
Sinar mentari mulai mengintip di balik gorden. Perlahan sinarnya menerpa wajah cantik seorang wanita yang tengah terlelap dalam posisi duduknya.
Kedua retina matanya menyipit saat pantulan sang surya menyapanya, wanita itu menegakkan punggungnya yang terasa amat sangat pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman.
Menghembuskan nafas pelan saat menatap kertas yang berserakan di mejanya, beralih menatap jam dinding yang terus berdetak menunjukkan hari sudah cukup siang jika dikatakan pagi.
Dia beranjak untuk segera membersihkan diri. Entah jam berapa semalam dirinya tertidur.
Stella kembali melanjutkan pekerjaannya, masih ada beberapa lembar lagi yang harus dia kerjakan. Dia ingin segera menyelesaikannya dan beristirahat. Tubuhnya benar-benar lelah.
Tok tok tok!
Stella mendongak, menatap Sari yang memasuki ruangannya dengan nampan di tangannya.
"Mbak, ada Mas Rega di bawah, dia nungguin Mbak," ucap Sari meletakkan cangkir kopi di meja, serta mengambil sisa kopi semalam.
Stella mengangguk. "Terimakasih, Sar."
*
"Rega?" panggil Stella melihat Rega tengah duduk di sofa, dengan sikunya bertumpu pada kedua kakinya yang terbuka.
Rega mendongak, seulas senyum terbit di wajahnya. "Hai, Ste? Apa kabar?" sapanya.
"Baik, Ga. Ada apa?" tanyanya mengambil duduk berseberangan dengan Rega.
"Aku kemarin kerumahmu, tapi ART bilang kau sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah, jadi aku memutuskan ke sini, mengunjungimu," jawab Rega memperhatikan wajah wanita di hadapannya yang nampak sayu.
Stella menyenderkan kepalanya di sofa. "Aku ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda, Ga."
"Kau belum sarapan?" tebak Rega.
Stella menggeleng. "Belum."
"Ikutlah denganku, kita sarapan bersama," ajak Rega kemudian.
"Tidak, Ga. Terimakasih."
"Ayolah, Ste? Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, aku tidak ingin kalau kau sakit karena melewatkan sarapanmu," ucap rega memaksa.
Stella menatap pria di hadapannya, tak terhitung berapa kali dia menolak ajakan Rega, dia menjadi tidak enak hati.
Mengembuskan nafas panjang. "Baiklah, aku akan bersiap," putusnya kemudian.
Rega mengangguk dan tersenyum.
***
Sandy baru saja mengantarkan Aiden ke sekolah, hari ini dia sengaja mengendarai mobilnya sendiri, tidak dengan sopir pribadinya.
Membelokkan setirnya ke arah kiri, Sandy berniat melewati butik tempat Stella bekerja. Jujur saja, dia sedikit khawatir dengan kondisi wanita itu, terakhir kali melihatnya saat video call dengan Aiden, nampak wajah lelah Stella yang bisa dipastikan bahwa wanita itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Sandy menepikan mobilnya ketika melihat pemandangan di depan butik Stella, terlihat seorang pria berpakaian formal tengah berjalan beriringan dengan Stella, serta membukakan pintu mobil untuk Stella, tak berapa lama mobil itu pergi.
Apa yang diharapkan Sandy? Stella itu cantik, pasti banyak pria yang tertarik dengannya. Meskipun janda, tak membuat kecantikan Stella pudar, Sandy akui itu, bahkan dia sempat mengira bahwa Stella masih gadis.
Melihat Stella bersama pria lain membuat Sandy merasakan gejolak aneh, dia menyesal melewati butik Stella, atau mungkin lebih tepatnya dia kesal melihat Stella bersama pria lain. Entah apa alasan dari kekesalannya, dia pun tidak tahu.
*
Beberapa hari kemudian, setelah kejadian melihat Stella dengan pria lain, Sandy menjadi sedikit pendiam, raut wajahnya datar, tatapannya dingin. Bahkan ketika Aiden meminta melakukan video call dengan Stella, Sandy menolak keras, mengatakan kalau Stella sedang sibuk.
Sementara di sisi lain, sehari sebelum acara dimulai, Stella memutuskan untuk melihat proses fitting baju.
Pada akhirnya Stella berhasil menyelesaikan desainnya tepat waktu, meskipun dia harus mengorbankan tubuhnya untuk bekerja siang malam. Tapi tak apa, dirinya merasa lega dan bahagia karena tidak mengecewakan pelanggannya.
