Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 25


__ADS_3

Akhir tahun identik dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan, namun cuaca sekarang sepertinya semakin sulit untuk diprediksi. Awan yang tiba-tiba menghitam perlahan memudar tidak jadi menurunkan rintik hujan yang banyak dinanti sebagian besar petani. Dan juga, hari yang cerah dengan sang surya yang semangat menyinari bumi, namun hujan turun dengan deras. Menyebabkan beberapa pengguna jalan menghentikan laju kendaraan guna berteduh atau memakai jas hujannya.


Seperti halnya Stella yang saat ini terjebak hujan di dalam sebuah restoran, beberapa menit yang lalu dirinya masih bersama Erin untuk melakukan rutinitas belanja bulanan. Tapi karena hal yang mendesak menyebabkan Erin harus undur diri lebih dulu. Stella terduduk memandangi rintik hujan dari balik kaca, menikmati semilir angin yang dibawa sang hujan.


Lewat beberapa menit, namun hujan tak kunjung reda, Stella beranjak dari kursinya, berjalan menuju supermarket, membeli beberapa keperluan yang belum sempat terbeli.


Sedang asyik berjalan, tak sengaja matanya melihat sosok seorang pria yang telah melukai hatinya beberapa bulan terakhir. Dia Sandy, yang baru saja menaiki tangga eskalator dengan menggendong Aiden serta Fara yang berjalan di sampingnya.


Stella terpaku di tempatnya berdiri, entah kenapa hatinya masih merasakan nyeri melihat Sandy dengan wanita lain. Mungkin karena dia merasa kecewa dipermainkan oleh Sandy. Tak ingin berlama-lama, Stella menghembuskan nafasnya dan meneruskan jalannya menuju supermarket.


Setengah jam berlalu, Stella keluar dari mall, hujan masih setia mengguyur bumi. Dia memilih duduk di kursi tunggu sembari menunggu hujan reda.


Sandy menggendong Aiden hendak menuju parkiran dengan Fara yang berjalan di sampingnya.


"Sayang, aku ke toilet dulu," ucap Fara.


Sandy hanya mengangguk.


"Hujan, Dad," ujar Aiden melihat ke arah luar.


Sandy menurunkan Aiden dari gendongannya. "Jangan main hujan, Aiden," peringatnya.


Aiden cemberut mendengar ucapan sang ayah, sebenarnya dia memang berniat berlari untuk bermain hujan di depan mall. Dia mengedarkan tatapannya, tak sengaja melihat Stella yang tengah duduk di kursi.


"Bunda?" ucapnya sumringah.


"Daddy, ada Bunda, Dad," ujar Aiden menarik lengan Sandy, menunjuk ke arah Stella yang tengah berkutat dengan ponselnya.


Sandy mengikuti arah tunjuk Aiden.


Deg.


Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat saat melihat Stella di sana, belum sempat menetralkan keadaan jantungnya, tangannya sudah diseret Aiden menuju Stella.


"Bunda."


Stella tidak menyadari kehadiran keduanya, kepalanya mendongak saat mendengar suara yang dia hafal. "Aiden?" ucapnya terkejut.


Aiden berhambur ke pelukan Stella. "Aiden kangen sama Bunda."


Stella terpaku.


Aiden menarik diri, mendongak menatap Stella yang membeku. "Kenapa Bunda jarang ke rumah Aiden? Kenapa Bunda jarang ke sekolah Aiden? Kenapa Daddy sama Bunda nggak makan bareng lagi?" cecar Aiden menyerukan pertanyaan polosnya, atau lebih tepatnya menyerukan protesannya.


Stella melirik Sandy sekilas, kemudian mengelus kepala Aiden. "Maafkan Bunda, Sayang, Bunda ada kerjaan banyak banget, jadi, Bunda belum sempat ketemu Aiden," jawabnya tersenyum.


"Kenapa Bunda nggak pernah makan lagi sama Daddy?"


Stella menggigit lidahnya, "Aiden 'kan bisa makan sama Aunty Fara."


Aiden menggeleng. "Aiden pengen sama Bunda," lirihnya.


Stella membawa Aiden ke dalam pelukannya, mengelus kepalanya, sesekali menciumnya. "Maafkan Bunda, ya?" bisiknya.

__ADS_1


Sandy hanya berdiri mematung melihat keduanya, tidak ada niatan berbicara, dirinya masih sedikit kecewa atas penolakan Stella.


Tak ingin berlama-lama, Stella melepas pelukannya, dia hanya tidak ingin Fara akan melihatnya bersama Aiden dan Sandy, yang akan menimbulkan hal yang tidak di inginkan nantinya, dia sudah cukup hafal sifat Fara. Bukannya takut, tapi, dia malas untuk berdebat dengan wanita itu, dan tidak ingin menjadi pusat perhatian.


Stella mencium kening Aiden beserta kedua pipinya. "Bunda pergi dulu ya?" pamitnya.


"Tapi, Bunda, di luar masih hujan," ucap Aiden menunjuk arah hujan yang masih turun namun tidak sederas sebelumnya.


Stella tersenyum. "Gapapa, Bunda 'kan kuat," kekehnya.


Aiden mencium pipi Stella. "Hati-hati, Bunda."


Stella tersenyum, kemudian mengangguk. "Da-dah."


Aiden membalas lambaian Stella dengan tatapan sendu.


