BUKAN LELAKI SETIA

BUKAN LELAKI SETIA
Episode 4 : Flash back.


__ADS_3

Namaku Syaqina Marwa biasa dipanggil Nina, aku bungsu dari tiga besaudara dua kakakku laki-laki mereka merantau keluar jawa hanya setahun sekali pulang ke Jawa saat idul fitri, atau ada hal mendesak saja.


Ayahku sudah meninggal sejak aku masih SD. Setelah lulus SMA Kakak-kakakku kemudian merantau mengikuti paman adik dari ibuku yang sudah sukses di Jambi.


Sepeninggal Ayah, Ibu berjualan nasi pecel di pasar, dari hasil jualannya ibu berhasil membesarkan dan menyekolahkan kami bertiga, memang hanya sampai SMA tapi itu sudah cukup bagi kami


Setelah kakakku merantau ke Jambi, sebenarnya hidup kami tidak kekurangan lagi, karena kedua kakakku tak pernah absen mengirimi uang untuk kami berdua.


Tapi Ibu bilang, selagi masih sehat Ibu akan tetap berjualan. Kakakku sebenarnya berniat menguliahkan aku agar tidak seperti mereka yang hanya lulusan SMA.


Tapi aku ingin mandiri, tak ingin merepotkan orang tua lagi, kasihan Ibu yang sudah tua masih harus mencari nafkah. Setamat SMA aku mengutarakan keinginanku untuk bekerja.


Akhirnya Ibuku mengenalkan aku pada nyonya Lin, pemilik toko grosir sembako di pasar nyoya Lin ini langganan Ibuku semua kebutuhan jualan Ibuku diambil dari toko nyonya Lin.


"Nyonya Lin, ini lho anak gadis saya yang saya ceritakan kemarin" kata Ibuku pada nyonya Lin waktu itu.


"Oh ini yang mau kerja disini ? kamu cantik lho nggak pa-pa nanti kena tepung kena beras ?" Ujar Nyonya Lin dengan ramah.


"Nggak pa-pa Nyonya yang penting kerja"


Jawabku waktu itu.


Sejak itu aku mulai bekerja di toko Nyonya Lin, sering aku dipuji Nyonya Lin katanya aku rajin, ulet dan disiplin.


"Aku lihat kamu bakal sukses Nin kamu rajin aku suka" begitu puji Nyonya Lin.


Aku banyak belajar dari Nyonya bagaimana berdagang yang baik, bagaimana harus bersikap kepada para pelanggan bagaimana mengatasi sales, semua aku pelajari dari Nyonya Lin.


Setelah beberap tahun ikut Nyonya Lin, kini aku jadi orang kepercayaannya.


Nyonya Lin seorang janda sejak muda, dia dan suaminya bercerai karena tukang judi dan sering mengambil uang Nyonya Lin Untuk berjudi.


Anak nyonya Lin ada dua orang perempuan semua, dua-duanya sudah menjadi dokter seperti cita-cita Nyonya Lin.


Suatu hari Nyonya Lin memberiku penawaran yang akhirnya mengubah hidupku.


"Nin, aku sudah tua aku capek jualan terus, aku mau ikut anakku aja tinggal di sana ngumpul sama anak cucu, toko mau aku jual saja" Nyonya Lin berkata begitu saat kami akan menutup toko.


"Sayang banget Nyonya, toko ini kan Rame" Aku memikirkan bagaiman nasibku kalau toko ini di jual, apa pemilik yang baru mau menerimaku sebagai karyawannya.


"Makanya Aku tawari kekamu, sayang kalau dibeli orang lain kalau kamu yang beli aku percaya toko ini bisa berkembang jadi makin besar" Wanita keturunan tionghoa itu menyemangatiku.

__ADS_1


"Duit dari mana Nyoya ? toko sebesar ini pasti mahal"


"Saya jual satu miliar saja sama kamu"


"Saya tidak punya uang sebanyak itu Nyonya"


"Sepunyamu aja, sisanya bisa kamu cicil kok"


Sampai di rumah aku sampaikan penawaran Ny Lin , Ibuku antusias sekali bahkan beliau rela menjual kios pecelnya.


"Nggak apa-apa orang nggak ada yang nempati, lagi pula tempatnya di dalam kurang rame lebih baik dijual" begitu tutur Ibuku.


Dengan bermodal uang penjualan kios dan modal pemberian dari kedua kakakku terkumpul empat ratus lima puluh juta kugunakan untuk membayar toko Nyonya Lin sisanya kucicil dan lunas setelah dua tahun.


Tokoku berkembang bahkan kios sebelah bahkan ikut terbeli, Ibuku senang sekali beliau juga ikut bantu-bantu meski sudah kularang.


Ada satu hal yang membuat Ibuku sedih, di usiaku yang hampir dua puluh lima tahun jodoh belum juga menghampiri.


