
**✨ Bunda untuk Daddy 🎎
44**
***
Usia kandungan Stella sudah memasuki sembilan bulan. Tinggal hitungan hari dirinya sudah akan melahirkan.
Sandy memutuskan bekerja dari rumah saja, dia ingin menjadi suami siaga ketika tiba-tiba istrinya akan melahirkan.
"Bunda kapan adik bayi lahir?" tanya Aiden sambil mengelus perut Stella
Stella, Sandy dan juga Aiden sedang berada diruang keluarga dengan Stella yang duduk bersender pada sofa.
"Sebentar lagi sayang" Stella mengelus kepala Aiden
"Aiden sayang gak sama adik bayi?" tanya Stella
Aiden mengangguk, "Aiden sayang banget sama adik bayi"
"Adik bayi jangan lama-lama didalam perut Bunda, nanti kakak ajak main" ucap Aiden tepat diperut Stella
Stella dan Sandy tersenyum melihat interaksi antara Aiden dan calon adiknya.
Stella merasakan bayinya menendang, "sepertinya adik bayi juga tidak sabar ingin bermain dengan kak Aiden"
"Benarkah Bunda?"
Stella mengangguk, "ini adik bayi nendang-nendang terus" dia mengarahkan tangan Aiden agar menyentuh perutnya
"Wow dia bergerak Bunda" heboh Aiden senang
"Adik bayi mau main sepak bola ya?" tanya Aiden polos
Kemudian terasa lagi tendangan di tangan Aiden, "wow adik bayi nendang lagi Bunda"
Sandy yang berada disamping kanan Stella mendekat dan ikut mengelus perut istrinya, "Adiknya kan perempuan Aiden, masa' main sepakbola"
"Tapi dia nendang-nendang terus Daddy"
Aiden menempelkan telinganya diperut Stella, terus mengajak adiknya berbicara, sesekali menjawab pertanyaan nya sendiri, seakan-akan itu jawaban sang adik.
Sandy merangkul pundak Stella, mencium pipinya, keduanya tersenyum bahagia melihat Aiden yang sangat antusias dengan kehadiran adiknya.
Begitupula Sandy dan Stella yang sebentar lagi akan menjadi orangtua baru untuk bayinya.
***
Terdengar bunyi dering telepon dimeja, Stella yang awalnya sedang menonton televisi beranjak dari duduknya dan mengambil ponsel yang diletakkan diatas meja.
"Halo Re, ada apa?"
"..."
"Oh iya, benarkah?"
"..."
"Alhamdulillah, selamat ya.. tapi sepertinya aku belum bisa menjenguknya" terlihat raut wajah Stella yang berubah sendu
"..."
"Terimakasih Re, aku janji akan kesana"
"..."
Setelah mematikan sambungan telepon, Stella membuka aplikasi diponselnya, terdapat chat masuk dari Rega.
Disana terdapat foto bayi mungil laki-laki yang sangat menggemaskan, itu merupakan foto buah hati Rega dan juga Intan, yang satu jam lalu sudah lahir kedunia.
Sebulan setelah menikah Intan dinyatakan positif hamil, benar-benar tok cer benih yang ditanam Rega.
__ADS_1
Intan dan Stella sering bertukar kabar, Intan sering menanyakan banyak hal tentang kehamilan kepada Stella, dan kini Intan telah benar-benar menjadi seorang ibu.
Stella mengelus perut buncitnya, "lihat sayang, anak aunty Intan sudah lahir, kamu akan punya teman lagi"
Stella mengetikkan sesuatu pada ponselnya membalas chat Rega. Menunggu balasan dari Rega.
Ponselnya kembali berbunyi tanda chat masuk.
Stella kembali mengelus perutnya, "nama sepupu kamu Galang sayang"
"Bunda jadi tidak sabar menunggu kamu lahir"
Malam harinya terlihat Sandy , Stella dan juga Aiden sedang makan malam.
"Sayang, Intan sudah melahirkan" ucap Stella memecah keheningan
"Benarkah?"
"Adik bayi Aunty Intan sudah lahir Bunda"
"Iya sayang, anaknya cowok kaya' Aiden"
"Namanya siapa Bunda?"
"Namanya Galang" beralih menatap Sandy
"Besok kita ke Surabaya ya sayang, aku pengen nengok anaknya Intan"
"Bagaimana kandungan kamu sayang, dokter bilang sebentar lagi kamu juga akan melahirkan, aku tidak mau mengambil resiko"
Stella menekuk wajahnya.
Sandy menggenggam tangan Stella, "aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk padamu dan juga anak kita sayang" ucapnya lembut
"Kita akan mengunjungi nya saat baby sudah lahir oke"
Stella mengangguk lesu.
***
Laras dan Vero sangat antusias menunggu cucu keduanya lahir yang diperkirakan berjenis kelamin perempuan.
