Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 46


__ADS_3

**✨ Bunda untuk Daddy 🎎


46


***


Mohon maaf kalau ada typo, belum revisi 🙏**


.


.


.


Stella mengajak anak-anak nya untuk bermain di taman bermain yang berjarak sekitar satu kilo dari rumahnya.


Sandy menggendong bayi mungil yang memakai dress berwarna pink, serta rambutnya yang dikuncir dua dengan hiasan pita disetiap kuncirannya.


Sedangkan Stella menggandeng tangan Aiden, berjalan beriringan menuju hamparan rumput di tepi danau.


Hari ini adalah hari minggu, Sandy bermaksud mengajak keluarga kecilnya untuk menghabiskan waktu bersama, karena jujur kini Sandy memang sedikit lebih menghabiskan waktu di kantor, karena sedang ada proyek baru, sehingga ketika akhir pekan dia sempatkan waktunya untuk bersama keluarga nya.


Gadis mungil nan cantik bernama Chiara kini sudah berusia satu tahun, dan sedang belajar berjalan.


Sandy menurunkan Chiara bermaksud mengajarinya berjalan dengan memegang kedua tangan dan menuntun nya perlahan.


Aiden berdiri diujung memberikan semangat kepada sang adik yang sedang latihan berjalan.


"C'mon Ara come here" teriaknya


Sang adik yang melihat sang kakak bersorak pun ikut tertawa, berjalan cepat untuk segera menghampirinya, namun Aiden justru semakin berjalan mundur untuk menggoda sang adik yang terus mengejarnya.


Stella memilih duduk di tikar yang sengaja dia bawa dari rumah, sambil melihat Chiara yang sedang tertawa sambil mengejar Aiden dengan dibantu Sandy.


Saat Chiara berhasil menangkap Aiden, dirinya langsung melingkarkan tangannya pada leher Aiden serta menggigit wajah Aiden.


"No, Ara tidak boleh menggigit kakak, oke" peringat Aiden pada sang adik


"Daddy, boleh Aiden gendong Ara?"


"No, boy, kamu belum kuat, nanti Ara jatuh"


Terlihat wajah Aiden yang berubah murung.


"Baiklah, kamu boleh menggendong Ara" senyum tampak di wajah Aiden


Sandy mengangkat Chiara kebelakang punggung Aiden, melingkarkan tangan Chiara pada leher Aiden, Aiden mulai berjalan menggendong Chiara dipunggung nya, tentu dengan Sandy yang memegangi tubuh Chiara agar tidak terjatuh.


Sandy tersenyum melihat kedua anaknya tertawa bahagia, berjalan menuju tempat Stella duduk.


"Bundaa" teriak Aiden


"Daaa" Chiara mengikuti ucapan Aiden


Stella melambaikan tangannya seraya tersenyum.


"Ara mau minum?" Tawar Stella menunjukan botol susu kepada Chiara yang berada di pangkuan Sandy


Gadis mungil itu tampak mengangguk, dan mencoba meraih botol susunya.


"Sini biar aku saja" Sandy mengambil botol susu dari tangan Stella


"Kakak mau minum juga?" Stella beralih menatap Aiden yang sedang mencoba membuka toples berisi kue yang sengaja dibawa Stella


"Tidak Bunda" jawab Aiden menggeleng, wajahnya meringis saat toplesnya tidak kunjung terbuka


Stella tersenyum melihat Aiden, "sini Bunda bantu"


Aiden menyerahkan toples kearah Stella.


Melihat Aiden memasukkan makanan kedalam mulutnya, membuat Chiara merangkak dan langsung merebut makanan di mulut Aiden.


"Kamu mau ini?" Aiden menunjukkan kue kering ditangannya


"Auu" (mau) jawab Chiara mengangguk


Aiden beralih menatap Stella, "Bunda, Ara boleh makan kue ini?"

__ADS_1


"Tidak boleh sayang, Ara makan yang ini saja ya" Stella mengeluarkan biskuit bayi untuk Chiara


"Sayang, Alvin bilang kalau Daniel akan menyusul kesini" Sandy yang baru saja menerima telepon menatap kearah Stella


Stella mengangguk, "biar makin rame"


"Daniel kesini Dad?"


"Iya boy" jawab Sandy mengusap kepala Aiden


Waktu berlalu sangat cepat, hingga matahari semakin keatas, Alvin beserta anak dan istrinya sudah bergabung dengan Stella.


"Seperti hari semakin siang, Ara sudah sangat mengantuk" ujar Stella melihat anak gadisnya yang matanya mulai menyipit


"Mari kita pulang" jawab Tasya istri Alvin


Menuju kendaraan nya tak sengaja Stella melihat seseorang yang sangat dikenalinya.


"Ada apa sayang?" Tanya Sandy yang melihat Stella tak kunjung masuk kedalam mobil


"Aku melihat Jihan, boleh aku menghampirinya"


"Baiklah, jangan terlalu lama, kasihan Aiden dan Ara yang sudah mengantuk" Sandy mengelus puncak kepala Stella dan memberikan ciuman di pelipis nya


Stella mengangguk, dan berjalan menghampiri Jihan yang sedang duduk disalah satu kursi taman.


"Jihan"


Gadis itu mendongak, dia tersentak, "mbak Stella"


"Apa kabar?"


"Baik mbak, mbak sendiri?"


"Alhamdulillah mbak juga baik"


Keduanya diam, hingga Jihan membuka suara.


"Jihan dengar mbak sudah melahirkan bayi perempuan ya?"


