Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)
eps 14


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu, acara camping sudah selesai, beberapa murid dijemput mobil mereka masing-masing.


Stella yang sudah dikabari Laras, agar dirinya membawa Aiden singgah di villa pribadinya pun menuju villa menggunakan taxi.


Laras bilang, Pak Udin yang akan menjemputnya di sana, karena kalau menunggu di tempat camping akan lama, jadi Laras menyarankan agar menunggu di villa saja.


Villa milik keluarga Van Houten tidak terlalu jauh dari lokasi Aiden camping.


Sandy yang kebetulan baru pulang dari luar kota bermaksud menghubungi Laras menanyakan keberadaan Aiden.


Sandy mengetahui bahwa Aiden hari ini jadwal pulang dari acara campingnya, dia bermaksud menjemput.


"Halo, Ma. Aiden dimana?"


"Aiden masih di puncak, kenapa, San?"


"Biar Sandy yang jemput."


"Pak Udin sudah jalan, San."


"Suruh Pak Udin putar balik, Ma."


"*Ya sudah, biar Mama telepon Pak Udin."


"Oh ya, Aiden menunggu di villa, San*."


"Iya, Ma."


Sandy sampai di villa saat hari sudah malam, sengaja dia mengendarai mobilnya sendiri, tidak dengan Alvin.


Ketika mobil sudah sampai di depan villa, Sandy langsung masuk ke dalam dan mencari Aiden, dia melihat sekitar, beberapa lampu sudah di matikan, mungkin sudah tidur, pikirnya.


Sandy melangkah menuju kamar yang biasa digunakan dirinya tidur dengan Aiden.


Membuka pintu perlahan, sinar temaram yang menyapanya, mendekati Aiden yang tengah terlelap, dia mencium keningnya, memperhatikan wajah sang anak yang damai dalam tidurnya.


Mengalihkan tatapannya ke samping, hampir saja Sandy terlonjak saat melihat Stella di sana. Tidur di atas ranjang yang biasa dia tempati saat menginap bersama Aiden di puncak.


Dia tidak sempat melihat tadi, karena lampu kamar sudah di matikan, hanya menyisakan lampu tidur kecil yang minim penerangan.


Sandy beralih ke sisi lainnya memandangi wajah Stella yang terlelap damai, tak terasa sudut bibirnya terangkat, Sandy menaikkan selimut sampai batas leher Stella.


Dia tidak tahu kalau Stella yang menemani Aiden camping, dia pikir Laras yang menemani.


Stella yang merasakan adanya pergerakan membuka matanya, dan terkejut melihat bayangan orang di depannya, bahkan sangat dekat, terlintas di pikirannya, yaitu maling.


Stella beranjak, meraih bantal, dan segera memukul-mukul sang maling.


"Maling... Ma — hemp," teriakannya terhenti ketika mulutnya dibungkam sebuah tangan.


Sandy menarik pinggang Stella dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan membekap mulut Stella agar tidak berteriak.


"Hstt ini aku, Sandy, Ste," ucap Sandy pelan, tepat di depan wajah Stella.


Stella terkejut, mata yang awalnya melotot melihat maling, semakin melebar kala Sandy yang berada di depannya.


Jarak keduanya sangat dekat, hanya tersekat oleh kedua tangan Stella yang berada di antara dada keduanya, tangan kiri Sandy masih memeluk pinggang Stella.


Cukup lama keduanya dalam posisi itu, dengan manik mata yang saling menatap, serta getaran dalam dada yang semakin meningkat. Perlahan Sandy melepaskan tangan yang membekap mulut Stella, meneliti setiap inci wajah Stella yang terlihat sangat cantik jika di lihat sedekat ini.


Stella tersadar dan memundurkan tubuhnya, dia menunduk malu, wajahnya terasa terbakar, untung cahaya lampu tidak begitu terang, sehingga rona merah di pipinya tidak akan terlihat oleh Sandy.


"Maaf," cicitnya penuh sesal.


Sandy berdehem menetralkan kegugupannya. "Ya,"


***

__ADS_1


Keduanya kini duduk di sofa dengan tv yang menyala di hadapannya. Tidak ada pembicaraan sama sekali, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Sampai suara Sandy memecah keheningan.


"Aku kira Aiden camping dengan Mama."


Stella menoleh.


"Mama tidak bilang kalau kau yang menemani Aiden," ucap Sandy ikut menoleh.


Stella tersenyum. "Iya, Aiden yang memintaku."


"Pasti dia memaksamu," tebak Sandy terkekeh.


"Iya," jawab Stella ikut tersenyum.


Sandy kembali menoleh ke arah Stella. "Apa kau keberatan kalau kita pulang besok pagi? Jujur, aku sangat lelah, sepulang dari luar kota aku langsung ke sini."


Sandy menghela nafas. "Aku kira Mama yang menemani Aiden, jadi aku berencana untuk istirahat dulu di sini, besok baru kembali ke Jakarta. Ternyata Aiden justru memaksamu," sambungnya terkekeh.


Stella bisa melihat wajah lelah Sandy. Dia mengangguk. "Iya, aku tidak keberatan."


***


"Daddy... Daddy ..."


Duk duk duk


Pagi-pagi sekali Aiden menggedor pintu kamar Sandy guna membangunkannya.


Tak ada sahutan, Aiden langsung membuka pintu dan menghampiri sang Ayah yang masih terlelap di balik selimut.


Aiden mengguncang tubuh Sandy, menarik-narik tangannya. "Daddy, wake up. Daddy, wake up Daddy."


