
Rega berjalan memasuki kantornya, dia tersenyum kecil dan mengangguk saat beberapa karyawan menyapanya. Sebelum masuk ke dalam lift, tiba-tiba seorang wanita menghampirinya.
"Selamat pagi, Pak Rega," sapa seorang wanita dengan senyuman lebarnya.
Rega menoleh. "Pagi," jawabnya tersenyum tipis.
"Pak Rega mau saya buatkan kopi?" tawar sang wanita.
"Tidak."
"Pak Rega mau saya pesankan sarapan?"
"Tidak."
"Pak Reg –"
"Tidak!" sela Rega menatap wanita di hadapannya. "Siapa nama kamu?"
"S-aya, Pak?" tunjuk wanita itu pada dirinya sendiri.
Rega mengangguk.
"S-aya, Intan, Pak," jawab wanita bernama Intan itu gugup. Dia adalah karyawan pindahan dari Bandung, dan juga adik tiri dari Stella, serta wanita yang tergila-gila akan sosok Rega yang notabene adalah bos besarnya.
"OG?" tanya Rega datar.
Intan menggeleng. "Bukan, Pak, saya bagian divisi keuangan," jawabnya menyengir.
Rega masih memperhatikan wanita di hadapannya. "Lalu?"
Intan menatap bingung, bingung akan pertanyaan yang Rega berikan, dia hanya mampu berkedip-kedip.
"Lalu untuk apa menawariku? Bukankah itu pekerjaan OG dan OB?" ujar Rega masih dalam suara datar.
Intan menyengir. "Untuk Bapak, saya sanggup merangkap sebagai OG," tanggapnya.
Rega mengerutkan dahinya, wanita macam apa yang ada di hadapannya ini.
Ting!
Pintu lift terbuka, Rega segera masuk. Tak mau melewatkan kesempatan, Intan ikut masuk ke dalam lift, yang membuat beberapa karyawan terkejut dengan aksinya yang sangat berani terhadap bosnya.
Selama di dalam lift, kedua sudut bibir Intan terus saja tertarik ke atas, dirinya gugup dan juga senang berada di dalam lift yang sama dengan bosnya, beberapa kali dirinya bercermin pada kaca lift untuk memperhatikan penampilannya.
Hal itu tak luput dari tatapan Rega, dasar wanita aneh, pikirnya, tak sadar ujung bibirnya terangkat ke atas.
Ting!
Pintu lift terbuka, Rega keluar dan berjalan menuju ruangannya, namun Intan masih terus mengekor padanya.
Intan yang berjalan menunduk tak sadar kalau Rega berhenti sehingga kepalanya membentur punggung lebar Rega.
"Auwww," pekik Intan menyentuh keningnya. "Kalau ngerem jangan mendadak dong, Pak! Bisa benjol kening saya, huh," sambungnya bersungut, seraya meniup poninya.
Sebelah alis Rega terangkat, menatap Intan dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Kau mengikutiku, eh?"
Intan bersungut. "Hah? Mana ada, saya enggak ngikutin Bapak, saya mau ke ruangan saya," bantahnya.
__ADS_1
"Devisi keuangan lantai berapa?" tanya Rega tenang.
"Lantai tiga, kenapa?" tantang Intan bersendekap dada.
Rega mendesah lelah. "Lalu?"
Intan bingung, kemudian matanya menelisik sekitar, dia terkejut melihat keadaan sekitar yang tidak sama dengan lantai dimana dia bekerja.
Rega menaikkan sebelah alisnya melihat respon terkejut dari Intan.
Intan menyengir. "Hehe, maaf, Pak," ucapnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Dia berdehem. "Saya permisi, Pak, kalau butuh bantuan, panggil saya saja, oke," tambah Intan mengedipkan sebelah matanya, kemudian berbalik menuju lift dengan bersenandung ria.
Rega geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd karyawan barunya itu. Berjalan menuju ruangannya, kedua ujung bibirnya terangkat.
"Gadis gila," gumamnya pelan.
***
Tak seperti biasanya, hari minggu ini Intan habiskan di rumah Stella. Dia memperhatikan Stella yang tengah berkutat dengan panggangan.
"Mbak, Ste, dulu Mbak sama Mas Hari bagaimana bisa bertemu?" tanya Intan yang duduk di pantry.
"Dulu kita teman sekampus."
Intan mengangguk-angguk. "Dulu, yang menyatakan cinta, Mbak duluan atau Mas Hari duluan?"
Stella berhenti dari kegiatannya, memperhatikan wajah adiknya. "Mas Hari, dong, masa' cewek nembak duluan?" tanggapnya.
Intan menerawang. "Kalau Intan nembak duluan gimana ya, Mbak?"
Intan menghela nafasnya. "Bos Intan itu orangnya cuek banget, Mbak, aku enggak yakin kalau dia suka sama aku," ucapnya sedih.
"Kenapa begitu?"
"Mungkin aja, kalau Intan bilang suka sama dia, dia bakal luluh sama Intan," ujar Intan terkekeh.
Stella mengambil duduk di depan Intan. "Memangnya kamu nggak malu kalau di tolak?"
