
Hidupku kembali tenang sejak Hari tak pernah datang lagi kerumah, Akupun tak mendengar lagi cerita tentang Tiara yang kabur. Entah sudah kembali apa belum itu bukan urusanku.
Exel pun tak pernah cerita tentang mantan suamiku itu dan cerita tentang rumah tangganya. Meski Exel masih berkomunikasi dengan ayahnya.
Bulan depan adalah liburan tahun ajaran, aku berencana mengajak Exel mengunjungi kakakku yang di Jambi, sambil refresing menenangkan pikiran.
Soal toko biar Minto yang sementara waktu mengurusnya, dia keponakan ibuku kerja ikut aku sudah lama, orangnya jujur bisa dipercaya, jadi aku bisa tenang meninggalkan toko untuk sementara waktu.
Exel tentu saja senang mendengar rencanaku, sudah lama dia tidak berjumpa dengan sepupunya.
Kami berangkat pagi karena ikut penerbangan pertama, aku sudah tidak tahan memendam rindu yang membuncah pada kedua kakakku, keponakan-keponakanku dan juga ipar-iparku.
Aku rindu suasana kumpul keluarga, kehangatan bercengkrama dengan mereka hal yang tak pernah kudapatkan disini.
Kulihat Mas Dani melambaikan tangannya kearahku, disampingnya berdiri Mbak Maya istrinya menggendong si kecil Sasa.
"Mbak Maya....aku kangen banget" kupeluk tubuh langsing itu dan cipika cipiki.
"Mbak Maya apa kabar ? ih...Sasa udah gede aja, makin cantik deh" ku cubit pipi gembil Sasa dan menciumnya. Gadis yang hanya bisa kulihat dari foto dan video call aja.
"Baik Nin, kamu sih sombong banget nggak mau main kesini" Aku mengambil Sasa dari gendongan Mbak Maya.
"Hmm...hmm...aku nggak di peluk cium juga nih" Mas Dani menggodaku dengan senyum kocak.
"Ogah ! minta cium Exwl sana" ucapku pura-pura bergidik jijik.
"Masak terong makan terong ?" Exel menimpali.
Kami semua tertawa sambil berjalan beriringan Mas Dani membawa koperku menuju kemobilnya.
Dalam perjalanan kami bertukar cerita dan bercanda, rasanya sudah lama...sekali tidak merasakan suasana seperti ini, jadi kangen Ibu seandainya beliau masih ada, pasti kakakku lebih sering pulang ke Jawa.
"Nin, aku minta maaf ya, waktu itu kami tidak bisa datang hanya diwakili Mas Danu, Sasa masuk rumah sakit"
"Nggak pa-pa Mbak, Mas Danu menyelesaikan tugasnya dengan baik kok Mbak, lagian sudah terlanjur terjadi gak usah dibahas lagi" Ucapku dengan senyum kecut.
"Aku bener-bener nggak ngerti jalan pikirannya Si Hari, **** banget, kok bisa selingkuh dari kamu, padahal kamu gak ada kurangnya sebagai istri" Ucapan Mbak Maya membuat luka yang mengering terbuka lagi.
"Kekuranganku banyak mbak, ah ! sudahlah Mbak, aku nggak mau mendengar nama Hari lagi aku ingin bahagia itu saja" Mbak Maya menggenggam jariku.
"Maafin Mbak ya" Aku mengangguk.
"Kamu nginep di rumahku aja ya, di rumah Mas Danu ada mertuanya nanti kamu gak enak, besok aja kita kerumah Mas Danu nanti aku telfon Mbak Tanti, biar masak yang enak untuk menyambut tamu agung dari Jawa ha...ha..." Tawa kamipun berderai.
__ADS_1
"Kamu tidur di kamar tamu Nin, Exel biar tidur sama Bian aja" Mbak Maya menunjukkan kamar yang akan kutempati, setelah kami memasuki rumahnya.
"Terima kasih Mbak, aku masuk dulu ya beres-beres dulu"
"Setelah selesai langsung keruang makan ya, makan siang sudah siap, aku memasaknya sebelum menjemput kamu" Ucap Mbak Maya sebelum meninggalkan kamar.
"Siap nyonya..." sahutku.
Di meja makan tersaji ikan goreng gurami terbang lengkap dengan saos asem manisnya yang menggugah selera, membuat cacing di perutku demo minta di isi.
"Nanti sore kita jalan-jalan ke Tanggo Rajo, sekalian nyari makan malam disana, kamu pasti jatuh cinta melihat pemandangan sungai batanghari dikala senja, cantik banget"
Mbak Maya cerita panjang lebar tentang wisata andalan kota Jambi.
