
Sidang pertama perceraianku sudah berjalan, agendanya pembacaan tuntutan dari penggugat, sidang kedua dilaksanakan minggu depannya agendanya mediasi.
Hari yang enggan menceraikanku tetap kekeh mempertahankan rumah tangga kami yang sudah porak poranda, aku yang dari awal ingin mengakhiri pernikahan ini pun kekeh tetap mau cerai.
Proses yang alot dan jlimet membuat membuat hakim tak kunjung mengetok palu. Aku yang mumet akhirnya menghubungi kedua kakakku yang di Jambi.
Kuceritakan semua yang terjadi, dari A sampai Z jelas kakakku langsung Emosi.
Dengan membawa kemarahannya yang besar Kakakku pulang keb Jawa, kerumahku.
"Nin kamu kenapa baru cerita kelakuan Si Hari brengsek itu ? kamu itu adik perempuanku satu-satunya, kalau ada apa-apa itu cerita biar kakak bisa bantu, bukan malah diam menutupi kesalahan suami bodohmu itu" dengan nada suara tinggi, Mas Danu melaupkan emosinya padaku.
"Ya nggak gitu Mas, kupikir bisa kuselesaikan sendiri nggak mbulet seperti ini, lagi pula aku juga nggak mau merepotkan Mas Danu dan Mas Dani" Ucapku dengan nyali mengkeret.
"Sekarang dimana Hari ? aku akan buat dia menyesal seumur hidup" Mata Mas Danu merah menahan amarah.
"Jangan gegabah Mas, sekarang apa-apa lapor polisi takutnya nanti malah Mas Danu yang kena masalah"
"Iya, aku juga mikir begitu tapi aku sudah gregetan sama sialan itu" ini yang datang baru Mas Danu, gimana kalau Mas Dani ikut ? bisa terbakar rumahku oleh api amarah mereka.
"Gini aja Mas, biar aku telfon Hari biar datang kesini untuk bicara baik-baik, aku gak akan ngomong kalau Mas Danu ada disini, biar Hari mau datang Mas"
"Terserah, kamu saja yang ngatur yang penting aku bisa ketemu Hari"
"Tapi janji ya Mas, jangan bar-bar" ucapku hati-hati.
"Nggak paling babak belur" ujar Mas Danu santai.
"Jangan Mas, kasihan Hari kemarin sudah babak belur dihajar ayah dan kakaknya Tiara, masak mau Mas tambahin ?"
"Kamu masih cinta sama Hari ? kok melundungi banget ?"
"Nggak lah ! laki-laki sampah ya dibuang ditempat sampah, Nina hanya tidak mau Mas Danu berurusan dengan polisi"
"Ya sudah ! kamu tefon dia sekarang suruh datang kerumah"
"Ok"
Aku tekan kontak yang bertuliskan 'Mantan' digawaiku, tak lama nada sambung terdengar.
Tut...tut....
Pff...lama sekali nggak diangkat. Kutekan sekali lagi.
Tut...tut....
"Halo"
Terdengar suara perempuan disebrang sana, memang Hari lagi ngapain kok Tiara yang ngangkat telfon.
"Assalamualaikum..." ucapku sopan bagaimapun juga usiaku lebih tua dari Tiara, aku harus bersikap santun agar Tiara lebih hormat padaku.
"Ada apa Mbak kok nelfon, kangen Mas Hari." Wuek...dasar perempuan miring seenaknya saja kalau ngomong.
__ADS_1
"Aku mau ngomong sama Hari penting"
"Ngomong sama Aku aja mbak, biar nanti aku sampaikan"
"Nggak bisa, harus ngomong sama Hari memangnya Hari kemana ?"
"Lagi tidur Mbak, kecapekan tadi habis ML sama aku, hi...hi..." menjijikan ! perutku langsung mual mendengar ocehan Tiara, dia pikir aku cemburu ?
"Bangunkan dia ! ini penting !" ucapku ketus.
"Bangunkan saja sendiri ! bodo amat, situ yang butuh" Kurang ajar nih anak ! beraninya nyolot sama orang tua.
"Kamu bangunkan, atau ceritakan tentang Om Pram sama suami kamu ?" aku sengaja mengancannya.
"Iya...iya...aku bangunan dasar Mak Lampir !"
"Heh ! apa kamu bilang ?"
"Nggak...nggak" tak lama terdengar suara
"Apa sih dek..."
"Mbak Nina telfon"
"Nina ?"
"Ya Mi, ada apa ? tumben nelfon ? kamu kangen sama aku ya ?"
"Kamu nanti sore datang kerumah ya ? ada hal penting yang harus kita bicarakan"
"Kamu mau ngajak rujuk aku ya Mi ?" memang benar-benar sudah gila Si Hari.
"Pokoknya kamu harus datang ! aku tunggu"
"Ok...ok...aku akan kesana nanti sore my darling"
Buru-buru aku matikan telfonku, muak aku mendengar suara pasangan gila itu, sok yes banget !