"Sayang bagaimana keadaan kamu?" Laras merengkuh tubuh Stella dalam pelukan nya
"Baik ma, mama bagaimana?"
"Mama juga baik, bagaimana kabar cucu mama?" Ucapnya mengelus perut Stella
"Dia tidak sabar untuk bertemu Oma nya" jawab Stella tersenyum
Laras ikut tersenyum, menuntun Stella untuk duduk di sofa ruang keluarga.
"Mama dengar cucu Ayu sudah lahir ya?"
"Iya ma, Intan sudah melahirkan dua hari yang lalu, anaknya laki-laki"
Laras mengangguk, "mama dengar dari grup arisan mama, rencananya teman arisan mama akan ke Surabaya untuk menjenguk cucu Ayu"
"Mama ikut?"
Laras mengendikkan bahu, "mama belum tahu sayang, mama khawatir sama kamu, sebentar lagi kamu melahirkan, mama gak mau meninggalkan kamu sendirian"
Stella tersenyum, menepuk tangan Laras, "Ma, Stella gak sendirian, ada Sandy, Aiden, papa, Alvin, Moly dan yang lainnya ma, kalau mama mau ke Surabaya Stella tidak keberatan ma, sungguh"
Laras menghembuskan nafasnya, "mama tidak ingin melewatkan kehadiran cucu mama ke dunia"
Stella tersenyum maklum atas kekhawatiran Laras.
"Terimakasih ma"
"Untuk apa?" Protes Laras
__ADS_1
"Karena sudah menganggap Stella seperti anak mama sendiri"
"Kamu memang anak ku Ste" keduanya tersenyum dan saling memeluk
"Auwh" ringis Stella merasakan gerakan didalam perutnya
"Kenapa?"
"Dia nendang ma" jawabnya mengelus perutnya
"Hallo sayang, ini oma, oma tidak sabar untuk ketemu cucu mama yang cantik" Laras berucap sambil menyentuh perut Stella
Terlihat gerakan didalam perut Stella, tidak menendang, mungkin sang jabang bayi menggeliat didalam sana.
Laras dan Stella tersenyum merasakan digerakkan ditelapak tangannya.
Malam harinya entah mengapa Aiden meminta untuk tidur bersama sang Bunda, hal itu sudah pasti ditolak mentah oleh Sandy.
"Aiden, kamu tidur dikamar kamu sendiri"
"Bunda, Aiden mau tidur sama Bunda" rengeknya menampilkan puppy eyes nya
Sandy memutar bola mata malas, "sebentar lagi kamu jadi kakak Aiden, jangan manja"
"Bundaa" rengek Aiden
"Aiden tidur dengan oma ya" Laras membuka suara
"Tidak mau oma, Aiden mau tidur sama Bunda" mata Aiden bahkan berkaca-kaca
"Iya sayang, Aiden boleh kok tidur sama Bunda, sepertinya adik bayi juga pengen tidur dengan kakaknya" Stella mengelus rambut Aiden
Sandy mendengus kesal mendengar jawaban Stella.
"Horeee" seru Aiden senang
"Sudahlah, sekali-kali mengalah dengan anak sendiri" Vero menepuk lengan Sandy
"Aiden hati-hati ya, ada adik didalam sini" ucap Stella mengelus perutnya saat sudah berbaring dengan Aiden disampingnya
"Iya Bunda, Aiden gak akan menyakiti adik bayi"
"Jangan sampai menendang perut Bunda" peringat Sandy menatap sebal kearah Aiden yang tidur ditengah-tengah dirinya dan juga Stella
"Iya Daddy!"
"Bunda Aiden boleh berbicara dengan adik bayi" Aiden mendongak menatap Stella
"Boleh dong"
Aiden bangkit dan duduk, wajahnya dicondongkan keperut Stella.
"Hallo adik bayi"
Telinganya ditempelkan pada perut Stella.
"Jangan lama-lama diperut Bunda, nanti kakak ajak main oke" bisiknya
Kemudian dia kembali menempelkan telinganya diperut Stella, seakan sang jabang bayi menjawab pertanyaan nya.
Stella dan Sandy saling lirik melihat interaksi Aiden dan calon adiknya.
"I love you adik bayi" ucapnya mengecup perut Stella
Setelah menempel kan telinga di perut Stella, seakan sang adik menjawab 'i love you too kak Aiden' Aiden kembali berbaring disisi Stella.
"Kamu bicara apa dengan adik bayi?" Tanya Sandy penasaran
"Rahasia, Daddy tidak boleh tahu, ini antara aku dan adik bayi" jawab Aiden kemudian memunggungi Sandy dan memeluk Stella
Sandy menyernyit, menatap Stella yang menggeleng kan kepalanya tanda tidak tahu.
__ADS_1
Sandy menghela nafasnya, mengecup kening Stella dan juga Aiden, kemudian merebahkan tubuhnya untuk tidur.
***