"Iya Mbak, aku memang nggak pernah ke Tanggo Rajo padahal sudah beberapa kali main kesini"
"Lha kamu kalau kesini senengnya muteri kebun kelapa sawit, udah kayak mandor aja" Saut mbak Maya.
"Mas Dani tuh yang salah, nggak pernah mau ajak adeknya jalan-jalan" Ucapku tak mau kalah.
"Kamu kesininya pas hari kerja, kalau pas libur pasti aku ajak jalan-jalan keliling Jambi"
Ucap Mas Dani tak mau disalahkan.
"Aku sih Iyes Mbak" kataku menirukan Anang saat jadi juri Indosian Idol.
"Aku juga yes" jawab mbak Maya.
"Aku juga yes Pak De" Exel ikut menimpali.
"Kalau gini aturannya jelas aku kalah voting, kalian semua zolim tega membuat aku menderita" ujar Mas Dani sok menghiba.
Tawa kamipun pecah bersama.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi itu aku bersiap-siap kerumah Mas Danu, kami diminta datang pagi karena ada hal penting yang harus dibicarakan.
Aku sudah siap dengan oleh-oleh yang kubawa dari Jawa untuk Mas Danu dan keluarganya.
" Wah....Tamu agung dari Jawa sudah datang..." Mbak Tanti menyambutku dengan pelukan hangat dan ciuman di kedua pipiku.
Sementara Mas Danu yang berbadan tinggi besar berdiri di belakang Mbak Tanti, kuhampiri dan kucium punggung tangannya.
__ADS_1
"Apa kabar kamu Nin" Ucap Mas Danu pendek, Mas Danu memang sikapnya agak kaku.
"Alhamdulillah Mas..."
"Hari tidak mengganggumu lagi kan ?"
"Mas Danu apaan sih, Nina baru sampai kok sudah ditanya macem-macem, ayo Nin masuk, Dek Maya, Dek Dani ayo"
Kami berempat masuk kerumah Mas Danu, sekarang kami sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Mbak ini lho ada oleh-oleh dari Jawa" Aku mengulurkan dua kardus besar pada Mbak Tanti.
"Banyak banget Nin, makasih ya...." Mbak Tanti membawa kardus itu kedapur.
"Kamu mau tinggal disini berapa hari Nin ?" Mas Danu berkata sambil menatapku.
"Rencananya lima hari Mas, pengen keliling Kota Jambi"
"Baguslah kalau begitu, besok ada temanku dari Jawa mau main kesini, dia teman SMAku aku pengen kamu kenalan sama dia" Giliran aku yang menatap Mas Danu dengan mengernyitkan dahi.
"Dia duda, istrinya meninggal dua tahun lalu, dia ingin dicarikan istri, Mas pikir kalian cocok, memang wajahnya tak setampan Hari, tapi dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, satu lagi dia itu setia, sebelum istrinya meninggal karena kanker payudara dia setia merawat istrinya" Terang Mas Danu.
"Dari Jawa ? Siapa dia Mas ?"
"Kamu ingat Rahman nggak ?" Aku menggelengkan kepala karena memang tak ingat tentang sosok Rahman.
"Kamu masih kecil saat Rahman sering main kerumah kita dulu, nanti kalau kamu ketemu orangnya baru kau ingat, dia bahkan langsung setuju saat kubilang mau kenalkan dengan kamu"
"Tapi Mas, aku gak enak kayak gak laku aja pake dikenal-kenalin" ucapku hati-hati takut menyinggung perasaan Mas Danu, bagaimanapun juga dia punya jasa besar dalam hidupku, aku tak ingin mengecewakannya.
"Iya Nin, coba kenalan aja dulu, soal cocok gak cocok urusan belakangan" Kali ini Mas Dani angkat bicara, aku jadi makin tak bernyali kalau kedua kakakku ini berkolaborasi. Ah sudah macam musisi aja.
"Aku coba dulu aja ya Mas, kalau misalnya aku gak srek, Mas Danu sama Mas Dani jangan marah ya" akhirnya aku menyerah.
Aku jadi deg-degan menunggu besok, sudah seperti gadis gadis remaja yang sedang jatuh cinta.
Bersambung.....
Maaf slow up date si bungsu lagi sakit, terima kasih sudah membaca cerita recehku, mohon tinggalkan jejak setelah membaca.
Like, komen, vote dan krisannya sangat ditunggu.
Terima kasih semuanya.
__ADS_1