BUKAN LELAKI SETIA

BUKAN LELAKI SETIA
mEpisode 11 : Reuni


__ADS_3

Aku mampir ketoko sebelum menemui teman-temanku, aku harus membuka toko dan menitipkannya pada karyawanku sebelum pergi.


Hari sempat menawariku tumpangan, tapi aku menolak malu kalau dilihat orang, takut jadi fitnah. Bagaimanapun juga aku dan Hari sudah bukan suami istri.


Aku memilih mengendarai motor maticku, kupacu pelan aku jarang mengendarai motor sendiri jadi ada rasa was-was, apalagi kalau harus melintasi jalan raya takut terjadi sesuatu. Dulu aku selalu diantar Hari kalau mau kemana-mana eh, kok aku malah mikir Hari lagi ?


Sampai toko aku sudah ditunggu karyawanku yang sudah siap kerja, kuserahkan kunci pada Minto agar dibukanya pintu toko. Pintu terbuka sempurna semua karyawan masuk kedalam toko siap pada posisinya masing-masing.


Sebuah mobil Avanza putih parkir di depan toko, aku mengernyitkan dahi, sepertinya aku mengenali mobil ini.


Sang pengendara keluar dari mobil, huh ! kenapa mahluk menyebalkan ini sudah seperti jaelangkung saja, datang tak diundang pulang harus tendang kalau tidak ya tidak mau pulang.


"Hai Nin, aku boleh di sini ya ?"


"Ngapain kamu ?"


"Nunggu orderan, biar aku tunggu di sini ya ? kamu gak keberatan kan ?"


"Terserah !" Jawabku dengan nada ketus.


"Jangan galak-galak, nanti seret jodoh lho..." Hari terkekeh menertawakanku.


"Gak lucu !"


"Minto, kamu drop aku di Grand Mall ya"


"Siap bos" Aku lempar kunci motor kearah Minto.


"Aku antar aja Nin, gratis kok !" Hari menawarkan diri untuk mengantarku.


"Ogah !" Dengan wajah jutek aku tinggalkan Hari dan membonceng Minto.


Dasar laki-laki tidak tahu malu, sudah dijudesin masih juga SDSR sok dekat sok ramah.


Minto berhenti di parkiran Mall, aku turun dari boncengan dan berjalan masuk Mall yang baru saja buka.


Ku edarkan pandangan kearah Mall masih sepi belum banyak pengunjung, kalau saja bukan karena menghindari Si Hari yang nyebelin itu aku tidak perlu kepagian seperti ini.

__ADS_1


Aku masuk kedalam cafe tempat janjianku dengan teman-temanku, kupilih tempat di pojok agar tidak terlihat dari luar cafe, kupesan kentang goreng dan orange juice untuk menemaniku menunggu.


Masih tiga puluh menit, aku menikmati pesananku sambil memperhatikan lalu lalang pengunjung Mall.


Ada yang menarik perhatianku, seorang gadis muda yang bergelayut manja dengan seorang laki-laki setengah baya, yang mungkin ayahnya.


Gadis itu terlihat modis meski berjilbab, pakaiannya dari atas kebawah terlihat stylis dan serasi, sementara sang ayah terlihat begiti dandi, pasti mereka orang kaya.


Gadis itu terlihat memilih sepatu, dang ayah rela berjongkok untuk memasangkan sepatu, Hubungan Ayah dan anak yang romantis. Sayang aku tidak bisa melihat wajah mereka.


Mata minusku membuatku tidak bisa melihat dari jarak yang sedikit jauh tanpa kaca mata, maklum pengaruh faktor U, aku memang malas berkaca mata membuat batang hidung dan daun telingaku pegal.


"Hai Mak ! awal banget datangnya !" Suara Wina teman SMAku membuatku terlonjak kaget.


"Hai Win, untung jantungku gak copot, mana Iren dan Salma ?"


"Mereka masih di parkiran, tadi WA aku sebentar lagi juga kesini"


Kami memang reuni hanya berempat, kami dulu teman akrab di SMA, Wina dulunya gadis tomboy berasal dari keluarga sederhana sama seperti aku, tapi dia lebih beruntung menikah dengan pengusaha sukses dan suaminya sayang sekali sama Wina.


Iren gadis pendiam dia paling cerdas diantara kami, dulu tiap ada tugas matematika Iren yang mengerjakan kami tinggal nyontek.