Punggung Intan menegang. "Ihh, Mbak kok doanya gitu?"
"Mbak enggak doain, andai saja, 'kan kamu harus mikir sisi buruknya juga."
Intan nampak berfikir. "Iya juga ya? Eh, tapi gapapa, kalau di tolak Intan bakal nembak lagi," tanggapnya terkikik.
Stella menggelengkan kepalanya heran. "Mbak cuma nggak mau, adik Mbak yang cantik ini nangis gara-gara di tolak cowok," ucapnya mencubit pipi Intan.
Intan mengerucutkan bibirnya. "Makanya Mbak doain, supaya bos Intan yang ganteng itu mau nerima Intan jadi pacarnya," balasnya dengan raut wajah yang sumringah.
Stella beranjak dari duduknya. "Iya, Mbak doain semoga bos kamu mau nerima kamu."
"Aminnn," Intan mengusap wajah dengan kedua tangannya.
***
"Selamat pagi, Pak Rega?" lagi, keesokan harinya Intan menyapa bos gantengnya itu.
__ADS_1
"Pagi," jawab Rega datar.
"Bagaimana tidurnya semalam, Pak? Nyenyak?" tanya Intan yang mengikuti langkah Rega yang menuju lift.
Rega mengangguk saja. "Hm."
"Ini untuk Bapak," ucap Intan menyerahkan bungkusan berisi kue.
Rega menyernyit. "Tidak, terimakasih," tolaknya.
Intan menyerahkan bungkusan itu dengan paksa di tangan Rega. Kemudian keluar dari lift yang ternyata sudah berhenti di lantai tiga. Dia berbalik menatap Rega, melambaikan tangan sebelum pintu lift tertutup sempurna.
Rega memperhatikan bungkusan yang diberikan Intan di atas meja. Perlahan dia membukanya, ternyata beberapa potongan kue yang disimpan dalam kotak makan.
Ragu, antara mencicipi atau tidak, kata hati menolak menyentuhnya, namun tangannya seakan bergerak sendiri mengambil potongan kue itu dan memasukkan ke dalam mulut.
Rega berhenti mengunyah, rasa kue ini tidak asing di lidahnya, sepertinya dia pernah memakannya, tapi dimana?
Lagi, Rega mengambil potongan kue dan memakannya, hingga kue itu benar-benar habis.
Pikiran Rega masih berkelana berusaha mengingat dimana pernah memakan kue seperti ini. Hingga tiba-tiba dia teringat satu nama.
"Stella," gumamnya.
Rasa kue ini sama persis dengan kue buatan Stella, beberapa kali waktu dirinya ke rumah wanita itu atau ke butik, Stella memberikan kue ini. Bagaimana bisa wanita itu punya kue yang sama persis dengan buatan Stella, pikirnya.
Karena kue yang baru saja dia makan, dia jadi teringat dengan Stella, Rega tersenyum, kemudian mengambil ponsel guna menelepon Stella.
***
Jam menunjukkan pukul lima sore, waktunya bagi Stella menutup butik dan pulang ke rumah. Baru saja mengunci pintu suara Rega menyambutnya.
"Jadi pulang bareng?"
Stella mengangguk.
Stella menyanggupi pulang dengan Rega, karena merasa tidak enak sewaktu menolak ajakan Rega makan siang.
Rega membukakan pintu untuk Stella, dan kemudian mobil itu berjalan meninggalkan halaman parkir butik.
Intan yang berjalan di trotoar tak sengaja melihat mobil Rega melintas, senyumnya memudar kala mengetahui di dalam mobil Rega ada seorang wanita. Dia menunduk lesu. "Kapan aku bisa duduk di samping kemudinya?" gumamnya pelan.
Sementara di dalam mobil, Stella tak sengaja melihat Sandy yang sedang berjalan beriringan dengan Fara, dengan Fara yang bergelayut manja di lengan Sandy. Entah kenapa tiba-tiba dia merasakan sesak di dadanya. Stella terus memperhatikan dua sejoli itu, bahkan sampai posisinya menengok ke belakang.
"Kamu lihat apa, Ste?" tanya Rega membuat Stella tersadar.
Stella menggeleng. "Bukan apa-apa."
"Kamu yakin?"
Stella mengangguk, tersenyum meyakinkan Rega.
Stella menghembuskan nafas pelan, merasa bingung dengan perasaannya sendiri, kenapa dia harus merasa kesal melihat Sandy bersama wanita lain, yang notabene adalah calon istri Sandy? Kenapa sekarang dirinya merasa tidak suka Sandy dekat wanita lain?
Astaga, dia merasa seperti menjadi pelakor sekarang, apa bedanya dia dengan yang diucapkan Fara waktu itu. Stella menggelengkan kepalanya pelan, tidak, dia tidak boleh suka dengan Sandy.
Sementara itu, Rega melirik tingkah aneh dari wanita di sampingnya, dia tahu, terjadi sesuatu dengan Stella, namun apa daya jika Stella tidak berniat menceritakan, dirinya juga tidak bisa memaksa.
__ADS_1
...***...