
**✨Bunda untuk Daddy🎎
27
***
Jangan lupa voment 🙏💓
Follow me ya 😘
Cuss buruan baca deh, udah penasaran kan???? 😝😁
Happy reading 🎇**
.
.
.
.
[]
Sandy terus kepikiran tentang ucapan Rega waktu itu. Apa dirinya telah salah selama ini, apa dirinya salah paham terhadap Stella.
Sandy teringat surat yang di berikan Stella, segera dia bangkit dari posisinya berbaring dan melangkah menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
"Sandy mau kemana kamu" teriak Laras
"Ke kantor ma"
"Ini sudah malam San, besok pagi kan bisa"
Sandy berhenti, menoleh kearah Laras, "ini menyangkut kebahagiaan Sandy dan Aiden ma"
Laras menyernyit, "Sandy pergi dulu ma"
Laras memandang punggung anaknya yang perlahan menghilang.
"Kebahagiaan" gumam Laras bingung
"Ada apa dengan anak ini, tadi pulang wajahnya babak belur"
Laras melihat jam di dinding, pukul 11:30 " sekarang tengah malam tiba-tiba ke kantor dan bicara tentang kebahagiaan"
Laras hanya geleng-geleng dan kembali menuju kamarnya.
***
Satpam penjaga kantor terkejut melihat mobil bosnya berhenti didepan kantor.
"Malam tuan"
Sandy mengangguk sebentar, kemudian berlari memasuki gedung. Menekan tombol lift berkali-kali.
"Kenapa lama sekali" monolog nya
Dia berlari menuju ruangan. Setelah sampai segera dia membuka laci dan mencari amplop berisi surat dari Stella yang seingatnya berwarna biru.
Dia sempat kesulitan mencarinya, seluruh laci dia buka dan mengobrak abrik isinya.
Beralih ke laci yang lainnya, membuang seluruh isi laci namun belum juga ditemukan.
Sandy mengacak rambut nya frustasi, "arrgghhhh"
Kemudian dia duduk dikursi nya, memejamkan matanya seraya mengurut pelipisnya.
Sandy mencoba mengingat-ingat dimana terakhir dia menaruh amplop itu. Tak sengaja matanya melihat benda berwarna biru yang terselip diantara berkas-berkas yang dia buang kelantai.
Perlahan dia mengambilnya dan bernafas lega ketika menemukan apa yang dia cari.
Dengan dada berdebar dan tangan yang bergetar, Sandy perlahan membuka suratnya.
***Maaf...
Seperti yang kamu bilang sebelumnya, kalau aku yang pantas menjadi ibu sambung untuk Aiden.
Tapi sepertinya aku tidak bisa menjadi ibu sambung untuk Aiden.
Aku berharap akan menjadi ibu dari adik-adik Aiden berikutnya. :)
Dan jawaban ku atas pertanyaan mu adalah
Yes! I will :) ❤️
Ps: Temui aku didanau hilir jam 08:00 PM
Jangan telat!
Ttd
Stella Ayu Ghani***
Sandy terduduk dikursinya, dia menunduk lesu, hatinya senang dan juga sedih membaca surat dari Stella.
Sandy membentur-benturkan kepalanya dimeja.
"Kau bodoh Sandy, bodoh"
Sandy membayang kan berapa lama Stella menunggunya di danau itu, bahkan Rega bilang Stella diganggu preman yang hampir memperkosa.
"Arrghhh brengsek" makinya menggebrak meja
Pikiran Sandy melayang pada malam itu, dia ketiduran dikantor, ketika dijalan melihat Stella berpelukan dengan Rega tengah malam.
Pasti waktu itu Stella tengah menunggu nya dan Rega yang menolongnya dari preman.
Lagi, Sandy teringat Stella yang datang pada acara tunangan nya, dia melihat wajah sedih Stella, bahkan matanya berkaca-kaca waktu itu.
Juga saat Stella menghampiri nya kesekolah bersama Fara, dia juga melihat mata Stella yang terlihat sedih, bahkan hampir menangis.
Namun sama sekali tidak dipedulikan olehnya, karena dia menganggap Stella lah yang telah menyakitinya, menolak cintanya.
Sandy semakin menjambak rambut nya frustasi.
Astaga, pria macam apa dirinya membuat wanita yang dicintainya menderita, Sandy mencengkeram rambutnya kuat.
"Kau bodoh Sandy, benar-benar bodoh"
Sandy terus menyalahkan diri sendiri, Sandy memukul-mukul meja kerjanya.
"Maafkan aku Stella, maafkan aku" sesalnya
"Aku mencintaimu Stella, aku mencintaimu, i love you Stella Ayu Ghani" gumam Sandy
__ADS_1
Sandy terus menyesali perbuatannya, sampai tak sadar dirinya tertidur dengan kepala diatas meja kerjanya sambil terus memanggil nama Stella.
***
Paginya Alvin terkejut ketika sampai dikantor melihat mobil Sandy terparkir didepan.
Alvin mencoba bertanya pada satpam.
