
"Bugh"
Tubuh laki-laki itu jatuh tersungkur, dia pingsan.
"Hari ! apa yang terjadi ?" Mas Heru menepuk pipi Hari mencoba menyadarkannya.
"Nin tolong ambilkan air dingin dan wash lap buat ngompres memarnya" suara mbak Yanti mengagetkanku yang berdiri terpaku.
"Eh, iya...ya..sebentar" Aku berlari kearah dapur mengambil apa yang diperlukan.
"Ini mbak" aku menyodorkan baskom ke mbak Yanti.
"Kok aku ? ya kamu dong...kamu kan istrinya"
Entah mengapa aku enggan menyentuh Hari, mengingat kejadian tiga hari yang lalu membuatku merasa jijik, ternyata bukan hanya tubuhku yang pernah dijamahnya tapi ada perempuan lain juga.
"Mbak Yanti aja ya, aku nggak bisa" Aku jijik melihat bibir jontor Hari , bibir yang pernah dia gunakan untuk mencium Tiara.
"Kamu ini, keadaan begini masih ngambek aja !" Mbak Yanti memprotesku tapi aku abaikan.
Akhirnya mbak Yanti mengompres luka lebam di wajah Hari. Semantara aku hanya mematung memandangi tubuh Hari.
Sebenarnya ada rasa tidak tega melihat keadaan lelakiku yang penuh lebam dan memar, tapi luka yang dia torehkan kepadaku terlalu dalam hingga sulit untuk bisa memaafkannya.
Mas Heru membaringkan tubuh adiknya, di sofa. Mata itu akhirnya terbuka setelah hampir satu jam pingsan.
"Hari kamu kenapa, sampai babak belur begini" Mas Heru langsung angkat bicara.
"Mas, hik...hik...maafkan saya sudah bikin malu keluarga hik...hik..."
Dasar laki-laki semprul, bikin salahnya ke aku minta maaf kekakaknya, umpatku dalam hati.
"Mi, tolong maafin Papi ya ? Papi khilaf" Hari mencoba meraih tanganku tapi kutepis.
Khilaf kok ngilang tiga hari bareng gundiknya, paling juga asik enak-enakan, itu mah doyan namanya.
"Sekarang kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi" rupanya Mas Heru sudah bosan melihat drama yang dibuat adiknya.
"Aku di grebek ayah dan kakaknya Tiara, Aku di hajar sampai babak belur untung ditolong warga hingga bisa kabur kesini"
"Memang apa yang sudah kamu lakukan ?"
"Aku sedang tidur saat mereka datang, lalu mereka marah melihat kami berdua di kosannya Tiara"
__ADS_1
"Kamu tidur saja apa lagi enak-enak berdua ?" uff ternyata pikiran Mas Heru sejalan denganku.
"Enak-enak Mas" Hari menjawab dengan suara lirih nyaris tak terdengar.
"Kamu itu ****** ! sudah punya istri, umur juga sudah bangkotan malah main sama perempuan yang baru bisa ngelap ingusnya !"
Bagus mas, marahi terus adikmu puas hatiku.
Tak lama kemudian terdengar suara berisik dari depan, aku keluar untuk memastikan siapa yang membuat gaduh di depan rumahku.
"Permisi Bu, ini benar rumah saudara Hari ?"
Di depanku berdiri seorang pria setengah baya dan laki-laki muda, dengan tangan kanannya mencengkeram lengan gadis muda selingkuhan suamiku, Tiara.
"Iya Pak, saya istrinya silahkan masuk Hari sedang di ruang tamu"
Tak perlu kupertanyakan apa keperluan Bapak dan anak itu kesini, tentu saja menuntut pertangung jawaban dari Hari.
Kini kami sedang berkumpul di ruang tamu rumahku. Dadaku yang sempat mereda gemuruhnya kini kembali terasa sesak.
"Langsung saja, maksud kedatangan kami kemari menuntut pertanggung jawaban Hari, karena sudah meniduri anak saya" Ayah tiara memandang tajam kearah Hari.
"Kami melakukannya atas dasar suka sama suka tak ada yang memaksa, jangan paksa saya unyuk menikahi Tiara saya sudah punya anak istri" Cuih dalam keadaan terdesak masih bisa membela diri.
Hari menatapku seperti memohon pembelaanku, Aku hanya diam dan membalas tatapan Hari dengan ekspresi dingin.
Dulu , sebelum petaka ini terjadi aku sangat bahagia saat Hari menatapku, dulu aku siap pasang badan untuk menghadapi masalah yang menimpa, ya dulu itu dulu sekarang pengen nampol mukanya.
