
Stella tidur di sisi Aiden dengan tangan melingkar di perut Aiden. Karena posisinya yang miring menyebabkan dia tidak terlalu nyaman untuk tidur.
Stella merasakan gerakan dari sampingnya, dia membuka mata.
"Aiden, kenapa bangun, sayang?"
Aiden tersenyum lebar menatap Stella. "Aiden lapar, Bunda," cicitnya.
Stella bangun dari tidurnya dan turun dari brangkar, mencari-cari makanan yang bisa di makan oleh Aiden, dia hanya menemukan beberapa roti.
"Aiden makan roti ya, sayang."
Aiden menggeleng menutup mulutnya. "Enggak mau, Bunda."
Sandy terbangun dari tidurnya mendengar suara di sekitarnya, beranjak menghampiri Aiden yang terbangun.
"Ada apa?" tanya Sandy menatap ke arah Stella.
"Ini, Aiden lapar. Tapi nggak mau makan roti, sedangkan di sini cuma ada roti." Stella mengangkat bungkusan roti di tangannya.
Sandy menghampiri Aiden, mengambil duduk di atas brangkar. "Aiden mau makan apa? Hem?" tanyanya mengelus kepala Aiden.
"Aiden mau makan masakan Bunda," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
Stella mendekat dan ikut duduk di atas brangkar, posisinya kini berhadapan dengan Sandy. Tangannya terulur mengelus kepala Aiden.
"Besok Bunda buatin kue untuk Aiden, sekarang Aiden makan roti ini dulu, oke?" bujuk Stella.
"Bunda janji." Aiden mendongak menatap Stella.
Stella mengangguk dan tersenyum. "Iya, Bunda janji."
Aiden melingkarkan tangan mungilnya ke perut Stella. "Terimakasih, Bunda."
*
"Bunda, Aiden pengen pipis." Lagi, Aiden terbangun dari tidurnya, mengguncang lengan Stella yang tertidur di sampingnya, setelah tadi selesai menghabiskan beberapa roti dan tertidur.
Stella membuka matanya yang baru saja terlelap. "Ayo, Bunda gendong."
Stella agak kesusahan menggendong Aiden dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya memegang infus.
Tiba-tiba infus di tangannya direbut seseorang dari belakangnya.
"Eh?"
"Biar saya yang bawa," ucap Sandy memegang kantong infus.
Stella masuk toilet dengan Aiden, sedangkan Sandy menunggu di luar. Dia memperhatikan Fara yang terlelap di atas bed, sama sekali tak terganggu dengan keadaan sekitarnya.
Dia jadi ragu, apakah Fara benar-benar bisa menjadi ibu yang baik untuk Aiden. Melihat Stella yang bukan siapa-siapa, begitu peduli dengan anaknya yang baru dikenalnya beberapa minggu. Sedangkan Fara yang sudah lama dekat dengan Aiden sama sekali tidak mempunyai kepedulian seperti Stella.
Sandy menghembuskan nafas panjang.
***
Sekitar pukul setengah lima pagi, Stella bangun dari tidurnya hendak ke musholla guna menunaikan kewajiban.
__ADS_1
Belum sempat membuka pintu suara Sandy menghentikan langkahnya.
"Mau kemana, Ste?"
Stella berbalik. "Aku mau ke musholla dulu, sebentar."
Sandy mengangguk mengiyakan.
*
"Daddy, Bunda dimana?" tanya Aiden yang terbangun dan tidak menemukan Stella di dalam ruangan.
"Bunda keluar sebentar, nanti ke sini lagi," jawab Sandy menghampiri Aiden. "Aiden butuh sesuatu?" sambungnya.
Aiden menggeleng. "No, Dad."
"Enngggg, hoahmmmm."
Terdengar suara erangan, membuat Aiden serta Sandy menolehkan ke asal suara.
"Eh, sudah pagi ya? Selamat pagi, Honey. Selamat pagi, Aiden sayang." Fara beranjak menghampiri Sandy hendak memberikan kecupan, namun Sandy segera menjauh, membuat Fara mendengus kesal.
"Gimana, sayang? Sudah lebih baik?" Fara mendekat ke arah Aiden mengelus kepalanya.
"Iya, Aunty," jawab Aiden tersenyum.
"Eh, dimana Stella?" ujar Fara menatap sekeliling.
"Assalamualaikum," suara pintu terbuka mengalihkan tatapan ketiganya.
"Wa'alaikumsalam," jawab ketiganya, namun Fara menjawab sedikit asal dan judes.
"Bunda dari bawah, sayang."
Stella menyerahkan cup berisi kopi kepada Sandy dan Fara.
"Sorry, gue enggak biasa minum kopi seperti ini," tolak Fara ketus.
Stella kembali menarik tangannya. "Maaf, aku tidak tahu."
"Biar saya yang minum." Sandy meraih cup kopi dari tangan Stella.
Fara langsung menempel pada Sandy. "Honey, jangan terlalu banyak minum kopi, tidak baik untuk kesehatan." Tangannya terulur untuk mengambil cup dari tangan Sandy.
