Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 47


__ADS_3

Tiada yang lebih berharga di bandingkan keluarga, sejauh apapun kita melangkah, sejauh apapun kita pergi, keluarga lah tempat kita pulang.


Kebahagiaan tak terhingga adalah ketika kita bisa berkumpul dengan keluarga.


Seperti yang di rasakan keluarga Stella saat ini, dua hari yang lalu Sandy mengajak keluarga kecilnya untuk mengunjungi orangtua Stella yang tinggal di Bandung.


Dan keesokan harinya Intan beserta keluarga kecilnya juga berkunjung kesana, jadilah acara kumpul keluarga yang tidak di rencanakan.


Disinilah mereka sekarang, dirumah besar milik keluarga Ghani, sebenarnya rumah mewah ini adalah pemberian dari Sandy untuk mertuanya.


Meskipun awalnya Ghani beserta istri sangat menolak pemberitahuan dari Sandy, tapi Stella dan Intan berhasil membujuk orangtuanya untuk menerima pemberian dari menantunya.


Percuma mempunyai dua menantu kaya raya kalau tidak bisa membelikan rumah mewah untuk mereka.


Namun sebenarnya Stella juga agak ragu kalau orangtuanya akan menerima, karena dia jelas mengenal siapa kedua orangtuanya, sangat sungkan untuk menerima pemberian dari orang lain.


"Kamu tidak kerja nak?" Ucap Ghani menatap kearah Sandy yang sedang meminum kopinya


"Sandy cuti tiga hari yah, hanya memantau saja dari sini"


"Ayah dengar kamu buat anak perusahaan di Jerman?"


"Iya yah, baru rencana"


Ghani tampak mengangguk.


"Rega gak libur Tan?"


"Enggak mbak, sedang ada meeting penting hari ini di kantor"


"Kamu kapan ke Jakarta?"


"Belum tahu mbak, biasanya kita kesana pas ada kunjungan kerja di pusat"


"Tante Ayu pasti kangen sama cucunya"


"Iya mbak, mama yang lebih sering ke Surabaya jengukin cucunya" Intan tersenyum


"Aunty, baby boy minta minum ini" Aiden berseru sambil mengangkat jus di gelasnya


Intan beranjak menghampiri, "kamu mau ya sayang, sebentar ya mama ambilkan" ucapnya mengelus pipi tembam bayi laki-laki itu


"Ara mau?" Ucap Aiden mengangkat gelasnya didepan Chiara


"Auuu" jawab bayi mungil itu


"Boleh Bunda?" Aiden mendongak menatap Stella


"Boleh sayang, pelan-pelan ya nyuapin adiknya"


"Iya Bunda"


Aiden mengambil sendok, menyuapi Chiara dengan jus buah naga yang tadi sempat Stella buatkan.


"Auu" serunya meraih gelas Aiden


"Sebentar adik kecil, gantian ya" jawab Aiden menjauhkan gelasnya dari jangkauan bayi laki-laki berpipi gembul itu


Kemudian Aiden mulai menyuapi keduanya bergantian.


"Eh, udah di suapin kak Aiden ya" Intan datang dengan segelas jus di tangannya


"Gapapa Aunty, ini buat mereka aja, nanti Aiden ambil lagi" balas Aiden


"Makasih ganteng" Intan mencubit pipi Aiden gemas


"Mbak Ste udah ziarah ke makam ayahnya mas Hari?" Intan bertanya menolak kearah Stella yang duduk di sampingnya sambil mengawasi anak-anak nya


"Belum Tan, mungkin besok, skalian ke makam Rafa dan mas Hari, kamu kau ikut?"


Intan menggeleng, "gak deh mbak, kaya' nya besok aku udah balik ke Surabaya"


"Kenapa cepet banget?"


"Itu mbak, tadi mas Rega kirim pesan mau ke Dubai lusa, ada rapat dadakan disana"


"Kamu ikut?"

__ADS_1


"Iya mbak, mas Rega maksa aku buat ikut"


Stella mengangguk, "ya sudah kamu hati-hati"


"Iya mbak"


***


Sudah seminggu Stella dan juga Sandy menghabiskan waktu di Bandung, tepatnya di rumah kedua orangtua Stella, kini mereka telah kembali ke Jakarta.


"Sayang, kita ke makam Rafa yuk, sama maminya Aiden juga" ujar Stella sambil menaruh secangkir kopi di meja kerja Sandy


"Boleh, tapi besok minggu aja ya, kerjaanku lagi banyak Ste"


Stella tersenyum, "iya gapapa, aku paham kok, kamu harusnya kasih cuti buat Alvin"


Sandy mengangkat salah satu alisnya.


"Kamu tinggal seminggu dia yang pegang kerjaan kamu kan? Pasti dia kuwalahan banget itu, makanya kasih dia cuti biar bisa punya waktu sama keluarga"


Sandy menarik pinggang istrinya agar duduk di pangkuan nya.


"Iya sayang, kalau sudah selesai proyeknya aku bakal kasih dia cuti liburan ke luar negeri, sekalian aku belikan tiketnya, gimana? Hem."


Stella tersenyum, "bagus itu" jawabnya mencium pucuk hidung Sandy


"Gimana butik kamu?"


"Aku serahin sama Jery dan Sari, sekarang Sari sudah bisa mendesain baju, masih belajaran lah, di bimbing sama Jery"


"Kamu gak pengen kerja lagi kan?" Sandy berucap sambil menyerukkan kepalanya di leher Stella


"Emangnya boleh?"