"Tuan Sandy sudah datang pak satpam"
"Beliau sudah datang sejak tadi malam pak, sampai sekarang belum keluar"
Alvin tersentak, "tadi malam" monolog nya
Satpam mengangguk, "iya pak sekitar jam dua belas"
"Tapi sepertinya tuan Sandy sedang terburu-buru pak tadi malam"
Alvin semakin bingung, dia hanya mengangguk kepada satpam, kemudian berjalan masuk menuju ruangan bosnya.
Selama perjalanan Alvin mengingat apa ada berkas penting, atau meeting penting, sehingga tengah malam Sandy ke kantor bahkan sampai sekarang belum keluar juga, seperti apa yang dikatakan satpam tadi.
Sedang berkelana dengan pikirannya tak sadar dirinya sudah sampai didepan ruangan sang bos.
Alvin mengetuk nya namun tak ada jawaban. Kemudian dia langsung membuka ruangan tersebut dan terkejut melihat benda-benda berserakan dilantai.
Dan melihat Sandy yang tertidur diatas meja kerjanya.
Alvin menghampiri Sandy mencoba membangun kannya.
"Tuan"
Alvin menggoyangkan lengan Sandy, "Bos" ulangnya
Merasa tak mendapat jawaban, Alvin semakin keras mengguncang tubuh Sandy.
"Bos bangun bos, sudah siang" ucapnya agak keras
Sandy bergerak, perlahan membuka matanya, dia memegang kepalanya yang terasa berdenyut, kemudian mendongak menatap Alvin.
"Astaga tuan, kenapa wajah anda"
Alvin terkejut melihat wajah Sandy yang babak belur
"Aku tidak apa-apa"
"Tapi tuan --"
Sandy mengangkat tangannya bermaksud menyuruh Alvin diam.
"Aku akan pulang, kau tolong urus disini, mungkin hari ini aku gak akan ke kantor Vin, aku ada urusan penting"
Alvin mengangguk, "baik tuan"
Alvin memandang kepergian Sandy dengan sendu, pasti sudah terjadi hal yang buruk terhadap bosnya ini.
Dia menghembuskan nafas kasar, melihat ruangan yang sangat berantakan.
***
Hari ini Sandy bertekad akan meminta maaf kepada Stella, dan juga tidak akan melepaskan janda cantik itu lagi. Sandy berniat membuat kejutan untuk Stella.
Namun sebelum itu terlaksana, terlebih dahulu dirinya harus menyelesaikan masalahnya dengan Fara.
Tadi dia sudah menghubungi Fara untuk bertemu dengannya disalah satu restoran.
Tak lama Fara datang, langsung mencium pipi Sandy. Sandy yang tidak sadar kehadiran Fara tidak sempat menolaknya.
Dia cukup terkejut karena Fara menciumnya, kalau biasanya dia terpaksa menerima. Namun kini dirinya benar-benar sudah muak.
Masih berusaha bersikap seperti biasanya, Sandy menunggu sampai Fara selesai makan.
"Kamu gak makan honey"
Sandy menggeleng, "mau aku suapin"
"Tidak usah, aku sudah makan" tolak Sandy
Fara menyernyit, 'untuk apa Sandy mengajak nya bertemu direstoran kalau dia sudah makan' bathinnya
Setelah Fara selesai makan, Sandy memulai pembicaraan nya.
"Fara sebelumnya aku minta maaf"
Fara menatap Sandy, "Kenapa?, sepertinya kamu tidak punya salah"
Sandy menghela nafasnya, "aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini"
Fara tersentak, "maksudnya?"
"Maafkan aku, aku tidak bisa mencintaimu" Sandy menatap serius kearah Fara
"Selama ini aku berusaha membuka hati untukmu, namun sepertinya itu hanya sia-sia"
Fara tersenyum mengejek, "kau membuangku?, hahaha kau gila Sandy" teriaknya
Fara menatap Sandy, "lalu kenapa kamu setuju bertunangan dengan ku"
"Aku terpaksa"
"Kenapa San, apa karena Stella" tebak Fara
Sandy tersentak, "sudah kuduga" Fara menampilkan smirknya
"Aku tidak mau putus denganmu Sandy" ujar Fara lembut sambil meraih tangan Sandy
Sandy melepaskan tangannya, "Berapa yang kamu inginkan"
Fara tertawa mengejek, "hahaha aku tidak butuh uangmu Sandy, aku mencin --"
"Seratus juta"
Fara melotot, kemudian menggeleng, "aku tidak --"
"Dua ratus juta"
Fara semakin melotot mendengar ucapan Sandy, "tiga ratus juta"
"Lima ratus juta" kata Fara
Sandy melotot, "kau memerasku"
Fara bersandar pada kursi sambil bersendekap, "terserah, atau kamu mau media tahu"
"Kamu tahu kan aku seorang model, membuat gosip sangat mudah bagiku" Fara mengamati kuku-kuku panjangnya yang baru saja di warna
__ADS_1
Tangan Sandy mengepal, 'brengsek' makinya dalam hati
"Lima ratus juta atau tidak sama sekali" ulang Fara ketus
Sandy menghela nafas, "oke, lima ratus juta"
"Deal" Fara mengulurkan tangannya
"Setelah ini aku harap kamu tidak akan menggangu hubungan antara aku dan Stella"
"Tidak masalah, kamu bisa pegang kata-kata ku"
Perlahan Sandy menjabat tangan Fara, "deal" tegasnya
Fara tersenyum senang mendapatkan uang sebanyak itu, dia tidak peduli lagi dengan statusnya yang akan putus dengan Sandy.
Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, betapa bahagianya dia hanya menjadi ibu pura-pura untuk Aiden bisa mendapatkan uang sebanyak ini. Belum lagi hadiah-hadiah dari Sandy sebelumnya.
Bahkan dirinya sudah bisa keliling dunia beberapa bulan belakangan, tentunya menggunakan uang Sandy.
'ah seharusnya gue bilang 1 miliar aja ya tadi, bego' bathinnya
***
Sandy sebenarnya tidak keberatan dengan permintaan Fara, lima ratus juta bukan apa-apa dibandingkan dengan Stella.
Akan dia lakukan apapun agar dia bisa bersama dengan Stella.
Setelah urusannya dengan Fara selesai dia berniat membuat kejutan untuk Stella.
Dia tadi sudah bertemu dengan Sari, pegawai Stella guna memintanya agar mau membantu rencananya.
Awalnya Sari ragu, tapi akhirnya dia bersedia, karena Sari juga berharap untuk kebahagiaan Stella.
Sandy juga menyuruh kedua orangtuanya serta Aiden untuk datang malam nanti.
Dia sudah menyuruh Alvin menyiapkan semuanya, Sandy melihat persiapan untuk kejutan Stella, dia tersenyum.
Semoga setelah ini Stella benar-benar menjadi miliknya, seutuhnya.
"Mbak Ste"
"Ya Sar"
"Mbak ini barusan ada klien ngajak ketemu sama mbak"
"Kapan Sar, dimana?"
Ragu Sari hendak berucap, dia berusaha agar tidak gugup.
"Nanti malam mbak"
"Di danau hilir"
Stella terkejut, "kenapa disana Sar, tidak biasanya"
"Anu mbak, katanya ingin membuat kejutan untuk calon istrinya"
"Jadi sekalian ngajak mbak ketemu disana, sebelum kejutan itu dimulai" Sari sudah berkeringat dingin, dia harus beralasan apalagi kalau Stella tidak mau, pikirnya.
Stella berfikir, kemudian mengangguk-angguk, "baiklah, jam berapa Sar"
Sari berbinar, dia bernafas lega, "jam delapan Mbak" ucapnya semangat
"Oke"
"Eh iya mbak, mbak Stella harus dandan cantik" goda Sari
"Untuk apa?" tanya Stella bingung
"Gak ada itu saran saya saja" Sari menyengir
Sari menjauh dari tempat Stella, guna menghubungi Sandy.
"Pak sudah saya sampaikan, mbak Stella setuju"
"...."
"Siap pak"
Sari tersenyum sambil menggenggam ponselnya. Dia tidak sabar untuk nanti malam.
***
Malamnya Stella benar-benar datang ke danau, menggunakan dress dibawah lutut lengan panjang berwarna kuning.

Dia berjalan menuju danau, berhenti diatas jembatan buatan. Dirinya teringat tempat ini adalah tempat yang dulu dia gunakan untuk menunggu Sandy yang tak kunjung datang. Dan malah bertemu preman.
Stella bergidik membayangkan hal itu terjadi lagi, dia menoleh sekeliling, perasaannya was-was.
Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari danau. Stella melihat kebawah, beberapa lampu menyala membentuk tulisan "SORRY"
Stella menyernyit, apa ini yang dimaksud Sari kejutan dari klien untuk calon istrinya.
Dia menoleh sekitar, tapi kenapa tidak ada orang bathinnya
Kemudian beberapa lampu dipinggir danau dan juga dijembatan menyala, Stella tersentak kebelakang karena pembatas yang dipegangnya tiba-tiba menyala.
Dia memegang dadanya karena terkejut, kemudian tiba-tiba sebuah pesawat kecil terbang kearahnya dengan membawa kertas.
Stella mengambil kertas itu dan membuka nya, "SORRY" gumam Stella membaca tulisannya
Dia mengedarkan pandangannya, pasti seseorang yang mengendalikan pesawat ini tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Stella memutar tubuhnya, siluet seseorang berjalan menghampiri nya, perlahan mendekat, namun Stella tidak bisa melihat wajah orang tersebut, karena terhalang buket bunga besar didepan wajah orang itu.
Tiba orang itu berdiri tepat didepannya, menyerahkan buket bunga pada Stella.
Stella bingung, pasti dia salah orang batinnya.
Namun suara orang itu membuatnya seketika membeku ditempat.
"Im sorry Stella"
***
**Waaaooooooo panjang banget loh ini, sampek 1600+ kata
Seneng gak tuh 😘
Jangan lupa vote dan koment, biar author semangat ngetik nya 💪😘
18 Januari 2020
__ADS_1
Saskavirby**