Sandy menjauhkan tangannya. "Tidak apa, aku akan meminumnya nanti."
Fara mencibir, dia mengikuti Sandy yang sudah duduk di sofa, jangan lupakan tangannya yang terus bergelayut bak koala pada Sandy. Sengaja dia ingin pamer pada Stella.
Stella hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Fara, dia tahu Fara sengaja pamer kemesraan di depannya. Entah apa maksudnya.
Tapi seharusnya Fara tahu, bahwa Stella tidak tertarik pada Sandy, khususnya sekarang. Tidak tahu kalau beberapa hari ke depan. Hihi.
*
"Bunda, Aiden lapar," Aiden merengek menatap Stella.
"Oh iya, Bunda 'kan janji mau masakin buat Aiden, ya? Kalau begitu Bunda pulang dulu ya, sayang."
__ADS_1
"San, sebaiknya kamu ajak Stella ke penthouse, jarak dari rumah sakit tidak terlalu jauh, 'kan?" usul Laras yang beberapa menit sudah berada di rumah sakit.
Fara melotot mendengar ucapan calon mertuanya. "Fara ikut pulang juga sama Sandy," selanya kemudian.
Laras menghela nafas. "Baiklah, biar Mama yang jaga Aiden di sini," putusnya final.
"Bunda pulang dulu ya, sayang. Nanti Bunda bawakan kue buat Aiden," ucap Stella mengusap kepala Aiden dan mencium keningnya.
"Iya, Bunda."
"I love you, Bunda," bisik Aiden dengan gerakan bibirnya.
"I love you too, ganteng," balas Stella dengan gerakan bibir. Kemudian keduanya tersenyum.
Sandy memperhatikan keduanya, dia mengerti apa yang diucapkan Stella dan Aiden tanpa bersuara itu. Ujung bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis.
Tak ingin melewatkan kesempatan, Fara menghampiri Aiden yang berbaring di brangkar, menggeser paksa tubuh Stella agar menyingkir.
"Mommy pulang ya, nanti Mommy ke sini lagi," ujar Fara mencium kening Aiden. Dia kesal karena Stella terus saja menyebut Bunda saat berbicara dengan Aiden, diapun akhirnya menyebut Mommy untuk dirinya sendiri.
Aiden hanya diam tidak merespon, jujur Aiden tidak suka dengan Fara, dia jahat.
Sesampainya di penthouse.
Stella berjalan memasuki dapur, dapurnya tidak kalah besar dengan dapur di kediaman Van Houten. Dirasa bahan-bahan sudah siap, Stella memulai memasak dibantu beberapa maid.
"Bi, tolong kupas wortelnya ya, aku mau buatin Aiden kue," pinta Stella mengaduk adonan di mangkok besar.
"Iya, Nona."
"Bi, tolong aduk ini ya, biar aku siapkan bahan untuk puding," ujar Stella pada maid yang lain, menyerahkan mangkok besar yang sebelumnya dia pegang.
Selain makanan untuk sarapan Aiden, Stella juga membuatkan bolu dan puding, karena Aiden yang malam-malam sering terbangun dan lapar, dia berencana membuatkan untuk cemilan.
Sandy menuruni tangga, berbelok ke dapur guna melihat Stella yang berkutat membuatkan makanan untuk anaknya yang sedang berbaring di rumah sakit.
Terlihat Stella yang begitu lincah berjalan dari satu sisi ke sisi lain, mengecek rasa, mengulen adonan, melihat kerja maid lain, sesekali tertawa bersama para maid.
Sandy tersenyum melihatnya, Stella benar-benar terniat untuk membuatkan apa yang diminta anaknya, padahal dia bukan siapa-siapa.
Sandy berharap Fara bisa seperti Stella, atau dia sesungguhnya berharap Stella benar-benar menjadi ibu sambung untuk Aiden. Entahlah.
Jika kalian bertanya kemana Fara? Dia tidak jadi ikut ke penthouse Sandy, mendadak ibunya menelepon, menyuruhnya segera pulang.
Alhasil, karena rumah Fara yang tidak searah dengan penthouse, Sandy meminta Alvin mengantarkan Fara.
Dengan berat hati, Fara meninggalkan kedua orang berduaan. Padahal masih ada maid dan beberapa pekerja lain di dalam penthouse. Overprotektif bukan sih?
"Bi, tolong nanti kalau bolu dan pudingnya sudah jadi, antar ke rumah sakit ya? Aku akan ke rumah sakit terlebih dahulu, kasihan Aiden menunggu, dia pasti sudah lapar," ujar Stella pada salah satu maid, dengan tangannya yang sibuk menata makanan dalam kotak bekal.
"Iya, Nona."
"Apa masih lama selesainya?" tanya Sandy yang mendekat ke arah dapur.
Stella mendongak sekilas. "Iya, sekitar setengah jam lagi," jawab Stella kembali menghias makanannya.
"Selesai," ucap Stella puas melihat hasil karyanya.
__ADS_1
~••~