"Enggak!"


"Ish, ngapain di tanya kalau gak boleh"


"Aku mau kamu fokus sama keluarga, biar aku yang kerja banting tulang buat kamu dan anak-anak, kamu cukup diam di rumah, ngurus aku dan anak-anak"


"Sandy!" Ancam Stella saat merasakan lidah Sandy bermain-main di lehernya


"Kamu belum selesai?"


"Belum"


Sandy menarik diri, "berapa lama lagi?" Ucapnya frustasi


Stella terkikik, mengelus rahang tegas suaminya, "sabar ya sayangku, masih dua hari lagi" ucapnya mengecup singkat bibir Sandy


"Huh, aku lebih suka jika kamu hamil Hon"


Stella menyernyit, "kenapa begitu?"


"Kalau kamu hamil kan gak ada tangga merah" ujar Sandy menyengir


"Kamu ih, mesum" sentak Stella memukul dada Sandy


Sandy tergelak, "beneran sayang, aku seneng loh, bisa olahraga malam tiap hari"


Stella melotot, Sandy semakin terbahak.


"Hamil lagi lah Ste" pinta Sandy memelas


"Enggak!"


"Kamu gak kasihan sama aku main solo terus tiap kamu dapat tamu"


"Sandy apaan sih, kenapa kamu vulgar gitu sih ngomong nya"


"Aku ngomong serius lho ini"


"Terserah, aku gak peduli" Stella hendak beranjak, namun pinggang nya kembali di tarik Sandy


"Tuh lihat, kamu ngerasain kan?" Godanya


"Sandy!" Pekik Stella terlonjak, reflek dirinya berdiri saat pantatnya merasakan sesuatu yang mengeras

__ADS_1


Sandy tergelak melihat wajah istrinya yang memerah karena malu.


***


Hari Minggu seperti janjinya, Sandy mengajak istri dan kedua anaknya untuk ziarah ke makam.


"Ini makam adik Rafa bun?" Tanya Aiden sambil berjongkok mengikuti Stella


Maklum ini pertama kalinya Aiden berkunjung ke makam setelah Stella resmi menjadi ibunya.


"Iya sayang, hallo Rafa sayang, maafkan Bunda baru sempat kesini ya, kenalkan ini abang kamu, namanya Aiden" seru Stella memegang pundak Aiden


"Kamu punya adik bayi lagi sayang, namanya Ara, dan juga Daddy baru juga" Stella tersenyum mendongak kearah Sandy yang berdiri sambil menggendong Chiara


"Hallo adik Rafa, aku Abang Aiden, aku pasti jagain Bunda kok, kamu tenang ya disana" ujar Aiden polos sambil menaburkan bunga di pusara Rafa


"Sayang, kaya' nya Ara gak nyaman disini" ujar Sandy


Stella bangkit, "Ara kenapa sayang?" Ucapnya mengintip wajah Chiara yang disembunyikan di dada Sandy


"Disini ada hantu ya Ra?" Aiden ikut berdiri dan menatap sekeliling


"Aiden, jangan ngomong begitu, mana ada hantu disini" sahut Sandy


"Terus kenapa Ara sembunyi gitu Dad?"


"Princess, are you okay?" Ucap Sandy mengintip wajah Chiara


"Ya sudah sini Ara sama Bunda aja, kita ke mobil ya, biar Daddy sama kak Aiden yang lanjutin ziarah nya" bujuk Stella meraih Chiara dari gendongan Sandy


Namun gadis kecil itu malah melingkarkan tangannya pada leher Sandy dengan erat, seraya menyerukkan kepalanya di dada Sandy sambil menggeleng.


"Ara disini tidak ada hantu, ini masih siang" ucap Aiden


"Mau ke mobil sama Daddy?" Tanya Sandy


"Yes" jawab Chiara pelan


Sandy mengangguk menatap Stella.


"Ya sudah Ara ke mobil dulu sama Daddy, nanti Bunda sama kak Aiden nyusul ya" Stella mengelus punggung Chiara, dan gadis kecil itu mengangguk


"Kamu hati-hati sayang, aku bawa Ara ke mobil dulu" Sandy mengelus lengan Stella kemudian beranjak membawa Chiara keluar dari makam


Entah apa yang gadis kecil itu lihat, padahal sewaktu masuk ke pemakaman dia baik-baik saja, tapi waktu berada di makam mendiang Rafa tiba-tiba dia menyembunyikan wajahnya di dada Sandy.


"Bunda, apa disini ada hantu?"


"Hantu itu tidak ada sayang" Stella mengelus kepala Aiden


"Apa hantu adik Rafa muncul Bunda, makanya Ara jadi takut"


"Kalau adik Rafa ada disini, Aiden takut gak?" Goda Stella


"Aiden kan cowok, pemberani, jadi tidak boleh takut sama hantu" ucapnya yakin


Stella tersenyum, "ayo kita ke makam mami kamu"


Uluran tangan Stella di terima Aiden.


"Ayo Bunda"


***


Maafkan aku yg lama up, sumpah pikiran lagi stuck, bingung buat alur cerita selanjutnya.


Haraf maklum dan bersabar ya reader.


Aku gak bermaksud PHP kok, cuma lagi bingung aja nyari referensi kelanjutan Stella dan Sandy


Terimakasih untuk kalian yang masih setia nungguin cerita ini.


🙏🙏🙏


28 Februari 2020


Saskavirby

__ADS_1


__ADS_2