Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 45


__ADS_3

**✨ Bunda untuk Daddy 🎎


45**


***


Sandy membopong tubuh Stella ketika sudah sampai dirumah sakit, membaringkan tubuh istrinya pada brangkar dan mendorongnya menuju ruang bersalin diikuti keluarganya dari belakang.


"Tuan silahkan dampingi istrinya" ucap suster


Sandy menegang ditempatnya, dia takut kejadian yang dulu terulang kembali.


Stella melihat raut wajah Sandy yang menegang, dia memegang tangan Sandy kemudian tersenyum.


"Aku akan baik-baik saja, kamu tunggu diluar" ucap Stella disela rasa sakit yang mendera pada bagian perutnya


Sandy menatap lekat Stella, dia melihat Stella yang tersenyum dan mengangguk.


Diapun melepaskan genggaman nya pada tangan Stella dan membiarkan perawat membawa Stella memasuki ruang bersalin.


Vero menepuk pundak anaknya, "dia akan baik-baik saja"


Sandy trauma dengan keadaan ini, bagaimana dulu ibu dari Aiden meninggal sehabis melahirkan, bahkan dirinya berada disampingnya saat itu.


Melihat sendiri bagaimana perjuangan sang istri dan bagaimana saat sang istri memejamkan mata untuk selama-lamanya.


Dahi Sandy berkeringat, dia sangat takut hal itu terjadi pada Stella, tidak, dia tidak ingin kehilangan Stella.


Sandy menguatkan hati serta fikirannya, dia harus berada disamping Stella, apapun yang terjadi.


Dengan tekat yang bulat dia memberanikan diri hendak memasuki ruang bersalin.


"Kau yakin San?" tanya Laras sang sedang memangku Aiden dikursi tunggu


Sandy menoleh kearah Laras, kemudian mengangguk.


"Kamu kesini" lirih Stella melihat Sandy berdiri disampingnya


"Ya aku akan berada disamping mu apapun yang terjadi"


Stella tersenyum lembut.


Sandy menggenggam tangan Stella, dia merasa tubuhnya bergetar saat melihat Stella yang sedang berusaha mengeluarkan anaknya.


Dengan tangan yang bergetar dia menyeka keringat di dahi Stella, "kamu pasti bisa sayang" bisiknya


Keringat mulai merembes dari dahi Sandy, dadanya terasa sesak melihat wajah Stella yang menahan sakit, perasaan takut mulai mendera dirinya.


"Sandyyy" lirih Stella sangat pelan, tangannya meremas tangan Sandy yang berada digenggaman nya


"Aku disini sayang" jawab Sandy dengan suara bergetar menahan tangisnya


Dia melabuhkan ciuman di pipi Stella, memberikan kekuatan agar Stella bertahan.


Setengah jam kemudian bayi yang ditunggu-tunggu akhirnya mengeluarkan suara pertama nya.


Oek.. oek... Oek....


Sandy dan Stella bersyukur telah melewati hal ini, Sandy menghapus keringat didahi istrinya, menciumi seluruh wajah Stella, tak terasa air matanya mengalir.


Sandy hampir mati melihat Stella yang berjuang mengeluarkan buah hati mereka, jantungnya berdegup kencang, namun ketika melihat Stella baik-baik saja setelah melahirkan membuatnya menangis bahagia.


Stella menghapus air mata Sandy, "semuanya akan baik-baik saja" dia tersenyum dan mengangguk


"I love you" ucap Stella


"I love you more Stella" balas Sandy mencium singkat bibir istrinya



(Anggap itu Stella ya) ☝️


***


"Cantik banget mbak anaknya" ucap Sari


"Kalian sudah menyiapkan nama untuk bayi kalian?" tanya Laras

__ADS_1


Stella sudah dipindahkan kekamar inap, Laras, Vero, Aiden, Alvin, Sari berada disana.


Stella melirik Sandy, "sudah ma"


"Siapa nama adik bayi, Bunda?"


"Chiara Aprilly Van Houten" ucap Sandy


"Panggilan nya Ara" lanjut Stella


"Nama yang cantik, secantik orangnya" Sari mengelus pipi Chiara yang berada digendongan Laras


"Hai adik Ala, aku kakak Aiden"


"Oma, boleh Aiden cium adik bayi"


"Boleh dong, tapi pelan-pelan ya"


Aiden menciumi pipi adiknya berulang-ulang.


***


Usia Chiara sekarang sudah enam bulan, gadis kecil itu terlihat sangat cantik dan menggemaskan.


Stella menggendong Chiara dengan gendongan kanguru, hari ini adalah jadwal Aiden pentas seni, Stella dan Sandy sudah sepakat akan mendatangi acara akhir tahun itu bersama.


Sebelum ke sekolah Aiden, Stella mampir kegedung tempat suaminya bekerja, bermaksud menjemput Sandy untuk berangkat bersama.


Seperti biasa semua pegawai di kantor itu memandang takjub pada istri bos mereka, pemilik perusahaan.


Terlebih lagi kini Stella membawa serta Chiara, gadis mungil itu sukses membuat semua mata menatap kearahnya.


"Hai Daddy" ucap Stella menirukan suara anak kecil ketika sudah membuka pintu ruangan Sandy


Sandy yang sudah menunggu kedatangan Stella dan Chiara tersenyum menyambut nya.


"Hallo princess" sapa Sandy mengambil alih Chiara dari gendongan Stella, mencium pipinya gemas


"Jam berapa Aiden tampil Ste?" Tanya Sandy setelah melabuhkan ciuman di pipi Stella


"Kelas Aiden mendapatkan giliran keempat"


"Cup cup, maafkan Daddy princess" ujar Sandy mengelus punggung Chiara


Namun bukannya berhenti, tangis Chiara semakin keras.