Saat membantu memakaikan baju, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, seluruh penglihatannya terasa berputar-putar. Tak berapa lama tubuhnya luruh di lantai, dia pingsan.
__ADS_1
Stella terbangun dari tidurnya, matanya menilik sekitar. "Dimana aku?" gumamnya menyentuh kepalanya yang berdenyut.
"Kau sudah sadar, Ste?" sapa sebuah suara, membuat Stella menoleh.
"Rega? Aku dimana?" tanyanya penasaran.
"Kau di rumah sakit, Ste. Kau pingsan, Jery yang membawamu ke sini," jawab Rega beranjak menghampiri.
"Lalu? Dimana Jery?" tanyanya memperhatikan keseluruhan ruangan, guna mencari Jery.
"Dia kembali ke butik. Dia memintaku untuk menjagamu." Rega menjeda ucapannya. "Tidurlah, Ste. Kau butuh istirahat," ujar Rega mengelus kepala Stella.
Stella mengangguk dan kembali menutup matanya, karena jujur matanya terasa berat, dan tak berapa lama dia sudah terlelap ke alam mimpinya.
Rega terus memperhatikan wajah pucat wanita di hadapannya yang terlelap, dia merasa kasihan pada Stella.
Tadi, saat dirinya tengah meeting, ponselnya berdering, tertera nama Jery sebagai sang penelepon, mengabari kalau Stella masuk rumah sakit.
Karena takut terjadi sesuatu hal buruk pada Stella, Rega bergegas meninggalkan meeting begitu saja, dia benar-benar khawatir dengan Stella.
Rega menghembuskan nafas panjang, memilih keluar dari ruangan untuk menghubungi seseorang.
***
Fara yang baru saja tiba di Jakarta berniat mengunjungi Sandy di kantornya, berhubung sudah waktunya makan siang, dia berencana untuk mengajak Sandy makan siang di luar.
Awalnya Sandy menolak, namun bukan Fara jika dia tidak berhasil memaksa Sandy.
Keduanya kini tengah duduk di salah satu cafetaria di tengah kota.
Seperti biasa, Fara terus saja menempel pada Sandy, dia sengaja ingin pamer kepada pengunjung cafe lain, bahkan dia sengaja memilih cafe yang ramai pengunjung agar semua orang tahu bahwa Sandy hanya miliknya. Pria tampan dengan sejuta kharisma, serta kekayaan yang bahkan tujuh turunan tidak akan habis.
Fara sangat bangga akan statusnya sebagai calon istri dari seorang Sandyaga. Walaupun Sandy tidak mengatakan akan menikahinya, tapi status yang diucapkan Sandy sebagai ibu sambung untuk Aiden membuktikan bahwa Sandy juga menganggap dirinya sebagai calon istri bukan?
Sandy merasa jengah dengan Fara yang terus menempel padanya, sebenarnya dia juga tidak suka menjadi pusat perhatian.
Melalui ekor matanya, Sandy memperhatikan dua pria yang berjalan melewatinya dan mengambil duduk di belakangnya. Sedikit banyak dia masih bisa mendengar pembicaraan antara keduanya.
Samar-samar dia mendengar kata 'Stella' dan 'rumah sakit' yang terucap dari kedua pria di belakangnya.
Seketika dia teringat bahwa pria itu adalah yang dia lihat bersama Stella beberapa hari yang lalu.
***
"Daddy, bagaimana kalau kita mampir ke tempat Bunda?" ajak Aiden setelah duduk di dalam mobil.
Siang ini Sandy menyempatkan diri untuk menjemput Aiden ke sekolah, karena pekerjaan di kantor yang tidak terlalu banyak, dan tidak ada meeting penting.
"Kenapa, Aiden?" Sandy menoleh sekilas dan mulai menyalakan mesin.
"Aiden kangen sama Bunda, kata Vini Bunda lagi sakit," jawab Aiden menatap Sandy penuh harapan.
Sandy segera menoleh. "Siapa Vini?"
"Dia teman Aiden, Dad. Mommy-nya Vini temannya Bunda."
Sandy nampak berfikir. 'Stella sakit?'
Kemudian dia teringat percakapan dua pria saat di cafe, jangan-jangan yang mereka bicarakan saat itu adalah Stella yang sedang sakit?
