
"Tiara !" Seseorang memanggil namaku, aku kenal suara itu.
Mas Hari ? sialan laki-laki itu mencegatku saat aku dan Om Pras di parkiran berjalan kearah mobil kami.
"Tiara, kita harus bicara" Aku bersembunyi dibalik punggung Om Pras, aku takut Hari memaksa untuk mengajakku pulang, aku tidak mau hidup susah sama Mas Hari lagi.
"Maaf anda siapa ?" Om Pras angkat bicara, dengan tatapan yang mengintimidasi Hari.
"Perkenalkan nama saya Hari suami Tiara, saya mau mengajak Tiara pulang sudah lebih dari sebulan dia pergi dari rumah" Hari menjabat tangan Om Pras.
Om Pras menatapku seolah mencari jawaban dariku.
"Om, ini laki-laki yang aku ceritakan itu" Aku pura-pura ketakutan agar Om Pras melindungiku.
"Saya Prasetyo" Om Pras membalas jabatan tangan Mas Hari.
"Tiara dalam perlindungan saya, jadi apapun yang terjadi pada Tiara adalah tanggung jawab saya" lanjut Om Pras setelah melepas jabatan tangannya.
"Saya suaminya saya yang lebih bertanggung jawab pada Tiara" Ucap Mas Hari dengan nada jumawa.
"Khayalan anda terlalu tinggi hanya karena cinta anda ditolak Tiara" Om Pras bicara dengan tenang.
"Saya tidak sedang berkhayal, Tiara memang istri saya kami menikah enam bulan yang lalu" Mas Hari terlihat menahan Emosi.
"Anda punya buktinya ?"
"Kami hanya menikah secara sirri"
"Boleh saja anda mengaku seperti itu, tapi Tiara sudah menolak anda, mengapa masih terus mengejarnya ?"
Mendengar perkataan Om Pras, wajah Mas Hari memerah, tangannya mengepal menahan amarah seolah siap menghajar Om Pras.
Hah, menghajar Om Pras ? dia mana punya nyali, aku tahu Mas Hari itu pengecut, lagi pula badan Om Pram lebih tinggi dan besar bisa keyok dia hajar sama Om Pram.
"Kami sudah selesai Pak, ayo kita berangkat" dua orang perempuan membawa beberapa kantong belanjaan menghampiri Mas Hari yang sedang menghalangi langkah kami.
"Iya Bu, Mari...?" Melangkah menuju mobilnya. kesempatan ini kami gunakan untuk masuk kemobil.
Ups...lega rasanya, lepas dari Mas Hari untuk tadi penumpangnya segera datang, kalau tidak bisa panjang urusannya.
__ADS_1
kami segera berlalu pergi menuju mobil Om Pram, tak perlu lama-lama meladeni emosi Mas Hari.
Kami keluar dari area parkiran Mall, Om Pras mengelus pucuk kepalaku lembut.
"Kamu takut ya ?"
"Iya Om...dia terus mengejarku"
"Hari ganteng juga ya ? lebih muda dari Om lho...masak kamu gak tertarik sama sekali ?" kata Om Pram menggodaku.
"Apaan sih Om..." Aku pura-pura cemberut, Om Pram tidak tahu saja, kalau dulu aku juga pernah jatuh cinta sama Mas Hari, iya dulu waktu aku belum tahu kalau ternyata Mas Hari itu miskin.
"Lalu gimana rencanamu ? masih mau kuliah ?" Aku mengangguk kecil.
"Kalau laki-laki itu mengejarmu terus gimana ?"
"Kan kuliahnya bisa di luar kota Om, Semarang atau Jogja misalnya, biar gak ketemu Hari"
"Kalau di Semarang atau Jogja jauh sayang... kasihan Om dong, nahan kangen" suara Om Pras sengaja dibuat manja.
"Kan tiap week end bisa pulang kesini Om, lagi pula Om kesini kan tiap week end aja"
Om Pras tidak tahu kalau aku lebih suka sama Om-Om kaya dari pada sama berondong, sudah miskin tukang ngatur cemburuan pula. Mending sama Om-Om selalu dimanja.
