
Melihat kelakuan Hari yang semakin menyebalkan membuatku terpaksa mengambil keputusan lebih cepat. Aku tidak mau Hari dengan seenaknya keluar masuk kerumahku meski dia ayah kandung Exel.
Aku menelfon Mas Rahman untuk datang kerumahku malam ini, kumantapkan hati untuk mengambil keputusan yang terbaik, bagaimanapun juga ini menyangkut masa depanku, meski aku tidak muda lagi.
"Hallo, asalamuaaikum....Mas Rahman ?"
"Waalaikum salam...Iya siapa ini ?" suara bariton diseberang menyapaku ramah, oh ya ini pertama kalinya aku menelfon Mas Rahman jadi wajar dia belum hafal suaraku di telfon.
"Ini Nina Mas" Jawabku singkat.
"Tumben dek Nina pagi-pagi sudah nelfon ada angin apa ini ?" tanya laki-laki diseberang sana.
"Ada hal yang penting yang harus kita bicarakan, Mas Rahman bisa datang kerumah nanti malam ?"
"Waduh, aku kok jadi deg-degan gini ya dek, kamu sudah punya jawaban pertanyaanku kemarin ?"
"Sudah Mas, Mas Rahman nanti malam datang ya ? jam tujuh Nina tunggu"
"Iya dek, Insya Allah ini jawabannya manis apa pahit ya dek ?"
"Rahasia Mas, kalau Mas Rahman penasaran nanti malam datang Nina tunggu."
"Siap komandan laksanakan perintah !"
"Ha..ha..." Suara tawa kamipun pecah ditelefon.
"Nina tunggu ya Mas...assalamualaikum"
"Iya dek, waalaikum salam..."
Kututup telpon dengan perasaan campur aduk, dan akupun bersiap-siap pergi ketoko seperti biasa.
Hari berjalan terasa lama, mungkin karena aku yang tidak sabar menunggu nanti malam.
__ADS_1
Aku jalani aktifitasku seperti biasa, melayani pelanggan, menghadapi sales dan mengecek pembukuan membuatku sedikit menghilangkan rasa dag dig der yang dari pagi menguasai hatiku.
"Bosmu sudah datang ?" terdengar suara cempreng wanita yang kukenal, itu Mbak Yanti mantan kakak iparku.
"Ada bu, lagi dibelakang sebentar saya panggil" jawab salah satu anak buahku.
Aku yang dari tadi berada di meja belakang rak etalase akhirnya keluar.
"Lho ada Mbak Yanti, mau belanja mbak ?"
"Iya, tapi aku mau ngomong sebentar sama kamu, ada tempat yang enak buat ngobrol nggak ?" kepala Mbak Yanti celingukan melihat kedalam tokoku.
"Kita ngobrol di dalam aja Mbak" Aku gandeng tangan Mbak Yanti kedalam tokoku, menuju ruangan yang biasa aku gunakan untuk sholat dan beristirahat.
"Ini, tolong kamu ambilin ya ?" Mbak Yanti menyerahkan catatan belanjaannya pada karyawanku, sebelum masuk mengikutiku.
"Mau bicara apa Mbak ? kayaknya penting banget ?" tanyaku penasaran, karena Mbak Yanti biasanya blak-blakan kalau ngomong nggak perduli meski didengar karyawanku, ini kok tumben ngajak ngumpet.
"Kamu tahu nggak, Hari akan segera menalak Tiara setelah ketemu nanti, Hari itu kasihan sudah tiga bulan lebih istrinya kabur dengan laki-laki lain"
"Kamu ada keinginan untuk rujuk gitu ?" aku menggelengkan kepala.
"Hari itu kasihan sekali hidupnya sekarang Nin, sudah ditinggal istrinya, mana nasibnya sial melulu lagi, hampir setiap hari ada saja masalahnya, yang ban bocorlah, aki tekorlah, mesin ngadatlah padahal itu mobil belinya masih baru" Aku hanya diam menyimak penuturan Mbak Yanti tentang adik iparnya, Hari.
"Mungkin ini karma ya Nin, mobil dibeli dengan menjual harta warisan orang tua yang masih hidup, dulu dia selingkuh sekarang diselingkuhin istrinya, penghasilannya hasil taksi onlinnya pun untuk biaya service mobil dan beli bensin, makan aja kadang minta kerumahku"
Mendengar cerita mbak Yanti membuat aku merasa prihatin dengan nasib Hari, tapi mau bagaimana lagi kami sudah tidak terikat dalam perkawinan meskipun ada Exel diantara kami.
Lagi pula dia sudah dewasa, harus berani menanggung resiko dari perbuatannya, bukankah apa yang kita tanam kelak akan kita petik ?.
"Heh ! diajak ngomong kok malah bengong !" Suara mbak Yanti membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya Mbak, soal itu aku gak mau ikut campur Mbak biar Hari hadapi sendiri, masih sakit luka bekas penghianatannya dulu kalau bisa saya tidak ingin melihatnya lagi, jujur saya masih sakit hati Mbak"
__ADS_1
"Iya Mbak tahu, aku hanya berharap kalian bisa rujuk, tapi kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa, apa karena sudah ada pengganti Hari Nin ?" Mbak Nina menatapku penuh selidik.
"Insya Allah iya Mbak, aku juga berhak bahagia kan ?"
"Jadi bener kasak kusuk yang kudengar itu, kalau ada pria gagah yang sedang mendekatimu ?"
Beginilah resiko hidup di kampung, berita tentang hidup kita jadi mudah tersebar padahal baru sekali Mas Rahman datang kerumah, dan aku juga tidak pernah cerita kepada orang lain tentang perjodohanku dengan dengan Mas Rahman, kecuali Exel saja yang tahu.
"Iya mbak, dan nanti malam aku akan menerima lamarannya, kedua kakakku sudah merestui doakan semoga kami bahagia ya Mbak"
"Iya Nin, semoga ini perbikahan terakhir kamu, aku hanya mendoakan yang terbaik untuk kalian. Oh ya, aku gak diundang nih ?"
"Ini baru lamaran pribadi, nanti pas acara resminya Mbak Yanti pasti diundang"
"Aku tunggu undangannya, kalau gitu kamu total belanjaanku !"
Aku menghitung semua belanjaan Mbak Yanti, setelah menyerahkan uang pembayaran Mbak Yantipun pergi meninggalkan tokoku.
Aku salut pada mantan kakak iparku ini setelah peristiwa memalukan itu dia masih bersikap baik kepadaku tidak berubah sama sekali.
Sedangkan Mas Heru saja sekarang seperti jaga jarak denganku, mungkin karena aku sudah bercerai dengan adiknya, atau dia malu padaku karena kelakuan adiknya.
Entahlah ! aku tidak mau menengok kebelakang lagi, sekarang saatnya menyongsong masa depan.
Mas Rahman...aku padamu !
Eya....
Bersambung....
Terima kasih sudah mampir dicerita recehku, mohon tinggalkan jejak setelah membaca tulisanku.
Kontribusi anda adalah mood booster bagi kami para author. Ayo dukung terus agar author tetap eksis berkarya.
__ADS_1
Yang sudah memberikan like, komen dan krisannya, terima kasih.