Sandy memperhatikan Stella yang berlari menerobos hujan, menggunakan tasnya sebagai payung. Dia menghela nafas, kemudian mengambil duduk di kursi yang sebelumnya di duduki Stella. Merogoh saku untuk mengambil ponselnya.


"Vin, antar payung ke depan mall."


"Baik, Tuan."


***


Stella terus berlari di halaman luas parkiran mall, tidak peduli keadaanya yang akan basah kuyup. Dia mencari dimana mobilnya terparkir, pandangannya buram tertutup guyuran hujan.


Bruk..!!


"Auww," Stella mengaduh saat tubuhnya terjungkal ke belakang.


Stella mendongak, menatap seseorang yang baru saja menabraknya.


"Nona Stella?"


"Alvin?"


Alvin segera menunduk dan membantu Stella berdiri. "Maafkan saya, Nona, saya tidak sengaja," sesalnya.


"Tidak apa."


Alvin mendekatkan payungnya agar Stella ikut berteduh dalam satu payung. "Nona, kenapa anda hujan-hujanan?"


"Aku sudah lama di mall, ingin buru-buru pulang."


Alvin memperhatikan wajah Stella, wajahnya sembab, dan matanya memerah seperti habis menangis. "Dimana mobil anda, Nona?" tanyanya kemudian.


"Sepertinya di sana," tunjuk Stella pada satu tempat.


"Mari saya antar," tawar Alvin.


"Tidak usah, Vin."


"Tidak apa, Nona, mari."

__ADS_1


Akhirnya Stella menerima tawaran Alvin, keduanya berjalan beriringan menuju dimana mobil Stella terparkir.


"Terimakasih, Vin," ucap Stella setelah masuk ke dalam mobil.


Alvin mengangguk kecil. "Sama-sama, Nona. Hati-hati."


***


Rega sedang duduk di kursi kebesarannya, tengah fokus pada kertas-kertas di depannya. Tak berapa lama, seseorang mengetuk pintunya, dia mempersilakan untuk masuk. Mengabaikan kertas di hadapannya, fokusnya kini teralihkan pada seorang pria kisaran umur empat puluh tahun yang berdiri di depan mejanya.


"Saya sudah mendapatkan apa yang Tuan inginkan," ucap sang pria, menyerahkan sebuah amplop coklat besar ke arah Rega.


Rega menerima dan membuka isinya, mengambil beberapa foto yang ada di dalamnya. "Kau dalam masalah besar gadis kecil," gumamnya menyeringai.


"Apa saya harus memberinya pelajaran, Tuan?"


Rega menggeleng. "Biar ini menjadi urusanku."


Sang pria mengangguk hormat. "Saya permisi, Tuan."


Seperginya sang pria, Rega menatap tajam foto di tangannya. "Berani sekali kau mencampuri urusanku, Nona."


Rega menekan interkom yang terhubung dengan sekertarisnya. "Pindahkan karyawan bernama Intan Maharani bagian divisi keuangan ke Bandung, hari ini juga. Saya tidak mau melihat wajahnya di kantor ini lagi mulai dari sekarang," ucapnya tegas.


Sebenarnya dia ingin memecat karyawannya itu, yang sudah lancang mencampuri urusan pribadinya. Tapi, dirinya masih memberi kesempatan agar karyawannya itu sadar akan kesalahannya. Lagipula, pekerjaan gadis itu cukup baik di kantornya.


Dalam foto tersebut, terlihat Intan -yang notabene karyawan yang dengan beraninya mengungkapkan perasaan padanya, bahkan tidak hanya sekali- bersama dengan Ibunya. Sudah bisa di lihat dan dipastikan bahwa Intan yang mengadu pada Ibunya dan menceritakan perihal Stella.


Seakan tersadar. "Bagaimana dia tahu tentang Stella?"


***


"Tunggu!"


Intan berbalik, menatap Rega nanar, kemudian menunduk. Dia sudah menerima pemberitahuan kepindahannya ke Bandung hari ini juga, dia sempat syok, apa ini ada hubungannya dengan dia yang mengadu pada Ibunya Rega?


Intan menghela nafas, dirinya sangat sedih meninggalkan kantor barunya, teman-teman barunya, dan juga pujaan hatinya. Namun nasi sudah menjadi bubur, dia harus menerima konsekuensi akan perbuatannya.


"Bagaimana kau tahu tentang Stella?" selidik Rega.


Intan mendongak. "Anda tidak perlu tahu," jawabnya acuh.


Rega tertawa jahat, sebelah sudut bibirnya terangkat. "Kau tahu, tanpa kau bicara, aku akan segera mengetahuinya," ucapnya dengan tatapan tajam.


Intan menatap Rega. "Dan seperti yang anda katakan, seharusnya anda tidak perlu bertanya kepada saya."


Rega mengepalkan tangannya, menatap tajam ke arah Intan, berani sekali wanita ini, pikirnya.


"Sepertinya saya harus segera pergi, Pak, permisi."


Baru dua langkah, Intan berbalik mendekat ke arah Rega, berjinjit seraya berbisik di telinga Rega. "Yang harus Bapak tahu, saya tidak akan menyerah."


Intan tersenyum menatap Rega, mengedipkan sebelah matanya dan berbalik meninggalkan Rega yang terpaku di tempatnya.

__ADS_1


Rega bergidik ketika melihat Intan berkedip padanya. Bahkan tatapan membunuhnya sama sekali tidak membuat wanita itu takut, ini aneh, Intan satu-satunya wanita yang tidak merasa terintimidasi oleh tatapannya.


...[][][]...


__ADS_2