Roda kehidupan selalu berputar, dulu aku, Iren dan Wina berasal dari keluarga sederhana tapi sekarang kami bertiga boleh dibilang mapan secara finansial. Beda dengan Salma yang kini harus hidup sederhana padahal dulu anak orang kaya.


Untuk datang kesini saja kami harus memaksa, Iren yang bertugas menjemput Salma karena rumahnya yang paling dekat, dia tak perlu mengeluarkan biaya, karena semua biaya makan-makan nanti Wina yang nraktir, dia yang paling kaya kaya diantara kami.


Kami berempat ngobrol sambil menikmati hidangan yang sudah kami pesan, cerita sana-sini sambil tertawa cekikikan, aku jadi merasa muda lagi lupa umur yang hampir kepala lima.


"Pertemuan yang akan datang di rumah Bu Jand ya ?" teman-temanku sekarang memanggilku dengan sebutan Bu Jand alias Bu Janda, mereka kurang ajar memang, kelakuannya masih saja seperti ABG, ceplas ceplos kalau ngomong.


"Nggak pa-pa sih, kalian boleh bawa kekuarga biar makin rame" ucapku menimpali.


Meski hanya berempat tapi reuni kecil-kecilan ala kami terbilang rame, banyak pengunjung Mall yang menoleh, melihat kehebohan kami termasuk sepasang ayah dan anak yang sempat mencuri perhatianku tadi.


Tatapan kami berserobok, aku kaget demi melihat gadis cantik yang bergelayut manja dilengan lelaki paruh baya itu, Itu kan Tiara ? siapa laki-laki yang bersamanya ? yang jelas itu bukan ayahnya karena aku kenal betul wajah ayahnya, kami pernah bertemu saat dia melabrak Hari dulu.


Tiara buru-buru masuk kedalam gerai tas brand terkenal, yang letaknya bersebrangan dengan cafe tempatku ngumpul dengan temanku.

__ADS_1


Aku melihat sekilas tubuh mereka, menghilang kedalam gerai ah, bukan urusanku apapun yang dilakukan aku tidak perduli.


Aku masih asik ngerumpi dengan temanku hingga akhirnya kini kita berpisah.


"Aku pulang dulu ya Mak, jangan lupa next pertemuannya di rumahku, nanti aku WA waktunya kapan" kami saling cipika-cipiki sebelum akhirnya berpisah.


Aku memutuskan untuk melihat baju-baju keluaran terbaru, badanku sedikit gemuk sejak bercerai banyak bajuku yang tidak muat lagi untuk kupakai. Aku butuh yang baru.


Tak sengaja tasku jatuh kelantai, aku menundukan tubuh untuk mengambilnya, tapi apa yang kulihat Tiara dan lelaki itu sedang sibuk memilih baju di gerai ini juga.


Aku bersembunyi diantara baju yang digantung agar tidak terlihat oleh mereka, malas aku kalau harus bertegur sapa dengan Tiara.


"Sayang yang ini cantik ya ? cocok buat aku kan ?" Tiara menempelkan baju ditangannya ketubuh. Laki-laki itu mengangguk.


Gila paper bag ditangan sudah sebanyak itu tapi Tiara masih mau belanja, pantas saja uang Hari tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan Tiara, ternyata seperti ini to gayanya.


Seorang karyawan gerai menghampiriku yang masih bersembunyi.


"Ada yang bisa saya bantu kakak ?" aku keluar dari persembunyianku.


"Aku mau yang ini size L ya Mbak" aku mengambil satu baju dari hanger dan menyerahkannya kepada karyawan yang menegurku tadi.


"Silahkan dicoba Kakak, di sana kamar pasnya"


Karyawan itu menunjuk ruang ganti yang letaknya bersebelahan dengan kasir.


Kulihat Tiara bersama lelaki itu sedang membayar belanjaannya, kalau aku kekamar pas berarti harus melewati mereka berdua. Padahal aku sedang tidak ingin bertegur sapa dengan Tiara.


Tapi aku terlanjur malu sama karyawan yng menegurku, antara maju terus melangkah atau berhenti menunggu mereka, aku bingung.


"Silahkan kakak, kamar pasnya sedang kosong" lagi-lagi karyawan tadi mengagetkanku.


"Iya" Aku melangkah menuju kamar pas dengan berat hati.


Bersambung....


Ikuti terus cerita recehku ini, akan posting tiap hari hingga tamat. Mohon tinggalkan jejak setelah membaca ya untuk menambah semangat author nulis.

__ADS_1


Like, komen, vote dan krisannya selalu ditunggu.


Wassalam....


__ADS_2