Luka yang Hari berikan padaku teramat dalam dalam, teramat sakit kalau saja aku tak menyaksikannya sendiri mungkin tak sesakit ini, Biarlah Hari pergi mungkin ini yang terbaik.
"Hari pergilah, tempatmu bukan di sini nikahi Tiara jatuhkan talakmu padaku agar yang hadir disini menjadi saksi"
"Nggak mau Mi, aku mencintaimu aku nggak mau kita bercerai" Hari merengek memohon kepadaku.
"Mas ! kamu udah janji mau nikahin aku, kamu bilak sudah gak cinta sama istrimu" kali ini Tiara angkat bicara.
"Semua yang di sini menyaksikan, perbuatan bejatmu bukan hanya mengancurkan dirimu sendiri, tapi juga menghancurkan rumah tangga kita" Aku menghela nafas sejenak.
"Dengan atau tanpa menikahi Tiara aku akan tetap menggugat cerai kamu, perilakumu benar-benar sudah seperti binatang bercinta di rumahku di ranjangku tanpa memikirkan resikonya bila aku tahu"
"Kamu sudah dewasa sebelum melakukan sesuatu harusnya difikirkan terlebih dulu, bukan hanya mengikuti hawa nafsu, sebagai istri aku tahu punya banyak kekurangan tapi bukan begini caramu memperlakukan aku"
"Aku minta maaf atas kesalahan yang pernah kulakukan padamu, kita akhiri semuanya hari ini silahkan tinggalkan rumah ini sekali lagi aku minta maaf"
__ADS_1
Hari menangis tergugu, Mas Heru hanya diam merenungi nasib adiknya.
"Hari kamu tidak bisa lari dari tanggung jawab, kamu harus menikahi Tiara untuk menyelamatkan harga dirinya" Laki-laki seusia Mas Heru itu angkat bicara.
"Tiara anak saya, kalau bukan karena Tiara memohon sambil menangis mungkin saya sudah membunuhmu" Wajah Ayah Tiara nampak memerah.
"Tapi saya sudah beristri tidak mungkin saya menikahi Tiara secara resmi"
"Mas ! kau anggap apa aku ? kau bilang tergila-gila padaku, katamu hanya mencintaiku kini kamu berusaha lari dari tanggung jawab, menolak menikahiku dasar brengsek kamu mas !" Tiara melayangkan pukulannya ke kepala Hari.
"Sudah Tiara jangan memperkeruh keadaan, Hari akan menikahimu kalau dia masih sayang nyawanya" Kakak Tiara menahan tangan Tiara yang siap melayangkan pukulan ketangan Hari.
"Saya rasa kedatangannya saya cukup sampai disini, Hari saya tunggu kamu besok jam sepuluh di rumah saya, kalian akan saya nikahkan besok secara siri dan mendaftarkannya secara resmi setelah proses percerianmu selesai"
"Saya pastikan Hari akan menepati janjinya Pak, Saya atas nama keluarga mohon maaf atas kesalahan yang diperbuat adik saya" Mas Heru menjabat tangan Ayah Tiara sebelum mereka keluar pintu rumahku.
Air mataku menetes, jujur dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku masih mencintai Hari, laki-laki yang mengisi hidupku lebih dari dua dasa warsa.
"Mas Heru dan Mbak Yanti sudah lihat sendiri, bagaimana bejatnya Hari, jangan minta saya memaafkan atau menerimanya kembali, maaf saya tidak bisa"
"Ya aku paham Nin"
"Tolong bawa Hari pergi dari rumah ini Mas, aku hanya ingin menata kembali hatiku yang diporak porandakan adikmu"
Mas Heru dan Mbak Yanti bangkit dari tempat duduknya, sekali lagi Hari menatapku dengan wajah sedih aku membuang muka menghindari tatapannya.
"Ayo Har kita pulang kerumahku dulu" Mas Heru membantu Hari berdiri.
"Nin, aku minta maaf, kamu yang sabar ya kami pulang" Mas Heru berpamitan padaku, aku hanya menganggukan kepala.
Mereka meninggalkan rumahku dengan meninggalkan sesak didada.
Bukan hanya batinku yang terluka, tapi harga diriku juga koyak oleh perbuatan Hari.
Mas Heru adalah lelaki yang baik, setia, penuh tanggung jawab dan sayang keluarga. Beda jauh dengan adiknya yang penghianat bangsa eh cinta.
Bersambung dulu ya gues...Mamak thor capek.
Terima kasih yang sudah baca cerita recehku ini.
Like, komen, vote dan krisannya ditunggu modal untuk memperbaiki tulisan Mamak Thor yang masih acak adul ini.
I Lope You All...😍😍😍
__ADS_1