Stella mengangguk, "iya, namanya Ara, dia sedang dimobil bersama Aiden dan suamiku" tunjuknya pada mobil yang terparkir tak jauh dari mereka, sedangkan mobil Alvin sudah pergi beberapa menit yang lalu


Stella tersenyum, "bagaimana kabar ayah?"


Wajah Jihan meredup, dia menunduk, "ayah meninggal mbak"


Stella terkejut menutup mulutnya.


"Operasi yang terakhir gagal"


Stella mengelus lengan Jihan, bermaksud memberi kekuatan.


"Maafkan aku Jihan, aku tidak tahu kalau ayah meninggal, aku tidak bisa hadir sewaktu pemakamannya" sesal Stella


"Gapapa mbak, Jihan ngerti kok"


"Kapan ayah tiada?"


"Satu tahun yang lalu"


Stella berfikir, satu tahun yang lalu berarti saat dirinya tengah melahirkan Chiara.


"Bagaimana dengan ibu?"


"Ya, dia shock mbak tapi sekarang sudah mulai bisa mengikhlaskan ayah"


"Ibu masih dijakarta?"


Jihan menggeleng, "kami membawa jenazah ayah untuk dimakamkan di Bandung mbak, dan ibu memutuskan untuk tinggal di Bandung juga"


"Kamu di Jakarta sendirian? Kamu tinggal dimana?"


"Aku masih tinggal dirumah yang dulu sempat kami beli mbak, sehabis menjual rumah mendiang mas Hari" lirih Jihan merasa tidak enak dengan Stella akan tindakan nya terdahulu


Stella menepuk tangan Jihan, "lalu dimana ibu tinggal, bukankah rumah kalian sudah dijual?"


Jihan menatap Stella lekat, menggenggam tangannya, "mbak, aku minta maaf atas kesalahan yang aku dan ibu perbuat sama mbak Stella selama ini, maafkan aku telah menjual rumah yang selama ini mbak dan mas tempati, kami terpaksa melakukan itu mbak, untuk biaya pengobatan ayah" sesal Jihan berkaca-kaca

__ADS_1


Stella mengelus lengan Jihan, "gapapa mbak ngerti kok, mbak udah maafin kalian"


Jihan menggeleng, "gak mbak, aku juga ingin berterima kasih sama mbak, meskipun terlambat tapi aku tetap ingin mengucapkan terimakasih sama mbak, terutama sama suami mbak, mas Sandy" luruh sudah airmata yang sedari tadi ditahan Jihan


Stella terkejut, kenapa nama Sandy dibawa-bawa.


"Setelah rumah itu laku terjual, beberapa bulan kemudian aku baru tahu kalau rumah itu mas Sandy yang membelinya, bahkan dengan harga yang lumayan mahal mbak"


Ya Stella tahu tentang itu.


"Dan ternyata mas Sandy juga yang menebus rumahku yang ada di Bandung, dia juga yang membelinya dan menyerahkan sertifikat rumah sama ibu dan aku yang saat itu tengah menjaga ayah di rumah sakit"


Deg!


Dan Stella tidak tahu tentang itu, kenapa Sandy merahasiakan berita ini.


"Aku sangat-sangat berterimakasih sama mbak dan juga mas Sandy, kalau tidak ada mbak mungkin sekarang aku sudah di penjara mbak, karena tidak bisa membayar hutang" Jihan tersedu


Stella merengkuh tubuh Jihan, mengelus punggung nya.


"Terimakasih banyak mbak Stella, aku sangat berhutang budi sama mbak, maafkan kesalahan aku mbak, maaf" sesal Jihan


Stella menarik diri, menghapus air mata dipipi Jihan.


"Ini sudah ketentuan yang di atas Jihan, jangan meminta maaf lagi, mbak sudah memaafkan kamu"


Jihan mengangguk seraya menghapus air matanya.


"Kamu kerja dimana?"


"Alhamdulillah aku sudah kerja di kantor swasta mbak sekarang"


Stella mengangguk, "kalau ada yang kau butuhkan, jangan sungkan untuk datang kerumah mbak, jangan sungkan minta tolong sama mbak"


"Iya mbak, terimakasih" Jihan kembali merengkuh tubuh Stella kedalam pelukannya


***


"Sayang aku mau bicara"


Sandy menghampiri Stella yang tengah bersender di kepala tempat tidur.


"Bicara apa sayang?" Ucap Sandy menuntun kepala Stella agar bersender di bahunya


"Kenapa kamu tidak cerita kalau kamu menebus rumah mantan mertuaku yang ada di Bandung"


Sandy tersenyum, dia sudah tahu bahwa Stella akan menanyakan ini.


"Kenapa hem? Aku hanya membantu mereka"


"Kenapa kamu tidak memberitahu ku" ucap Stella mendongak menatap wajah suaminya


"Saat tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu tahu kan?"Sandy tersenyum mencium puncak kepala Stella


"Apa kamu marah?" Sandy menatap wajah Stella


Stella menggeleng, "tidak, justru aku senang kamu peduli dengan mereka, walaupun kini mereka bukan lagi keluarga ku" Stella melingkarkan tangannya diperut Sandy


Sandy mencuri kecupan dibibir Stella, "apapun yang membuatmu senang akan aku lakukan sweet heart"


Stella tersipu mendengar ucapan Sandy.


"I love you"


"I love you more"


Sandy melumat bibir pink istrinya, benar yang dia katakan, apapun yang membuat Stella bahagia sebisa mungkin akan dia penuhi.


Melepas pagutannya, "bisakah kita membuatkan Ara adik?"


***


**Happy valentine day


14 February 2020


saskavirby

__ADS_1


Ig: elshaolivia**_


__ADS_2