"Baiklah jagoan, ayo kita temui Bunda," balas Sandy mengelus kepala Aiden. Sebenarnya dia juga ingin memastikan keadaan Stella.
*
"Tokonya tutup, Dad," ujar Aiden lesu ketika melihat butik Stella yang tertutup dengan gantungan yang bertuliskan 'TUTUP'.
"Mungkin Bunda sedang di rumah," jawab Sandy ragu.
__ADS_1
"Daddy tahu rumah Bunda?" tanya Aiden penasaran, dan gelengan kepala Sandy membuat Aiden menunduk lesu.
Sandy masih memperhatikan bangunan di depannya, tak berapa lama seorang wanita keluar dari butik.
Sandy mengajak Aiden turun untuk menghampiri sang wanita.
"Permisi, Nona," sapa Sandy sambil menggendong Aiden.
Wanita itu menoleh, memperhatikan pria di hadapannya yang tengah menggendong anak kecil. Sejenak sang wanita terus memperhatikan Sandy, seakan mengingat sesuatu.
"Pak Sandy?" tebaknya.
Sandy mengangguk. "Stella ada?"
"Mbak Stella opname, Pak. Sudah empat hari."
Sandy terkesiap. 'Empat hari?'
"Bunda sakit apa, Tante?" Aiden yang penasaran pun buka suara.
"Dia hanya kelelahan," jawab Sari memperhatikan wajah menggemaskan dalam gendongan pria tampan itu.
Sari menatap keduanya bergantian, penasaran akan hubungan keduanya, karena mereka mempunyai wajah yang hampir mirip, hanya bola matanya yang berbeda.
"Kau mau ke rumah sakit, Nona?" tanya Sandy memastikan.
Sari tersadar dari lamunannya. "Iya, Pak."
"Mari ikut denganku, kebetulan saya ingin menjenguk Stella." Itu bukan tawaran, melainkan ajakan.
"Eh?"
"Ti-tidak usah, Pak," tolak Sari gugup. Dia takut jantungnya bisa marathon, duduk satu mobil dengan pria tampan.
"Tidak apa, ayo," ajak Sandy memaksa.
Mau tidak mau Sari mengikuti Sandy yang berjalan menuju mobil, lumayan hemat ongkos taxi, pikirnya.
"Stella sakit apa?" tanya ulang Sandy ketika sudah di dalam mobil.
"Kelelahan, Pak. Mbak Stella beberapa hari tidak sempat istirahat, lembur terus, jarang makan juga."
"Kenapa begitu?" tanya Sandy menatap Sari dari kaca spion, karena Sari yang duduk di belakang sedangkan Aiden di sampingnya.
Sari menghembuskan nafas lelah. "Ini semua gara-gara perempuan gila yang sengaja menumpahkan kopi di atas desain Mbak Stella," sungutnya kesal.
"Mbak Stella harus ngulang semuanya dari awal, sedangkan baju-baju itu akan digunakan dua bulan lagi waktu itu. Mbak Stella lembur tiap malam, waktu istirahatnya kurang, jadwal makannya pun tidak teratur. Puncaknya lima hari yang lalu saat fitting baju dia pingsan dan dibawa ke rumah sakit," sambungnya melirik Sandy yang duduk di belakang kemudi.
Sandy tidak tahu kalau akan sampai seperti ini, dia tahu bahwa Stella tidak ingin mengecewakan pelanggannya, bahkan rela lembur tiap malam, hingga menyebabkan wanita itu kelelahan dan berakhir di rumah sakit.
Semua gara-gara Fara, tapi meskipun mengetahui bahwa Fara penyebabnya, Stella tidak melakukan apapun pada wanita yang kini menjadi status calon ibu sambung Aiden.
Entah Sandy harus simpati atau kesal dengan sikap Stella itu.
Beberapa menit kemudian, ketiganya sampai di rumah sakit, Sari sebagai penunjuk arah berjalan lebih dulu menuju ruang inap Stella.
Terlihat Stella tengah terlelap di atas brangkar.
Aiden segera berlari dan duduk di samping Stella. Mengelus tangan Bundanya yang tidak terusik sama sekali akan kehadirannya.
Sandy melirik sekitar tidak ada siapapun yang menemani Stella. "Apa kau sendirian?" tanyanya menoleh ke arah Sari.
"Iya, Pak. Tapi kalau malam ada Mas Rega sama Mas Jery."
Sandy mengerutkan dahinya. 'Siapa mereka?'
~••~
__ADS_1