lain dek, inikan aku yang beli" mata kami bertatapan lalu kami kembali tertunduk.
"Mas sebentar, saya ambil minum dulu kedalam" Aku mencoba memecah kebisuan diantara kami.
"Gak usah dek, aku pamit dulu sudah mau maghrib gak enak dilihat tetangga, salam buat Exel kalau sudah ada jawaban, kabari Aku secepatnya ya dek"
"Iya Mas Insya Allah"
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
Mas Rahman pergi meninggalkan rumahku, kutatap punggung laki-laki yang masih nampak menawan diusia senja.
Eh, mikir apa sih aku ? kok sampai sejauh itu. Tapi tidak kupungkiri aku mulai memikirkan Mas Rahman sejak bertemu di Jambi. Ealah....aku kenapa to iki ? kok jadi mikir kemana-mana.
"Siapa dia ?" suara bariton Hari membuyarkan lamunanku tentang Mas Rahman. Saking asiknya melamun aku sampai tidak menyadari kehadiran kutu kupret dihadapanku.
"Bukan urusanmu !" jawabku ketus.
"Eh hati-hati, kamu itu janda jangan sebarangan menerima tamu laki-laki" dasar kutu kupret tak tahu diri, memang dia bukan laki-laki ?
"Sudah tahu aku janda, kenapa kamu datang kesini ? kamu pikir kedatanganmu nggak menimbulkan fitnah ? belum lagi nanti istrimu cemburu" kataku dengan nada ketus.
"Ya beda dong...akukan mantan suamimu aku ayahnya Exel, jadi aku berhak datang kesini"
"Siapa bilang kamu punya hak ? kalau kamu pengen ketemu Exel jangan disini, biar Exel yang datang menemuimu" kutu kupret ini memancing emosiku.
__ADS_1
"Kamu jangan galak gitu...aku hanya mengingatkan kamu agar hati-hati, kamu kan belum tahu banyak tentang laki-laki itu, kalau dia berniat jahat gimana ?" Hari berkata seolah dia tak punya dosa.
Aku masuk kedalam rumah lalu aku tutup pintu dengan kasar, berharap kutu kupret itu pergi sekarang juga. Tapi emang dasar kutu kupret yang sudah putus urat malunya, dia malah masuk kedalam rumah mengikuti aku.
"Mau apa kamu masuk, Exel belum pulang !" Hardiku.
"Aku lapar, boleh aku minta makan ? aku kangen masakanmu Nin" aku memutar boal mata dengan malas.
"Kenapa tidak minta dimasakin sama istrimu ?"
"Sudah tiga bulan Tiara tidak pulang Nin, dia selingkuh dengan pria kaya, aku akan segera menalak dia setelah nanti bertemu aku nggak tahan hidup seperti ini" Hari berkata dengan nada sendu, ada rasa kasihan melihat nasibnya tapi apa boleh buat itu sudah menjadi pilihannya.
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu urusan rumah tanggamu, aku capek aku mau istirahat silahkan keluar dari rumah ini"
"Kok aku malah diusir, aku hanya mengingatkanmu agar tidak bernasib sepertiku"
"Ya jelas beda Kamu menjalin hubungan dengan menyakiti dan menghianati orang lain, sedangkan aku tidak menyakiti siapapun" Aku tinggalkan Hari sendiri yang masih terpaku.
Aku masuk kekamarku yang terletak di lantai dua, lalu aku kunci takut kalau kutu kupret itu tiba-tiba masuk kekamarku.
Aku jadi kepikiran dengan omongan Hari, bagaimana nanti kalau ternyata Mas Rahman tak sebaik yang kupikirkan, ah memikirkan ini membuat hatiku jadi bimbang.
Aku harus menemukan jawabannya malam ini, aku tak mau terus terombang ambing oleh prasangka-prasangka buruk terhadap Mas Rahman.
Bersambung....
Terima kasih sudah mampir dicerita recehku, mohon tinggalkan jejak setelah membaca.
Like, komen, vote dan krisannya selalu ditunggu. Dukung selalu author untuk tetap berkarya, kontribusi anda adalah mood booster untuk author.
Sekian terima kadih semuanya.
__ADS_1