
"Assalamualaikum...."
Aku menoleh kesumber suara, Exel baru saja pulang dari kuliah, berjalan mendekatiku meraih tanganku dan mencium punggungnya dengan takzim.
"Dari mana kamu ? malam begini baru pulang?" tanyaku menginterogasi Exel.
"Ya elah Mami baru juga jam tujuh, kayak gak pernah muda aja" begitulah gayanya Exel mirip papinya rada selengekan.
"Sudah sholat maghrib tadi ?"
"Sudah tadi, di rumahnya Yudha"
"Eh Mi, tahu nggak aku tadi abis menyelediki perempuan yang jadi selingkuhannya Papi"
"Halah ! gayamu kayak detektif aja"
"Beneran Mi, ternyata Tiara itu mantan pacar Yudha mereka putus enam bulan lalu karena ketahuan jadi sugar baby pengusaha kaya padahal dia masih SMU lho Mi"
"Keluarganya gak tahu, mereka hanya tahu Tiara ngekos biar deket dari sekolah rumah Tiara kan lumayan pelosok Mi, tahu gak Mi ? kosnya Tiara di jalan Shima disana itu kosnya bebas gak ada aturan, rata-rata yang ngekos disana pemandu karaoke, istri simpanan pokoknya perempuan gak bener"
Aku menghela nafas kasar mendengar penuturan Exel, Hari ternyata sepicik itu mudah tergoda oleh wanita murahan itu memuaskan nafsu.
"Kalau Tiara jadi sugar Baby kenapa mau sama Papimu ? kan Papimu gak kaya"
"Tiara memang jadi sugar baby pria kaya untuk memenuhi gaya hidupnya, tapi dia juga suka cowok ganteng buat nyenengin dia Mi"
Hari memang tampan dia masih terlihat muda meskipun sudah kepala empat, ditunjang dengan penampilannya yang kemana-mana bawa mobil, tak salah jika Tiara juga terpesona.
Aku benar-benar merasa bodoh beberapa bulan ini dibohongi Hari, pamitnya ada urunan bisnis sama temennya dia juga minta modal untuk usahanya tapi ternyata untuk main perempuan.
"Mi, Papi pengen punya usaha sendiri biar nggak terus-terusan bergantung Mami"
"Memang Papi mau usaha apa ? selama ini kan gak ada masalah walau Papi hanya bantu Mami di toko"
"Joko ngajak patungan jadi pemasok bahan baku di pabrik garmen"
"Butuh dana besar itu Pi"
"Kan bertahap Mi, bulan ini kirim berapa bayarnya bulan depan setiap minggu kirim jadi butuh empat modal, Joko keteteran Mi uangnya gak cukup makanya ngajak Papi patungan, Mami bisakan bantuin Papi ? nanti kalau sudah lancar Papi ganti"
Bodohnya aku percaya ocehan Hari, aku yang sangat percaya padanya tidak berfikir sama sekali ataupun menyelediki kebenarannya lebih dulu malah langsung memberikan uang pada Hari.
Sudah tiga kali dia meminta uang lima puluh juta berarti total sudah seratus lima puluh juta, buat apa uang itu.
"Mami kok malah bengong ?" Aku glagapan di kagetkan Exel.
"Kalau jadi sugar baby kenapa masih ngekos ? kan lebih enak ngontrak sendiri atau tinggal di apartemen, lebih aman"
"Keluarganya kan nggak tahu kalau Tiara sugar baby, dan keluarganya masih sering jengukin Tiara katanya khawatir sama anak perempuannya"
__ADS_1
"Oh" aku juga bingung sendiri Tiara masih semuda itu sudah licik sekali.
"Keluarganya itu sederhana Mi mereka petani madu di kampungnya Tiara jadi rusak gitu karena salah pergaulan, gaya hidup glamaor hura-hura butuh biaya, dari mana lagi kalau bukan menjual diri"
"Percuma juga kamu selidi Xel, besok Papimu sama Tiara akan menikah"
"Menikah ? Mami udah ngijinin ?" Exel menatapku tak percaya.
"Orang tua Tiara memergoki Papi kamu lagi mesum dikosannya Tiara, mereka tidak terima Papi kamu dihajar sampai babak belur dan dipaksa menikahi Tiara besok"
"Exel nggak mau punya Ibu tiri perempuan ruwet Mi"
"Ya mau gimana lagi ? itu lebih baik dari pada mereka zina terus. lagi pula Mami akan segera menggugat cerai Papimu"
"Mami nanti jadi janda dong ?"
"Memang kalau janda kenapa ?"
"Nggak pa-pa, asal jangan janda gatel aja" kulempar Exel dengan sandal rumah yang kupakai dia malah tertawa berlari masuk kamarnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Suit...suit...wuih calon janda udah cantik saja ?" pagi-pagi Exel sudah menggodaku.
"Mau dilempar sandal lagi ?" Aku melotot menatap Exel.
"Ampun Mi....jangan, Mamiku yang syantik sya la...la..." aku tersenyum geli melihat tingkah konyol Exel.