"Sini, sepertinya dia haus" Stella mengambil alih Chiara, membawanya duduk di sofa


"Mana botol susunya sayang?"


"Oh ketinggalan dimobil"


Sandy menyernyit.


"Aku akan menyusuinya langsung" Stella mulai membuka resleting dressnya


Gadis mungil itu langsung berhenti menangis ketika mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Ara haus banget ya, pelan-pelan ya sayang minumnya" Stella menepuk-nepuk pantat Chiara agar lekas tidur


Sandy ikut mengelus kepala anaknya, "Daddy juga haus"


"Minum gih" jawab Stella


"Daddy pengen minum kaya Ara" ujar Sandy tengil


Sandy beralih duduk disebelah kanan Stella.


"Eits mau ngapain Daddy" Stella mendorong kepala Sandy yang sudah condong didadanya


"Daddy haus juga Bunda" rengek Sandy


"Minum air itu" tunjuk Stella pada gelas dimeja


Sandy menggeleng, "nah Ara aja ngerti"


Dia menoleh melihat Chiara yang sudah melepaskan ****** yang tadi dihisapnya.

__ADS_1


Stella buru-buru menutup kembali resleting nya.


Sandy berdecak kesal, dia menyenderkan punggungnya di sandaran sofa sambil melipat tangannya.


Stella tersenyum melihat tingkah Sandy yang sedang ngambek, pelan-pelan Stella bergerak mendekati Sandy agar Chiara tidak terbangun.


Cup.


Dia mendaratkan kecupan dipipi Sandy, Sandy sempat terkejut namun kemudian tetap pada posisinya, pura-pura marah.


"Daddy jangan ngambek lagi dong"


"Tadi malam kan sudah, kali ini giliran Ara" Stella mencoba membujuk suaminya


Sandy menghela nafas, menatap wajah istrinya yang tersenyum tulus kearahnya.


Dia ikut tersenyum, merengkuh tubuh istrinya dan mendaratkan ciuman dibibir Stella, melumat nya pelan dan lembut.


Sandy menekan tengkuk Stella untuk memperdalam ciumannya, Stella mendorong pelan dada Sandy agar mengakhiri pagutannya.


"Nanti Chiara bangun"


Sandy yang merasa tidak rela melepas ciumannya mulai tersadar, melihat kepangkuan Stella, masih ada Chiara disana.


"Maaf sayang, aku lupa" Sandy menyengir


Sandy melingkarkan tangannya dibahu Stella, sambil tangannya mengusap pipi Chiara yang tertidur pulas dipangkuan Stella.


"Dia mirip banget sama kamu"


"Iya dong, dia kan anak aku" jawab Sandy bangga


"Ehem kapan kita buat adik untuk Chiara?"


Stella melotot kearah Sandy. Sedangkan Sandy menaik turunkan kedua alisnya.


"Kamu masih sanggup buat hamil lagi kan?" Tanya Sandy hati-hati


Karena terakhir melahirkan Chiara, dia merasa Stella benar-benar berjuang setengah mati, bahkan dirinya yang menemani ikut panas dingin dan belum tentu bisa seperti itu.


"Kenapa kamu ngomong begitu hem?"


"Aku takut --"


Stella mengelus tangan Sandy, "jangan bicara seperti itu, aku sanggup kok memberikan Chiara adik lagi, tapi tidak sekarang ya, kasihan Chiara masih terlalu kecil" terangnya


Sandy menghembuskan nafas lega, membenamkan hidungnya dipipi Stella, menciumi nya gemas.


"Terimakasih sayang sudah hadir dihidupku, mencintaiku yang belum sempurna ini, mencintai Aiden, memberikan malaikat kecil yang menggemaskan, hidupku benar-benar bahagia sejak kehadiran mu" ujar Sandy tulus


Stella menatap Sandy, meraih wajah Sandy agar mendekat kearahnya, mencium kening, kedua pipi dan bibir Sandy.


"Aku yang seharusnya berterimakasih untuk semua yang kamu lakukan terhadap ku San, diantara beribu wanita didunia ini, aku salah satu yang beruntung bisa bersanding denganmu, dicintai olehmu, mendapatkan peri kecil yang kini ada di pangkuan ku" Stella beralih menatap Chiara, pelupuk matanya berkabut terhalang airmata.


"Aku mencintaimu Sandy" tepat kalimat itu terucap, airmata menetes dipipinya


Sandy menangkup pipi Stella, menghapus air matanya.


"Aku lebih mencintaimu Stella"


Lagi, Sandy melabuhkan bibirnya di bibir Stella, melumat nya dengan sangat lembut.


Tangan kanannya ikut menyangga Chiara agar tidak terjatuh, sedang tangan kirinya menekan tengkuk Stella, semakin memperdalam ciumannya, hanya sebatas ciuman halus, tidak ada nafsu didalamnya.


Keduanya larut dalam buaian, meresapi kenikmatan yang mereka ciptakan, seakan tak ingin waktu cepat berlalu.


Sandy melepas pagutannya ketika dirasa pasokan udara mulai menipis, mengusap bibir Stella yang bengkak karena ulahnya, begitupula Stella yang mengusap bekas lipstik yang menempel dibibir Sandy.


Mendarat kan satu kecupan lama di pipi Stella, "kamu bahagia?"


Stella menatap Sandy, "sangat!" Jawabnya tanpa ragu


Keduanya sama-sama tersenyum.


Perlahan Sandy kembali memagut bibir Stella yang sedikit membengkak, seakan bibir itu terus menggodanya tiap kali dia melihat nya.


***

__ADS_1


Meleleh bwanggg 😖


__ADS_2