Sandy terbangun membuka sedikit retina matanya. "Five minutes, oke."


Aiden menggeleng. "No, Dad."


Aiden mengerucut sebal, kemudian meninggalkan Sandy yang melanjutkan tidurnya.


"Bunda, Daddy tidak mau bangun," adu Aiden menghampiri Stella di dapur.


"Ya sudah, biarkan dulu Daddy istirahat, Aiden sarapan sama Bunda saja ya?" ajak Stella diangguki Aiden.


Sudah setengah jam berlalu, tapi Sandy tak juga keluar dari kamarnya, bahkan Stella dan Aiden sudah menyelesaikan sarapannya.


Stella melirik jam di dinding. "Katanya ngajak pulang pagi, lah ini malah belum bangun," gumamnya pelan.


"Bunda, Daddy panas Bunda," Aiden berlari menghampiri Stella yang tengah duduk di sofa depan tv.


Stella segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar Sandy sambil menggandeng Aiden.


Meletakkan punggung tangan di dahi Sandy. "Panas sekali," ucapnya.


Stella berjalan ke dapur mengambil baskom, mengisinya dengan air dingin serta mengambil sapu tangan.


Dia duduk di sisi ranjang dan mulai mengompres dahi Sandy, Sandy sempat terbangun merasakan benda basah menempel di dahinya.


"Tidurlah, kau sedikit demam," ucap Stella, membuat Sandy kembali memejamkan matanya.


"Aiden, bisa bantu Bunda?" Stella beralih menatap Aiden yang duduk di atas kasur di samping Sandy.


"Ya, Bunda?"


"Aiden kompres Daddy seperti ini ya, nanti kalau terasa panas celup lagi di sini, di peras dulu, terus tempel di dahinya Daddy," ucap Stella menjelaskan cara mengompres pada anak berumur lima tahun itu.


"Bunda ke dapur dulu buatin Daddy bubur," sambungnya.


"Iya, Bunda," jawab Aiden mulai menyentuh kain di dahi Sandy.

__ADS_1


*


Tak berapa lama Stella kembali ke kamar dengan membawa nampan di tangannya.


"San, Sandy." Stella mengguncang lengan Sandy pelan.


Sandy membuka matanya.


"Sarapan dulu," ucap Stella menyerahkan mangkok berisi bubur.


Sandy mengangguk, kemudian bangun menyenderkan kepalanya pada kepala ranjang.


Tidak ada adegan di suapi, Sandy memakan buburnya sendiri. "Kau dan Aiden sudah makan?" tanyanya.


"Sudah tadi," jawabnya. "Aiden mengantuk ya?" tanya Stella beralih menoleh ke arah Aiden yang beberapa kali menguap.


"Iya, Bunda," jawab Aiden dengan mata terkantuk-kantuk.


"Aiden tidur di sini saja, di samping Daddy," Sandy berucap sambil mengelus kepala Aiden.


Aiden mengangguk, dan mulai berbaring memejamkan matanya.


"Sepertinya dia kelelahan," ujar Sandy menoleh ke arah Stella.


"Sepertinya kau juga," jawab Stella membuat Sandy tersenyum.


***


Stella tertidur di sebelah Sandy, dengan posisi duduk di lantai, kepala ditumpukan pada kedua lengannya.


Sandy merasakan benda jatuh dari dahinya, dia terbangun melihat sapu tangan kompresan yang ternyata terjatuh.


Kemudian dia beralih menatap Stella yang tertidur, kedua ujung bibirnya terangkat, Stella memang wanita yang luar biasa baik, dia rela dirinya yang bukan siapa-siapa.


Kemudian Sandy beralih menatap Aiden yang tertidur di sampingnya. Dia merasa mempunyai keluarga yang utuh. Ada dirinya, Aiden dan juga ... Stella.


Sandy melihat gerakan Stella yang akan terbangun, dia kembali menutup matanya, pura-pura tidur.


Stella mengucek matanya, melihat kompresan Sandy yang jatuh, dia bangkit dan merendamnya ke dalam baskom. Kemudian membungkuk guna memasang kan kompresan di dahi Sandy.


Saat akan beranjak tiba-tiba Sandy memegang tangannya, dan membuka matanya.


Stella terkejut melihat Sandy terbangun, lebih lagi posisinya begitu dekat dengan Sandy, bahkan nafas hangat Sandy mengenai wajahnya. Merasakan gelenyar aneh di tubuhnya, mendadak jantungnya bergedup kencang melihat kedua manik mata itu menatapnya.


Sandy tahu saat ini Stella tengah gugup, dia menahan tawanya ketika mendengar degup jantung Stella yang begitu cepat.


"Terimakasih, Stella," ucap Sandy tulus, menatap wajah wanita di hadapannya yang bersemu.


"I-iya," jawab Stella gugup.


Sandy melepaskan tangan Stella, kesempatan itu di ambil Stella untuk segera pergi dari sana.


Sandy tersenyum geli melihat tingkah Stella, bahkan dia melihat rona merah di wajah Stella. "Kenapa kau sangat menggemaskan, Stella," gumamnya pelan, dengan kedua sudut bibir yang terangkat.


Sedangkan di sisi lain. Stella bersender pada pintu kamar setelah menutupnya, menyentuh dadanya yang bergemuruh, menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.


'Perasaan apa ini? kenapa aku bisa seperti ini?' bathinnya.


~••~


**Iam kambek 😊


Author sangat berterima kasih kepada para reader mau memberikan vote serta memberikan komentarnya.


Thank you so much 😘


Instagram : @elshaolivia**_

__ADS_1


__ADS_2