
Pov Tiara.
Menjadi sugar baby memang menyenangkan, tak perlu melakoni peran sebagai istri yang harus melayani suami, menyiapkan makanannya, pakainnya, hanya urusan ranjang yang menjadi prioritas.
Tapi harus rela menahan sepi, seperti saat ini Om Pram pulang kerumah anak dan istrinya, sedangkan aku di sini sendirian, mau keluar dilarang Om Pras, repot pokoknya.
Sudah hampir tiga bulan aku menjalani peran sebagai wanita simpanan, secara materi aku tidak kekurangan, tapi sayang aku haus belaian, kalau dulu aku selalu punya pacar selain sugar dady, untuk menyenangkan diri.
Tapi sekarang aku tak mau ambil resiko, kalau Om Pram memergoki, aku bisa kembali kehilangan pohon uangku.
Heri, entah bagaimana kabarnya sekarang, setelah bertemu di Mall itu, dia mengirim semua pakaianku kesini, entah dari mana dia alamat rumah ini.
"Paket...." seorang kurir berdiri di depan pagar rumahku.
"Paket dari mana ya Pak, perasaan saya tidak pesan apa-apa?," tanyaku setelah membuka pintu.
"Dari Heri Sutanto Mbak," dua buah koper diturunkan dari mobil pengantar.
"Ini ada suratnya juga Mbak," kurir itu menyerahkan amplop coklat kepadaku.
"Terima kasih Pak."
"Tanda tangan di sini Mbak," ucap kurir itu.
__ADS_1
"Terima kasih," kemudian kurir itu pun berlalu.
Aku buka amplop dari Hari.
(Tiara binti Fauzy, saya Hari Sutanto dengan sadar dan tanpa paksaan, sejak hari ini saya talak kamu, saya talak kamu, saya talak kamu. Mulai saat ini diantara kita tidak ada hak dan kewajiban lagi)
Singkat padat dan jelas, tanpa salam pembuks dan penutup, mungkin dia menulisnya dengan emosi.
Sebenarnya aku sedikit tersinggung, hanya dengan sepucuk surat dia menjatuhkan talaknya padaku, langsung talak tiga, berarti tidak berniat rujuk lagi denganku.
Ya sudahlah, toh ada Om Pras sebagai pengganti, buat apa lelaki kere seperti Hari, dia pergi aku tak merasa kehilangan sama sekali.
"Ting...tong...." bel rumahku berbunyi.
Entah siapa yang datang, ini hari kamis, sedangkan Om Pras biasa pulang kesini Jumat sore, dan tak seorangpun yang tahu aku tinggal di rumah ini, lalu siapa yang bertamu? Pak Satpam tak akan membiarkan sembarang orang masuk kompleks ini.
"Diani! Tante Mira!" lututku lemas seketika, melihat dua wanita yang berdiri di depanku.
"Kenapa kaget?," Diani yang biasanya ramah kini berubah menjadi beruang kutub, dingin tapi mengerikan.
"Mau apa kalian kesini?," tanyaku gemetar.
"Ini rumah ayahku, tidak ada yang bisa melarang kami datang kesini, memangnya siapa kamu?," Diani menerobos masuk kerumah dengan mendorongku.
__ADS_1
"Oh ya, aku lupa, kamu kan simpanan Ayahku," lanjutnya kemudian.
Aku hanya diam berdiri melihat Diani dan Tante Mira duduk santai di sofa ruang tamu.
"Aku sudah lama curiga, beberapa bulan ini suamiku banyak berubah, tranferan yang tidak jelas, bau parfum wanita lain saat pulang kerumah, aku mencium aroma-aroma perselingkuhan, dan aku sangat terkejut saat orang suruhanku menemukan bukti."
"Bukti apa?,"
"Haha...kamu jangan berlagak bodoh Tiara, atau kamu memang benar-benar bodoh, hingga rela menjadi simpanan pria tua, padahal itu adalah Ayah sahabatmu? Mantan sahabat maksudku," ucapan Diani sukses membungkam mulutku.
"Begini saja Tiara, aku tidak mau ada keributan, kita damai saja, sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini, jangan coba-coba merayunya lagi, atau kamu aku jebloskan kepenjara, dengan tuduhan perzinahan. Ingat, aku punya bukti!."
"Kalian tidak bisa semena-mena padaku, Om Pras harus tahu, biar dia memilih aku atau kalian." ucapku membela diri.
"Ha...ha...kau pikir Prasetyomu itu akan memilihmu? Kamu tahu kenapa dia menyembunyikanmu dari orang lain? Itu karena dia tidak mau nama baik dan karirnya hancur, kamu kira lebih berharga dari karir dan harga dirinya Hah?!"
"Kamu hanya pemuas nafsunya, tidak lebih!." tak terasa air mataku menetes.
"Sekarang kamu kemasi barang-barangmu dari rumah ini, cepat!." Diani membentaku dengan berkacak pinggang.
Dengan langkah gontai aku melangkah kekamar, tempat peraduanku dengan Om Pras selama tiga bulan terakhir ini. Nyesek rasanya kembali dilabrak dan dikalahkan istri sah.
Pupus sudah harapanku untuk melanjutkan kuliah, kembali pada Hari tak mungkin, pulang kerumah Bapak juga tak mungkin, karena hidup di desa hanya membuatku tersiksa.
__ADS_1
Lebih baik aku menyusun strategi, untuk menjerat mangsa baru, yang lebih kaya tentu saja, kan aku masih muda dan cantik.
Bersambung....