
Entah apa yang merasukiku, aku membawa gadis muda Tiara namanya yang baru kukenal tiga bulan yang lalu kerumahku.
Aku rayu dia agar mau bercinta di kamarku tempatku memadu kasih dengan Nina istri sahku. Awalnya Tiara menolak dia mau bercinta tapi di hotel, tapi bujuk rayuku meluluhkannya.
"Jangan di rumahmu Mas, nanti ketahuan istrimu bisa panjang urusannya" Ucap Tiara dengan nada ketakutan.
"Jangan kuatir, istriku masih di rumah kakakku yang lagi mantu paling dia pulang sore, inikan masih siang sayang" Rayuku pada Tiara.
"Kita main di kosku aja yang mas..." Tiara merajuk manja.
"Bosen main di kosmu, gak bisa bebas takut kedengaran tetangga kos, mending main disini kamar luas gak, ada orang kamu bebas berekspresi, mau teriak juga gak ada yang dengar" Kataku meyakinkan Tiara.
"Mas kenapa sih gak pernah ngajak kencan di hotel aja, lebih nyaman" Tiara masih saja merajuk.
Aku memang tidak pernah membawa Tiara kehotel, sayang duitnya hanya beberapa jam saja harus bayar lima ratus ribu, mending uangnya buat traktir Tiara.
Aku memang tak punya banyak uang, hanya penampilanku saja yang mentereng, kemana-mana naik mobil Innova Venturer.
Banyak orang yang mengira aku ini Bos, punya harta melimpah padahal semua itu milik istriku. Aku hanya membantu istriku di toko grosir sembako miliknya.
Meski begitu aku tetap digaji meskipun tidak banyak, uang gajiku kupakai untuk kebutuhanku sendiri biasanya kugunakan untuk membantu orang tuaku sisanya buat beli rokok, makan, bensin dan kebutuhan lain semua di penuhi istriku.
Kalau laki-laki lain pusing mikir uang belanja, lain dengan aku, tak perlu kerja keras semua kebutuhan terpenuhi pokoknya tahu beres.
Nina istriku umurnya lima tahun lebih tua dariku, wanita mandiri, tegas dan tabah menjalani hidup.
Buktinya dia bisa sukses dalam usia muda meski dia ditinggal Bapaknya meninggal sejak kecil, semua yang aku nikmati sekarang adalah hasil kerja keras istriku.
Nina tak pernah menuntut apapun dariku, dia menerimaku apa adanya meskipun Ibu dan kedua kakaknya dulu menolakku sebagai suami Nina, tapi dengan cintanya Nina membuktikan pada keluarganya kalau aku adalah lelaki terbaik pilihannya.
Aku memang laki-laki tidak tahu diri, sudah punya istri secantik dan sebaik Nina tapi masih bermain api dibelakang.
Pesona Tiara membuatku gairah hidupku kembali muda, wajah inocentnya, senyum manisnya, bodi bahenolnya, suaranya yang mendayu-dayu dan sikap manjanya membuat aku jatuh cinta.
Aku kenal Tiara tanpa sengaja, saat motornya kesenggol mobilku yang kukendarai bersama Joko waktu itu, aku dan Joko sedang membicarakan bisnis baru kami hingga aku yang sedang nyetir kurang konsentrasi.
__ADS_1
Tiara melintas tanpa sempat kulihat, untung rem mobilku pakem hingga tidak menyebabkan kecelakaan parah.
Motor Tiara aku tinggal di bengkel, sementara Tiara aku antar pulang kekosannya, sejak itu aku sering mengunjungi Tiara dikosannya.
Dari situ hubungan kami terjalin awalnya hanya sebatas teman curhat lalu berlanjut jadi hubungan laknat.
Aku dan Tiara menjalin cinta terlarang, tanpa diketahui Nina, semakin hari hubunganku dengan Tiara semakin berani bahkan sampai keranjang.
Awalnya Aku tidak percaya, semudah itu Tiara menyerahkan kehormatannya padaku tapi setelah kencan pertama, aku menyadari Tiara sudah tidak virgin lagi aku sedikit kecewa tapi tidak apa-apa yang penting dapat daun muda.
Aku yang sedang mabuk cinta kini pandai membohongi istriku, aku bilang ada urusan bisnis di luar kota padahal aku menginap di kosan Tiara.
Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, pepatah itu cocok untukku. Perselingkuhan yang selama tiga bulan aku tutupi terbongkar oleh kelakuanku sendiri.
Nina memergokiku saat sedang bercinta dengan Tiara di kamar kami, aku baru tahu kalau Nina menyaksikan pergulatan kami setelah kami mencapai puncak, sialnya Nina justru merekam adegan mesumku dengan Tiara.
Apes Nina marah dia mengusirku, dilemparkannya semua pakainku yang hanya dibungkus kantong plastik kemukaku. Kunci mobilku disembunyikan di lemari beserta dompetku.
Nina sempat mendorong kening Tiara hingga kejengkang di lantai, aku bantu berdiri , aku mencoba melindungi Tiara yang berbadan mungil, takut diapa-apain Nina yang berbadan lebih besar.
Nina kenapa kantong plastik ? bukannya koper biar sedikit berkelas gitu lho !
Akhirnya aku pulang naik taksi online kekosannya Tiara, tiga hari aku menginap di kosannya Tiara, aku bahkan tidak datang di acara ngunduh mantunya Mas Heru aku memang adik durhaka.
Tiga hari dikosnya Tiara aku puas-puasin menikmati tubuh indahnya aku seperti orang kelaparan yang baru menemukan makanan. Tiara begitu memuaskanku di ranjang, beda dengan Nina yang akhir-akhir ini sering mengeluh capek kalau aku minta jatah, mungkin faktor U yang membuat gairah Nina menurun.
Rupanya sial belum berhenti mengejarku, hari itu kakak dan Ayah Tiara yang memergoki kami bercinta di kamar kos. Bukan hanya cacian dan makian yang aku terima, tapi tendangan dan bogem mentah.
"Kurang ajar kamu, berani-beraninya meniduri anakku" Bapak Tiara menarik tubuh polosku yang saat itu sedang bercumbu.
"Bugh !"
"Plak"
"Bugh"
__ADS_1
Aku yang tanpa persiapan benar-benar terkejut dan hanya bisa pasrah dihajar dua laki-laki kalap itu.
"Bapak tolong hentikan, jangan sakiti Mas Hari" Tiara menangis berlutut di kaki Bapaknya.
"Plak" Tak urung pipi mulus Tiara menerima tamparan tangan kekar Bapaknya.
"Perempuan murahan kamu ! tidur dengan laki-laki yang bukan suamimu ! dosa apa aku nduk ? sampai tega kamu berzinah seperti ini ?" Laki-laki setengah baya itu meneteskan air mata.
"Aku mencintainya Pak, aku mohon...jangan sakiti Mas Hari lagi" Tiara menangis sesenggukan.
"Pakai bajumu ! Bapak malu nduk, Bapak malu ! kau coreng muka Bapak dengan kotoran ! ya Allah kenapa ini harus terjadi lagi ?" Laki-laki setengah baya itu melempar pakain kearah Tiara.
Sementara kakak Tiara masih terus menghajarku.
"Ada apa ini ribut-ribut ? tolong jangan ada kekerasan, selesaikan secara damai" Pak satpam datang melerai perkelahian yang tidak seimbang ini.
Aku sudah pasrah dan berfikir bahwa inilah hari kematianku, akhirnya dapat bernafas dengan lega.
Aku yang sudah diseret keluar dalam keadaan babak belur diselamatkan oleh penjaga kos yang sering aku beri upeti itu, sementara orang-orang memegangi Bapak dan kakak Tiara, aku diantar satpam kerumah Nina Istriku sesuai permintaanku.
Aku masuk kedalam rumah yang sudah kutinggalkan tiga hari, sepertinya sedang ada tamu, kubuka pintu yang tidak terkunci samar-samar kudengar suara orang yang sedang ngobrol.
Dengan tertatih aku masuk kedalam rumah Suara yang ku dengar itu sepertinya aku kenal, itu suara Mas Heru dan Mbak Yanti apa yang mereka bicarakan aku tidak bisa mendengar.
Tiba-tiba semuanya gelap.
Bersambung.....
Terima kasih sudah membaca tulisan recehku, mohon tinggalkan jejak setelah membaca.
Like, komentar, vote dan krisannya selalu ditunggu.
Tank you all....
Wassalam....
__ADS_1