
Suasana meja makan pagi ini terasa sepi dari biasanya, hanya mereka berdua yang sedang menikmati hidangan di meja, tidak ada celotehan, tidak ada rebutan, tidak ada tangisan, tidak ada aduan dari anak-anak nya.
Hanya ada suara sendok dan bendenting kala mengenai piring.
"Kalau gak ada anak-anak jadi sepi ya"
"Biasanya mereka suka usil, saling rebut makanan, Al yang suka bikin Cla nangis" Stella menerawang tersenyum
"Kamu sudah kangen sama mereka?"
Stella mengangguk, "iya, aku belum terbiasa jauh dari mereka, rasanya gimana gitu"
"Besok kita pulang sayang, sabar ya?" Sandy mengelus tangan Stella seraya tersenyum
"Aku takut mama kuwalahan sama sikap mereka, kamu tahu sendiri kan bagaimana anak-anak"
"Mama sendiri yang nawarin diri buat jaga mereka"
"Sekali-kali lah kita punya waktu berdua saja tanpa anak-anak" ucap Sandy tersenyum jenaka
"Iya deh, semoga anak-anak gak rewel disana" doa Stella
Sedangkan di sisi lain..
"Ara mau makan bubur buatan Bunda huwaa"
"Al, jangan gangguin Cla" ancam Aiden melihat adik cowoknya itu mencolek pipi Clarissa dengan mayonaise
"Omaaaa, Al jahat sama Cla huwaaa"
"Aduhh, kalian jangan berantem gitu dong sayang" terlihat Laras yang memegang keningnya bingung melihat cucu-cucunya menangis
"Al, gak boleh begitu" peringat Vero tegas ke arah Alzayn
"Sini Cla ikut opa ya" Vero mengangkat tubuh Clarissa kedalam gendongan nya
"Al jahat Opa hiks" adunya
"cup cup, jangan menangis okay"
"Oma, Ara mau bubur buatan Bunda huwaaa"
"Aduh sayang, oma aja ya yang buatin" Laras mencoba membujuk Chiara sambil mengelus kepalanya
"Gak mau, Ara mau nya buatam bundaaa" gadis kecil itu mulai merengek
"Al, itu punya Abang, kembalikan" sentak Aiden menengadah kan tangannya meminta ponsel yang direbut oleh Alzayn
"Gak mau bwek" ejek Alzayn memeletkan lidahnya kemudian berlari
"Alll, kembalikan" teriak Aiden mengejar sang adik
"Ya tuhan, kapan kamu kembali Ste, mama bisa darah tinggi menghadapi anak-anak kamu" keluh Laras memijit keningnya
Setelah tiga puluh menit berlalu akhirnya mereka bisa melewati sarapan dengan tenang, tidak sih, bukan tenang, tapi tegang.
"Kapan Sandy pulang ma?" ucap Vero sambil menyeruput kopinya
"Besok pa, haduh oma bisa darah tinggi kalau terus-terusan menghadapi anak-anak Sandy dan juga Stella"
"Kamu sendiri kan yang menyetujui buat jaga mereka selama Sandy dan Stella di luar negeri"
"Memang, tapi aku tidak tahu kalau mereka bisa liar seperti itu, selama ini kan yang aku lihat mereka bisa tenang sama Stella, aku cuma bantuin, nah sekarang tanpa ada Stella aku kuwalahan hadapi mereka" Laras menghembuskan nafasnya kasar
"Mereka bertiga akur kalau pas tidur aja" lanjutnya
"Sudahlah ayo kita ajak mereka jalan-jalan, mumpung hari libur kan?"
"Sekalian ajak Moly dan beberapa maid buat jagain mereka disana" lanjut Vero setelah menyeruput kopinya
Laras mengangguk.
__ADS_1
"Anak-anak ayo jalan-jalan sama Oma dan Opa" seru Laras memanggil cucu-cucunya yang sedang menonton TV
Bukan mereka, tapi hanya Aiden dan Alzayn sedangkan Chiara dan Clarissa bermain boneka di atas sofa panjang dengan beberapa maid.
"Ayo Oma, Al mau" jawab Alzayn berseru senang
"Kita mau kemana oma?" tanya Chiara
"Kebun Binatang mau?" tawar Laras
"Mauuuu" kompak ketiganya berseru kecuali Aiden
Ya Aiden kini sudah beranjak remaja, saat ini dirinya sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama, jangan lupakan wajahnya yang semakin terlihat tampan.
"Abang, gendong~" Clarissa merentangkan tangannya ke arah Aiden
"Apa sih yang enggak buat princess Abang" seloroh Aiden menggendong gadis mungil dengan pipi tembem yang beberapa tahun baru masuk sekolah pertamanya, memberikan kecupan di pipinya gemas
"Siapa yang mau digendong opa?"
"Al kan cowok, mau jalan sendiri aja" tolak Alzayn sambil berjalan keluar mansion
Tatapan Vero mengarah ke Chiara, "Ara mau di gendong opa?"
Gadis itu menggeleng, "Tidak opa, Ara jalan sendiri aja"
"Okey, come on" serunya menggandeng tangan mungil sang cucu
***
"Sayang kakek buyut minta kita buat kerumahnya?"
"Dia menelepon?"
"Tidak, tapi bodyguard nya sudah menunggu dibawah"
Sandy menyernyit.
"Sudah lah ayo kita kesana, kasihan kakek buyut pasti kangen sama cucunya"
Sandy dan Stella menempati rumah milik orangtuanya -Laras dan Vero-, sedangkan kakek buyutnya ada di kediaman nya sendiri.