"Nggak usah khawatir Om, cinta Tiara sudah di lock down untuk Om Pras seorang"
"Kesayangan Om pinter gombal juga ya sekarang ?" Tawa Om Pras lepas mendengar rayuanku.
Kami sampai di komplek perumahan tempatku tinggal, satpam yang berjaga tersenyum ramah sambil membuka pintu gerbang cluster untuk kami.
Di perumahan ini orangnya pada sibuk bekerja, jadi tidak mengurusi urusan orang lain. Di sini aku diakui Om Pram sebagai putrinya jadi mereka tidak mempersoalkan keberadaanku di rumah ini.
Pokoknya disini aman bebas gangguan, apalagi labrak-labrakan.
"Sekarang Om minta jatah ya...udah seminggu nahan kangen Om sudah nggak tahan ini" Om Pras mengerlingkan matanya dengan genit kearahku.
"Kan semalam sudah Om...masak minta lagi ? nggak capek apa ?" Ucapku tak kalah genit.
"Kurang, pokoknya kalau sama kamu Om Pengen terus...mau berapa kali Om masih kuat, habisnya kamu seksi sih bikin Om klepek-klepek" tawa kami berderai bersama.
__ADS_1
Beginilah laki-laki yang mengalami puber kedua tenaganya lebih kuat dibanding yang muda. Aku hapal betul kelakuan Om-Om kelakuannya melebihi ABG labil kalau sudah dimabuk cinta, tak perduli anak istri yang setia menunggu di rumah.
Om Pras membimbingku kekamar peraduan kami, tunai sudah hasrat Om Pras yang tertahan. Bercinta adalah agenda wajib pertemuan kami tiap week end, buat apa Om Pras mengeluarkan uang banyak kalau bukan untuk urusan ranjang.
Om Pras bercerita padaku, istrinya tak lagi bisa memberinya kepuasan, sedang saat dia bersamaku merasa kembali hidup, semangatnya kembali menyala dia merasa seperti muda lagi.
Om Pras memintaku untuk menjaga rahasia hubungan kami dari siapapun, terutama Diani dan Mamanya. Om Pras tidak ingin menghancurkan hati mereka.
Aku setuju saja asal Om Pras selalu membahagiakanku seperti sekarang, tak masalah harus jadi simpanan.
Om Pras terlalu baik, rekening tabunganku jadi gendut sejak menjalin hubungan terlarang dengannya, belum lagi hadiah-hadiah mahal yang dia berikan, membuatku susah move on dan sayang melepas tambang emasku ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sayang Om pergi dulu ya, jaga diri baik-baik kalau ada apa-apa kamu minta tolong satpam aja, jangan keluar sendiri nanti ketemu Hari lagi" Om Pras berpamitan kepadaku.
Minggu sore begini biasanya Om Pras kembali kekota sebelah dimana dia harus bekerja di kantor, juga tempat anak dan istrinya tinggal.
Semua harus berjalan normal seperti biasa agar anak dan istri Om Pram tidak curiga.
Om Pram mencium bibirku dengan lembut dan memeluk tubuhku erat seolah enggan berpisah dariku.
"Nanti kalau sudah dibuka, Om janji akan mendaftarkan kamu kuliah, Om mau kesayangan Om juga berpindidikan tinggi" Ucap Om Pras sambil terus menggenggam tanganku.
"Iya Om, Tiara tunggu janjinya terima kasih ya Om sudah baik sama Tiara" kucium punggung tangan Om Pras yang hendak keluar pintu.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau Diani mengetahui kalau aku menjalin cinta dengan ayahnya, Aku dan Diani bersahabat sejak SMA dia pasti merasa terpukul saat nanti tahu perselingkuhan ini.
Ah sudahlah tak perlu kurisaukan, selama hubungan ini tersimpan rapi semaunya akan baik-baik saja.
Maafkan aku Diani, sahabat yang tega menikammu dari belakang.
Bersambung.....
Terima kasih sudah mampir dicerita recehku, mohon tinggalkan jejak setelah membaca tulisanku.
Like, komen, vote dan krisannya sangat ditunggu.
Terima kasih semuanya.
__ADS_1