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sore hari,
Disini sekarang kami berada, Aku, Exel dan Mas Danu duduk di sofa panjang ruang tamu rumahku. Sedangkan Hari dan Tiara duduk di kursi single yang berjajar di depanku.
Wajah Hari sedikit memucat, saat melihat kehadiran Mas Danu sosok yang paling dia segani dan takuti.
'Sekarang kalau kamu mau ngomong seenaknya silahkan Hari, kalau mau bibirmu pindah posisi" bisikku dalam hati.
"Hari Aku benar-benar tidak menyangka kelakuanmu sebejat itu " Mas Danu menatap tajam kearah Hari seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
"Nina sudah cerita semua, bahkan aku sudah melihat video mesummu. Otakmu dimana ? tega melakukan itu, dirumah adikku lagi"
"Saya khilaf Mas" ucap Hari lesu.
__ADS_1
"Khilaf itu kalau cuma sekali, ini kamu melakukannya berkali-kali, sampai tiga bulan kalian menyembunyikan hubungan kalian !" Hari hanya menunduk memainkan jemarinya seperti anak kecil yang dimarahin Ayahnya karena ketahuan mencuri.
"Apa kurangya adikku ? sampai kamu mencari perempuan lain ?" Hari tak bersuara hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Dulu kamu miskin nggak punya apa-apa, adikku mau menikah dengan meskipun dia sudah sukses, dia terima kamu apa adanya malah kamu dengan tanpa perasaan berselingkuh di belakangnya, apa maumu ?"
Mas Danu menggebrak meja, tanda emosinya sudah di ubun-ubun. kami yang hadirpun terlonjak kaget.
"Kamu sudah selingkuh, sekarang kamu menikahi selingkuhanmu, lalu dengan seenaknya kamu mempersulit proses perceraian kamu sudah bosan hidup ?"
"Saya mencintai Nina Mas"
"Cinta katamu ? aku tahu dari dulu kamu cinta Nina karena hartanya, selama ini kamu hanya numpang hidup makanya kamu tidak mau menceraikan Nina, kamu takut miskin kan ?"
"Nggak Mas saya beneran cinta sama Nina"
"Kalau begitu ceraikan istri mudamu !"
"Mas" Tiara menggelengakan kepelanya pelan, ada genangan bening disudut matanya, dia berpegangan pada lengan Hari. Tak ada lagi suara mendayu-dayu Tiara yang biasa membela Hari.
Hari menoleh kearah Tiara dengan ekspresi yang tak kumengerti.
"Saya tidak bisa Mas, saya juga mencintai Tiara" ucap Hari pelan.
Mas Danu menghela nafas dengan kasar, Aku dan Exel yang duduk berdampingan hanya saling pandang.
Sementara Tiara yang sejak datang hanya terlihat diam, tak ada lagi gaya sok cantiknya didepanku.
Dia dan Hari yang duduk berdampingan hanya menunduk, seperti terpidana menunggu eksekusi mati.
"Jatuhkan talakmu pada Nina sekarang juga ! besok didepan majelis hakim kamu katakan kalau rumah tangga kalian tidak bisa dipertahankan lagi, jangan coba-coba mempersulit apalagi kalau sampai kamu berani menggugat harta gono gini seperti kemarin, aku pastikan kamu tidak bisa bersama perempuan itu lagi ! " Mas Danu mengancam Hari.
"Perlu kalian semua ketahui dulu toko yang Nina tempati sekarang dibeli dari hasil patungan, Ibu, aku, Dani dan Nina tak ada sedikitpun hasil keringat Hari disini. Kami melakukannya karena kami menyayangi Nina sebagai anak perempuan satu-satunya dikeluarga kami. Kami rela kamu ikut menikmati keringat kami, karena statusmu sebagai suami Nina" pandangan Mas Danu tak beralih dari Hari.
"Jadi Hari, ceraikan Nina, biarkan Nina hidup bahagia dengan jalannya sendiri"
Hari bediri dia menatapku dengan wajah sendu, wajah sama yang pernah membuatku gila.
"Syaqina Marwa binti Sulkhan dengan disaksikan yang hadir diruangan ini aku menalakmu"
Hari kembali duduk butiran bening mengalir disudut matanya, Tiara segera menghapusnya mungkin dia malu, suami tercinta masih menangisi mantan istrinya.
Entah Aku merasa lega, bahagia atau sedih. Yang jelas terasa ada yang hilang di dalam dadaku.
Disini aku tahu, keluargalah tempat terbaik untuk pulang. Aku yang limbung terombang ambing keadaan kini merasa ada tempat bersandar, kakakku keluargaku.
Bersambung....
Terima kasih yang sudah mampir dicerita recehku.
Like, komen, vote dan krisannya masih ditunggu.
Akhir kata Wassalam....
__ADS_1