"Mungkin Papimu butuh KTP dan surat penting lainnya" Exel menerima dompet itu.
"Mami nggak menghadiri akad nikah Papi ?"
"Gak lah buat apa ? Mami mau ketoko mending nyari duit dari pada meratapi play boy kacangan kayak Papimu, kalau kamu mau ikut gak pa-pa bagiamanapun juga dia Papimu"
"Gak ah ! males ! Exel malu punya Papi nggak tahu diri"
Hari...Hari...demi perempuan itu kamu harus kehilangan keluargamu, suatu saat kamu akan menyesal. Kita lihat saja nanti sampai kapan Tiara bertahan setelah kamu miskin.
Seminggu setelah pernikahan dengan Tiara, secara resmi aku menggunggat cerai dipengadilan agama. Hatiku sudah mantap bercerai dari, Hari laki-laki yang pernah membuatku jatuh cinta setengah mati, dan tanpa hati membuat cintaku patah hati.
Tidak kupungkiri aku memang patah hati, aku jadi banyak melamun tapi aku harus bangkit dari keterpurukan ini, hapus Hari dari hati lenyapkan bayangannya, Aku harus bahagia...aku harus bahagia aku berusaha mensugesti diriku sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Thing...thong..." bel rumahku berbunyi, siapa tamu yang datang ?
Aku keluar melihat siapa yang datang, aku tidak percaya melihat siapa yang ada di depanku, sepasang suami istri yang selama sangat aku benci.
Mereka naik motor baru, Pcx motor metick yang mahal itu ya iyalah ngembat duit seratus lima puluh juta, beli motor mah kecil.
__ADS_1
Hari membuka pintu pagar, motor dia parkir di garasi, heran ! masih merasa rumah sendiri aja.
Tanpa dipersilahkan mereka masuk kerumahku, dengan santainya mereka diduduk di meja makan. Aku hanya mengikuti mereka dari belakang ingin rasanya aku tampar mereka satu persatu.
"Mau minum apa dek ? biar mas buatin" Hari membuka kulkas tanpa sungkan kepadaku.
"Air putih dingin saja mas" mendengar suara manja Tiara membuatku pengen memuntahkan isi perut.
"Eh, Mbak Nina" Tiara tersenyum kearahku seolah baru menyadari kehadiranku.
"Tadi habis jalan-jalan Mbak, Mas Harinya ngajak mampir kangen katanya"
Hihh...Aku benar-benar jijik dengan mereka berdua.
"Mami duduk sini, ada yang mau Papi bicarakan" Hari menyeret salah satu kursi untuk kududuki.
"Gak usah aku berdiri disini saja, katakan apa maksud kedatangan kalian kesini"
"Jangan galak gitu dong Mi...Mami gak kangen sama Papi apa ?" pengen aku cakar saja muka laki-laki tak punya malu ini.
Aku tatap mata hari dalam-dalam dengan sorot penuh kebencian, meski tanpa bicara aku ingin Hari tahu aku sangat membencinya.
"Ok...ok...surat panggilan dari pengadilan agama, Mami yakin mau cerai ? nggak sayang sama perkawinan kita yang sudah dua puluh tahun ?" Suara Hari melunak.
Aku hanya diam menyimak penuturannya.
"Iya mbak, saya rela jadi yang kedua, kenapa kita tidak berdamai aja mbak, aku yakin Mas Hari bisa adil kok"
Adil "ndasmu" dua minggu ndekem di rumah istri muda asik asikan lupa semuanya, kalau dia ingin memperbaiki keadaan harusnya dia pulang kerumah ini setelah akad nikah selesai dan minta maaf. Aku manusia biasa yang punya hati dan rasa iba.
"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi silahkan kalian keluar, kedatangan kalian tidak diharapkan di sini"
"Mbak, kita bisa berbagi suami tanpa ada yang tersakiti"
Aku hanya diam kutatap mereka dengan tatapan ingin menerkam.
"Kita bisa hidup berdampingan, kita bisa membahagiakan Mas Hari bersama"
Aku bingung dengan logika mereka berdua, sudah ketahuan selingkuh, menikahpun terpaksa karena digerebek, tanpa malu mereka datang padaku menawarkan perdamain, perdamaian macam apa ?
Tiara bilang bersedia berbagi suami denganku, Halo...memang Hari barang bisa dibagi-bagi.
Jelas mereka ingin berdamai denganku, hidup Hari bergantung padaku Hari itu pengangguran kerjanya hanya membantuku di toko , jika tak ada penghasilan dari mana mereka bisa hidup.Jalan satu-satunya ya berdamai denganku agar pasokan duit mereka lancar.
Enak sekali mereka ! tinggal asik-asikan berdua, aku yang kerja mereka yang menikmati hasilnya dasar benalu !
Bersambung....
Acara berantemnya lebih seru di part depan ikuti terus tulisan recehku.
__ADS_1
Like, komen, vote dan krisannya masih ditunggu.
Akhir kata wassalam...