Aku memang tak punya banyak teman pria, hidupku hanya untuk bekerja dan bekerja.


Ada seorang pria bernama Hari yang menarik perhatianku, selain wajahnya yang tampan dia juga sangat humoris, aku sering dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal karena banyolannya.


Hari mampu menggetarkan hatiku yang selama ini beku, senyumnya tawanya menghiasi hari-hariku.


Bahkan kakak Hari menyediakan dana talangan untuk pemilik hajat yang kekurangan dana, tapi berupa sembako dan bahan mentah lainnya. Dan sembakonya diambil dari tokoku.


Saat musim hajatan Hari jadi lebih sering bertandang ketokoku. Dari sinilah benih-benih cinta tumbuh, entah mengapa aku jatuh cinta pada hari laki-laki yang usianya lebih muda lima tahun dibawahku.


Gayung bersambut Hari menyatakan perasaannya padaku dan aku menerimanya.


"Nina maukah kamu menerima cintaku ?" ucap Hari kala itu.


"Tapi aku tidak mau pacaran Har, usiaku sudah matang Ibu ingin aku segera menikah" Hari terdiam mendengar ucapanku.


"Tapi aku belum cukup mapan untuk menikah" ucapnya tertunduk lesu.


"Sementara kamu sudah sukses dengan tokomu" lanjut Hari.


"Kalau kita menikah, kamu bisa bantu aku di toko, tidak perlu kerja lagi ditempat kakakmu, aku tidak masalah kamu belum mapan yang penting kamu setia" Begitu ucapku kala itu.


Tak mudah bagiku untuk mendapat restu dari Ibu dan kedua kakakku, mereka tidak menyetujui hubunganku dengan Hari.

__ADS_1


"Dalam sebuah perkawinan seharusnya yang laki-laki lebih matang usianya kalau bisa juga lebih mapan, biar bisa jadi pengayom, pelindung, biar setiap menghadapi masalah bisa bersikap bijak dalam mengambil keputusan" omel Ibuku panjang lebar.


"Bukan sebaliknya, kita perempuan butuh dilindungi meskipun sudah mandiri"


Karena sudah kadung cinta aku tetap kekeh hanya mau menikah dengan Hari, meski dengan berat hati akhirnya Ibuku memberikan restunya pun kedua kakakku.


Pernikahan berlangsung sederhana, alasannya Hari tidak punya cukup biaya yang aku bisa saja membuat pesta yang meriah tapi Ibuku melarang.


"Biaya pernikahan seharusnya ditanggung pihak laki-laki, kamu tidak usah mengeluarkan biaya untuk biaya pesta sayang duitnya, lagi pula duitnya kamu simpan untuk modal"


Usai prosesi akad nikah aku sedikit terkejut dengan sikap kakak pertamaku.


"Kalau kamu berani menyakiti adikku sedikit saja, aku tidak akan segan-segan menghabisimu" Kakakku mengancam Hari dengan wajah dingin.


Aku tahu Ibu dan kedua kakakku kurang suka dengan Hari, mungkin Karena usia Hari yang lebih muda dariku dan sikap Hari yang agak selengean.


"Ya udah kalian yang rukun, Nina kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi Mas" Ucap Kakakku saat berpamitan pulang ke Jambi.


Setahun kemudian Exel lahir Ibuku senang sekali akhirnya bisa menimang cucu dariku. Tapi itu tak berlangsung lama, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya tiga kemudian.


Aku yang biasa ada Ibu, kini merasa keteteran dalam mengurus Exel, untung Hari termasuk suami yang sigap membantu tugas rumah tangga, hingga aku merasa tak salah telah memilih Hari sebagai pendamping hidup.


Kesuksesan mengiringi hidup kami, rumah kecil peninggalan orang tuaku kini kusulap jadi rumah besar berlantai dua.


Sengaja kubuat rumah yang lebih besar, agar kalau kakakku pulang ke Jawa bisa menginap di rumahku.


Hubungan Hari dan kakakku mencair, mereka sudah bisa menerima Hari sebagai adik ipar. Lengkap sudah kebahagiaanku harta melimpah, suami setia keluarga yang rukun.


Tapi badai perselingkuhan yang menerpa rumah kami memporak poranda kebahagiaan ini, bukan hanya aku yang terluka tapi ada ank dan keluargaku.


Sampai saat ini aku belum berani menceritakan kejadian ini pada kedua kakakku aku takut mereka emosi dan berbuat nekat.


Mereka punya keluarga, biarlah masalah ini aku hadapi sendiri, aku akan menceritakan masalah ini pada waktunya nanti.


Hari, sekarang aku baru menyesal pernah membantah Ibuku demi menikah denganmu.


Bersambung....


Like, komen, vote dan krisannya ditunggu say...Mamak Thor butuh suntikan semangat ini.


Terima kasih yang sudah baca tulisan recehku ini.

__ADS_1


Wassalam....


__ADS_2