Ya kakek buyut Sandy merupakan orang asli Jerman, itu pula yang membuat Sandy untuk mendirikan anak perusahaan disana.
Dulu Sandy memang tinggal di Jerman, namun ketika umurnya tiga tahun orangtuanya memutuskan untuk pindah ke Indonesia, karena orangtua Laras merupakan asli orang Indonesia, begitu pula kakek buyutnya yang ikut ke Indonesia.
Tapi setelah Sandy dewasa kakek buyut memutuskan untuk kembali ke Jerman.
"Akhirnya cucu menantu ku datang" Tuan Houten berseru menyambut Sandy dan Stella yang baru memasuki kediaman nya
"Bagaimana kabarmu kek?" ujar Stella memeluk sang kakek
"Kakek baik, dimana cucu buyutku?" Tuan Houten menengok ke belakang punggung Stella
"Anak-anak tidak ikut kek, mereka di Indonesia" Sandy menjawab
"Kenapa kau tidak membawa serta mereka?" protes Tuan Houten memukul lengan Sandy dengan tongkatnya
"Maaf kek, anak-anak harus sekolah jadi kami tidak mengajak mereka, lagipula lusa kami sudah kembali ke Jakarta" terang Stella tak enak
"Aku sangat merindukan cucu buyutku" seru Tuan Houten, wajahnya berubah sendu
Stella melirik ke arah Sandy merasa tak enak hati, dia tahu kakek buyutnya merindukan anak-anaknya, terakhir kali kesini waktu usia Alzayn satu tahun, dan sekarang usia Alzayn sudah empat tahun, berarti selama tiga tahun dirinya tidak berkunjung ke Jerman.
"Kalau libur sekolah kita ajak anak-anak liburan disini kek" hibur Stella memegang tangan Tuan Houten yang semakin keriput
Tuan Houten mengangguk.
"Menginaplah disini, temani kakek" ujar Tuan Houten mengelus tangan Stella
Stella menoleh ke arah Sandy, "Awas kalau kamu menolak" ancam Tuan Houten
__ADS_1
Sandy menghela nafasnya, "Baiklah, aku dan Stella akan menginap disini"
"Kakek mau aku buatkan makanan Indonesia?" tawar Stella
"Ah iya, kakek sangat kangen makanan Indonesia"
Stella tersenyum, "Baiklah, Stella akan masak khusus buat kakek"
"Terimakasih cucu menantu ku" Tuan Houten tersenyum seraya mengecup kening Stella
Sepeninggalan Stella...
"Bagaimana proyekmu?"
"Masih 50% kek, belum sepenuhnya selesai, tapi aku sudah mengajukan beberapa kontrak kerjasama dengan beberapa pemilik saham" terang Sandy
"Alvin tidak ikut?"
"Tidak kek, Alvin mengurus perusahaan di Jakarta"
"Serahkan salah satu anak perusahaan padanya, biarkan dia memiliki satu yang akan di turun kan pada anaknya"
Sandy menoleh, "kakek serius?"
Tuan Houten mengangguk, "Dia sudah kakek anggap sebagai cucu sendiri, begitu pula dengan anaknya, bukankah anaknya seumur an Aiden? Setelah dewasa nanti biarkan keduanya yang meneruskan perusahaan itu, kakek yakin dengan kemampuan dua anak itu, kakek bisa melihatnya" Tuan Houten menerawang
"Alvin sudah mempunyai perusahaan sendiri kek, mungkin Daniel yang akan meneruskan nya kelak"
"Tidak masalah, mereka berdua bisa mengatasi" jawab Tuan Houten yakin
"Aiden masih kecil kek" protes Sandy
Tuk!!
"asshhh" ringis Sandy mengelus lengannya yang menjadi santapan empuk tongkat sang kakek
"Siapa yang bilang mereka sudah dewasa, aku juga tahu itu, akan aku serahkan kalau mereka sudah dewasa nanti"
"Ya ya ya terserah kakek saja"
"Aku berharap masih bisa melihat mereka menjadi pemimpin perusahaan kelak" terlihat tatapan sendu dari Tuan Houten
Sandy duduk di samping Tuan Houten, menepuk pundak ringkiknya, "Kakek pasti baik-baik saja, lihatlah kau masih saja nampak muda kek" godanya
"Cucu kurang ajar!"
"Hahaha aku serius kek, kau termasuk manusia langka yang seharusnya mendapatkan gelar rekor muri" Sandy tergelak
Tuan Houten mendengus, tak berapa lama dia menyeringai, "Cucu menantu, maukah kau menemani kakek tidur malam ini, kakek sangat merindukan mu" ucapnya menatap Stella yang sedang menata hidangan di atas meja
Sandy mereda tawanya, kemudian mendelik.
"Tentu kek, Stella akan menemani kakek malam ini"
Sandy membulat kan bola matanya mendengar jawaban sang istri.
"Oh, kau memang cucu menantu ku yang sangat baik sayang"
"Sweety, bagaimana denganku?" protes Sandy
"Kau tidur di kamarmu" jawab Tuan Houten
"Sweety.."
"Hanya semalam sayang, lusa kita kan sudah kembali ke Indonesia" elak Stella merasa tak enak dengan permintaan sang kakek buyut
Sandy mendengus, menatap sang kakek sinis, pasti kakeknya sengaja agad bisa membalas nya.
Sedangkan Tuan Houten menyeringai.
***
__ADS_1
1 Maret 2020
saskavirby